• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1-

2.1 Intensi Membeli

2.1.2 Teori Intensi

A. Theory of reasoned action (teori tindakan beralasan)

Theory reasoned action ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia biasanya betindak atau bertingkah laku secara umum dan rasional (masuk

akal), mereka memperhitungkan berbagai informasi yang tersedia dan

mempertimbangkan konsekuensi dari tingkah laku yang akan ditampilkan

baik secara eksplisit maupun implisit (Ajzen, 1988). Teori ini mengasumsikan

bahwa intensi seseorang untuk menampilkan atau tidak menampilkan suatu

tingkah laku adalah penentu langsung dari tingkah laku tersebut.

Tujuan dari teori ini adalah untuk memahami dan meramalkan tingkah laku

yang didasarkan atas kemauan sendiri, dalam konteks tersebut teori ini telah

terbukti sukses untuk mencapai tujuannya, akan tetapi masalah akan muncul

jika konteks tingkah lakunya tidak sepenuhnya didasarkan atas kemauan

sendiri. Ajzen memberikan ilustrasi perokok yang mempunyai intensi untuk

Para perokok telah mencoba menghentikan kebiasaannya dalam merokok

akan tetapi gagal, menurut theory of reasoned action, intensi merupakan kekuatan utama yang menjadi sumber motivasi seseorang untuk bertingkah

laku tertentu. Maka semakin kuat intensi seseorang untuk melakukan tingkah

laku tersebut maka semakin besar kemungkinannya untuk melakukan hal

tersebut, akan tetapi tingkah laku tidak ditentukan oleh intensi saja sebagai

faktor motivasional, faktor lain yang non-motivasional seperti tersedianya

sumber-sumber lain juga dibutuhkan untuk mempengaruhi derajat tingkah

laku tersebut.

B. Theory planed behavior (teori tindakan terencana)

Untuk mengatasi masalah tingkah laku yang tidak sepenuhya berbeda dalam

kontrol individu maka muncullah theory planed behavior, faktor utama dari teori ini adalah intensi individu untuk menampilkan tingkah laku yang

dikehendaki (Ajzen, 1988).

Intensi individu untuk melakukan tingkah laku tertentu merupakan fungsi dari

2 (dua) bauh determinan, yaitu determinan sikap (attitude) dan norma

subyektif. Faktor sikap merupakan faktor pribadi sedangkan norma subyektif

merupakan faktor yang mencerminkan pengaruh sosial terhadap individu.

Sikap (attitude) merujuk pada sikap individu terhadap melakukan tingkah laku terkait, sementara itu komponen normatif terkait dengan keyakinan individu

(A) bahwa individu lain yang dijadikan rujukanatau relevant referent (B) menganggap bahwa A hendaknya melakukan atau tidak melakukan tingkah

laku tersebut dan motivasi A untuk mengikuti atau mematuhi B.

Dalam teori ini intensi bukan hanya dipengaruhi oleh sikap dan norma

subyektif saja, akan tetapi dipengaruhi juga oleh persepsi kendala perilaku

PBC (Perceived Behavior Control). Kontrol perilaku ditentukan oleh

pengalaman masa lalu dan perkiraan individu mengenai seberapa sulit dan

mudahnya untuk melakukan perilaku yang bersangkutan. Kontrol perilaku ini

sangat penting ketika rasa percaya diri seseorang sedang berada dalam

kondisi yang lemah (Azwar, 2003).

Ada 3 (tiga) faktor yang menentukan intensi :

1. Sikap (attitude)

Keinginan membeli dapat dijelaskan lewat teori tentang sikap. Sikap

didefinisikan sebagai

... Attitude can be described as a learned predisposition to respond in a consistently favorable manner with respect to a given object (Fishbein & Ajzen,1975).

Maksudnya adalah sikap merupakan predisposisi yang dapat dipelajari dari

respon yang konsisten terhadap objek tertentu. Mereka juga mengungkapkan

bahwa sikap menunjukan posisi seseorang pada suatu dimensi evaluasi yang

sifatnya bipolar yang berkaitan dengan suatu objek, tindakan atau kejadian.

Sikap ini juga dapat menyatakan perasaan individu yang bersifat positif

maupun negatif terhadap objek.

Sikap terhadap tingkah laku merupakan hasil interaksi antara :

a. Behavioral belief (tingkah laku yang diyakini), bahwa tingkah laku akan menghasilkan akibat atau konsekuensi tertentu

b. Outcome evaluation (evaliasi hasil), evaluasi individu terhadap akibat atau konsekuensi tingkah laku tersebut.

Sikap merupakan fungsi dari sekumpulan belief (Fishbein & Ajzen,1980). Jadi, belief yang mendasari sikap seseorang terhadap tingkah laku disebut sebagai behavioral belief. Behavioral belief berkaitan dengan tingkah laku yang menghasilkan kepuasan atau pada beberapa atribut lain seperti

konsekuensi yang didapatkan dari tingkah laku tersebut. Contoh, Seseorang

mengkonsumsi fast foodKentucky Fried Chicken (KFC) untuk menghemat waktu (tingkah laku). Hal ini dapat menghemat waktu karena praktis dan

membuatnya mengubah gaya hidup dengan membatasi diri mengkonsumsi

Jadi, individu yakin bahwa menampilkan suatu tingkah laku tertentu akan

membawa konsekuensi positif bagi dirinya, maka menampilkan tingkah laku

tersebut akan menjadi suatu hal yang menyenangkan atau positif bagi

individu tersebut, demikian pula sebaliknya.

2. Norma subyektif

Norma subjektif didefinisikan sebagai

The person’s perception’s about social pressure to perform or not to perform under consideration (Ajzen, 1988).

Norma subyektif merupakan persepsi seseorang mengenai tingkah laku yang

diterima masyarakat atau sebaliknya. Norma ini berhubungan dengan

pengaruh lingkungan sosial terhadap intensi untuk memunculkan perilaku

tertentu. Jadi, norma ini merupakan persepsi seseorang terhadap pengaruh

sosial untuk melakukan atau tidak melakukan tingkah laku tertentu.

Norma subyektif terdiri dari 2 (dua) komponen :

a. Normative belief (kelompok rujukan yang diyakini) b. Motivation to comply (motivasi untuk mengikuti)

Norma ini didasari belief normatif (normative belief), yaitu belief- belief yang berhubungan dengan harapan dan keinginan orang lain tentang tingkah laku

1988). Jika seseorang yakin kebanyakan orang yang menjadi acuan

mengaharapkannya untuk melakukan suatu tingkah laku tertentu maka orang

itu cenderung terdorong untuk melakukan tingkah laku itu, dan sebaliknya.

Contohnya adalah orang-orang terdekatnya bepikir bahwa ia seharusnya

membeli fast foodKentucky Fried Chicken (KFC) maka ia akan semakin mungkin mengkonsumsi fast food Kentucky Fried Chicken (KFC).

Kenyataannya bisa saja seseorang tidak memenuhi harapan orang lain

tersebut. Motivation to comply merupakan motivasi seseorang untuk

mengikuti harapan individu atau kelompok acuan. Belief-belief normatif dan

motivation to comply akan membentuk norma subyektif (subyektive norms) (Fishbein & Ajzen, 1975).

3. PBC (Perceived Behavior Control)

Dalam pengukuran intensi, Ajzen menambahkan faktor ketiga yaitu PBC,

PBC didefinisikan sebagai derajat kemudahan atau kesulitan yang

dipersepsikan untuk melakukan suatu tingkah laku dan hal tersebut

diasumsikan mencerminkan pengalaman masa lampau (Ajzen,1988),

Ajzen juga menerangkan bahwa perceived behavior control terbentuk dari

belief yang disebut control belief, dan belief ini sangat mempengaruhi intensi bahkan langsung mempengaruhi tingkah laku seseorang. Sebagian aturan

umum, semakin favorable sikap dan norma subyektif terhadap suatu tingkah laku dan semakin besar perceived behavior control akan semakin besar pula intensi individu untuk menampilkan tingkah laku tersebut (Ajzen,1988),

Sedangkan hubungan langsung perceived behavior control dengan tingkah laku diasumsikan mencerminkan kontrol nyata yang dimiliki individu untuk

melakukan tingkah laku. Hubungan tersebut akan signifikan jika :

a. Tingkah laku tersebut mempunyai aspek-aspek yang tidak sepenuhnya

berada dalam kontrol seseorang.

b. Persepsi terhadap kontrol tingkah laku akurat.

Dalam perceived behavior control bahwa perceived behavior control

terbentuk dari belief yang disebut sebagai control belief, dan belief jenis ini sangat mempengaruhi intensi dan tingkah laku seseorang (Ajzen,1988),

Sarwono (1999) memberikan contoh orang yang berniat menonton bioskop

bisa tidak jadi menonton karena hujan, tidak ada kendaraan, dan letak

2.2. Persepsi Tentang Fungsi Iklan Di Televisi

Dokumen terkait