2.3 Landasan Teori .1 Teori Jaringan
2.3.2 Teori Interaksionis Simbolis
Interaksionis simbolis menurut Mead tumbuh dari proses interaksi, Mead memusatkan perhatian pada tindakan dan interaksi manusia, dimana interaksi tersebut secara mental mampu menciptakan makna dan simbol. Individu mempelajari simbol dan makna dalam interaksi sosial dengan merespon melalui proses berfikirnya (Ritzer, 2014: 394). Simbol adalah objek sosial yang digunakan untuk mempresentasikan apa yang telah disepakati dalam makna simbol tersebut (Charon dalam Ritzer, 2014: 395).
Tidak semua objek sosial mampu mewakili sesuatu, namun sebaliknya simbol mampu mewakili tanda atau sesuatu lainnya yang dapat diberi sebuah makna atau arti. Interaksionis simbolis memahami bahasa sebagai sistem simbol yang luas. Kata-kata menjadi simbol karena dapat digunakan untuk memaknai berbagai hal. Simbol menempati posisi penting dalam membuka kemungkinan individu bertindak secara manusiawi, karena simbol memiliki manfaat dan fungsi khusus bagi aktor. Simbol memungkinkan individu berhubungan dengan dunia karena simbol individu mampu memberi nama, kategori dan mengingat objek yang ditemui.
Simbol meningkatkan kemampuan individu untuk mempresepsikan lingkungannya, simbol juga meningkatkan kemampuan berfikir dimana pikiran tersebut dipahami sebagai interaksionis simbolis terhadap dirinya sendiri. Simbol
47
juga mampu meningkatkan kemampuan individu dalam memecahkan masalah dengan berfikir melalui beragam tindakan alternatif sebelum tindakan tersebut dilakukan. Penggunaan simbol memungkinkan aktor atau individu untuk melampaui pribadi mereka sendiri dengan membayangkan apa yang ingin dibayangkan individu tersebut (Miller dalam Ritzer, 2014: 395).
Menurut George Herbert Mead, simbol memiliki tiga ide dasar yaitu sebagai berikut :
1. Pikiran (Mind)
Pikiran (mind) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain. George Herbert Mead memandang akal bukan sebagai satu benda, melainkan sebagai suatu proses sosial. Pikiran menghasilkan suatu bahasa isyarat yang disebut simbol, dimana simbol - simbol yang mempunyai arti bisa berbentuk gerak gerik tapi juga bisa dalam bentuk sebuah bahasa. Bahasa membuat manusia mampu untuk mengartikan bukan hanya simbol yang berupa gerak-gerik, melainkan juga mampu untuk mengartikan simbol yang berupa kata-kata. Kemampuan ini lah yang memungkinkan manusia menjadi bisa melihat dirinya sendiri melalui perspektif orang lain, dimana hal ini sangatlah penting dalam mengerti arti-arti bersama atau menciptakan respon yang sama terhadap simbol-simbol yang sama.
Proses berpikir, bereaksi, dan berinteraksi menjadi mungkin karena simbol-simbol yang penting dalam sebuah kelompok sosial mempunyai arti yang sama dan menimbulkan reaksi yang sama pada orang yang menggunakan simbol tersebut. Mead juga menekankan pentingnya fleksibilitas dari mind, selain
48
memahami simbol yang sama dengan arti yang sama, fleksibilitas juga memungkinkan untuk terjadinya interaksi dalam situasi tertentu, meski orang tidak mengerti arti dari simbol yang diberikan. Hal itu berarti bahwa orang masih bisa berinteraksi walaupun ada hal-hal yang membingungkan atau tidak mereka mengerti, dan itu dimungkinkan karena akal yang bersifat fleksibel dari pikiran.
Simbol verbal sangat penting bagi Mead karena seorang manusia akan dapat mendengarkan dirinya sendiri meski orang tersebut tidak bisa melihat tanda atau gerak-gerik fisiknya. Mead mengatakan, bahwa arti tidak berasal dari akal melainkan dari situasi atau interaksi sosial, dengan kata lain situasi atau interaksi sosial tersebut memberikan arti simbol kepada orang lain.
2. Diri (Self)
Diri (self) adalah kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain. Mead menganggap bahwa kemampuan untuk memberi jawaban pada diri sendiri layaknya memberi jawaban pada orang lain, merupakan situasi penting dalam perkembangan akal. Self bukan suatu obyek melainkan suatu proses yang mempunyai kemampuan untuk berpikir, seperti mampu memberi jawaban kepada diri sendiri seperti orang lain yang juga memberi jawaban, mampu memberi jawaban seperti aturan, norma atau hukum yang juga memberi jawaban, mampu untuk mengambil bagian dalam percakapan sendiri dengan orang lain, mampu menyadari apa yang sedang dikatakan dan kemampuan untuk menggunakan kesadaran untuk menentukan apa yang harus dilakukan.
Bagi Mead, Self mengalami perkembangan melalui proses sosialisasi, terdapat tiga fase dalam proses sosialisasi tersebut. Pertama adalah Play Stage
49
atau tahap bermain, dalam fase atau tahapan ini seorang anak bermain atau memainkan peran orang-orang yang dianggap penting baginya. Contoh ketika seorang anak laki-laki yang masih kecil suka akan bermain bola, maka dia meminta dibelikan atribut yang berhubungan dengan sepak bola dan bermain dengan atribut tersebut serta berpura-pura menjadi pesepak bola idolanya. Fase kedua dalam proses sosialisasi serta proses pembentukan konsep tentang diri adalah Game Stage atau tahap permainan, dimana dalam tahapan ini seorang anak mengambil peran orang lain dan terlibat dalam suatu organisasi yang lebih tinggi.
Contoh Anak kecil yang suka sepak bola yang tadinya hanya berpura-pura mengambil peran orang lain, maka dalam tahapan ini anak itu sudah berperan seperti idolanya dalam sebuah tim sepak bola anak, dia akan berusaha untuk mengorganisir timnya dan bekerjasama dengan timnya. Sedang fase ketiga adalah Generalized Other, yaitu harapan-harapan, kebiasaan-kebiasaan, standar-standar umum dalam masyarakat, dalam fase ini anak-anak mengarahkan tingkah lakunya berdasarkan standar-standar umum serta norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Contoh anak dalam fase ini telah mengambil secara penuh perannya dalam masyarakat, dia menjadi pesepak bola handal dan dalam menjalankan perannya sudah punya pemikiran dan pertimbangan. Jadi, dalam fase terakhir ini, seorang anak menilai tindakannya berdasarkan norma yang berlaku dalam masyarakat.
3. Masyarakat (Society)
Masyarakat (Society) adalah jejaring hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan
50
sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya. Masyarakat dalam konteks pembahasan George Herbert Mead dalam teori Interaksionisme Simbolik ini bukanlah masyarakat dalam artian makro dengan segala struktur yang ada, melainkan masyarakat dalam ruang lingkup yang lebih mikro, yaitu organisasi sosial tempat akal (mind) serta diri (self) muncul. Bagi Mead, masyarakat sebagai pola-pola interaksi dan institusi sosial yang hanya berupa respon yang biasa terjadi atas berlangsungnya pola-pola interaksi, karena Mead berpendapat bahwa masyarakat ada sebelum individu dan proses mental atau proses berpikir muncul dalam masyarakat.
Jadi, pada dasarnya Teori Interasionisme Simbolik adalah sebuah teori yang mempunyai inti bahwa manusia bertindak berdasarkan atas makna-makna, dimana makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain, serta makna-makna yang terus berkembang dan disempurnakan pada saat interaksi berlangsung.