• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.3 Kebijakan Dividen

2.1.3.2 Teori Kebijakan Dividen

Berikut ini terdapat beberapa teori kebijakan dividen menurut Brigham dan Houston (2001) yaitu :

1. Dividend Irrelevance Theory

Teori ini menyatakan bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai suatu perusahaan maupun biaya modalnya.

Teori ini dikemukakan oleh Miller dan Modigliani (MM). Mereka berpendapat bahwa nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besarnya dividen yang diberikan, namun nilai perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan dasarnya dalam menghasilkan laba dan resiko bisnisnya.

2. Teori Bird In The Hand (Bird In The Hand Theory)

Gordon dan Linther dalam Hadiwidjaya (2007) berpendapat bahwa sesungguhnya investor lebih menghargai pendapatan yang berupa dividen daripada pendapatan yang diharapkan dari keuntungan modal (capital gain) yang akan dihasilkan dari laba ditahan. Pendapat Gordon dan Linther diberi nama oleh MM bird in the hand fallacy. Gordon dan Linther beranggapan bahwa satu burung ditangan lebih berharga dari pada seribu burung diudara.

3. Teori Preferensi Pajak (Tax Preference Theory)

Teori ini didasarkan pada perbedaan pajak antara dividen dengan keuntungan modal (capital gain). Pajak atas dividen harus dibayarkan pada tahun saat dividen tersebut diterima, sedangkan pajak atas capital gain tidak dibayarkan sampai saham dijual. Adanya keunggulan pajak tersebut maka membuat investor lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak dibandingkan dengan dividen.

Ada tiga alasan berkaitan dengan pajak yang beranggapan bahwa investor mungkin lebih menyukai pembagian dividen yang rendah daripada pembagian dividen yang tinggi, yaitu :

a. Keuntungan modal (capital gain) dikenakan tarif pajak yang lebih rendah dibandingkan.

b. Pajak atas keuntungan tidak dibayarkan sampai saham itu terjual, sehingga ada efek nilai waktu.

c. Terhindar dari pajak keuntungan modal apabila saham yang dimiliki seseorang sampai ia meninggal, sama sekali tidak ada keuntungan modal yang terutang.

4. Teori Signaling Hypothesis

Di dalam teori ini Modigliani dan Miller berpendapat bahwa suatu kenaikan dividen yang diatas kenaikan normal biasanya merupakan suatu sinyal kepada para investor bahwa manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik di masa yang akan datang. Sebaliknya, suatu penurunan dividen yang dibawah penurunan normal diyakini oleh para investor sebagai suatu sinyal bahwa perusahaan mengalami masa sulit di masa mendatang. Namun demikian sulit dikatakan apakah kenaikan atau penurunan harga setelah adanya

kenaikan atau penurunan dividen semata-mata disebabkan oleh efek sinyal atau mungkin preferensi terhadap dividen.

5. Teori Clientele Effect

Menyatakan bahwa pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaan. Kelompok investor yang membutuhkan penghasilan saat ini lebih menyukai dividen yang tinggi, sebaliknya kelompok investor yang tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan 2.1.3.3 Faktor - Faktor yang mempengaruhi Kebijakan Dividen

Menurut Riyanto (2008), faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan adalah sebagai berikut :

1. Posisi Likuiditas Perusahaan

Laba ditahan biasanya dinvestasikan dalam bentuk aktiva yang akan diperlukan untuk menjalankan suatu perusahaan. Laba ditahan dari tahun-tahun terdahulu sudah diinvestasikan dalam bentuk mesin dan peralatan, persediaan dan barang-barang lainnya, bukan disimpan dalam bentuk uang tunai. Oleh karena itu, suatu perusahaan yang keuntungannya luar biasa mungkin saja tidak dapat membayar dividen karena likuiditasnya. Dalam keadaan seperti ini mungkin perusahaan memutuskan untuk tidak membayarkan dividen dalam bentuk uang tunai.

2. Kebutuhan Dana untuk Membayar Hutang

Apabila perusahaan menetapkan bahwa pelunasan utangnya akan diambil dari laba ditahan, berarti perusahaan harus menahan sebagian besar dari pendapatannya untuk keperluan tersebut, yang berarti bahwa hanya sebagian kecil

saja dari pendapatan atau earning yang dapat dibayarkan sebagai dividen.

3. Tingkat Pertumbuhan Perusahaan

Makin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, maka semakin besar pula kebutuhan akan dana untuk membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut.

Makin besar kebutuhan dana untuk waktu mendatang untuk membiayai pertumbuhannya, perusahaan tersebut biasanya lebih senang untuk menahan earningnya daripada dibayarkan sebagai dividen kepada para pemegang saham dengan mengingat batasan-batasan biayanya.

4. Kesempatan investasi

Kesempatan investasi juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya dividen yang akan dibagikan kepada para pemegang saham. Semakin terbuka kesempatan investasi yang ada maka akan menyebabkan semakin kecil dividen yang akan dibayarkan, sebab dana yang ada akan digunakan untuk memperoleh kesempatan investasi. Namun apabila kesempatan investasinya berkurang, maka dana yang akan digunakan untuk membayar dividen lebih banyak.

5. Stabilitas pendapatan

Bagi perusahaan yang pendapatannya stabil, dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham lebih besar dibanding dengan perusahaan yang pendapatannya tidak stabil. Perusahaan yang pendapatannya stabil tidak perlu menyediakan kas yang banyak untuk berjaga-jaga, sedangkan perusahaan yang pendapatannya tidak stabil harus menyediakan uang kas yang cukup besar untuk berjaga-jaga.

6. Pasar Modal

Perusahaan besar yang sudah mantap, dengan profitabilitas yang tinggi dan keuntungan yang teratur, dengan mudah dapat masuk ke pasar modal atau memperoleh macam-macam dana dari pihak luar untuk pembiayaannya.

Perusahaan kecil yang masih baru atau yang agak gegabah adalah perusahaan yang terlalu berisiko bagi para calon debitur. Sebab kemampuannya untuk meningkatkan modal atau untuk mendapatkan pinjaman dari pasar modal sangat terbatas, dan untuk membiayai operasinya perusahaan tersebut harus menahan laba lebih banyak. Karena itu perusahaan yang sudah mantap akan mempunyai tingkat dividen yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan kecil atau perusahaan yang masih baru.

2.1.3.4 Jenis - Jenis Dividen

Menurut Brigham dan Houtston (2004), terdapat 5 jenis deviden yaitu:

1. Cash Dividend

Cash dividend (dividen kas) adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk uang tunai. Pada umumnya cash dividend lebih disukai oleh para pemegang saham dan lebih sering dipakai perseroan jika dibandingkan dengan jenis dividen yang lain.

2. Stock Dividend

Stock dividend (dividen saham) adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham, bukan dalam bentuk uang tunai. Pembayaran stock dividend juga harus disarankan adanya laba atau surplus yang tersedia, dengan adanya pembayaran dividen saham ini maka jumlah saham yang beredar meningkat, namun pembayaran dividen saham ini tidak akan merubah posisi likuiditas

perusahaan karena yang dibayarkan oleh perusahaan bukan merupakan bagian dari arus kas perusahaan.

3. Property Dividend

Property dividend (dividen barang) adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk barang (aktiva selain kas). Property dividend yang dibagikan haruslah berupa barang yang dapat dibagi-bagi atau bagian-bagian yang homogeny serta penyerahannya kepada pemegang saham tidak akan mengganggu kontinuitas perusahaan.

4. Scrip Dividend

Scrip dividend (dividen hutang) adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk surat (scrip) janji hutang. Perseroan akan membayar sejumlah tertentu dan pada waku tertentu, sesuai dengan yang tercantum dalam scrip tersebut.

Pembayaran dalam bentuk ini akan menyebabkan perseroan memiliki hutang jangka pendek pada pemegang scrip.

5. Liquidating Dividend

Liquidating dividend (dividen likuidasi) adalah dividen yang dibagikan berdasarkan pengurangan modal perusahaan, bukan berdasarkan keuntungan yang didapatkan perusahaan.

2.1.4 Dividend Per Share

Dividend per share merupakan rasio yang mengukur seberapa besar dividen yang dibagikan dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar pada tahun tertentu. Dividend per share merupakan besar dividen yang dibagikan untuk setiap lembar saham yang dimiliki. Dividen memiliki pengaruh terhadap harga saham karena memberikan informasi, atau sinyal, mengenai profitabilitas

perusahaan. Ketika perusahaan meningkatkan dividennya, maka para investor akan yakin bahwa pihak manajemen mengumumkan perubahan positif dalam profitabilitas masa depan yang diharapkan untuk perusahaan tersebut.

Selanjutnya, harga saham akan bereaksi positif terhadap kenaikan dividen ini.

Dividen dapat digunakan oleh para investor sebagai prediktor kinerja perusahaan di masa depan. Perusahaan yang dividend per sharenya lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan sejenis akan cenderung lebih diminati oleh para investor, karena investor akan memperoleh kepastian modal yang ditanamkannya, yakni hasil berupa dividen. Akan tetapi perlu diingat bahwa perusahaan juga perlu memperhatikan kebutuhan akan investasinya, sehingga perusahaan perlu menetapkan kebijakan dividen yang berkaitan dengan penentuan pembagian pendapatan (earning) antara penggunaan untuk dibayarkan kepada pemegang saham sebagai dividen dan untuk digunakan dalam perusahaan yang akan diperlukan untuk investasi perusahaan.

2.1.5 Current Ratio

Rasio Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan yang bersifat jangka pendek. Likuiditas perusahaan sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya dividen yang dibayarkan, sehingga semakin kuat posisi likuiditas suatu perusahaan terhadap prospek kebutuhan dana di waktu mendatang, makin semakin tinggi dividen tunai yang dibayarkan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kuat posisi likuiditas perusahaan, maka kemampuannya dalam membayar dividen akan semakin besar pula. Ada pula perusahaan yang keadaan likuiditasnya sangat baik tetapi membayar dividen yang rendah karena laba yang diperoleh perusahaan diinvestasikan dalam bentuk mesin

dan peralatan, persediaan dan barang-barang lainnya, bukan disimpan dalam bentuk uang tunai. Salah satu variabel yang digunakan dalam rasio likuiditas adalah current ratio.

Current ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan (Kasmir, 2008).

Current ratio yang tinggi memberikan indikasi jaminan yang baik bagi kreditor jangka pendek, dalam arti setiap saat perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban-kewajiban finansial jangka pendeknya. Namun, current ratio yang tinggi memiliki pengaruh negatif terhadap kemampuan untuk memperoleh laba (rentabilitas) karena sebagian modal kerja tidak berputar atau mengalami pengangguran. Dalam kaitannya dengan dividen, semakin tinggi current ratio maka menunjukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam membayar dividen yang dijanjikan.

2.1.6 Debt to Equity Ratio

Debt to equity ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat leverage (penggunaan utang) terhadap total shareholders’ equity yang dimiliki suatu perusahaan (Ang, 1997). Faktor ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Apabila perusahaan menentukan bahwa pelunasan utangnya akan diambil dari laba ditahan, berarti perusahaan harus menahan sebagian besar dari pendapatannya untuk keperluan tersebut, yang artinya hanya sebagian kecil saja pendapatan yang dapat dibayarkan sebagai dividen (Riyanto, 2001). Peningkatan utang ini akan

mempengaruhi tingkat pendapatan bersih yang tersedia bagi pemegang saham, artinya semakin tinggi kewajiban perusahaan, akan semakin menurunkan kemampuan perusahaan membayar dividen (Sudarsi, 2002).

Prihantoro (2003) menyatakan bahwa debt to equity ratio menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya, yang ditunjukkan oleh berapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Oleh karena itu, semakin rendah debt to equity ratio maka akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajibannya. Semakin besar proporsi utang yang digunakan untuk struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar jumlah kewajiban. Peningkatan hutang akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividen yang akan diterima, karena kewajiban tersebut lebih diprioritaskan daripada pembagian dividen. Jika beban hutang tinggi, maka kemampuan perusahaan dalam membagi dividen akan semakin rendah.

2.1.7 Growth Asset

Aset merupakan aktiva yang digunakan untuk aktivitas operasional pada suatu perusahaan. Semakin besar aset yang dimiliki maka diharapkan semakin besar pula hasil operasional yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Peningkatan aset yang diikuti dengan peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan. Pertumbuhan aset adalah dampak atas arus dana perusahaan dari perubahan operasional yang disebabkan oleh pertumbuhan atau penurunan aset. Untuk mewujudkan investasi yang dapat mendukung pertumbuhan pada suatu perusahaan yang maksimal diperlukan dana untuk meningkatkan keuntungan bagi perusahaan tersebut. Besarnya pembayaran

dividen oleh perusahaan akan dipengaruhi oleh ada atau tidaknya kesempatan yang menguntungkan, maka dana yang diperoleh dari operasi perusahaan akan digunakan untuk investasi, jadi apabila ada sisa barulah sisa tersebut dibagikan sebagai dividen. Oleh karena itu, dibutuhkan dana yang semakin besar agar tercapai pertumbuhan perusahaan yang semakin tinggi pula. Riyanto (2001) mengatakan semakin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, maka semakin besar pula kebutuhan dana untuk waktu mendatang untuk membiayai pertumbuhannya. Perusahaan tersebut biasanya akan lebih senang untuk menahan pendapatannya dari pada dibayarkan sebagai dividen.

2.1.8 Earning Per Share

Menurut Irham Fahmi (2011) earning per share atau laba per lembar saham merupakan bentuk keuntungan yang didapatkan dari setiap lembar saham biasa yang dimiliki. Earning per share (laba per lembar saham) yang dibagikan merupakan salah satu informasi penting bagi investor di pasar modal dalam pengambilan keputusan investasinya. Jadi, earning per share menggambarkan informasi yang penting untuk melakukan prediksi mengenai besarnya dividen per saham dan tingkat harga saham dikemudian hari, serta earning per share juga relevan untuk menilai efektivitas manajemen dan kebijakan pembayaran dividen.

Pertumbuhan earning per share yang positif memperoleh bagian laba yang lebih besar dimasa yang akan datang atas setiap lembar saham yang dimilikinya.

Variabel earning per share merupakan proxy laba per lembar saham perusahaan yang diharapkan dapat memberikan gambaran bagi para investor mengenai bagian keuntungan yang dapat diperoleh dalam suatu periode tertentu dengan memiliki suatu saham. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa nilai suatu perusahaan

pada dasarnya tergantung pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang merupakan sumber dana untuk membayar dividen.

2.2 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan terkait dividend per share. Ringkasan penelitian terdahulu dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1

Penelitian ini menunjukan bahwa variabel current ratio, DER, dan

Hasil penelitian ini menunjukkan secara parsial DTA- dan ROE+

signifikan terhadap dividend per share., ROI+ dan CR- tidak

Hasil penelitian ini menunjukkan hanya variabel ukuran perusahaan dan growth yang berpengaruh positif signifikan terhadap dividend per share, sedangkan variabel lain tidak berpengaruh secara signifikan.

Hasil penelitian ini menunjukkan variabel financial leverage berpengaruh signifikan terhadap DPS, dan tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel investasi dan dividend per share

Hasil penelitian ini menunjukkan variabel ROE dan harga saham berpengaruh signifikan terhadap dividend per share, sedangkan DER tidak berpengaruh signifikan

Hasil penelitian ini menunjukkan variabel cash position, debt, insider, ownership, growth, size dan profit berpengaruh positif dan signifikan terhadap dividend per share.

2.3 Kerangka Konseptual

Dividen adalah aliran tunai bersih bebas yang didistribusikan perusahaan kepada para pemegang saham. Dividen perusahaan sangat berkaitan dengan performance perusahaan atau kinerja perusahaan. Semakin baik kinerja dalam suatu perusahaan maka dividen yang dibayarkan akan semakin tinggi dan sebaliknya, semakin buruk kinerja suatu perusahaan maka semakin rendah tingkat dividen yang dibayarkan perusahaan. Kinerja perusahaan dapat dianalisis menggunakan analisis rasio keuangan.

Likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam mendanai operasional perusahaan dan melunasi kewajiban jangka pendeknya.

Likuiditas perusahaan diasumsikan mampu menjadi alat prediksi terhadap tingkat pengembalian investasi berupa dividen bagi investor. Current ratio seringkali dijadikan sebagai ukuran likuiditas. Semakin besar current ratio, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan tersebut dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya termasuk kewajiban membayar dividen kas.

Debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui perbandingan antara total hutang dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh modal sendiri yang digunakan sebagai pembayaran hutang. Peningkatan hutang atas ekuitas akan memberikan pengaruh terhadap tingkat pendapatan bersih yang tersedia bagi para pemegang saham, yang artinya semakin tinggi hutang yang dimiliki suatu perusahaan maka akan semakin menurunkan kemampuan perusahaan tersebut dalam membayarkan dividen.

Rasio pertumbuhan (growth) adalah rasio yang digunakan untuk melihat keberhasilan aktivitas operasional perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Aset merupakan salah satu ukuran yang digunakan untuk mengukur aktivitas operasional suatu perusahaan. Semakin besar aset perusahaan, maka diharapkan semakin besar pula hasil operasional yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.

Pertumbuhan suatu perusahaan memiliki pengaruh kuat pada kebijakan penahanan laba pada perusahaan yang mengalami pertumbuhan pesat dan membutuhkan dana investasi yang lebih besar. Hal ini menyebabkan perusahaan akan lebih memilih menahan pendapatannya daripada dibayarkan sebagai dividen.

Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu. Dalam penelitian ini rasio profitabilitas diproksikan oleh earning per share. Earning per share adalah keuntungan bersih yang diperoleh oleh investor untuk setiap lembar saham yang dimilikinya. Tingkat profitabilitas juga menentukan pembagian dalam bentuk dividen. Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi akan membagikan dividen dengan persentase yang tinggi pula.

Berdasarkan uraian dapat digambarkan bentuk kerangka konsep pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.4 Rumusan Hipotesis

Sinulingga (2017) mengatakan bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Hal ini disebut juga sebagai jawaban sementara karena dalam rumusan hipotesis terdapat jawaban atas masalah penelitian yang kemudian akan dibuktikan kebenarannya melalui suatu prosedur keilmuan.

Maka hipotesis yang diajukan peneliti didalam penelitian ini adalah:

1. Current ratio berpengaruh signifikan terhadap dividend per share.

2. Debt to equity ratio berpengaruh signifikan terhadap dividend per share.

3. Growth asset berpengaruh signifikan terhadap dividend per share.

4. Earning per share berpengaruh signifikan terhadap dividend per share.

5. Current ratio, debt to equity ratio, growth, dan earning per share berpengaruh terhadap dividend per share.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian asosiatif kausal. Penelitian asosiatif kausal merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan sebab akibat antara berbagai variabel menurut (Erlina 2008). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sektor Property dan Real Estate dari tahun 2013 sampai tahun 2017.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang digunakan peneliti adalah di Bursa Efek Indonesia cabang Medan yang ada di Jl. Ir. H. Juanda Baru No A5-A6, Ps. Merah Bar., Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan data sekunder, sehingga dapat di akses dengan menggunakan internet melalui situs www.idx.co.id.

3.3 Defenisi Operasional 1. Dividend Per Share

Dividen tunai (dividend per share) merupakan dividen yang dibayarkan oleh emiten kepada para pemegang saham secara tunai untuk setiap lembar saham yang dimilikinya. Informasi mengenai dividend per share sangat diperlukan untuk mengetahui berapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari setiap lembar sahamnya.

2. Current Ratio

Current ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Current ratio (CR) dapat dihitung dengan membagi aktiva lancar (current assets) dengan hutang atau kewajiban lancar (current liabilitiy).

3. Debt to Equity Ratio

Debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dapat dicari dengan membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas.

4. Growth Asset

Rasio pertumbuhan (growth asset) merupakan rasio untuk melihat keberhasilan aktivitas operasional pada suatu perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Growth asset menunjukkan pertumbuhan aktiva, dimana aktiva merupakan unsur yang sering digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan.

5. Earning Per Share

Earning per share mengambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa atau laba bersih per lembar saham biasa. Manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon pemegang saham sangat

memperhatikan earning per share karena menjadi indikator keberhasilan pada

Penelitian Konsep variable Indikator Skala

Dividend Per

3.4 Deskripsi Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan sektor property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode 2013 -

2017. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Teknik pengambilan sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu pemilihan pengambilan sampel dengan berdasarkan pada kriteria-kriteria tertentu. Adapun kriteria-kriteria yang digunakan dalam penelitian ini mencakup :

1. Perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2013 sampai 2017.

2. Perusahaan property dan real estate yang menerbitkan dan menyampaikan laporan keuangan per 31 Desember (audited) di Bursa Efek Indonesia tahun 2013 sampai 2017.

3. Perusahaan property dan real estate yang secara continue membagikan dividen pada periode 2013 sampai 2017.

Tabel 3.2 Sampel Penelitian

No Kriteria Jumlah

1 Perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2013 sampai 2017.

53 2 Perusahaan yang tidak memiliki laporan keuangan tahun

2013 sampai 2017.

(0) 3 Perusahaan property dan real estate yang tidak secara

continue membagikan dividen pada periode 2013 sampai 2017.

(42)

4 Jumlah sampel perusahaan. 11

5 Periode penelitian. 5

6 Maka, jumlah observasi (5 x 11). 55

Sumber : www.idx.co.id

3.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan data sekunder. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersumber dari laporan keuangan Perusahaan Sektor Property dan Real Estate Tahun 2013 - 2017 di Bursa Efek Indonesia (BEI), yang dapat diakses melalui situs resmi www.idx.co.id.

Dokumen terkait