BAB II LANDASAN TEORI
G. Prinsip Kerjasama
I. Teori Kesantunan Berbahasa
Dalam menciptakan suatu kondisi bertutur yang terkesan “halus” dan
“mesra”, peserta tutur yang terlibat dalam pertuturan itu perlu memperhatikan segi
kesantunan dalam tuturannya. Dengan memperhatikan kesantunan bertutur, maka
jika muncul konflik dapat dihindari. Lakoff berpendapat sebagai berikut.
Dalam menentukan tuturan santun atau tidak dapat dijelaskan dengan menggunakan tiga kaidah yaitu formalitas yang artinya jangan menyela, tetap sabar, jangan memaksa; kebebasan pilihan yang artinya buatlah sedemikian rupa sehingga mitra tutur dapat menentukan pilihan dari berbagai tindakan; serta kesederajatan yang artinya bertindaklah seolah-olah antara penutur dan mitra tutur sederajat, buatlah mitra tutur agar merasa senang ( dalam Gunarwan, 1993 : h.8).
Sebuah tuturan akan dinilai santun dan sopan apabila si penutur tidak terkesan memaksa, sehingga penutur dapat memberikan pilihan bertutur sehingga
mitra tutur merasa bahagia. Dalam hal ini segala strategi bertutur dapat ditempuh agar tuturan yang dituturkan oleh para peserta tutur dapat terkesan memiliki derajat kesantunan yang tinggi.
Tuturan-tuturan berikut ini dapat digunakan sebagai ilustrasi singkat. (34). Guru: “Ambil, Dik!”
(35). Guru: “Tolong ambil, Dik!”
(36). Guru: “Apa Bu guru bisa minta tolong ambilkan itu, Dik?”
Konteks Tuturan: Dituturkan oleh guru saat pelajaran berlangsung di dalam kelas. Saat itu guru sedang menuliskan contoh
di papan tulis tiba-tiba guru kehabisan kapur. Guru
menuturkan ketiga tuturan itu dengan intonasi yang
berbeda-beda.
Ketiga data di atas dapat dikatakan memiliki tingkat kesantunan yang
berbeda-beda. Tuturan (34) memiliki tingkat kesantunan yang sangat rendah
karena tuturan itu dituturkan oleh guru dengan intonasi tinggi, keras, serta tanpa
pembubuhan penanda kesantunan apapun, sehingga kadar tuntutan tuturan itu
cenderung langsung dan kasar. Tuturan (35) memiliki tingkat kesantunan yang
cukup tinggi karena tuturan itu dituturkan oleh guru dengan intonasi datar serta
dibubuhi penanda kesantunan, sehingga kadar tuntutannya cenderung melembut.
Tingkat kesantunan pada tuturan (36) dapat dikatakan tinggi karena tuturan itu
dituturkan dengan intonasi lembut, serta diiringi dengan ekspresi muka datar dan
tersenyum sehingga menyebabkan kadar tuntutan dalam tuturan itu menjadi
rendah.
Brown dan Levinson berpendapat sebagai berikut.
Teori kesantunan berbahasa merupakan ‘upaya penyelamatan muka’.
Untuk menghindari tindak mengancam ‘muka’, maka diperlukan
berbagai upaya penyamaran dalam bertutur. Terdapat tiga peringkat
antara penutur dan mitra tutur yang ditentukan oleh umur, jenis
kelamin, latar sosio-kultural; peringkat status sosial antara penutur dan
mitra tutur; serta peringkat tindak tutur yang didasarkan pada
kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan lainnya” dalam Rahardi
(2000, h. 36-38).
Tuturan-tuturan berikut ini dapat digunakan sebagai ilustrasi singkat.
(37). Guru: “Memberi salam!”
(38). Guru: “Coba…..memberi salam!”
Konteks Tuturan: Dituturkan oleh guru disertai dengan intonasi yang berbeda serta isyarat para linguistik yang berbeda
pula. Tuturan itu terjadi saat guru akan memulai kelas.
Sebagai tuturan yang memiliki makna atau maksud pragmatik imperatif
suruhan, kedua data diatas memiliki tingkat kesantunan yang berbeda-beda.
Tuturan (37) dapat dikatakan memiliki tingkat kesantunan yang rendah karena
tuturan tersebut disampaikan oleh guru dengan intonasi keras serta diiringi dengan
tindakan memukulkan kayu penggaris di papan tulis secara berulang-ulang..
Dengan menuturkan tuturan itu, secara tidak langsung guru telah melakukan
“ancaman terhadap muka” siswa karena tidak memberi pilihan kepada mereka
untuk menentukan pilihannya. Jika dilihat dari peringkat kedudukan, maka saat
guru menuturkan tuturan tersebut dapat dikatakan bahwa tindakan itu sah atau
diperbolehkan. Hal ini mengingat umur, kewenangan yang dimiliki guru lebih
tinggi dibandingkan dengan peringkat siswa.
Tuturan (38) dapat dikatakan memiliki kadar tuntutan yang sangat rendah
karena disampaikan dengan intonasi lembut, datar, dan dibubuhi dengan penanda
imperatif suruhan. Dengan membubuhkan penanda kesantunan coba, guru telah melakukan upaya “penyelamatan terhadap muka” siswa meskipun guru menyuruh
mereka untuk memberi salam, namun dengan tuturan yang lembut dan halus para
siswa itu tidak merasa kalau mereka sebenarnya “dirugikan” dengan hadirnya
tuturan itu. Leech berpendapat sebagai berikut.
Prinsip kesantunan terdiri dari eman maksim yaitu timbang rasa (tact), kemurahan hati (genetosity), pujian (approbation), kerendahan hati (modesty), kesetujuan (agreement), serta simpati (sympathy). Terdapat tiga skala untuk menentukan sebuah tuturan santun atau tidak. Ketiga skala itu
adalah skala biaya-keuntungan, skala keopsionalan, serta skala
ketaklangsungan (1993 : 194-195).
Tuturan-tuturan di bawah ini dapat digunakan sebagai ilustrasi singkat.
(39). Guru: “Dik, istirahat di luar, Dik!”
(40). Guru: “Dik, kalau ramai istirahat di luar saja!”
(41). Guru: “Dik, bagaimana kalau istirahat di luar?”
Konteks Tuturan: Dituturkan oleh guru kepada beberapa siswa yang terdengar ramai sedangkan siswa yang lain masih
sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
Disampaikan oleh guru dengan intonasi yang
berbeda-beda.
Dari ketiga bentuk tuturan di atas tampak bahwa “Istirahat diluar” bagi siswa memerlukan biaya yang sedikit, tetapi keuntungan yang diperolehnya cukup
besar. Keuntungan tersebut adalah “kebebasan” bagi mereka untuk bermain-main
dan untuk beberapa menit tidak memikirkan pelajaran atau tugas-tugas yang
diberikan oleh guru. Berdasarkan banyaknya pilihan di atas, dapat dinilai apakah
didasarkan pada intonasi guru saat menuturkan tuturan-tuturan tersebut atau
didasarkan pula pada panjang-pendek tuturan itu. Dari ketiga data di atas terdapat
banyak pilihan yang digunakan guru untuk menyatakan makna atau maksud
pragmatik imperatif perintah.
Data (39) dapat dinilai paling tidak santun karena guru tidak memberikan
pilihan apaupun kepada siswanya kecuali perintah agar siswa “Istirahat diluar”.
Selain itu, karena data di atas menggunakan bentuk-bentuk imperatif langsung
maka menyebabkan kadar tuntutan dalam tuturan itu menjadi langsung.
Sebaliknya, data (40) dan (41) dinilai paling santun sebab terdapat banyak pilihan
tutur yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan bentuk non imperatif yaitu
bentuk deklaratif dan bentuk introgatif. Pemanfaatan kedua bentuk itu dapat
digunakan untuk menyamarkan kadar tuntutan serta digunakan sebagai
“penyegaran” dalam bertutur sehingga siswa tidak menjadi bosan.
Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat digarisbawahi bahwa dalam
praktek bertutur kadangkala dijumpai antara penutur dan mitra tutur tidak selalu
bersikap langsung dalam mengemukakan pendapatnya. Adakalanya dijumpai
tuturan langsung tidak cocok untuk dituturkan, sehingga peserta tutur memilih
tuturan-tuturan tidak langsung untuk menyampaikan maksud tuturannya. Jadi,
dalam kondisi seperti itu pematuhan terhadap maksim-maksim bertutur yang
dikemukakan Grice tidak bisa diterima sehingga digunakan teori kesantunan yang
dikemukakan Leech yang berfungsi untuk memperlembut serta memperhalus