PERTEMUAN I : TEORI DAN PENELITIAN
1.4. Teori, Konsep, dan Hubungan
Kata-kata atau istilah yang memberikan label elemen penting yang terdapat dalam sebuah teori. Konsep meliputi kohesivitas (groupthink), disonasi (Cognitive Dissonance Theory), diri (Symbolic Interaction Theory), adegan (dramatism). Konsep yang tidak dapat diamati seperti demokrasi, cinta dan kebahagiaan. Entitas mental tentang universalitas yang merujuk pada kategori-kategori atau kelas-kelas dari suatu entitas, kejadian atau berbagai hubungan. Konsep sebagai istilah yang berbagian pada arti yang saling dipahami sebagai suatu sistematika yang saling terjalin atau berhubungan.
Konsep merupakan usaha penyusunan utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran tentang manusia dan interaksi yang dilakukan oleh manusia. Konsep didefinisikan sebagai suatu arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kemiripan dari entitas lain. Konsep diartikan juga sebagai suatu abstraksi dari ciri-ciri yang mempermudah komunikasi antar manusia yang memungkinkan manusia dalam
9
proses berpikir. Pengertian tentang konsep merupakan representasi abstrak dari situasi objek atau peristiwa suatu akal dan pikiran suatu ide atau gambaran mental. Suatu konsep elemen dari proposisi seperti elemen dari sebuah kalimat dalam bentuk paragraph. Konsep adalah universal di mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap eksistensinya sebagai wujud interaksi manusia dengan lingkungannya. Konsep pembawaan dari arti yang diwujudkan dalam makna dalam pengetahuan yang selalu dipertanyakan. Sementara hubungan merupakan subordinat atau bagian suatu konsep yang berhubungan dengan tempat suatu konsep ditentukan. Dan bagian super ordinat yang dilakukan dalam konsep secara luas dalam superordinate dan dilakukan dalam perilaku manusia.
Dalam penelitian kualitatif yang sifatnya menyeluruh atau holistik, jumlah teori yang harus memiliki banyak fenomena yang berkembang di lapangan, sehingga teori dan peruntukan teori dalam penelitian kualitatif banyak membutuhkan hubungan teori yang lebih luas, kemudian hubungan teori-teori yang terdapat di dalam penelitian tersebut dapat menjangkau semua aspek dalam berbagai kajian yang diteliti. Teori dan hubungan teori, baik konsep yang dipakai dalam penelitian menjadi instrument penelitian yang baik dan memahami konteks-konteks sosial terutama yang berkaitan dengan ilmu komunikasi.
Dalam hal ini penelitian kualitatif menuntut komprehensif penggalian data dan analisa data, teori dan hubungan teori dapat dikembangkan sebagai instrument yang tepat untuk menjangkau analisis keseluruhan dari berbagai perspektif kajian, terutama ruang fokus kajian ilmu komunikasi, mengingat kajian penelitian komunikasi bersifat kompleks yang membutuhkan kompleksitas teori, konsep dan hubungan antara teori dengan teori lain dan
10
atau hubungan konsep dengan konsep yang lain. Teori dalam hal ini di maknai sebagai serangkaian konsep tentang penjelasan fenomena yang diteliti dan dijadikan sebagai formal analisis yang disesuaikan dengan kegunaan, sifat teori disini adalah sebagai relevansi kajian penelitian baik tema, topik penelitian yang mempunyai relevansi dengan fenomena penelitian dan sistem analisis datanya.
Fokus penelitian yang dituangkan dalam rumusan masalah dan atau pertanyaan dan pernyataan penelitian serta proposisi yang bisa diujikan sistem validitas datanya, validitas data bersumber pada teori dan data yang diperoleh di lapangan sebagai serangkaian pembuktian tentang kebenaran yang dikonstruksikan sebagai drajat kepercayaan dan bisa dibuktikan kebenarannya dengan data-data terkait baik data primer maupun data sekunder. Pendekatan metodologi penelitian pun disesuaikan dengan fenomena yang teramati dan menyesuaikan dengan sifat data di lapangan, artinya teori dan kedudukan teori dalam penelitian kualitatif bisa berubah sesuai data dan temuan data yang diperoleh, metode penelitian hanya sebagai teknik yang berhubungan dengan bagaimana cara memandang persoalan penelitian (paradigmatic) yang dimiliki oleh peneliti.
Teori menyediakan serangkaian konsep yang berguna sebagai penjelasan (explanatory concepts) , penelitian yang tidak menggunakan teori dalam pelaksanaannya tidak dapat menjelaskan dan menelisik ruang-ruang fungsi sosial, sifat teori fungsionalisme yang mampu menelisik pranata dan perilaku komunikasi dalam ruang penelitian behaviorisme, interaksi simbolik yang berkaitan dengan hubungan-hubungan interpersonal dan relasi kekuasaan dan budaya yang melingkupinya. Teori didayagunakan sebagai pedoman untuk melihat dan memandang persoalan dan realitas yang diteliti
11
(paradigmatic). Cresswell (2000) ‘perspektif teori dalam penelitian menjelaskan, memprediksi, dan berguna sebagai alat generalisasi dalam berbagai aspek kehidupan manusia’. Teori diajukan sebagai dasar peneliti melakukan abstraksi atau tingkatan filosofis yang mencoba mengkonkretkan dan melakukan konstruksi subsantif dengan mempertimbangkan aspek-aspek interpretasi bagi variabel-variabel atau bagian-bagian temuan dalam penelitian.
Landasan teori dalam proposal penelitian menunjukkan kesiapan peneliti dalam berbagai ruang analisis tetapi bersifat sementara dan sewaktu-waktu dapat berubah sejalan dengan data yang telah dikumpulkan. Teori bukan harga yang mati, teori sebagai pijakan awal dalam penelitian terkadang teori dapat muncul sebagai sekumpulan data lapangan yang mengarah pada temuan tertentu yang lebih spesifik (grounded research). Rancangan memandang permasalahan penelitian bersifat alamiah (naturalistic) dengan pola pengembangan pengetahuan dimana dapat menentukan cara proses kerja dalam penelitian dengan asumsi paradigmatic yang berakar pada pola-pola interaksi dari pengamatan di lapangan. Artinya penelitian kualitatif bukan hanya membawa teori-teori dan atau konsep-konsep yang telah ditentukan dalam proposal penelitian tetapi berusaha memahami dan memaknai data di lapangan berupa fenomena yang sesuai dengan pemahaman dan pemaknaan yang dilakukan oleh subjek-subjek yang diteliti dan atau objek-objek yang diteliti. Tolak ukur inilah yang bersumber pada penelitian dengan paradigma natralistik yang prinsip teknik analisis nya menjadikan data-data yang terkumpul secara sistematik dan terstruktur yang data-data tersebut diformulasikan pada tingkatan pengetahuan dan tingkatan kebenaran temuan.
Kerangka teoritis dan kerangka konseptual lebih tepat digunakan dalam
12
penelitian kualitatif dari pada penelitian kuantitatif, karena data-data yang ditemukan dalam penelitian kualitatif dapat diformulasikan menjadi konsep pengetahuan sebagai temuan tentang kebenaran yang bersumber dari fakta di lapangan.
Landasan teori dan landasan konseptual merupakan pedoman bagi peneliti untuk melakukan proses peneliti mengumpulkan data di lapangan, dengan waktu yang telah ditentukan dan strategi pengumpulan data disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan baik bersifat wawancara terstruktur, wawancara mendalam, observasi, observasi partisipan, fokus group diskusi, dan ataupun teknik-teknik pengumpulan data yang lainnya.