BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.2 Teori yang Digunakan
2.2.3 Teori Makna
Ada banyak teori yang telah dikembangkan oleh para pakar filsafat dan linguistik sekitar konsep makna dalam studi semantik. Dalam bagian ini kita
akan jelajahi secara tersebar teori-teori tentang makna. Pada dasarnya para filsuf mempersoalkan makna dalam bentuk hubungan antar bahasa (ujaran), pikiran, dan realitas. Lahirlah teori tentang makna yang berkisar pada hubungan antara ujaran, pikiran, dan realitas dunia nyata. Karena bahasa itu digunakan untuk berbagai keperluan dan kegiatan dalam kehidupan bermasyarakat, maka bahasa itupun bermacam-macam dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Ada beberapa tentang makna antara lain:
1) Teori Referensial
Menurut Alston, teori referensial merupakan salah satu jenis teori makna yang mengenali atau mengidentifikasi makna suatu ungkapan dengan apa yang diacunya atau dengan hubungan acuan itu. Istilah referen itu sendiri menurut Palmer (1976:30) “referensi adalah hubungan antara unsur-unsur linguistic berupa kata-kata, kalimat-kalimat dan dunia pengalaman yang non linguistik.
Referen atau acuan boleh saja benda, peristiwa, proses atau kenyataan.
Referen adalah sesuatu yang ditunjuk oleh lambang atau simbol. Jadi, kalau seseorang mengatakan sungai, maka yang ditunjuk oleh lambang tersebut yakni tanah yang berlubang lebar dan panjang tempat mengalir air dari hulu
ke danau atau laut. Kata sungai langsung dihubungkan dengan acuannya.
Tidak mungkin timbul asosiasi yang lain. Bagi mereka yang pernah melihat sungai, atau pernah mandi di sungai, sudah barang tentu mudah memahami apa yang dimaksud dengan sungai. Jika kita menerima bahwa makna sebuah ujaran adalah referennya, maka setidak-tidaknya kita terikat pula pada pernyataan berikut ini:
a) Jika sebuah ujaran mempunyai makna, maka ujaran itu mempunyai referen, b) Jika dua ujaran mempunyai referen yang sama, maka ujaran itu mempunyai
makna yang sama pula,
c) Apa saja yang benar dari referen sebuah ujaran adalah benar untuk maknanya.
Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensinya, kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata.
Sebaliknya kata-kata seperti: dan, atau, dan karena adalah kata-kata yang tidak bermakna referensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens.
2) Teori Ideasional
Dalam pendekatan ideasional, makna adalah gambaran gagasan dari suatu bentuk kebahasaan yang bersifat sewenang-wenang, tetapi memiliki konvensi sehingga dapat saling mengerti. Penanda semantic dari bunyi, kata dan frase sebagai unsur-unsur pembangun kalimat dapat langsung diidentifikasi lewat kalimat. Dengan mengidentifikasi unsur-unsur kalimat itu sebagai satuan gagasan, diharapkan pemaknaan tidak langsung secara lepas-lepas, tetapi sudah mengacu pada satuan makna yang dapat digunakan dalam komunikasi.
Sehubungan dengan kegiatan berfikir, manusia berpikir menggunakan bahasa yang juga bisa digunakan dalam komunikasi.Teori ideasional berpendapat bahwa istilah “ide” digunakan untuk mengacu kepada representasi mental atau aktivitas mental secara umum. Setiap ide selalu dipahami tentang sesuatu yang eksternal dan internal, nyata atau imajiner. Bahkan para pakar menganggap semua ide sebagai sensasi objek yang bisa dibayangkan atau refleksi objek yang tidak dapat dibayangkan dan bahwa pikiran adalah jenis entitas yang dibayangkan. Berikut beberapa konsep dasar dari teori ini:
a) Makna itu ditempelkan saja kepada kata (terpisah dari kata). Makna datang dari tempat lain yaitu dari pikiran dalam bentuk ide atau gagasan.
Manusia memiliki sejumlah gagasan yang tersembunyi, kecuali jika dikomunikasikan lewat bahasa. Jadi bahasa adalah penanda gagasan.
b) Yang mendasari teori ini adalah asumsi bahwa bahasa adalah instrumen untuk melaporkan pikiran yang terdiri atas antrian gagasan yang disadari.
Gagasan ini bersifat personal, maka diperlukan sistem bunyi dan penanda yang membangun pemahaman intersubjektivitas. Bila seseorang menggunakan sistem tersebut, maka gagasannya akan membangunkan gagasan yang sesuai pada orang lain.
c) Bahasa yang bersifat personal itu memiliki makna setelah dihubungkan dengan sensasi personal, maka dari itu disebut private language.
Maka makna bahasa menjadi sangat pribadi, sehingga tidak dapat diajarkan pada orang lain. Bila demikian, ketika kita berkomunikasi lewat
bahasa, sesungguhnya sebagian dari makna yang kita sampaikan itu tidak dapat dimengerti oleh lawan bicara.
3) Teori mendefinisikan makna
Teori ini mendefinisikan makna sebagai kondisi dimana bahwa nama yang ada setidaknya memerlukan dua masalah dalam menjelaskan maknanya.
Pertama, misalkan arti dari sebuah nama dalam hal ini misalnya Sam suatu
ekspresi itu mungkin saja benar atau juga salah dan juga berpendapat, yang berarti seseorang di muka bumi ini yang bernama Sam, namun jika objek
dari nama itu tidak ada yaitu Pegasus, maka menurut teori ini bahwa nama itu tidak berarti. Kedua, misalkan dua nama yang berbeda merujuk pada objek yang sama. Hesperus dan Phosphorus adalah nama yang diberikan kepada benda-benda angkasa yang berbeda, kemudian menunjukkan bahwa keduanya adalah sama (planet Venus). Jika kedua kata itu berarti sama maka tidak akan menghasilkan kalimat yang berbeda dari makna aslinya. Dengan kata lain, dua nama untuk orang yang sama akan memiliki pengertian yangberbeda.
4) Teori Konseptual
Teori konseptual adalah teori semantik yang memfokuskan kajian makna pada prinsip-prinsip konsepsi yang ada pada pikiran manusia. Teori yang dinisbahkan pada John Locke disebut juga dengan teori mentalisme. Teori ini disebut teori pemikiran, karena kata itu menunjuk pada ide yang ada dalam pemikiran. Karena itu, penggunaan suatu kata hendaknya merupakan penunjukan yang mengarah pada pemikiran. Yang dimaksud dengan makna konseptual menurut definisi lain adalah makna yang dimiliki oleh sebuah
leksem terlepas dari sebuah konteks atau asosiasi apapun. Kata kuda memiliki makna konseptual sejenis binatang berkaki empat yang dapat dikendarai.
Jadi, sesungguhnya makna konseptual sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, makna referensial. Makna konseptual ini bersifat logis, kognitif, atau denotatif. Makna asosiatif yang dibagi lagi atas makna konotatif yakni makna yang muncul dibalik makna kogntif. Demikian juga dengan makna idesional adalah makna yang muncul sebagai akibat penggunaan kata yang berkonsep. Kita mengerti ide yang terkandung di dalam kata demokrasi, yakni istilah politik (bentuk atau sistem pemerintahan, segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantaraan wakil-wakilnya; pemerintahan rakyat.
Gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara. Kata demokrasi kita lihat dalam kamus, dan kita perhatikan pula hubungannya dengan unsur lain dalam pemakaian kata tersebut, lalu kita tentukan konsep yang menjadi ide kata tersebut. Demikian juga dengan kata partisipasi mengandung makna idesional „aktivitas maksimal seseorang yang ikut serta dalam suatu kegiatan (sumbangan keaktifan). Dengan makna idesional yang terkandung di dalamnya kita dapat melihat paham yang terkandung di dalam suatu makna.
5) Teori Analisa Komponen
Teori Analisis Komponen merupakan satu teknik menganalisis makna dan pertalian yang terdapat di antara satu perkataan dengan perkataan yang lain.
Makna-makna yang terkandung di dalam setiap perkataan itu dapat dianalisis dan didefinisikan melalui komponen makna perkataan itu. Perkataan yang
sering digunakan dalam hubungan makna secara umumnya di dalam bahasa adalah sinonim (kata bersamaan makna) dan antonim (kata berlawanan makna).
Jika mengikut Teori Analisis Komponen, bagian atau unsur tertentu dari makna itu saja yang sama seperti kata „mati‟ dan „meninggal‟ pada sinonim.
Kata „mati‟ memiliki komponen makna tidak bernyawa dan dapat digunakan pada apa saja (manusia, binatang, tumbuhan, dan lain-lain). Kata „meninggal‟
hanya digunakan untuk manusia. Oleh karna itu, adalah jelas bahwa manusia boleh mati, binatang boleh mati, dan tumbuhan boleh mati, tetapi hanya manusia saja yang meninggal.
Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat). Sedangkan acuan tanda ini disebut objek. Contoh: Saat seorang gadis mengenakan rok mini, maka gadis itu sedang mengkomunikasi mengenai dirinya kepada orang lain yang bisa jadi memaknainya sebagai simbol keseksian.
Penelitian antropologi mendeskripsikan bahwa perkampungan orang Batak bukan hanya merupakan wilayah tempat tinggal dari manusia yang hidup saja, tetapi perkampungan Batak juga merupakan wilayah pemukiman dari pada seluruh arwah dari anggota keluarga dan leluhur yang telah mati. Perkampungan orang yang hidup dapat di lihat, tetapi perkampungan para roh atau arwah orang
mati hanya dapat di lihat secara gaib oleh mata rohani (parmata begu) (Daulat Saragih,2011).
Kesadaran akan kehadiran roh-roh leluhur atau roh-roh keluarga itu terlihat dalam tingkah laku orang Batak terhadap roh-roh orang mati. Pada masa sipelebeguon kehadiran roh-roh ini terwujud dengan adanya guci-guci besar yang di pahat dari batu. Dalam guci ini disimpan tulang-belulang (saring-saring) dari para leluhur keluarganya. Jumlah saring-saring yang ada di dalam guci ini bisa hanya terdiri dari beberapa kerangka manusia, tetapi ada juga yang mencapai puluhan kerangka manusia. Di samping itu, ada juga tulang belulang yang disimpan dalam kuburan yang dipahat dari batu, seperti kuburan Raja Sidabutar yang ada di Tomok. Dengan hilangnya kemampuan orang Batak dalam seni memahat batu, keberadaan guci batu digantikan dengan tugu dan makam-makam megah keluarga.
Tugu dan makam itu dibangun dengan menggunakan semen, batu bata dan keramik yang ditata dengan megah. Pada setiap kuburan dibuat beberapa lubang-lubang sebagai tempat diletakkannya tulang belulang anggota keluarga yang telah digali (na ni ongkal). Bahkan ada juga lubang-lubang yang disediakan bagi anggota keluarga yang masih hidup. Kuburan-kuburan ini dibangun dengan berbagai model sesuai dengan keinginan dan selera mereka. Kuburan-kuburan megah itu biasanya dibangun menghadap ke jalan raya perkampungan, menghadap ke Danau Toba, di tempat-tempat yang agak tinggi atau di lereng bukit.
Kehadiran roh itu disimbolkan dengan membuat patung-patung leluhur di atas tugu atau makam, dengan tujuan agar roh leluhur dapat memandang daerah sekitarnya (manatap humaliang) dengan bebas, dan dapat melihat jikalau ada keturunannya yang datang dari jauh. Keyakinan akan adanya hubungan dengan roh orang mati pada masa kini juga dilihat dengan masih adanya orang-orang Batak Toba yang memberikan makanan persembahan (mamele) di rumahnya.
Makanan itu biasanya diletakkan di atas lemari, dan diberikan kepada roh dari anggota keluarganya yang telah mati; bisa roh orang tua, kakek, nenek
ataupun anggota keluarga lainnya. Makanan itu bisa berupa pisang, itak, sangsang, tuak, sirih dan lain-lain, sesuai dengan kesukaan dari roh itu semasa hidupnya. Teori yang digunakan berorientasi pada tiga gagasan mengenai upacar religi dan agama yang dilakukan dengan adanya tugu tersebut antara lain: Sistim upacara, orang banyak yang melakukan dan adanya sesaji yang harus disiapkan dan dipersembahkan (dipelehon). Selanjutnya teori interaksionisme simbolik (tanda) yang berhubungan langsung dengan fungsi dan makna suatu tindakan manusia dalam hal ini pomparan Toga Siregar baik individu maupun kelompok.
Herbert Blumer mengatakan bahwa manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang disempurnakan di saat proses interaksi sedang berlangsung (Soeprapto, 2002).
Teori ini merujuk pada karakter interaksi yang berlangsung antara sesama manusia, dimana manusia sebagai aktor tidak semata-mata bereaksi terhadap tindakan yang lain tetapi dia menafsirkan tindakan orang lain. Respon manusia sebagai aktor secara langsung maupun tidak langsung selalu didasarkan atas
penilaian makna tersebut. Oleh karena itu interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol (tanda) penafsiran atau dengan mengemukakan makna tindakan tersebut kepada orang lain.
Berdasarkan pendapat ahli tersebut di atas, jika dihubungkan dengan adanya sebuah tugu pada masyarakat suku Batak Toba seperti halnya Tugu Toga Siregar yang ada di Muara bagi sekelompok masyarakat dalam hal ini turunan (pomparan) Toga Siregar maka kegiatan-kegiatan tersebut jelas mempunyai fungsi dan makna mulai dari perencanaan, pelaksanaan, peresmian sampai waktu
yang tidak bisa diprediksi selama tugu terebut ada dan diakui oleh turunan (pomparan) Toga Siregar.
Bagi generasi muda turunan Toga Siregar seperti penulis yang merupakan generasi keduapuluh dalam sisilah marga Siregar, maka sangat diperlukan pentingnya pemahaman terhadap simbol-simbol atau tanda ketika seseorang menggunakan teori interaksionaisme simbolis. Simbol atau tanda adalah objek sosial dalam suatu interaksi. Simbol atau tanda digunakan sebagai perwakilan dari komunikasi yang ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya, orang-orang tersebut memberi arti, menciptakan dan mengubah objek tersebut di dalam interaksi. Simbol (tanda) sosial tersebut dapat terwujud dalam bentuk objek fisik (benda-benda kasat mata), kata-kata (untuk mewakili objek fisik, perasaan ide-ide dan nilai-nilai) serta tindakan yang dilakukan orang untuk memberi arti dalam komunikasi dengan orang lain. Sehingga tidak hanya sekedar melakukan ritual semata tanpa mengetahui fungsi dan makna ritual tersebut dilakukan.
Semua tindakan yang menjadi simbol (tanda) mempunyai makna dan arti terhadap orang yang melakukan kegiatan tersebut. Tindakan yang berupa ritual yang dilakukan oleh turunan (pomparan) tersebut mempunyai ciri yang mencolok dari hubungan sosial dan menjadi kenyataan bahwa hubungan-hubungan tersebut bermakna bagi mereka yang mengambil bagian di dalamnya.
Proses simbolis (tanda) adalah kegiatan manusia dalam menciptakan makna yang merujuk pada realitas kehidupan yang lain sebagai pengalaman hidup sehari-hari. Simbol-simbol atau tanda-tanda yang terdapat pada upacara pendirian sampai upacara peresmian bahkan selama tugu tersebut masih diakui oleh turunan meliputi simbol filsafat, sejarah, mitos, unsur seni dan religi (agama) yang kesemuanya akan termasuk dalam simbol Dalihan Na Tolu dan sekaligus sebagai sumber adat dan hukum bagi masyarakat suku Batak Toba. Suatu simbol (tanda) dalam upacara religi adalah petunjuk, tanda dan gambar yang berkenaan dengan hal-hal yang nyata maupun hal-hal yang tidak nyata. Bahkan simbol dapat berfungsi sebagai alat penghantar manusia berhubungan dengan roh-roh suci untuk meraih suatu kerukunan, kedamaian dan keharmonisan dalam hidupnya.
Termasuk juga simbol dapat disebut merupakan salah satu alat pengatur suatu kelompok orang, dan sebagai bahasa yang dapat memberikan keterangan khusus pada suatu kelompok tertentu atau masyarakat umum, serta simbol dapat berarti petunjuk yang memudahkan dalam penyampaian informasi dari satu orang kepada orang lain.
Jadi pada haketnya simbol adalah lambang atau petunjuk yang mengandung makna abstrak, luas dan universal. Sedangkan simbol dalam konteks
upacara dapat berarti bahasa yang berfungsi sebagai sarana penghubung yang memberikan keterangan atau informasi kepada kelompok yang segolongan atau sepaham. Simbol juga dapat berfungsi sebagai pengukuhan makna dalam upacara, karena dalam upacara bermacam-macam simbol yang dihadirkan/digunakan dan kelihatannya setiap simbol tersebut sudah merupakan kesepakatan, serta simbol ini berfungsi sebagai alat kontrol bagi setiap orang yang ikut serta dalam upacara itu. Maka pelaksanaan suatu upacara dapat berjalan hikmat dan sakral dihormati orang yang ikut terlibat di dalam upacara tersebut.
Data etnografi terutama masyarakat Batak Toba menunjukkan bahwa tugu didirikan sebagai salah satu budaya yang mempunyai fungsi dan makna yang sangat penting dalam kehidupan sebagian masyarakat Batak Toba terutama hubungannya dengan sistem kepercayaan lama yang animistis berarti roh leluhur yang sudah meninggal menduduki tempat khusus, terutama pada waktu hidupnya mempunyai kekuasaan, banyak harta terutama mempunyai banyak keturunan sehingga dipercaya dan diyakini bahwa roh leluhur dapat memberikan kesejahteraan dan terus bergiat memberi perlindungan kepada keturunannya.
Dalam kebudayaan yang berupa tindakan manusia, simbol sebagai adalah inti kebudayaan, karena tindakan manusia harus selalu menggunakan simbol sebagai media penghantar dalam komunikasi antar sesama manusia karena tanpa simbol, komunikasi dan tindakan manusia menjadi beku tanpa ada makna.
Menurut Suh (2001), fungsi pendirian tugu leluhur dalam kehidupan orang Batak Toba adalah sebagai berikut:
1) Fungsi psikologis
Melalui acara-acara khusus untuk tondi (roh) dan penggalian tulang-belulang orang Batak mengharapkan kehidupan yang lebih baik, ingin menghindari bencana, penyakit, dan bahaya yang dibawa oleh begu/hantu yang jahat.
Mereka ingin mendapat kekayaan, tanaman yang subur, banyak anak dan damai sejahtera di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini mereka
mengalami kehilangan ketakutan dan kekhawatiran, mengatasi rasa letih lesu dan sungguh-sungguh dikuatkan melalui semua acara ritual tersebut.
Fungsi psikologis ini menjadi fungsi positif bagi orang Batak.
2) Fungsi Transendental
Melalui ritus pendirian tugu dan penggalian tulang-belulang dan berbagai macam pemberian sesajian, kedudukan roh nenek moyang, orang Batak akan naik terus, bisa mencapai setinggi dewata. Melalui upacara-upacara pemujaan itu komunikasi timbal-balik antara keturunan dan roh nenek moyang itu akan berlangsung dengan baik. Isi hati dan permohonaan keturunan akan disampaikan kepada leluhur itu, dan pengaruh dari fungsi penyembahan roh leluhur disampaikan kepada keturunanya.
3) Fungsi Sakralisasi
Semua nenek moyang bagi orang Batak Toba dihormati keturunannya.
Khususnya pada waktu masih hidup, tondi mereka sangat diperhatikan dan setelah mati pun tetap dipuja. Di antara nenek moyang orang Batak Toba ada yang dipuja secara lebih khusus, yaitu roh leluhur yang telah menjadi sumangot.
Orang Batak Toba sangat menghargai kehidupan manusia pada waktu hidup dan juga setelah mati.
4) Fungsi Identitas
Fungsi ini sangat menonjol pada orang Batak Toba. Melalui pendirian tugu dan penggalian tulang-belulang orang Batak Toba melakukan kewajiban sebagai anggota dan melalui hal-hal tersebut mereka menunjukkan identitas keluarga. Dengan demikian diharapkan akan mempersatukan dan mempererat persatuan dan kesatuan keluarga itu. Dalam hal ini fungsi identitas dinilai sebagai fungsi positif. Tetapi di sini juga ditemukan fungsi negative. Di antara keluarga-keluarga Kristen Batak ada yang sama sekali tidak setuju dengan pendirian tugu, sehingga merasa terpaksa mengikuti acara-acara itu bahkan tidak mau sama sekali.
Maka sebuah bangunan tugu dilihat dari teori makna bisa dilihat dari lokasi tempat tugu tersebut dibangun termasuk bentuk maupun simbol-simbol atau tanda-tanda yang terdapat dalam tugu tersebut sehingga kelompok masyarakat atau marga yang memiliki tugu tersebut akan langsung mengerti apa makna yang terkandung dalam bangunan tugu yang mereka miliki.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Dasar
Penelitian ini menggunakan penelitian Deskriptif yang bertujuan menguraikan realitas sosial dan budaya yang kompleks sehingga berhubungan satu dengan lainnya. Dari penelitian Deskriptif ini akan dapat dipelajari dan diuraikan fungsi dan makna pendirian tugu pada marga Siregar yang telah mendirikan tugu di Kecamatan Muara.
Penelitian ini dilakukan secara Kualitatif dengan pendekatan Deskriptif yaitu rangkaian penelitian yang berupaya untuk menggambarkan data mengenai suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu. Kemudian dari Deskripsi itu dijelaskan kebermaknaan yang berasal dari informan. Penggambaran tentang keadaan kelompok dalam suatu keadaan dan gejala tertentu dapat terlihat dari beberapa bangunan tugu yang telah didirikan bahkan direnovasi (dipugar) sehingga menjadi suatu simbol dari pemaknaan atas tugu tersebut. Meskipun penulis merupakan etnik Batak bahkan merupakan turunan Toga Siregar, akan tetapi penulis sendiri tidak berdomisili di Wilayah Kecamatan Muara, sehingga penulis harus mempuh perjalanan ke Muara dan tinggal beberapa saat di sana.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif yang besifat studi kasus, karena peneliti mengungkapkan fungsi dan makna pembangunan tugu Toga Siregar yang ada di Desa Bariba Ni Aek, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara.
3.2 Lokasi dan Sumber Data
Nama Kecamatan Muara
Batas Wilayah
Sebelah Utara : Kabupaten Samosir
Sebelah Selatan : Kecamatan Siborong-borong Sebelah Barat : Kabupaten Tobasa
Sebelah Timur : Kabupaten Humbang Hasundutan Kabupaten Tapanuli Utara
Luas 79,75 km²
Jumlah penduduk 13.459 jiwa (2012)
Kepadatan 169 jiwa/km²
Desa/kelurahan 15 Desa
Kuburan Toga Siregar bersama Istri Br. Limbong di Desa Silali Toruan, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara
Tugu Toga Siregar di Desa Bariba Ni Aek, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bariba Ni Aek, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Adapun dasar pemilihan lokasi adalah bahwa Kecamatan Muara merupakan tempat pemukiman yang bersifat homogen didiami oleh kelompok suku bangsa Batak Toba. Di wilayah Muara ini juga akan memperlihatkan monumen-monumen megah yang dibangun sebagai simbol identitas para marga yang mendirikannya. Melalui tugu secara visual kita dapat melihat penyampaian makna dari setiap prosesi yang dijalankan dalam pembangunan tugu termasuk pemugaran bagi marga-marga di sana. Dalam studi kasus pada marga Siregar dipilih satu desa yaitu Bariba Ni Aek yang merupakan
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bariba Ni Aek, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Adapun dasar pemilihan lokasi adalah bahwa Kecamatan Muara merupakan tempat pemukiman yang bersifat homogen didiami oleh kelompok suku bangsa Batak Toba. Di wilayah Muara ini juga akan memperlihatkan monumen-monumen megah yang dibangun sebagai simbol identitas para marga yang mendirikannya. Melalui tugu secara visual kita dapat melihat penyampaian makna dari setiap prosesi yang dijalankan dalam pembangunan tugu termasuk pemugaran bagi marga-marga di sana. Dalam studi kasus pada marga Siregar dipilih satu desa yaitu Bariba Ni Aek yang merupakan