BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Teori Perdagangan Internasional
1. Teori Klasik
a. Teori Keunggulan Mutlak (Absolute Advantage)
Teori keunggulan mutlak Adam Smith sering disebut sebagai teori murni perdagangan internasional. Adam Smith mengajukan teori perdagangan internasional yang dikenal dengan teori keunggulan absolut. Menurutnya jika suatu negara menghendaki adanya persaingan, perdagangan bebas dan spesialisasi di dalam negeri, maka hal yang sama juga dikehendaki dalam hubungan antar bangsa. Prinsip keunggulan absolut yaitu negara harus
33
mengkhususkan memproduksi barang-barang yang memiliki keunggulan absolut. (Hill et al, 2014:189-190).
Tabel 2.2 dapat diasumsikan Korea Selatan dan Ghana memiliki sumber daya yang sama dan sumber daya tersebut digunakan untuk menghasilkan kakao dan beras. Terdapat 200 unit sumber daya pada setiap negara.
Tabel 2.2 Keunggulan Absolut
Sumber Daya yang Dibutuhkan untuk Memproduksi 1 Ton
Negara Beras Kakao
Korea Selatan 10 40
Ghana 20 10
Produksi dan Konsumsi Tanpa Perdagangan
Negara Beras Kakao
Korea Selatan 10 2,5
Ghana 5 10
Total Produksi 15 12,5
Spesialisasi Produksi
Negara Beras Kakao
Korea Selatan 20 0
Ghana 0 20
Total Produksi 20 20
Kegiatan One-to-One
Negara Beras Kakao
Korea Selatan 14 6
Ghana 6 14
Peningkatan Konsumsi Karena Spesialisasi dan Perdagangan
Negara Beras Kakao
Korea Selatan 4 3,5
Ghana 1 4
Jika Korea Selatan membutuhkan 10 sumber daya untuk 1 ton beras dan 40 sumber daya untuk menghasilkan 1 ton kakao, maka Korea Selatan mampu menghasilkan 20 ton beras namun tidak bisa menghasilkan kakao, 5 ton kakao namun tidak bisa menghasilkan beras atau melakukan kombinasi beras dan kakao. Jika negara Ghana membutuhkan 20 sumber daya untuk menghasilkan 1 ton beras dan 10 sumber daya untuk menghasilkan 1 ton kakao, maka Ghana mampu menghasilkan 10 ton beras namun tidak bisa menghasilkan kakao, 20 ton kakao namun tidak bisa menghasilkan beras atau bisa juga dilakukan kombinasi kakao dan beras. Kombinasi tersebut dinamakan batas kemungkinan produksi atau Production Possibility
Frontier (PPF).
Jika kedua negara tersebut tidak melakukan kegiatan perdagangan dengan negara lain, maka setiap negara harus mengkonsumsi produk yang dihasilkan. Oleh sebab itu, setiap negara harus membagi setengah sumber dayanya untuk produksi kakao dan setengah untuk produksi beras. Korea Selatan akan menghasilkan 2,5 ton kakao dan 10 ton beras, sedangkan Ghana menghasilkan 5 ton beras dan 10 ton kakao. Dengan tidak adanya kegiatan perdagangan, maka gabungan hasil produksi kedua negara tersebut adalah 12,5 ton kakao dan 15 ton beras. Jika kedua negara melakukan spesialisasi pada produksi mereka yang memiliki keunggulan absolut kemudian melakukan perdagangan pada negara lain yang tidak memiliki hasil produksi tersebut, maka Korea Selatan hanya akan menghasilkan 20 ton beras dan Ghana hanya akan meghasilkan 20 ton kakao. Adanya
35
kegiatan spesialisasi tersebut mampu menaikkan barang yang diproduksi tiap negara.
Kedua negara juga bisa melakukan one-to-one, yaitu menukarkan 1 ton hasil produksinya untuk hasil produksi dari negara yg lainnya (harga 1 ton beras sama dengan harga 1 ton kakao). Jika Korea Selatan mengekspor 6 ton beras ke Ghana dan mengimpor 6 ton kakao dari Ghana, maka hasil akhirnya menjadi 14 ton beras dan 6 ton kakao. Korea Selatan akan memiliki kelebihan 4 ton beras dan 3,5 ton kakao sebelum adanya spesialisasi dan kegiatan perdagangan serta Begitu pun dengan negara Ghana yang mengekspor 6 ton kakao ke Korea Selatan dan mengimpor 6 ton beras dari Korea Selatan, maka hasilnya adalah Ghana memiliki 14 ton kakao dan 6 ton beras serta memilki kelebihan 1 ton beras dan 4 ton kakao sebelum ada spesialisasi produksi dan perdagangan. Akibat adanya spesialisasi produksi dan kegiatan perdagangan, hasil produksi pun dapat ditingkatkan.
b. Teori Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage)
Teori perdagangan internasional ini diperkenalkan oleh J.S Mill dan David Ricardo. Menurut David Ricardo dalam bukunya yang berjudul Principles
of Political Economy and Taxation tahun 1817, cukup logis jika suatu
negara mengkhususkan dalam memproduksi barang-barang yang menghasilkan dan cukup efisien untuk membeli barang-barang yang menghasilkan namun tidak cukup efisien dari negara lain. Teori tersebut menunjukkan bahwa dunia produksi potensial lebih besar dengan adanya perdagangan bebas tak terbatas daripada dengan perdagangan terbatas. Jadi konsumen di seluruh negara bisa mengkonsumsi lebih banyak produk jika tidak ada keterbatasan dalam perdagangan. Teori keunggulan komparatif juga menunjukkan bahwa perdagangan adalah positive-sum
serta mendorong adanya kegiatan perdagangan bebas (Hill et al, 2014:192-194).
Seorang ahli ekonomi Inggris bernama David Ricardo mengembangkan teori keunggulan komparatif yang menyatakan bahwa negara harus memproduksi dan mengekspor barang yang secara relatif lebih produktif dibandingkan dengan negara lain dan mengimpor barang dari negara lain yang secara relatif lebih produktif dibandingkan barang milik mereka (Griffin, 2015:148). Teori ini menunjukkan bahwa ketika suatu bangsa yang memiliki kelemahan absolut dalam produksi dua barang dari sudut pandang bangsa lain, maka negara tersebut memiliki suatu keunggulan komparatif atau relatif dalam memproduksi barang (Noor, 2011:143). Berbeda dengan teori keunggulan absolut yang mengutamakan keunggulan absolut dalam produksi tertentu yang dimiliki oleh suatu negara dibandingkan dengan negara lain, teori ini berpendapat bahwa perdagangan internasional dapat terjadi walaupun satu negara tidak mempunyai keunggulan absolut, asalkan harga komparatif di kedua negara berbeda.
Keunggulan komparatif hanya dapat terjadi karena adanya perbedaan produktivitas tenaga kerja secara internasional (Krugman dan Obstfeld, 2003:67). Ricardo berpendapat sebaiknya semua negara lebih baik berspesialisasi dalam komoditi-komoditi dimana mereka mempunyai keunggulan komparatif dan mengimpor saja komoditi-komoditi lainnya.
Teori ini menekankan bahwa perdagangan internasional dapat saling menguntungkan jika salah satu negara tidak usah memiliki keunggulan absolut atas suatu komoditi seperti yang diungkapkan oleh Adam Smith, namun cukup memiliki keunggulan komparatif di mana harga untuk suatu komoditi di negara yang satu dengan yang lainnya relatif berbeda. Suatu
37
negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang dimiliki comparative advantage (suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar). (Hill et al, 2014:195).
Menurut (Krugman dan Obstfeld, 2003:34) keunggulan komparatif menunjukkan bahwa negara akan mengekspor barang yang di produksi oleh tenaga kerjanya secara efisien dan mengimpor barang yang produktivitasnya dianggap tidak efisien. Keuntungan yang diperoleh negara dalam teori ini dijelaskan dalam dua cara, yaitu perdagangan memungkinkan negara untuk membuka kemungkinan mengkonsumsi barang yang tidak di produksi oleh negara tersebut dan perdagangan dengan metode produksi tidak langsung. Negara tidak perlu memproduksi semua barang sendiri, karena negara dapat memperoleh barang yang dibutuhkan tanpa harus memproduksinya. Ketika suatu barang di impor maka dapat dipastikan bahwa barang impor tersebut merupakan barang produksi tidak langsung, dimana biaya produksinya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan produksi sendiri.
Tabel 2.3 Keunggulan Komparatif Output Per Jam Tenaga Kerja
Prancis Jepang
Anggur 4 1
Radio Jam 6 5
Sumber : Griffin, 2015:149
Tabel 2.3 menjelaskan bahwa Prancis memproduksi 4 botol anggur dan 6 radio jam per jam kerja. Prancis memiliki keunggulan absolut untuk
produksi anggur maupun radio jam karena dalam setiap jam kerja, Prancis memproduksi 3 botol anggur lebih banyak dari pada Jepang dan 1 radio jam lebih banyak daripada Jepang. Menurut keunggulan absolut, tidak akan ada perdagangan yang harus terjadi karena Prancis lebih produktif daripada Jepang untuk memproduksi kedua barang tersebut. Namun dari sisi keunggulan komparatif, perdagangan masih bisa terjadi karena Prancis lebih unggul 4 kali untuk memproduksi anggur dibandingkan Jepang tapi hanya 1,2 kali lebih unggul dalam memproduksi radio jam dibandingkan Jepang. Sedangkan Jepang memproduksi anggur hanya 0,25 kali dari Prancis dan 0,83 kali memproduksi radio jam dibandingkan Prancis.
Berdasarkan teori keunggulan komparatif agar sama-sama mnguntungkan, Prancis harus mengekspor anggur ke Jepang dan Jepang mengekspor radio jam ke Prancis. Tanpa adanya perdagangan, 1 botol anggur akan dijual seharga 1,5 radio jam di Prancis dan untuk 5 radio jam di Jepang. Jika Jepang menukarkan 2 radio jam untuk 1 botol anggur, maka Prancis akan diuntungkan meskipun Prancis mempunyai keunggulan absolut untuk radio jam. Dengan perdagangan, Prancis mendapatkan 2 radio jam dengan mengorbankan 1 botol anggur untuk Jepang. Begitupun dengan Jepang yang harus merelakan 5 radio jam untuk memperoleh 1 botol anggur. Dengan perdagangan, Jepang harus mengorbankan 2 radio jam untuk 1 botol anggur.
39
c. Teori Heckscher-Ohlin
Ekonom Swedia, Eli Heckscher (tahun 1919) dan Bertil Ohlin (tahun 1933) berpendapat bahwa keunggulan komparatif timbul dari perbedaan dalam faktor sumber daya nasional atau faktor anugerah (factor
endowment), yang artinya sejauh mana negara diberkahi sumber daya
seperti tanah, modal dan tenaga kerja (Hill et al, 2014:201).
Teori ini mengemukakan bahwa negara akan mengekspor produk yang memerlukan faktor produksi mereka yang berlimpah atau faktor anugerah (factor endowment), dan mengimpor produk yang memerlukan sejumlah besar faktor produksi mereka yang langka (Caliendo,2010:3).
Faktor pendukung yang berbeda menjelaskan perbedaan faktor biaya, semakin berlimpah faktornya makan semakin rendah faktor biayanya. Teori Heckscher-Ohlin berpendapat bahwa pola perdagangan internasional ditentukan oleh perbedaan faktor pendukung daripada faktor produktivitas (Hill et al, 2014:202).
Sebuah negara mungkin memiliki nilai absolut yang lebih besar daripada tenaga kerja maupun tanah dari negara lain, namun secara relatif menjadi melimpah di salah satu faktor-faktor tersebut. Teori perdagangan Heckscher-Ohlin menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat terjadi karena setiap negara memiliki keunggulan komparatif yang berbeda. Idealnya perdagangan internasional akan membawa kesetaraan nilai dari faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal antar negara. Namun pada kenyataannya hal ini tidak dapat terjadi karena besarnya perbedaan sumber daya, hambatan perdagangan dan perbedaan teknologi antar negara (Krugman dan Obstfeld, 2003:86).