F. Manfaat Penelitian
3. Teori Fungsionalisme Struktural
Teori fungsionalisme juga populer disebut teori integrasi atau teori konsensus. Pendekatan fungsional menganggap masyarakat terintegrasi atas dasar kata sepakat anggota-anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu. Teori ini mendukung penelitian peran ketua RT dalam memperhatikan gejala sosial yang terjadi pada warganya untuk menciptakan integrasi, mengajak kapada warga atau masyarakatnya untuk menjaga kerukunan, dengan aspek-aspek yang telah disepakati bersama warganya. Emile Durkheim adalah seorang tokoh yang sering disebut sebagai eksemplar dari lahirnya teori fungsionalisme struktural. Durkheim menganalogikan fungsionalis kedalam sistem organik, ia menggunakan karya tokoh Inggris, Herbert Spencer, untuk berargumentasi bahwa paling tepat kalau kita memahami eksistensi dan karakter struktur sosial melalui pembandingan dengan asal-usul dan kerja organisme biologi. Sebagaimana tercermin pada namanya, suatu organisme adalah entitas hidup yang eksistensi dan kesehatannya tergantung pada semua organ-organ yang bekerja bersama dengan baik.16 Jadi menurut Durkheim Masyarakat modern sebagai keseluruhan organis yang memiliki realitas tersendiri. Keseluruhan tersebut memiliki seperangkat kebutuhan dan fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar dalam keadaan normal, tetap langgeng.17
Talcott Parsons, Parsons adalah tokoh fungsionalisme struktural yang terbesar hingga saat ini. Parsons dikenal sebagai penggagas struktural fungsional yang memfokuskan kepada masalah-masalah sistem tindakan maupun sistem sosial. peranan Parsons bekerja pada sosiologi tingkah laku, dia
15 Kementerian Dalam Negeri, Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 18 tahun 2018 tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Adat Desa (Jakarta: Menteri Dalam Negeri, 2018), hlm. 5
16 Pip Jones, Liza Bradbury, Shaun Le Boutillier, Pengantar Teori-Teori Sosial, (Jakarta:
Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2016), hlm. 92
17 Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm 25
mengambilnya dari tingkah laku sosialnya C. Wright Mills. Dalam pandangan Parsons adalah usaha membuat fakta material dari sistem sosiologi sebagai wakil perkembangan internal dan sebuah tingkatan formulasi dari fungsi kontemporer. Menurut Parsons masyarakat secara sosiologi membentuk masyarakat ketika mereka mengatakan itu dalam bahasanya, dikarenakan organisasi sistem empiris adalah fokus fundamental, maka norma harus mengkonsepsikan sistem sosial. Prasyarat sistem sosial adalah hal yang diperlukan jika itu tetap. Pelayanan normatif dari ide-ide dan kepercayaan telah mengkritik aspek peranan status. Sebagai pusat bagi parsons adalah masyarakat sama dengan sistem internal, yaitu sebagai penggabungan elemen khususnya sosial merupakan elemen dari sistem sosial.18 Parsons menyebut bahwa setiap sistem sosial mempunyai empat syarat pelaksanaan fungsinya, yaitu:
1) Adaptation (penyesuaian diri dengan lingkungan)
Masyarakat jika ingin bertahan dalam suatu lingkungan maka harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan
2) Goal attainment (pencapaian tujuan)
Disebuah sistem itu harus mampu menentukan tujuannya dan berusaha mencapai tujuan-tujuan yang telah dirumuskan.
3) Integration (penyatuan dengan nilai dan sistem sosial budaya yang berlaku setempat)
Masyarakat harus mengatur hubungan diantara komponen-komponennya supaya bisa berfungsi secara maksimal, masyarakat harus bisa memaksimalkan fungsi-fungsi yang ada untuk memenuhi kebutuhan suatu sistem.
4) Lattency (usaha mengikuti pola yang telah ditentukan terlebih dahulu ataupun nilai pribadi petugasnya sendiri yang merupakan pola baginya)19 Setiap masyarakat harus mempertahankan, kemudian memperbaiki, dan memperbaharui baik itu motivasi individu-individu maupun pola-pola
18 Wardi Bachtiar, Sosiologi Klasik Dari Comte Hingga Parsons, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 353
19 Astrid S. Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, (Bandung, Binacipta, 1979), hlm. 336
budaya yang menciptakan dan mempertahankan motivasi-motivasi itu, sehingga masyarakat bisa dengan mudah dalam pencapaian tujuan
Setelah Parosns, lahirlah seorang sosiolog bernama Robert K. Merton.
Merton adalah seorang murid Talcott Parsons di Universitas Harvard, dan menjadi orang pertama kali yang memperoleh gelar Ph.D. tahun 1936. Menurut Robert K. Merton, bahwa kelakuan sosial merupakan cabang dari tingkah laku sosial lebih lengkap lagi analisis Weber dari Kristen Protestan bahwa ada keterpengaruhan dalam Protestan. Dalam teorinya Merton telah meninggalkan kelakuan tingkah laku sosial yang dia pandang sebagai harapan teori fungsional. Analisis fungsional adalah harapan dan kemungkinan disusun dari pendekatan sezaman untuk masalah-masalah penafsiran sosiologi. Keunggulan analisis fungsi hanya menyarankan janji yang lebih luas yang akan dilengkapi.
Meski demikian, Merton juga banyak mengkritik teori-teori fungsional sebelumnya, termasuk terhadap gurunya sendiri, Parsons. Oleh karena itu lalu Merton menawarkan lima perspektif yang dinilainya lebih baik, yaitu:
1) Pertama, karena teori-teori fungsional sebelumnya terlalu terfokus pada grand theory, sehingga sukar melihat rujukan empiris, maka Merton menawarkan middle range theory. Melalui middle range ini bisa melihat realitas secara terpola dan tidak terjebak pada detil-detil.
2) Kedua, teori teori fungsional sebelumnya karena terlalu makro masyarakat menjadi full integration. Ada perbedaan derajad integrasi unit sosial karena ada perbedaan faktor kultural dan praktik-praktik sosial. Ada yang fungsional dan ada yang disfungsional.
3) Ketiga, menurut Merton fungsional dibedakan bentuk kontribusinya mana fungsi yang menyebabkan kemunculan sesuatu dan mana yang menyebabkan sesuatu itu bertahan.
4) Keempat, Merton membedakan fungsional yang mana fungsi manifes dan mana fungsi laten.
5) Kelima, teori sebelumnya dinilai sangat kurang memberikan perhatian pada perubahan. Oleh karena itu Merton menawarkan perubahan sosial, masyarakat akan terintegrasi kalau sebagian besar tindakan diarahkan untuk mencapai tujuan sesuai dengan nilai-nilai dan cara untuk mencapai tujuan sesuai dengan norma masyarakat.20
Dengan judul penelitian yang diambil mengenai peran Ketua RT, sesuai dengan analisis yang diperoleh Merton mengenai fungsi dari ahli antopologi seperti raddife Brown, Malinowski dan de Kluckohn, pendekatan teorinya dengan cara membedakan antara lima macam perbedaan dari istilah fungsi, diantaranya:
Fungsi sebagai kejadian umum atau kumpulan orang-orang 1) Fungsi sebagai jabatan
2) Fungsi sebagai kegiatan untuk memperoleh kedudukan sosial dan untuk menjabat di sebuah kantor
3) Fungsi matematika
4) Fungsi sebagai biologi atau tata sosial21
Setelah Merton mendapat analisis fungsi dari Raddife Brown, yang dimana dalam analisis itu terdapat fungsi sebagai jabatan, sebagaimana dengan judul penelitian ini mengenai peran seseorang yang menjabat sebagai Ketua RT yang termasuk dalam lingkup birokrasi, menyambungkan Karya awal Merton yang sangat dipengaruhi oleh Weber, pengaruh Weber dapat juga dilihat dalam batasan Merton tentang Birokrasi. Mengikuti Weber, Merton mengamati beberapa hal berikut di dalam organisasi birokrasi modern.
a. Birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal
20 Zainuddin Maliki, Rekontruksi Teori Sosial Modern, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012), hlm.116
21 Wardi Bachtiar, Sosiologi Klasik Dari Comte Hingga Parsons, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2006), hlm. 334
b. Ia meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas c. Kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuan-tujuan
organisasi
d. Jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan ke dalam keseluruhan struktur birokratis
e. Status-status dalam birokrasi tersusun ke dalam susunan yang bersifat hirarkis
f. Berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci
g. Otoritas pada jabatan, bukan pada orang
h. Hubungan-hubungan antara orang-orang dibatasi secara formal22
Dari karya Merton tersebut mengatakan bahwa birokrasi dapat menciptakan sebuah integrasi, dimana jabatan atau status menjadi sistem tata sosial secara hirarki, yang dibatasi oleh hak-hak dan kewajibannya. Seperti halnya birokrasi ditatanan masyarakat, Jabatan sebagai Ketua RT memiliki hak dan kewajiban dalam menciptakan sebuah integrase dilingkungan masyarakat.