• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembagian kepribadian manusia atas tiga unsur dicetuskan oleh Sigmund Freud dengan aliran psikologinya yang disebut psikoanalitik atau psikoanalisis.

Unsur pembentuk sang “aku” ini jangan dipandang sebagai tiga unsur yang terpisah, melainkan fungsi kepribadian secara keseluruhan dan tidak berdiri sendiri-sendiri (Taniputera, 2005: 44).

Menurut Freud tujuan pokok dilakukannya analisis terhadap aspek-aspek kejiwaan manusia bukan untuk mendapatkan teknik penyembuhan gangguan jiwa tetapi untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam mengenai kehidupan kejiwaan pada umumnya. Itulah sebabnya pembahasan tentang kepribadian menjadi dominan dalam psikoanalisis.

2.5.1. Id

Boeree (2005: 347-348) dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Psikologi”

menjelaskan bahwa, ketika manusia lahir, sistem sarafnya hanya sedikit lebih baik dari binatang, itulah yang dinamakan Id. Sistem saraf sebagai Id, bertugas menerjemahkan kebutuhan satu organisme menjadi daya-daya motivasional yang

disebut dalam bahasa Jerman sebagai triebe, yang diterjemahkan sebagai insting atau nafsu. Id bekerja sejalan dengan prinsip-prinsip kenikmatan, yang bisa dipahami sebagai dorongan untuk selalu memenuhi kebutuhan dengan serta-merta.

Taniputera (2005: 45) mengatakan, karena bekerjanya hanya didorong oleh asas kesenangan semata, maka Id bersifat tidak logis, amoral, dan hanya memiliki satu tujuan semata: memuaskan kebutuhan-kebutuhan naluriah sesuai asas kesenangan tersebut. Id tidak pernah menjadi dewasa dan selalu menjadi unsur anak manja dalam kepribadian manusia. Id bersifat tidak sadar.

Menurut Bertens (2006:32-33), Id merupakan lapisan psikis yang paling mendasar, sekaligus Id menjadi bahan dasar bagi pembentukan hidup psikis lebih lanjut. Id merupakan aspek biologis dari kepribadian, yang fungsinya adalah mempertahankan konstansi, maksudnya membawa organisme dari keadaan tidak menyenangkan, karena munculnya kebutuhan-kebutuhan, ke keadaan seperti semula, yaitu menyenangkan. Oleh karena itu prinsip bekerjanya Id adalah prinsip kesenangan (pleasure principle). Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, Id memiliki perlengkapan dua macam proses. Proses yang pertama adalah tindakan-tindakan refleks, yaitu suatu bentuk tingkah laku atau tindakan-tindakan yang mekanisme kerjanya otomatis dan segera. Proses yang kedua adalah proses primer, yaitu dengan membentuk bayangan dari objek tertentu yang bisa mengurangi ketegangan.

Id seluruhnya berada pada alam bawah sadar. Id sering ditafsirkan sebagai instink seperti pada hewan. Namun instink berbeda dengan Id. Oleh freud Id disebut sebagai Triebe atau dalam arti literalnya drive (dorongan). Dorongan

inilah yang menurut Freud mengendalikan dan menentukan kemampuan, kualitas dan kapasitas seseorang. Kalau Id seseorang itu tinggi, maka kualitas orang tersebut secara keseluruhan dengan sendirinya akan tinggi. Usaha yang dilakukan oleh orang dengan Id yang tinggi lebih baik jika dibandingkan dengan usaha yang dilakukan oleh orang yang Id-nya rendah. Karena orang dengan Id tinggi berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam arti luas dengan lebih baik. Begitu hebatnya Id ini menurut Freud sampai-sampai Freud berkata “Man is what his sex is”; Kualitas Laki-laki itu tergantung dari nafsu birahinya. Itu kata Freud (http://tugaspersonality.blogspot.co.id/2012/11/arti-id-ego-dan-superego.html).

2.5.2. Ego

Ego adalah aspek psikologis dari kepribadian yang timbul karena keebutuhan organism untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitas). Misalnya, orang yang lapar pasti akan makan untuk menghilangkan tegangan yang ada dalam dirinya, ini berarti bahwa organism harus dapat memdebakan antara khyalan tentang makanan dengan kenyataan tentang makanan.

Disinilah letak perbedaan yang pokok antara id dan ego.

Ego tidak boleh disamakan dengan apa yang dalam psikologi nonanalitis diberi nama Ego atau Aku. Aktivitasnya bersifat sadar, prasadar, maupun tak sadar. Untuk sebagian besar Ego bersifat sadar, contohnya persepsi lahiriah, persepsi batin, dan proses-proses intelektual. Contoh aktivitas prasadar dapat dikemukakan fungsi ingatan. Dan aktivitas tak sadar dijalankan dengan mekanisme-mekanisme pertahanan. Adalah tugas Ego untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan lingkungan sekitar, dan

untuk memecahkan konflik-konflik dengan realitas dan konflik antara keinginan-keinginan yang tidak cocok satu sama lain. Ego juga mengontrol apa yang masuk ke kesadaran dan apa yang akan dikerjakan. Akhirnya, Ego menjamin kesatuan kepribadian; dengan kata lain, berfungsi mengadakan sintesis (Bertens, 2006: 33).

Ego dapat juga dipandang sebagai aspek eksekutif daripada kepribadian.

Oleh karena itu, ego ini mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara yang dapat memenuhinya, serta memilih objek-objek yang dapat memenuhi kebutuhan, di dalam menjalankan fungsi ini sering kali ego mempersatukan pertentangan-pertentangan antara id dan super ego dan dunia luar. Namun haruslah selalu diingat, ego adalah derivat dari id dan timbul untuk kepentingan kemajuan super ego dan bukan untuk merintanginya, peran utamanya adalah menjadi perantara antara kebutuhan-kebutuhan instingtif dengan keadaan lingkungan demi kepentingan adanya organisme (Muslimin, 2004:137)

2.5.3. Superego

Superego adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik-buruk). Sikap-sikap tertentu dari individu seperti observasi diri, koreksi atau kritik diri juga bersumber dari Superego (Koeswara, 1991: 34-35).

Menurut Bertens (2006:33-34), Superego dibentuk melalui internalisasi (internalization), artinya larangan-larangan atau perintah-perintah yang berasal dari luar (para pengasuh, khususnya orang tua) diolah sedemikian rupa sehingga akhirnya terpancar dari dalam. Menurut Freud, Superego terbentuk melalui

internalisasi nilai-nilai dari figur-figur yang berperan, berpengaruh atau berarti bagi individu. Aspek kepribadian ini memiliki fungsi :

1. Sebagai pengendali Id agar dorongan-dorongan Id disalurkan dalam bentuk aktivitas yang dapat diterima masyarakat.

2. Mengarahkan Id pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral.

3. Mendorong individu kepada kesempurnaan.

Superego menampilkan hal-hal yang ideal dan bukannya riil. Berbeda dengan Id yang digerakkan oleh asas kesenangan, Superego digerakkan oleh asas kesempurnaan. Superego terdiri dari nilai-nilai tradisional serta norma-norma ideal dalam masyarakat yang diajarkan oleh orangtua terhadap anaknya. Fungsi Superego adalah untuk menghambat dorongan-dorongan pemuasan yang berasal dari Id (Taniputera, 2005: 46).

Demikianlah struktur kepribadian menurut Freud, yang terdiri dari tiga aspek yaitu id, ego, dan super ego yang ketiganya tidak dapat dipisahkan. Secara umum, id bisa dipandang sebagai komponen biologis, ego sebagai komponen psikkologis, sedangkan super ego adalah sebagai komponen sosiologis.

BAB III

ANALISIS PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA MASHIRO MORITAKA DALAM KOMIK “BAKUMAN”

Dokumen terkait