• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 Kerangka Teoritik 1 Teori Perwakilan

2.2.2 Teori Kinerja

2.2.2.1Pengertian Kinerja

Secara etimologi, kinerja berasal dari kata prestasi kerja (performance).

Sebagaimana dikemukakan oleh Mangkunegara (dalam Zaenuri, 2015:221) bahwa istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi

kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh individu atau organisasi dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.

Pendapat lain dikemukakan oleh Prawirosentono (1999) yang mendefinisikan kinerja sebagai berikut:

Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.

26

Definisi lainnya berasal dari Amstrong dan Baron (dalam Wibowo, 2008:7) yang berpendapat bahwa kinerja adalah hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan trategis organisasi, kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi. Dalam pandangan Amstrong dan Baron, kinerja mempunyai makna yang lebih luas dari pada hanya sebagai hasil kerja tetapi juga menyangkut bagaimana proses kerja berlangsung.

Dengan melihat definisi diatas maka kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) berhubungan erat dengan hasil kerja atau prestasi kerja yang telah dicapai DPRA sesuai dengan tugas, wewenang, dan tanggungjawabnya yang telah diamanahkan Undang-Undang. Tetapi dalam penelitian ini, peneliti hanya akan mengukur hasil kerja yang telah dicapai DPRA dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya yang berhubungan dengan fungsi legislasi. Sehingga berdasarkan Undang-Undang No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh pasal 23 ayat (1), tugas dan wewenang DPRA yang menyangkut pelaksanaan fungsi legislasi adalah sebagai berikut:

a. Membentuk Qanun Aceh yang dibahas dengan Gubernur untuk mendapat persetujuan bersama;

b. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh;

c. Memberikan pertimbanganterhadap rencana kerja sama internasional yang dibuat oleh Pemerintah yang berkaitan langsung dengan Aceh; d. Memberikan pertimbangan terhadap rencana bidang legislasi Dewan

Perwakilan Rakyat yang berkaitan langsung dengan Pemerintahan Aceh;

e. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan/atau dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah;

27

2.2.2.2Pengukuran Kinerja

Pengukuran terhadap kinerja perlu dilakukan untuk mengetahui apakah selama pelaksanaan kinerja terdapat deviasi dari rencana yang telah ditentukan, atau apakah kinerja dapat dilakukan sesuai jadwal waktu yang ditentukan, atau apakah hasil kinerja telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Jadi, intinya pengukuran kinerja terkait pada output, harapan atau misi organisasi (dalam hal ini DPRA). Sebenarnya banyak faktor yang dapat dijadikan ukuran kinerja, namun ukuran kinerja harus relevan, signifikan, dan komprehensif. Wibowo (2008:325-327) mengklasifikasi faktor-faktor yang dapat dijadikan ukuran kinerja sebagai berikut:

2.2.2.2.1 Produktivitas

Salah satu ukuran keberhasilan kinerja individu, tim atau organisasi terletak pada produktivitasnya. Apabila produktivitasnya tinggi atau bertambah, dinyatakan berhasil. Apabila lebih rendah dari standar atau menurun, dikatakan tidak atau kurang sukses. Produktivitas biasanya dinyatakan sebagai hubungan input dan output fisik suatu proses. Hal ini berkaitan dengan kuantitas (jumlah) hasil pekerjaan yang mampu diselesaikan sejumlah orang (atau/dan sumberdaya lainnya) dalam waktu tertentu. Produktivitas sering dibandingkan dengan standar yang sudah ditentukan sebelumnya.

Dalam mengukur produktivitas legislasi DPRA, penelitian ini akan melihat hasil kerja anggota dan struktur-struktur DPRA yang dibentuk sebagai pelaksana fungsi legislasi DPRA seperti badan legislasi, komisi, panitia-panitia khusus, dan lain-lainnya yang ditugaskan DPRA untuk merancang, membahas

28

dan membentuk qanun Aceh. Pengukuran produktivitas kinerja DPRA dilihat dari berhasil atau tidaknya DPRA menghasilkan qanun Aceh sebagaimana yang telah ditetapkan dalam program legislasi Aceh (prolega) setiap tahunnya.

2.2.2.2.2 Kualitas

Kualitas didefinisiskan sebagai kemampuan produk perundang-undangan memenuhi kebutuhan dan aspirasi rakyat. Kualitas terkait dengan standar mutu perkerjaan yang dihasilkan lembaga perwakilan. Hal ini biasanya diukur dengan jumlah produk perundang-undangan yang ditolak dan cacat karena tidak sesuai dengan peraturan ataupun diukur dari kepuasan rakyat terhadap produk perundang-undangan.

Kinerja DPRA juga diukur dari kualitas qanun yang mereka setujui. Apakah qanun tersebut sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan sehingga lolos dari tahap klarifikasi menteri dalam negeri, sehingga qanun tersebut dikatakan berkualitas karena sesuai standar. Atau apakah qanun yang mereka setujui mendapat penolakan dari rakyat Aceh karena tidak sesuai dengan aspirasi mereka, sehingga dikatakan tidak berkualitas karena tidak memuaskan masyarakat.

2.2.2.2.3 Ketepatan Waktu

Ketepatan waktu terkait dengan pembuatan perencanaan dan jadwal pekerjaan seseorang atau sekelompok orang dalam organisasi. Hal ini juga menyangkut apakah pekerjaan yang telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya. Kinerja DPRA yang diukur dengan ketepatan waktu, sangat tergantung dengan penyusunan perencanaan dan jadwal pembuatan

29

rancangan qanun dan qanun oleh DPRA untuk memanagemen waktu mereka. Dalam hal ini apakah DPRA dapat menyelesaikan rancangan qanun dan qanun sesuai waktu yang telah mereka tetapkan sebelumnya dalam prolega.

2.2.2.2.4 CycleTime

Cycle time adalah jumlah waktu yang diperlukan untuk maju dari satu titik

ke titik lain dalam proses. Ukuran cycle time akan mengukur berapa lama suatu

pekerjaan dilakukan. Kinerja DPRA yang diukur dengan cycle time, sangat

tergantung dengan penyusunan perencanaan dan jadwal pembuatan rancangan qanun dan qanun oleh DPRA untuk memanajemen waktu mereka dalam setiap tahapan pembentukan Qanun Aceh yang dimulai dari tahapan perencanaan hingga kepada tahapan pengambilan keputusan penetapan Qanun Aceh. Dalam hal ini peneliti ingin melihat berapakah waktu yang dibutuhkan DPRA untuk menghasilkan sebuah Qanun Aceh, berapakah waktu terlama dan berapakan waktu tercepat untuk menghasilkan sebuah Qanun Aceh.

2.2.2.2.5 Pemanfaatan Sumber Daya

Pemanfaatan sumber daya merupakan pengukuran sumber daya yang digunakan dibanding dengan sumber daya yang tersedia. Pemanfaatan sumber daya dapat diterapkan untuk mesin, komputer, kendaraan dan bahkan orang. Kinerja DPRA yang terkait dengan pemenfaatan sumberdaya dilihat dari maksimalnya pemanfaatan staf, tenaga ahli, sarana dan prasarana oleh DPRA dalam menghasilkan qanun Aceh.

30

2.2.2.2.6 Biaya

Ukuran biaya berguna apabila dilakukan kalkulasi dalam dasar per-unit. Namun, banyak organisasi hanya mempunyai sedikit informasi tentang biaya per- unit. Oleh karena itu, pada umumnya dilakukan kalkulasi biaya secara menyeluruh. Terkait hal ini, peneliti ingin melihat berapakah biaya untuk membuat suatu rancangan qanun dan qanun dan berapakah biaya yang dianggarkan APBA setiap tahunnya untuk pembuatan qanun. Peneliti juga akan melihat apakah DPRA menggunakan Anggaran ini secara efektif dan efisien atau terjadi pemborosan anggaran oleh DPRA.