• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Cost Push Inflastion

3.1.3 Teori Inflasi

Secara garis besar ada tiga kelompok teori mengenai inflasi, masing-masing menyoroti aspek-aspek tertentu dari proses inflasi, dan masing-masing-masing-masing bukan teori inflasi yang lengkap yang mencakup semua aspek penting dari proses kenaikan harga ini. Untuk menerapkannya kita harus menentukan aspek-aspek mana yang dalam kenyataan penting dimana proses inflasi di suatu negara, dengan demikian teori mana atau kombinasi mana yang lebih cocok. (Budiono, 1990, P : 167-175).

Teori Kuantitas

Teori kuantitas merupakan teori yang paling tua mengenai inflasi, namun teori ini masih sangat berguna untuk menerangkan proses inflasi di zaman modern terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Teori ini menyoroti peranan dalam proses inflasi dari jumlah uang beredar dan harapan masyarakat mengenai kenaikan-kenaikan harga (ekspektasi). Inti teori ini adalah:

• Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang beredar. Tanpa ada kenaikan jumlah uang yang beredar, kejadian seperti kegagalan panen hanya akan menaikkan harga – harga sementara saja. Bila uang tidak ditambah inflasi akan berhenti dengan sendirinya, apapun sebab awal kenaikan harga tersebut.

• Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dalam harapan masyarakat megenai kenaikan harga-harga di masa yang akan datang.

Ada 3 kemungkinan keadaan:

- Bila masyarakat tidak mengharapkan harga-harga untuk naik pada bulan mendatang. Sebagian besar dari pernambahan jumlah uang yang beredar akan diterima oleh masyarakat untuk menambah likuiditasnya. Ini berarti sebagian besar dari kenaikan jumlah uang tersebut tidak dibelanjakan untuk pembelian barang. Selanjutnya tidak ada kenaikan permintaan yang berarti terhadap barang-barang, jadi tidak ada kenaikan harga. Kenaikan ini biasa dijumpai pada saat inflasi masih naru, masyarakat belum sadar bahwa inflasi sering berlangsung.

- Masyarakat mulai sadar bahwa ada inflasi. Penambahan jumlah uang beredar tidak lagi diterima masyarakat untuk menambah pos kasnya, tetapi menambah pembelian barang-barang. Hal ini dilakukan karena orang-orang berusaha untuk menghindari kerugian yang ditimbulkan seandainya mereka memegang uang tunai. Orang secara perorangan. Melakukan penyesuaian dalam neracanya dengan membelanjakan kasnya untuk membeli barang-barang. Dari masyarakat secara keseluruhan ini berarti ada permintaan barang. Akibat selanjutnya kenaikan harga barang-barang tersebut. Bila masyarakat mengharapkan kenaikan harga-harga untuk naik dimasa mendatang sebesar laju inflasi di bulan bulan yang lalu, maka kenaikan jumlah uang beredar sepenuhnya diterjemahkan menjadi

kenaikan permintaan akan barang-barang. Keadan ini biasa di jumpai pada waktu inflasi sudah berjalan cukup lama dan orang-orang mempunyai cukup waktu untuk menyeseuaikan sikapnya terhadap situasi yang baru. - Dalam tahap ketiga terjadi hiperinflasi. Orang-orang sudah kehilangan

kepercayaannya terhadap mata uang. Keadaan ini ditandai dengan makin cepatnya perderan uang. Hiperinflasi menyebabkan hancurnya sendi-sendi ekonomi moneter dan sosial politik masyarakat. Struktur masyarakat yang baru akan timbul menggantikan yang lama.

Teori Keynes

Dimana, inflasi didasarkan pada teori makro dan menyoroti aspek lain selain inflasi. Menurut teori ini inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup diluar batas ekonominya. Proses inflasi menurut pandangan ini adalah proses perebutan rezeki diantara kelompok-kelompok sosial yang mengiginkan bagian yang lebih besar daripada yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut. Proses ini akhirnya menimbulkan keadaan dimana permintaan masyarakat melebihi jumlah yang tersedia, yang pada akhirnya menimbulkan inflationary gap. Inflationary gap timbul karena golongan-golongan masyarakat tersebut berhasil menerjemahkan aspirasi mereka menjadi permintaan efektif.

Bila jumlah permintaan efektif dari semua golongan masyarakat tersebut, pada tingkat harga yang berlaku melebihi jumlah maksimum barang-barang yang dihasilkan oleh masyarakat maka inflationary gap timbul. Karena permintaan total melebihi jumlah barang yang tersedia, maka harga-harga akan naik. Proses inflasi akan terus berlangsung selama jumlah permintaan efektif dari semua golongan

masyarakat melebihi jumlah output yang bisa dihasilkan masyarakat. Inflasi akan berhenti bila jumlah permintaan efektif total melebihi jumlah output yang tersedia pada tingkat harga yang berlaku.

Teori Strukturalis

Yaitu teori dimana inflasi didasarkan pada pengalaman di negara-negara Amerika latin. Teori ini memberi tekanan pada ketegaran (rigidities) dari struktur perekonomian negara-negara sedang berkembang. Karena inflasi dikaitkan dengan faktor-faktor struktural dari perekonomian, yang berubah secara gradual dalam jangka panjang maka teori ini dapat disebut sebagai teori inflasi jangka panjang. Menurut teori strukturalis ada dua ketegaran utama pada negara-negara berkembang yang menimbulkan inflasi, antara lain:

- Ketidakelastisan penerimaan ekspor

Yaitu nilai ekspor yang tumbuh secara perlahan dibandingkan dengan pertambahan sektor lain. Hal ini disebabkan oleh :

a) Harga pasar dunia barang-barang ekspor semakin tidak menguntungkan dibandingkan dengan haraga impor yang disebut dengan memburuknya term of trade. Harga barang-barang hasil alam yamg merupakan ekspor negara berkembang tumbuh lebih lambat dibanding harga barang-barang industri yang merupakan impor negara sedang berkembang.

b) Produksi barang-barang ekspor tidak responsive terhadap kenaikan harga. Kelambanan pertumbuhan penerimaan ekspor ini berarti kelambanan untuk mengimpor barang-barang yang dibutuhkan. Akibatnya negara

tersebut terpaksa mengambil kebijaksanaan pembangunan yang menekankan pada penggalakan produksi dalam negeri untuk barang-barang sebelumnya di impor (impor substitution strategy), meskipun seringkali produksi dalam negeri mempunyai biaya produksi lebih tinggi dari pada barang sejenis yang di impor. Biaya produksi yang lebih tinggi ini menyebabkan harga yang lebih tinggi. Bila proses substitusi impor ini terus berlangsung juga meluas maka kenaikan biaya produksi juga meluas ke berbagai barang yang tadinya diimpor sehingga makin banyak harga-harga yang naik, sehingga terjadi inflasi.

- Ketidakelastisan Supply atau Produksi Bahan Makanan dalam Negeri.

Pertambahan produksi bahan makanan dalam negeri tidak tumbuh secepat pertambahan penduduk dan pendapatan perkapita, sehingga bahan makanan dalam negeri cenderungnaik melebihi harga-harga barang lain. Kenaikan harga barang menyebabkan tuntunan kenaikan upah dan kenaikan upah diikuti oleh kenaikan harga lagi. Proses ini akan terhenti dengan sendirinya jika harga bahan makanan tidak terus naik.

Dalam teori strukturalis ada tiga hal yang perlu dicatat:

1. Teori ini menjelaskan proses inflasi jangka panjang di negara-negara yang sedang berkembang

2. Proses inflasi tersebut hanya berlangsung terus apabila jumlah uang yang beredar bertambah terus. Tanpa kenaikan jumlah uang yang beredar maka proses tersebut akan berhenti dengan sendirinya.

3. Sering dijumpai bahwa ketegaran structural tersebut disebabkan oleh kebijikan harga/moneter pemerintah sendiri. Sering pula dijumpai bahwa ketidakmampuan produksi barang ekspor untuk tumbuh disebabkan oleh kurs valuta asing yang ditekan terlalu rendah dengan maksud menekan inflasi. Sering pula ketidakelastisan ini disebabkan oleh adanya pungli sehingga harga yang diterima produsen benar-benar rendah, dan kurang cukup menggairahkan industri.

Dokumen terkait