PENGUJIAN UNDANG-UNDANG DALAM NEGARA HUKUM
A. Kerangka Konseptual
3. Teori Judicial Restraint
Judicial restraint merupakan doktrin yang berkembang di Amerika yang merupakan implementasi dari penerapan prinsip pemisahan kekuasaan (separation of power). Dalam doktrin judicial restraint, pengadilan harus dapat melakukan pengekangan diri dari kecenderungan ataupun dorongan untuk bertindak layaknya sebuah “miniparliament”.21
Teori Judicial restraint pertama kali diperkenalkan oleh James B. Thayer.
Judicial restraint (pembatasan yudisial) merupakan upaya hakim atau pengadilan untuk membatasi diri dalam kerangka prinsip pemisahan kekuasaan (separation of powers). Hal ini berarti bahwa judicial restraint
19 Mohammad Mahrus Alis, Konstitusionalitas dan Legalitas Norma dalam Pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945, (Jurnal Konstitusi: Vol. 12 No. 1, Maret 2015). h. 175
20 Abdul Rasyid Thalib, Wewenang Mahkamah Konstitusi dan Implikasinya dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia, (Bandung: Penerbit PT Citra Aditya Bakti, 2006). h. 354
21 Wicaksana Dramanda, Menggagas Penerapan Judicial Restraint di Mahkamah Konstitusi, (Jurnal Konstitusi: Vol. 11. No. 4, 2014). h. 618
adalah upaya dari cabang kekuasaan kehakiman untuk tidak mengadili perkara-perkara yang akan dapat mengganggu cabang kekuasaan yang lain.22
Pemahaman judicial restraint muncul dari persepsi bahwa ajaran pemisahan kekuasaan merupakan pencapaian tertinggi dari teori hukum ketatanegaraan. Pandangan ini menolak untuk mendudukkan pengadilan sebagai lembaga utama (primary custodian) di dalam sistem politik. Judicial restraint menghendaki penentuan berbagai kebijakan publik yang akan menentukan kesejahteraan rakyat (social welfare) dilakukan melalui prosedur politik yang kompromistis di dalam institusi politik.23
Judicial restraint menurut Aharon Barak adalah bahwa hakim harus sedapat mungkin tidak membentuk norma hukum baru dalam mengadili sebuah perkara untuk menciptakan keseimbangan diantara nilai-nilai sosial yang saling bertentangan. Dengan kata lain judicial restraint menghendaki hakim untuk menafsirkan sebuah undang-undang dengan terlebih dulu memperhatikan politik hukum pembentuknya.24
Rebecca Zietlow mengungkapkan bahwa judicial restraint merupakan implementasi dari pengakuan dan penghormatan hakim kepada cabang kekuasaan politik yang mana disini adalah kekuasaan legislatif sebagai cabang kekuasaan yang berwenang untuk membentuk hukum dalam kerangka demokrasi. Berdasarkan uraian tersebut, Wicaksana Dramanda berpendapat bahwa judicial restraint adalah pengekangan diri yang dilakukan oleh cabang kekuasaan kehakiman dalam menjalankan fungsinya dengan tidak
22 Wicaksana Dramanda, Menggagas Penerapan Judicial Restraint di Mahkamah Konstitusi, (Jurnal Konstitusi: Vol. 11. No. 4, 2014). h. 620.
23 Atip Latipulhayat, Mendudukan Kembali Judicial Activism dan Judicial Restraint dalam Kerangka Demokrasi, (Padjadjaran Jurnal Ilmu Hukum: Vol.4 No.3, 2017). h. ii.
24 Wicaksana Dramanda, Menggagas Penerapan Judicial Restraint di Mahkamah Konstitusi, … h.
620.
21
mengganggu cabang kekuasaan yang lain dalam kerangka prinsip pemisahan kekuasaan.25
Judicial restraint terdiri dari berbagai jenis pembatasan bagi pengadilan dalam mengadili perkara-perkara konstitusional (constitutional matters).
Jenis-jenis pembatasan tersebut adalah:26
a. Pembatasan Konstitusional (Constitutional Limitation);
Pembatasan konstitusional adalah pembatasan yang berdasarkan ketentuan dalam konstitusi atau pemberian kewenangan secara limitatif kepada pengadilan di dalam konstitusi. Bentuk pembatasan konstitusional lainnya dapat terlihat misalnya pada Pasal 24C UUD NRI 1945 yang mana pada pasal tersebut, kewenangan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia diatur secara limitatif. Kewenangan Mahkamah Konstitusi berdasarkan Pasal 24C UUD NRI 1945 merupakan norma tertutup yang tidak memungkinkan adanya penambahan kewenangan Mahkamah Konstitusi, selain melalui amandemen Undang-Undang Dasar.27
Berdasarkan uraian tersebut, pembatasan konstitusional (Constitutional Limitation) berarti memberikan kewenangan yang limitatif bagi kekuasaan kehakiman melalui norma-norma konstitusi yang ada. Dengan pembatasan konstitusional tersebut, maka diharapkan kekuasaan kehakiman tidak mengganggu kewenangan konstitusional dari cabang kekuasaan yang lain.28
25 Wicaksana Dramanda, Menggagas Penerapan Judicial Restraint di Mahkamah Konstitusi, … h.
620 – 621
26 Wicaksana Dramanda, Menggagas Penerapan Judicial Restraint di Mahkamah Konstitusi, … h.
621 – 623
27 Wicaksana Dramanda, Menggagas Penerapan Judicial Restraint di Mahkamah Konstitusi, … h.
621 – 622.
28 Wicaksana Dramanda, Menggagas Penerapan Judicial Restraint di Mahkamah Konstitusi, … h.
622
b. Pembatasan Berdasarkan Kebijakan (Policy Limitation);
Pembatasan berdasarkan kebijakan (policy limitation) dikemukakan oleh Justice Brandels pada tahun 1936 dalam perkara Ashwander v.
Tennessee Valley Authority yang kemudian dikenal sebagai “Ashwander Rules”. Ashwander Rules terefleksi ke dalam tujuh prinsip yang seluruhnya bermuara pada komitmen pengadilan untuk melakukan pengekangan diri (self-restraint) dalam rangka menjalankan kewenangan pengujian undang-undang terhadap undang-undang-undang-undang dasar. Ketujuh prinsip tersebut adalah:
1) Pengadilan harus menghindari memberikan putusan mengenai permasalahan konstitusional yang timbul tanpa adanya sengketa (in friendly non-adversary proceedings);
2) Pengadilan tidak akan memutus sebuah permasalahan konstitusional hingga benar-benar dibutuhkan;
3) Pengadilan akan selalu menganggap bahwa seluruh undang-undang adalah konstitusional dan membebankan kepada para pihak yang berperkara untuk membuktikan sebaliknya (presumption of constitutionality);
4) Pengadilan tidak akan merumuskan sebuah putusan dalam masalah konstitusional melebihi kebutuhan yang diperlukan sebagaimana yang tergambar di dalam persidangan dengan sedapat mungkin menghindari pembentukan norma baru (Avoiding the creation of new principles);
5) Pengadilan tidak akan menerima permohonan yang bersifat constitutional question atau perkara yang memiliki isu politis yang kuat jika perkara tersebut dapat diselesaikan melalui mekanisme konstitusional lainnya. (Strict necesity);
6) Pengadilan tidak akan menerima permohonan pengujian undang-undang yang diajukan oleh mereka yang tidak dapat membuktikan
23
kerugian yang mereka alami akibat pemberlakuan undang-undang tersebut;
7) Pengadilan tidak akan menerima pengujian konstitusionalitas dari suatu undang-undang yang dimohonkan demi menarik keuntungan bagi diri pemohon sendiri.29
c. Pembatasan Berdasarkan Doktrin (Doctrine Limitation);
Pembatasan berdasarkan doktrin tertentu merupakan implementasi dari prinsip kehati-hatian (prudential principles) hakim dalam memutus sebuah perkara. Pembatasan berdasarkan doktrin terdiri dari beberapa doktrin, yakni:
1) Standing, berdasarkan doktrin ini, pihak yang berperkara harus memiliki kepentingan secara langsung terhadap perkara berupa kerugian yang bersifat nyata yang diakibatkan oleh berlakunya suatu undang-undang.
2) Mootness, adalah keadaan dimana latar belakang masalah yang diperkarakan telah terselesaikan atau telah lenyap sehingga putusan pengadilan tidak dapat diimplementasikan atau tidak memiliki efek praktis. Hilang atau telah terselesaikannya permasalahan pada sebuah perkara sebelum adanya putusan pengadilan mengakibatkan perkara tersebut tidak lagi memiliki sifat kontroversi yang aktual sebagai salah satu syarat berperkara di pengadilan.
3) Ripeness, menyangkut kematangan sebuah perkara untuk dapat diadili oleh pengadilan. Doktrin ripeness ditujukan untuk menghindari keterlibatan pengadilan secara prematur dalam mengadili suatu perkara yang mungkin dapat diselesaikan melalui cara-cara lain yang tersedia
29 Wicaksana Dramanda, Menggagas Penerapan Judicial Restraint di Mahkamah Konstitusi, … h.
622 – 623
berdasarkan hukum. Doktrin ripeness menghendaki para pihak yang bersengketa untuk menempuh proses non-judicial terlebih dahulu.
4) Abstention doctrine, adalah doktrin yang melarang pengadilan yang lebih tinggi untuk melakukan intervensi terhadap perkara yang sedang bergulir di pengadilan yang lebih rendah sampai terdapat putusan akhir.
5) Political question doctrine, adalah doktrin pengekangan diri yang dilakukan cabang kekuasaan kehakiman untuk tidak mengadili perkara yang memiliki sifat politis yang berat. Penerapan political question harus dilakukan oleh cabang kekuasaan kehakiman apabila perkara yang timbul merupakan exclusive power dari cabang kekuasaan yang lain, atau sebagaimana yang dikemukakan Philip A. Talmadge sebagai
“the sole concern of the coordinate branch of government”.30
C. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu 1. Skripsi
Skripsi ditulis oleh Novita Akria Putri Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Jakarta pada tahun 2015 tentang “Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Terkait Dengan Penambahan Norma Baru Penetapan Tersangka Sebagai Objek Pra Peradilan (Studi Kasus: Putusan MK No.
21/PUU-XII/2014 tentang Pengujian Pasal 77 huruf a Undang-Undang No.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana)”.31 Persamaan antara penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai
30 Wicaksana Dramanda, Menggagas Penerapan Judicial Restraint di Mahkamah Konstitusi, … h.
623 – 625.
31 Novita Akria Putri, Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Terkait Dengan Penambahan Norma Baru Penetapan Tersangka Sebagai Objek Pra Peradilan (Studi Kasus: Putusan MK No.
21/PUU-XII/2014 tentang Pengujian Pasal 77 huruf a Undang-Undang No.8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana), (UIN Jakarta, 2015). h. 1.
25
penambahan norma baru oleh Mahkamah Konstitusi. Hal yang membedakan antara penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah penelitian tersebut hanya membahas mengenai implikasi putusan Mahkamah Konstitusi terkait dengan penambahan norma baru. Sedangkan pada penelitian ini membahas mengenai pembatasan penetapan norma baru dari pengujian undang-undang oleh Mahkamah Konstitusi.
2. Buku
Buku ditulis oleh Achmad Rubaie tahun 2017 hukum tentang “Putusan Ultra Petita Mahkamah Konstitusi (Perspektif Filosofis, Teoritis dan Yuridis)”.32 Persamaan antara penelitian tersebut dengan penelitian yang penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat ultra petita. Hal yang membedakan antara penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah penelitian tersebut hanya membahas mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat ultra petita secara umum. Sedangkan pada penelitian ini membahas mengenai pembatasan penetapan norma baru dari pengujian undang-undang oleh Mahkamah Konstitusi.
3. Jurnal
Artikel jurnal ditulis oleh Ayu Desiana tahun 2014 tentang “Analisis Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Mengeluarkan Putusan yang Bersifat Ultra Petita Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003”.33 Persamaan antara penelitian tersebut dengan penelitian yang penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai putusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat ultra petita. Hal yang membedakan antara penelitian tersebut dengan
32 Achmad Rubaie, Putusan Ultra Petita Mahkamah Konstitusi (Perspektif Filosofis, Teoritis dan Yuridis), (Yogyakarta: LaksBang Pressindo, 2017). h. 1
33 Ayu Desiana, Analisis Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Mengeluarkan Putusan yang Bersifat Ultra Petita Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003. h. 1
penelitian ini adalah penelitian tersebut hanya membahas mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam mengeluarkan putusan yang bersifat ultra petita. Sedangkan pada penelitian ini membahas mengenai pembatasan penetapan norma baru dari pengujian undang-undang oleh Mahkamah Konstitusi.
27