• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Pergantian Siklus

2.4 Teori Konflik Dalam Perspektif Komunikasi

Konflik, didefinisikan oleh (Joyce L & William W, 1986) sebagai

“ketidaksepakatan atau perdebatan antara setidaknya dua pihak yang saling bergantung di mana mereka merasa satu sama lain memiliki tujuan yang tidak sesuai, tidak adanya perilaku yang menyenangkan (hadiah), dan intervensi pihak lain. pihak dalam mencapai tujuan. Konflik interpersonal merupakan salah satu bentuk konflik yang melibatkan orang. Konflik interpersonal muncul ketika dua

52 orang atau lebih percaya bahwa sikap, perilaku, atau tujuan yang mereka inginkan bertentangan satu sama lain.

Persepsi individu tentang komunikasi antarpribadi dapat berdampak pada konflik antarpribadi, yang memerlukan manajemen. konflik muncul dari kurangnya kontak (komunikasi) yang disebabkan oleh berbagai pandangan individu dan berbagai variabel lainnya. Yang pasti, bagaimanapun, adalah bahwa jika ketidaksepakatan tidak diselesaikan dengan cepat, kolaborasi karyawan akan terganggu di tempat kerja, dan keinginan karyawan untuk berprestasi akan berkurang.

Menurut (Soaelarso H, Soebekti, & Mufid , 2005), akan terjadi proses psikologis sensasi, memori, persepsi, dan penalaran selama proses komunikasi interpersonal. Keempat fase ini menggambarkan bagaimana seseorang mendengar pesan dan meresponnya. Ketika stimulus ditangkap oleh indera manusia (indera), diubah menjadi impuls saraf dan kemudian dipahami oleh otak manusia. Akibatnya, ketepatan dan kecepatan pemahaman stimulus ditentukan oleh kepekaan indera manusia, yang mempengaruhi langkah berikutnya.

Di mana saja, kapan saja, dan dalam hubungan apa pun, konflik dapat muncul. Sebagai contoh, dalam pernikahan suami-istri, perselisihan yang kuat dan berkelanjutan antara suami dan istri yang dipicu oleh berbagai penyebab sering menyebabkan pasangan memilih untuk bercerai dengan cepat, dan masalah komunikasi adalah elemen penyebab paling umum yang memulai konflik. Masalah pernikahan muncul secara umum karena interaksi interpersonal dalam pernikahan jauh lebih sulit untuk diubah daripada dalam bisnis (Hurlock E. B., 2003).

53 Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan variasi individu dalam pernikahan dapat menimbulkan perselisihan, pertengkaran, dan pertengkaran, bahkan dapat berujung pada perceraian.

Potensi konflik akibat perbedaan budaya yang dapat mengarah pada pemikiran dan pertimbangan perceraian sangat penting untuk diperhatikan karena, walaupun konflik akan selalu ada dalam pernikahan apa pun, memahami akar penyebab konflik karena perbedaan budaya dan bagaimana mengelola konflik secara efektif adalah hal yang ideal. Setiap hubungan, terutama hubungan antarbudaya, memilikinya. Aspek individu dari perbedaan budaya sebagai faktor pemicu konflik dalam pernikahan antarbudaya akan dibahas lebih mendalam pada bagian berikut, diikuti dengan model yang efektif untuk mengelola konflik sehingga setiap pasangan antarbudaya dapat mencapai kualitas, kepuasan, dan kebahagiaan dalam pernikahan. kemampuan untuk menjaga pernikahan mereka bersama sampai mereka tua.

2.4.1 Tahap-Tahap Konflik

Faktor Yang Mempengaruhi Konflik Perkawinan Beda Budaya

Berikut ini adalah unsur-unsur yang menimbulkan konflik dalam komunikasi perkawinan antarbudaya:

a. Kesulitan Komunikasi

Masalah komunikasi umumnya merupakan masalah pertama yang muncul dalam pernikahan internasional. Tujuan awalnya sering kali sama, namun kesalahpahaman menghasilkan konflik yang melelahkan secara emosional.

b. Perbedaan Pola Pikir

54 Potensi Konflik dalam Pernikahan Lintas Budaya antara Wanita Indonesia dan Pria Kaukasia, sebuah penelitian yang dipublikasikan di situs Research Gate, mengungkapkan bahwa sumber utama konflik dalam pernikahan antarbudaya adalah perbedaan mentalitas. Perbedaan pemikiran menjadi penghalang besar di awal pernikahan, ketika masing-masing pasangan diharapkan untuk cepat mempelajari cara berpikir pasangannya.

c. Perbedaan pendapat tentang Prinsip Hidup

Perbedaan tujuan hidup dapat menyebabkan masalah rumah tangga yang sulit. Perdebatan yang panjang disebabkan oleh perbedaan pandangan dan misi dalam menghadapi konflik perkawinan, seperti faktor sosial, psikologis, dan ekonomi.

d. Kendala dalam Pengasuhan Anak

Dalam hal mengasuh anak, pelajaran yang diajarkan kepada anak-anak seringkali didasarkan pada pengalaman masing-masing pasangan sebagai seorang anak. Pria lebih cenderung menggunakan metode pengajaran yang ketat, sedangkan wanita menempatkan nilai empati yang lebih tinggi untuk anak-anak. Bagi pasangan dari budaya yang berbeda, perbedaan seperti itu biasanya menjadi batu sandungan kecil dalam pernikahan mereka.

e. Hubungan Keluarga

Masalah paling umum yang dihadapi oleh pasangan dari berbagai budaya adalah kesulitan berinteraksi dengan keluarga pasangan dan lingkungan sosial. Ingatlah bahwa, seperti kata pepatah, pernikahan tidak hanya menyatukan dua kepribadian yang berbeda, tetapi juga dua keluarga yang

55 terpisah. Setiap keluarga memiliki seperangkat peraturannya sendiri di dalam rumah, dan mungkin perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan variasi kebijakan ini, yang dapat menyebabkan konflik.

f. Manajemen Konflik

Menurut (Baron & Byrne, 2005), kunci kualitas pernikahan adalah kemampuan untuk menghadapi masalah secara memuaskan daripada menghindari semua masalah yang terjadi sebagai akibat dari konflik. Ada lima jenis model manajemen konflik yang ditawarkan oleh Rahim (Cheng, Jer-Yan Lin, & Tzy-Yih Hsiao, 2010) dalam hal strategi pemecahan masalah:

a) Gaya mengintegrasikan (integrating style) ditandai dengan tingkat kesadaran diri dan orang lain yang tinggi. Konsep ini mengacu pada penerapan teknik pemecahan masalah untuk mencapai hasil yang diinginkan oleh kedua belah pihak.

b) Gaya kompromi (compromising style), yang melibatkan kesadaran diri dan orang lain yang sederhana. Pasangan ini menggunakan pendekatan ini untuk mencoba mencapai kesepakatan yang dapat diterima semua pihak, meskipun itu mungkin bukan pilihan pertama mereka.

c) Obligating style (required model), yang melibatkan fokus rendah pada diri sendiri dan kepedulian yang kuat terhadap orang lain, di mana seseorang berusaha menghindari konflik dengan mengakomodasi tuntutan orang lain dan memberi sesuai harapan mereka.

56 d) Gaya mendominasi (dominating style), yang mencerminkan fokus tinggi pada diri sendiri dan fokus rendah pada orang lain. Individu yang menggunakan pendekatan ini berusaha untuk mengontrol atau mendominasi orang lain.

e) Gaya penghindaran (Avoiding style), di mana seseorang berusaha menghindari situasi atau kemungkinan konfrontasi.

Dokumen terkait