B. Komunikasi Antarbudaya
2. Teori Interaksi Simbolis
Teori interaksi simbolik (symbolic interactionism) memfokuskan perhatiannya pada cara-cara yang digunakan manusia untuk membentuk makna dan struktur masyarakat melalui percakapan. Interaksi simbolis pada awalnya merupakan suatu gerakan pemikiran dalam ilmu sosiologi yang dibangun oleh George Hebert Mead, dan karyanya kemudian menjadi inti pemikiran dari aliran yang dinamakan Chicago School. Interaksi simbolis mendasarkan gagasannya atas enam hal yaitu:14
a. Manusia membuat keputusan dan bertindak pada situasi yang dihadapinya sesuai dengan pengertian subjektifnya.
b. Kehidupan sosial merupakan interaksi, kehidupan sosial bukanlah struktur atau bersifat struktural dan karena itu akan terus berubah.
13
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, kesan, dan keserasian Al-Quran Volume: 12
(Cet. I; Jakarta: Lentera Hati, 2009), h. 616. 14
Morissan, Teori Komunikasi Individu hingga Massa (Cet. I, Jakarta; Kencana Prenada
c. Manusia memahami pengalamannya melalui makna dari simbol yang digunakan dilingkungan terdekatnya (primary group), dan bahasa merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan sosial.
d. Dunia terdiri dari berbagai objek sosial yang memiliki nama dan makna yang ditentukan secara sosial.
e. Diri seseorang adalah objek signifikan dan sebagaimana objek sosial lainnya diri didefinisikan melalui interaksi sosial dengan orang lain.
Terdapat tiga konsep penting dalam teori yang dikemukakan Mead yaitu masyarakat, diri dan pikiran. Ketiga konsep tersebut memiliki aspek-aspek yang berbeda yang berasal dari proses umum yang sama disebut "tindakan sosial" (social act), yaitu suatu unit tingkah laku lengkap yang tidak dapat di analisis ke dalam subbagian tertentu.15
Dalam pandangan komunikasi, konsep interaksi antarbudaya lebih sempit daripada komunikasi antarbudaya. Konsep interaksi meliputi koordinasi alur tindakan individu dan strategi tindakan yang dibentuk melalui aplikasi pertukaran skema kognisi, termasuk skema interaksi yang mengorganisir tindakan tersebut.
Kata interaksi menggambarkan keadaan hubungan antara tindakan yang satu dengan tindakan yang lain yang belum tentu semua tindakan itu ditukar dan dimaknai bersama. Setiap interaksi antarbudaya selalu menggambarkan hubungan antara tindakan individu dari satu kebudayaan dengan tindakan individu dari kebudayaan lain yang maknanya belum tentu disamakan. Tindakan-tindakan tersebut dipengaruhi oleh skema kognitif, termasuk skema-skema yang mengatur susunan interaksi
15
Morissan, Teori Komunikasi Individu hingga Massa (Cet. I, Jakarta; Kencana Prenada
individu. Yang dimaksud dengan skema interaksi adalah hirarki-hirarki pengetahuan, pandangan, pendapat individu tentang prinsip-prinsip, bentuk-bentuk, sifat-sifat tata aturan interaksi yang diorganisasikan ke dalam suatu sistem "setting" sosial tertentu. Misalnya skema tentang prinsip-prinsip, bentuk atau tipe, serta sifat dan tata aturan yang mengatur hubungan antara guru dan murid dalam "setting" sekolah.16
Masyarakat, atau kehidupan kelompok, terdiri atas perilaku yang bekerja sama di antara para anggota masyarakat. Syarat untuk dapat terjadinya kerja sama di antara anggota masyarakat ini adalah adanya pengertian terhadap keinginan atau maksud (intention) orang lain, tidak saja pada saat ini, tapi juga pada saat yang akan datang. Demikian kerja sama terdiri atas kegiatan untuk membaca maksud dan tindakan orang lain dan memberikan tanggapan terhadap tindakan itu dengan cara yang pantas. 3. Teori Budaya Organisasi
Teori-teori mengenai budaya organisasi menekankan pada cara-cara manusia mengonstruksi realitas organisasi. Mengenai suatu studi mengenai gaya hidup organisasi, pendekatan budaya organisasi melihat pada makna, dan nilai yang dimiliki anggota organisasi. John Van Maanen dan Stephen Barley mengemukakan adanya empat wilayah atau domain budaya organisasi yaitu:17
a. Domain pertama disebut dengan "konteks ekologis" (ecological context) yaitu dunia fisik, termasuk lokasi, waktu, sejarah dan konteks sosial dimana organisasi berada dan bekerja.
16
Alo, Liliweri. Gatra-gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011, h.
8. 17
Morissan, Teori Komunikasi Individu hingga Massa (Cet. I, Jakarta; Kencana Prenada
b. Domain kedua budaya organisasi terdiri atas jaringan atau disebut juga dengan "interaksi deferensial" (differential interaction).
c. Domain ketiga adalah "pemahaman bersama" (collective understanding) yaitu cara bersama dalam menafsirkan pesan yang merupakan isi atau konten dari budaya yang terdiri atas gagasan, nilai, standar kebaikan (ideal), dan kebiasaan. d. Domain keempat disebut dengan domain "individu" (individual domain) yang
terdiri atas tindakan atau kebiasaan para individu.
Teori budaya organisasi dalam ilmu komunikasi sangat dipengaruhi oleh tradisi sosiokultural. Dalam tradisi ini, organisasi memberikan peluang bagi terjadinya interpretasi budaya, organisasi menciptakan realitas bersama, yang membedakan mereka dengan organisasi yang memiliki budaya yang berbeda. Gareth Morgan dalam Littlejhon dan Foss (2012: 383) menjelaskan "pemaknaan bersama, pemahaman bersama, dan perasaan bersama semuanya merupakan cara yang berbeda dalam menjelaskan budaya.18
Budaya organisasi adalah sesuatu yang dihasil melalui interaksi sehari-hari dalam organisasi bukan hanya tugas atau pekerjaan tetapi semua jenis komunikasi.
Selanjutnya Pacanowsky dan Trujillo menyatakan bahwa anggota organisasi melakukan pertunjukan komunikasi tertentu yang menghasilkan budaya organisasi yang bersifat unik bagi organisasi yang bersangkutan. Menurut mereka, "performance are those very actions by which members constitute and reveal their culture to themselves and other". (pertunujukan adalah sejumlah tindakan dengan yang mana
18
Stephen W. Littlejhon dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi (edisi. 9, Jakarta; Salemba Humanika: 2012), h. 383.
anggota organisasi membentuk dan menunjukkan budaya mereka kepada diri sendiri dan kepada orang lain).
Namun demikian pertunjukkan, sebagaimana pertunjukan seni drama di panggung, juga merupakan pencapaian atau accomplishment karena pertunjukan membawa realitas budaya: "Pertunjukan membawa arti penting atau makna bentuk-bentuk struktural seperti simbol, cerita, perumpamaan, ideologi, atau peristiwa menjadi ada".
Pacanowksy dan Trujillo menyajikan sejumlah daftar dari sejumlah pertunjukan organisasi yang terdiri atas pertunjukan ritual, passion, sosial, politik dan enkulturasi. Penjelasannya sebagai berikut:19
a. Ritual yaitu sesuatu yang diulang-ulang secara teratur (rutin) sehingga dapat dikenali dengan baik. Pertunjukan ritual adalah pertunjukan komunikasi yang terjadi secara teratur dan berulang-ulang, misalnya kegiatan rapat atau acara piknik tahunan karyawan kantor. Pertunjukan ritual dalam organisasi memiliki peran yang penting karena dapat memperbaharui pengertian kita terhadap pengalaman bersama dan memberikan legitimasi terhadap apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan.
b. Passion yang berarti kegemaran atau kesukaan. Karyawan berupaya menjadikan pekerjaan rutin yang membosankan menjadi menarik dan menyenangkan dengan cara menceritakan sesuatu (storytelling) yang digemari atau disukai. Dengan kata lain passion adalah cerita-cerita pada organisasi yang sering kali disampaikan oleh salah satu anggota kepada anggota organisasi lainnya. Karyawan baru
19
Morissan, Teori Komunikasi Individu hingga Massa (Cet. I, Jakarta; Kencana Prenada Media
biasanya lebih cepat sekali menerima berita mengenai kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan karyawan lain atau bahkan atasan mereka, atau cerita mengenai bagaimana pimpinan perusahaan secara tidak terduga menerima warisan perusahaan dari presiden komisaris yang mana adalah kakekya.
c. Sosial yaitu berbagai bentuk kesopanan, basa-basi, penghormatan yang dilakukan dengan maksud untuk mendorong dan meningkatkan kerja sama di antara anggota organisasi. Pertunujukan sosial benfungsi untuk memperkuat kepatutan dan penerapan aturan-aturan sosial dalam organisasi.
Dalam pertunjukan sosial terdapat "privasi" yaitu pertunjukan sosial yang bertujuan untuk menyampaikan hal-hal yang bersifat sensitif dan pribadi mencakup tindakan seperti mengemukakan pengakuan, menghibur atau menyenangkan orang lain dan menyampaikan kritik.
d. Politik Organisasi yaitu pertunjukan yang menciptakan atau memperkuat gagasan mengenai kekuasaan dan pengaruh yang mencakup perilaku untuk menunjukkan kekuatan pribadi, memperkuat hubungan atau persekutuan tawar menawar. Ketika organisasi melakukan pertunjukan politik maka organisasi melaksanakan kekuasaan atau pengawasan. Pertunjukan ini khusus melibatkan tindakan yang dirancang untuk memosisikan seseorang dengan cara-cara tertentu dalam organisasi karena alasan politis.
e. Enkulturasi yaitu proses pengajaran budaya organisasi oleh salah satu anggota organisasi kepada anggota organisasi lainnya. Enkulturasi adalah proses yng berlangsung secara terus-menerus namun pertunjukan tertentu memiliki peran sangat penting dalam proses ini. Orientasi bagi anggota organisasi baru adalah salah satu contohnya, dalam hal ini terdapat serangkaian pertunjukan di mana
sejumlah individu mengajarkan individu lain bagaimana melakukan pekerjaan tertentu.