• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI KOGNITIF PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN Sri Waluyant

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 138-141)

Universitas Negeri Yogyakarta

Email: [email protected]

ABSTRAK

Perkembangan Teknologi Informatika dan Komputer telah memudahkan bagi desainer multimedia pembelajaran dalam mengkombinasikan suara, gambar, grafik dengan tata letak, bentuk tulisan, komposisi warna yang menarik. Namun tidak semua desainer multimedia pembelajaran mengetahui tentang cara peserta didik belajar dari representasi verbal, sedikit wawasan mengenai pengolahan informasi visual, verbal, teks dan kombinasinya. Seiring dengan luasnya penggunaan multimedia pembelajaran telah melahirkan arsitektur-arsitektur kognitif baru. Arsitektur kognitif meliputi deskripsi memori penyimpan, kode memori, dan operasi kognitif. Arsitektur yang relevan dengan pembelajaran multimedia meliputi teori pengkodean ganda Paivio, model memori kerja Baddeley, teori multimodal Engelkamp, teori beban kognitif Sweller, teori multimedia pembelajaran Mayer, dan teori ANIMATE Nathan. Makalah ini membahas masalah cara mempersiapkan multimedia pembelajaran yang produktif dengan menerapkan strategi kognitif yang efektif.

Kata kunci: pembelajaran multimedia, teori kognitif, strategi

ABSTRACT

The development of Information and Computer Technology has made it easier for multimedia learning designers in combining sounds, images, graphics, withattractive layouts andcolourscomposition. However, not all learning multimedia designers know about how students learn from verbal representations, a little knowledgeaboutthe visual information processing, verbal, texts and the combination. The increasing use of learning multimediahas creatednew cognitive architectures. Cognitive architectures include a storage memorydescription, memorycode, and cognitive operations. Architectures relevant to multimedia learning include dual coding theoryof Paivio, working memory model of Baddeley, Engelkamp multimodal theory, cognitive theory ofSweller, multimedia learning theory of Mayer and Nathan Animate theory. This paper discusses the issues of preparingproductive learning multimedia by implementing an effective cognitive strategy.

Keywords: multimedia learning, cognitive theory, strategy

PENDAHULUAN

Pertama kali hal yang orang pikirkan dalam membuat presentasi multimedia adalah ketuntasan dan kemenarikan sajian informasi. Pemikiran ketuntasan informasi membawa desainer presentasi multimedia lupa keterbacaan tulisan dilihat dari faktor

ukuran huruf, komposisi warna dan ba- nyaknya kata-kata yang disajikan dalam satu bingkai tampilan. Pemikiran kemena- rikan tampilan sering membuat desainer multimedia lupa seberapa banyak kata, suara atupun gambar yang tidak relevan, warna yang tidak kontras ditampilkan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402

133

sehingga mengganggu keterbacaan infor- masi. Desainer multimedia entah karena lupa atau tidak tahu seringkali juga mengabaikan kepentingan kebutuhan mul- timedia dari sisi peserta didik. Transfer informasi dari sumber informasi hingga menjadi pengetahuan bagi penerima infor- masi membutuhkan proses yang cukup rumit. Presentasi yang diduga menarik, lengkap, tidak jarang menimbulkan keru- mitan proses pengolahan informasi dalam diri peserta didik sehingga cepat menum- buhkan kejenuhan kognitif. Untuk mem- buat tampilan presentasi multimedia yang menarik, dapat berfungsi sebagaimana tujuannya, seorang desainer multimedia pembelajaran perlu memahami teori kog- nitif media pembelajaran.

Teori kognitif merupakan bidang interdisipliner yang relatif baru dari ilmu kognitif. Istilah kognitif mengacu meng- amati dan mengetahui, dan ilmuwan kognitif berusaha memahami proses jiwa seperti mengamati, berpikir, mengingat, memahami bahasa, dan belajar. Ilmu kognitif dapat memberikan wawasan kuat dalam sifat manusia, meningkatkan poten- si sehingga dapat mengembangkan tekno- logi. Berkembangnya teknologi informasi dan komputer terutama yang berkaitan dengan multimedia telah menghadirkan arsitektur-arsitektur kognitif baru yang melahirkan landasan teoritis untuk multi-

media pembelajaran. Berdasarkan papa- ran di atas, untuk membuat multimedia pembelajaran yang dapat berfungsi dengan baik terdapat beberapa permasa- lahan, diantaranya adalah 2 pertanyaan yaitu: (1) Bagaimakah proses pengolahan informasi presentasi menjadi pengetahuan bagi peserta didik ?; dan (2) Prinsip-prinsip apa yang harus dipenuhi oleh seorang desainer multimedia pembelajaran agar presentasi dapat dipelajari secara menye- nangkan?

ANALISIS PEMECAHAN MASALAH Untuk menjawab permasalahan di atas perlu dipahami terlebih dahulu sejarah tumbuhnya teori kognitif multime-

dia pembelajaran. Meyer[1] mengartikan

multimedia pembelajaran adalah pesan yang dikomunikasikan dalam bentuk kata- kata dan gambar tang dimaksudkan untuk mendorong terjadinya pembelajaran. Multi- media dalam makalah ini diartikan seba- gai perpaduan beberapa media berupa kata-kata, animasi, grafik, teks, simulasi, gambar, grafik, suara yang dipadukan secara harmonis sehingga menyenangkan untuk belajar. Multimedia dapat digunakan secara langsung dapat pula dalam bentuk rekaman, juga dapat digunakan secara luas melalui publikasi (broadcast). Proses pembuatan multimedia dapat diilustrasikan dalam gambar 1 di bawah ini.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402

134

Gambar 1. Proses Pembuatan Multimedia Pembelajaran

Teori Kognitif Multimedia

Teori kognitif multimedia[1] pembe- lajaran merupakan upaya untuk membantu mencapai tujuan dengan menjelaskan cara orang belajar dari kata-kata dan gambar, berdasarkan bukti penelitian empiris yang konsisten[1,2,3] dan prinsip konsensus dalam ilmu kognitif (Bransford, Brown, & Cocking 1999; Lambert & McCombs, 1998; Mayer 2003b). Perkem- bangan teori kognitif multimedia pem- belajaran dapat dijelaskan berikut ini. Teori Pengkodean Ganda Paivio

Sebuah premis dasar teori

pengkodean ganda Paivio adalah

representasi mental dalam mempertahan- kan kualitas pengalamanan nyata dari luar terkait dengan peristiwa linguistik dan non linguistik (Clark and Paivio, 1986:1). Representasi merupakan modalitas spe- sifik, sehingga dapat memiliki logogens dan Imagens sesuai dengan visual, auditori, rasa, dan motorik bahasa. Teori pengkodean ganda menampung dua domain dalam sistem verbal dan non verbal yang bekerja secara terpisah dan diolah secara berbeda (Gambar 2). Teori

pengkodean ganda (dual coding)

mengidentifikasi ada tiga jenis pengolahan meliputi: (a) representasional, merupakan aktivasi langsung dari representasi verbal maupun noverbal, (b) refensial, aktivasi sistem lisan oleh sistem nonverbal atau sebaliknya, dan (c) pengolahan asosiatif, aktivasi representasi dalam sistem verbal ataupun nonverbal.

Gambar 2. Proses Pengkodean Ganda Paivio (Clark and Paivio, 1986)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402

135

Model Memory Kerja Baddeley

Dalam upaya menggambarkan

model yang akurat tentang memori jangka pendek, Alan Baddeley dan Graham Hitch

pada tahun 1974[4] mengusulkan Model

Memory Kerja. Memori kerja mempunyai fungsi utama; (a) eksekutif pusat bertindak sebagai sistem pengawasan dan mengon- trol arus informasi dari dan ke sistem budaknya, (2) loop fonologi dan sketsa visuospatial. Sistem budak adalah sistem penyimpanan jangka pendek yang dide- dikasikan untuk domain konten (verbal dan visuospasial). Kinerja dua tugas simultan membutuhkan penggunaan dua domain persepsi terpisah (visual dan verbal) hampir seefisien kinerja tugas individual. Sebaliknya, ketika seseorang mencoba untuk melaksanakan dua tugas secara bersamaan dengan menggunakan domain persepsi yang sama, kinerja kurang efisien dibandingkan saat melakukan tugas secara individual.

Teori Multimodal Engelkamp

Engelkamp mengusulkan bahwa mengkodekan informasi visual pengamat- an tentang gerakan secara tidak langsung telah mengkodekan informasi kinerja gerakan. Salah satu aplikasi dari gagasan ini pada pembelajaran mengamati gerak- an yang dapat mengarahkan untuk

melakukan. Contoh mengamati langkah- langkah instruktur tari, kemudian diingat kembali yang hasilnya dapat dipengaruhi oleh kedua memori visual dari observasi instruktur dan memori cara melakukan gerakan. Komponen teori multimodal Engelkamp tdiilustrasikan dalam gambar 3 terdiri dari masukan visual dan sistem keluaran (enactment) dan masukan verbal

(pendengaran, bacaan) dan sistem

keluaran (pembicaraan, penulisan).

Keempat komponen modalitas spesifik dihubungkan ke sistem konseptual. Teori Beban Kognitif Sweller

Teori-teori yang diusulkan oleh Paivio, Baddeley, dan Engelkamp memiliki

implikasi untuk instruksi. Implikasi

pembelajaran kapasitas memori kerja terbatas telah dikembangkan oleh Sweller sebagai teori beban kognitif. Asumsi kapasitas terbatas menyatakan bahwa jumlah informasi yang dapat diproses memori kerja dalam satu waktu terbatas. Dengan kata lain, belajar terhalang ketika terjadi kelebihan beban kognitif dan kapasitas memori kerja terlampaui (De

Jong, 2010). Menurut According to

Sweller, Van Merrienboer, and Paas tahun 1998[5] ada tiga jenis beban kognitif yaitu intrinsik, asing, dan berkaitan erat.

Gambar 3. Diagram Alir Teori Memori Multimodal Engelkamp (Zheng[6])

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 138-141)