E. Tinjauan Teoritik
1. Teori Interaksionisme Simbolik
George Herbert Mead mengembangkan teori atau konsep interaksionisme simbolik yang intinya adalah bahwa dalam interaksionisme simbolik, sebuah simbol menjadi ide dasarnya. Simbol merupakan konsep yang membedakan antara manusia dengan binatang. Simbol dapat diartikan sebagai media yang terbangun dari sebuah interaksi yang dapat mempengaruhi respon (tanggapan). Simbol ini muncul akibat dari kebutuhan setiap individu untuk berinteraksi dengan orang lain. Dalam proses interaksi tersebut pasti ada suatu tindakan yang diawali dengan pemikiran. Mead berpendapat bahwa bukan pikiran yang pertama kali muncul, melainkan masyarakatlah yang terlebih dulu muncul dan baru diikuti pemikiran yang muncul
Analisa Mead mencerminkan fakta bahwa masyarakat atau yang lebih umum disebut kehidupan sosial menempati prioritas dalam analisanya. Individu yang berpikir dan sadar diri tidak mungkin ada sebelum kelompok sosial. Kelompok sosial hadir lebih dulu dan mengarah pada perkembangan kondisi mental sadar diri. Begitu pula yang terjadi dalam industri kerajinan Rumah Lidi Handicraft. Kelompok sosial yang dimaksud merupakan kelompok pekerja, khususnya pekerja penyandang tuna daksa yang bekerja di tempat yang sama, yaitu di Rumah Lidi Handicraft yang selanjutnya akan mampu berpikir dan memberi makna terkait kerja layak berdasarkan kondisi kerja yang selama ini mereka peroleh.
Interaksionisme simbolik tertarik bagaimana manusia menggunakan simbol-simbol yang merepresentasikan apa yang dimaksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya dan juga pengaruh yang ditimbulkan atas penafsiran simbol-simbol tersebut terhadap perilaku yang terlihat dalam interaksi. Orang menciptakan makna bersama melalui interaksinya, dan bagi mereka makna itulah yang menjadi realitanya (Suyanto & Sutinah, 2004: 180). Dalam teori ini, manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol, dan yang lain memberi makna atas simbol tersebut. Makna merupakan produk dari interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada obyek, melainkan dinegosiasikan dalam penggunaan bahasa.
Pada dasarnya, simbol merupakan hal yang penting dalam interaksi antar individu. Simbol dalam dunia kerja, seperti yang ada di Rumah Lidi Handicraft adalah segala bentuk perlakuan serta hubungan yang terjalin antara majikan dengan pekerja. Simbol tersebut dapat berupa pemenuhan fasilitas kerja, pemberian upah, hubungan yang terjalin di tempat kerja, serta kondisi yang nampak di Rumah Lidi Handicraft.
Simbol-simbol tersebut akan dapat dimaknai oleh pekerja, terutama pekerja penyandang tuna daksa dalam kaitannya dengan perwujudan kondisi kerja yang layak.
Sifat khas dari interaksionisme simbolik menunjuk kepada interaksi manusia. Kekhasannya adalah bahwa manusia saling menerjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya. Tanggapan seseorang tidak dibuat secara langsung terhadap tindakan orang lain, tetapi didasarkan atas makna yang diberikan terhadap tindakan orang lain itu. Interaksi antar individu diantarai oleh penggunaan simbol-simbol, interpretasi, atau dengan berusaha untuk saling memahami maksud dari tindakan masing-masing. Jadi, dalam proses interaksi manusia itu bukan suatu proses dimana adanya stimulus secara otomatis dan langsung menimbulkan tanggapan atau respon, tetapi adanya stimulus yang diterima dan direspon yang terjadi sesudahnya, diantarai oleh proses interpretasi oleh aktor. Dan proses interpretasi inilah merupakan proses berpikir yang merupakan kemampuan yang khas yang dimiliki manusia (Ritzer, 1980: 61).
Berangkat dari konsep di atas, penelitian dengan fokus pemaknaan kerja layak oleh pekerja penyandang tuna daksa memiliki kemiripan dalam kerangka berpikir. Pemaknaan kerja layak timbul karena adanya interaksi antara pekerja dengan kondisi lingkungan tempat mereka bekerja. Interaksi tersebut menjadi faktor utama yang mempengaruhi pemberian makna kerja layak berdasarkan penilaian dan pemahaman subyektif pekerja penyandang tuna daksa. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa interaksi antar individu yang diantarai oleh interpretasi yang pada akhirnya menghasilkan respon, hal ini sesuai jika dianalogikan dengan tahap pemaknaan kerja layak oleh pekerja penyandang tuna daksa. Mula-mula interaksi terbangun di lokasi
Interaksi yang berlangsung seiring dengan berjalannya waktu tersebut tentu meninggalkan kesan bagi pekerja dan pengurus di Rumah Lidi Handicraft. Kondisi kerja yang dirasakan para pekerja tersebut tentunya sangat mempengaruhi hasil pemaknaan kerja layak, terutama oleh pekerja penyandang tuna daksa. Sehingga, pada tahap interpretasi inilah pemberian makna dilakukan oleh pekerja penyandang tuna daksa berdasarkan kondisi kerja yang dirasakan selama bekerja di industri kerajinan. Dan pada akhirnya, respon yang diberikan berupa penilaian apakah kondisi kerja layak di Rumah Lidi Handicraft yang diharapkan oleh pekerja penyandang tuna daksa sudah didapatkan atau belum.
Proses interpretasi yang menjadi penengah antara stimulus dengan respon menempati posisi kunci dalam interaksionisme simbolik, terlebih jika fokus penelitian yang dilakukan menekankan pada pemberian makna kerja layak oleh pekerja penyandang tuna daksa. Sudah jelas bahwa proses interpretasi adalah proses berpikir yang merupakan kemampuan yang khas yang dimiliki manusia. Begitu pula dengan pemberian makna kerja layak oleh pekerja penyandang tuna daksa yang cukup membuktikan bahwa para pekerja penyandang tuna daksa memiliki kemampuan berpikir untuk menanggapi kondisi kerja layak yang diperoleh dan dirasakan di lokasi kerja.
Jika dikaitkan dengan kondisi di Rumah Lidi Handicraft, penyampaian simbol yang menjadi inti pemikiran Mead terlihat di industri kerajinan Rumah Lidi Handicraft. Di industri kerajinan ini, simbol diartikan sebagai bentuk perilaku dan fenomena yang nampak dalam hubungan kerja di Rumah Lidi Handicraft, seperti pemenuhan fasilitas kerja yang menunjang aktivitas bekerja, pemenuhan upah yang
memadai, maupun kondisi psikis kerja yang tercipta antara majikan dengan pekerja di tempat kerja. Simbol inilah yang menjadi unsur utama penentu pemaknaan kerja layak yang dilakukan oleh pekerja penyandang tuna daksa di industri kerajinan Rumah Lidi Handicraft.