1.3. Kajian Literatur
1.3.2. Tinjauan Pustaka
1.3.2.3. Teori Interaksi Simbolik
Interaksionesme simbolik (IS) adalah nama yang diberikan kepada salah satu teori tindakan yang paling terkenal. Melalui interaksionisme simboliklah pernyataan-pernyataan seperti “definisi situasi”, “realitas dimata pemiliknya”, dan “jika orang mendifenisikan situasi itu nyata, maka nyatalah situasi itu dalam konsekuensinya”, menjadi relevan. Meski agak berlebihan, nama IS itu jelas
menunjukan jenis-jenis aktivitas manusia yang unsur0unsurnya memandang penting untuk memusatkan perhatian dalam rangka memahami kehidupan sosial. Menurut ahli teori IS, kehidupan sosial secara harafiah adalah “interaksi manusia melalui penggunaan simbol-simbol.” IS tertarik pada (Jones, 2010 : 142) :
1. Cara manusia menggunakan simbol untuk mengungkapakan apa yang mereka maksud, dan untuk berkomunikasi satu sam lain (Suatu minat interpretif yang ortodoks)
2. Akibat interpretasi atas simbol-simbol terhadap kelakuan pihak-pihak yang terlibat selama interaksi sosial.
Para interaksionis sosial atau yang melakukan penelitian teori interaksionisme memperoleh pengetahuan bahwa orang-orang dibentuk melalui komunikasi. Di sana terdapat aumsi bahwa sosial dan tindakan kolektif terjadi ketika komunikator paham dan bernegosiasi tentang pemaknaan orang lain.
Perkembangan secara interdisiplin, interaksi simbolik mengalami perubahan dari cara individu, kelompok, dan masyarakat dianalisis. (Ardianto, 2011 : 158-9)
Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Blumer mengintegrasikan gagasan-gagasan tentang interaksi simbolik lewat tulisan-tulisannya, terutama pada tahun 1950-an dan 1960-an, diperkaya dengan gagasan-gagasan dari John Dewey, William I.Thomas, dan Charles H. Cooley. Selain Blumer terdapat ilmuwan-ilmuwan lain yang memberi andil pada pengembangan teori interaksi simbolik, seperti Manford H. Kuhn, Howard S. Becker, Norman K.Denzin, Arnold Rose, Gregory Stone, Anselm Strauss, Jerome Manis, Bernard Meltzer, Alfred Lindensmith, dan Tamotsu Shibutani, seraya memanfaatkan pemikiran ilmuwan lain yang relevan, seperti Georg Simmel atau Kenneth Burke. Hal itu mereka lakuka lewat interpretasi dan penelitian-penelitian mereka untuk menerapkan konsep-konsep dalam teori Mead tersebut. (Mulyana, 2008 : 68)
Pada prinsipnya interaksi simbolik lebih menitik beratkan pada aktifitas manusia yang meliputi petrukaran simbol-simbol atau aktifitas komunikasi yang diberi makna, disamping itu juga perspektif ini juga banyak memberikan ilham bagi beberpata teori diantaranya teori penjulukan (Labeling Theory), perspektif drama turgis daari Erving Goffman, dan etnometodologi. Disamping itu, ada mazhab yang menganut perspetif interaksioneime simbolik, dimana mazhab Iiwa lebih menekankan pada metoda yang bersifat positivstik disetiap kajian-kajian yang dilakukan seperti menemukan hukum-hukum universal tentang perilaku
manusia yang dapat diuji secara empiris. Berbeda dengan mazhab Iowa, mazhab Chicago lebih menekankan pada pendekatan yang bersifat humanistik.
Interaksionisme simbolik juga telah mengilhami perspektif-perspektif lain, seperti “Teori Penjulukan” (Labeling Theory) dalam studi tentang penyimpangan
perilaku (Deviance), perspektif dramaturgis dari Erving Goffman, dan etnometodologi dari Harlod Garfinkel. Ketiga pendekatan tersebut dapat dianggap varian-varian interaksionisme simbolik, selain interaksionisme simbolik Mazhab Iowa yang dikembangkan Manford H.Kuhn. Mazhab Iowa menggunakan metode saintifik (positivistik) dalam kajian-kajiannya, yakni untuk menemukan hukum-hukum universal mengenai perilaku sosial yang dapat siuji secara empiris, sementara mazhab Chicago menggunakan pendekatan humanistik. Meskipun Kuhn tidak menolak sama sekali studi tentang studi tentang aspek-aspek tersembunyi mengenai perilaku manusia, ia menyarankan penggunaan instrumen objektif untuk mengukur perilaku terbuka, yang ia maksudkan juga untuk mengukur gagasan-gagasan Mead. Sayangnya gagasan-gagasan Kuhn tidak mendapatkan banyak pendukung, setidaknya di kalangan penganut Teori Mead. (Mulyana, 2008 : 68-69)
Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah “interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol”. Mereka tertarik
pada cara manusia menggunakan simbol-simbol yang merepresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruhyang ditimbulkan penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi sosial. Penganut interaksionisme
simbolik berpandangan, perilaku manusia pada dasarnya adalah produk dari interpretasi mereka atas dunia disekeliling mereka, jadi tidak mengakui bahwa perilaku itu dipelajari atau ditentukan, sebagaimana dianut teori behavioristik atau teori struktural. Alaih-alih, perilaku dipilih sebagai hal yang layak dilakukan berdasarkan cara individu mendefinisikan situasi yang ada.(Mulyana, 2008 : 71)
Dalam pandangan teori interaksi simbolik, pada intinya teori ini lebih memfokuskan pada bagaimana manausia menggunakan simbol-simbol yang mereka ciptakan melalui hasil atau proses pertukaran simbol-simbol sebagai representasi yang ingin dilakukan manusia untuk berkomunikasi satu sama lainnya, jadi pada dasarnya interaksi simbolik menjelaskan bahwa kehidupan sosial ini adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. George Herbert Mead membuat tiga konsep pemikiran tentang teori interaksi simbolik, diantaranya Mind, The Self, dan Others.
Tiga konsep pemikiran Goerge Herbert Mead dalam interaksi simbolik yakni : Human Though(Mind,) Social Interaction (The Self & Others) (Miller, 2002 : 51) :
1. Mind (Pikiran) : Pikiran bukanlah sebuah benda , tetapi merupakan sebuah proses. Hal ini tidak lebih dari sekedar berinteraksi dengan diri anda sendiri. Kemampuan ini yang berkembang sejalan dengan diri, sangat penting bagi kehidupan manusia karena merupakan bagian dari setiap tindakan manusia. Berpikir melibatkan keraguan (menunda tindakah yang jelas) ketika anda
menafsirkan situasi. Disini anda berpikir melalui situasi dan merencanakan tindakan selanjutnya. (Littlejohn & Foss, 2009 : 235)
2. The Self (Diri) : Anda memiliki diri karena anda dapat merespons kepada diri anda sendiri sebagai sebuah objek. Kadang-kadang, anda bereaksi dengan baik pada diri anda serta merasakan kebanggaan, kebahagiaan, dan keberanian. Cara utama anda dapat melihat diri anda sendiri adalah melalui sebagaimana orang lain melihat anda melalui pengambilan peran atau menggunakan sudut pandang orang lain dan inilah yang menyebabkan anda memiliki konsep diri. Istilah untuk konsep diri adalah refleksi umum (Generalized Others) Diri sendiri memiliki dua segi yakni I dan Me. I adalah bagian diri anda yang menurut kata hati, tidak teratur, tidak terarah, dan tidak dapat ditebak. Me adalah refleksi umum orang lain yag terbentuk dari pola-pola yang teratur dan tetap, yang dibagi dengan orang lain. Setiap tindakan dimulai dari I dorongan dan selanjutnya dikendalikan oleh Me. (Littlejohn & Foss, 2009 : 234)
3. Society (Masyarakat) : masyarakat atau kehidupan kelompok terdiri atas perilaku-perilaku kooperatif anggota-anggotanya. Kerja sama manusia mengharuskan kita untuk memahamimaksud orang lain yang juga mengharuskan kita untuk mengetahui apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Jadi kerja sama terdiri dari ”membaca” tindakan dan maksud orang lain serta menanggapinya