BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Teori Manajemen Kebidanan
1. Pengertian
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, serta ketrampilan dalam rangkaian / tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang berfokus pada pasien (Sulistyawati, 2009).
2. Proses Manajemen Kebidanan
Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang memperkenalkan sebuah metode atau pemikiran dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis sehingga pelayanan komperhensif dan aman dapat tercapai. Selain itu metode ini memberikan pengertian untuk menyatukan pengetahuan dan penilaian yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang berarti
(Ambarwati dan Wulandari, 2010).
a. Langkah I : Pengkajian
Pengkajian adalah mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Merupakan langkah pertama untuk mengumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). 1) Data Subjektif
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). a) Identitas Pasien
(1) Nama Pasien
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan pelayanan (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
(2) Umur Pasien
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental dan psikisnya belum siap
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). (3) Agama Pasien
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
(4) Pendidikan Pasien
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya
(5) Suku/bangsa Pasien
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
(6) Pekerjaan Pasien
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). (7) Alamat Pasien
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
b) Keluhan Utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan (Sulistyawati, 2009). Pada kasus Flour Albus keluhan utamanya Nn. M merasa tidak nyaman, gatal, berbau dan bahkan terkadang terasa perih (Shadine, 2012).
c) Riwayat Menstruasi
Berdasarkan data yang diperoleh, bidan akan mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya. Riwayat menstruasi meliputi menarche, siklus, volume, keluhan (Sulistyawati, 2009) menurut Irianto (2015) seseorang menjelang dan sesudah haid akan mengalami
keputihan. Hal ini disebabkan karena kelenjar didalam vagina aktif dan pengaruh dari hormon estrogen dan progesteron.
d) Riwayat Perkawinan
Yang perlu dikaji adalah berapa kali menikah, status menikah syah atau tidak, karena bila melahirkan tanpa status yang jelas akan berkaitan dengan psikologisnya (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
e) Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas
Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak,cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang lalu (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Menurut Shadine (2012) keputihan yang dibiarkan dan tidak segera diatasi maka dapat menyebabkan kehamilan prematur, ketuban pecah sebelum waktunya dan berat bayi lahir rendah.
f) Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). Pada kasus Flour Albus akseptor KB Pil dan IUD juga menimbulkan keputihan pada wanita (Irianto, 2015).
g) Riwayat Kesehatan
(1) Riwayat kesehatan sekarang
Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang ada hubungannya dengan Flour Albus (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
(2) Riwayat penyakit sistemik
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti: Jantung, DM, Hipertensi, Asma
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). (3) Riwayat kesehatan keluarga
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan terhadap kesehatan pasien, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang menyertainya
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). (4) Riwayat keturunan kembar
Untuk mengetahui riwayat keturunan kembar dalam keluarga (Cahyani, 2012)
(5) Riwayat operasi
Untuk mengetahui apakah ibu pernah mendapat operasi yang berhubungan dengan kandungan ibu atau tidak (Cahyani, 2012)
h) Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari (1) Nutrisi
Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi, banyaknya, jenis makan, makanan pantangan (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
(2) Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, jumlah
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). Keputihan menyebabkan peradangan pada saluran kencing sehingga menimbulkan rasa nyeri dan pedih saat BAK (Mumpuni dan Andang, 2013).
(3) Istirahat
Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam pasien tidur, kebisaan sebelum tidur misalnya membaca, mendengarkan musik, kebiasaan
mengkonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang, penggunaan waktu luang
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). (4) Personal hygiene
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan tubuh terutama pada daerah genetalia (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Menurut Shadine (2012), pada kasus gangguan reproduksi Flour Albus biasanya sering dikaitkan dengan perilaku tidak higenis atau infeksi jamur.
(5) Aktivitas
Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Menurut Shadine (2012), selama mengalami keputihan tidak dianjurkan berolahraga berlebihan dan mengangkat beban berat. i) Data Psikologis
Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). Pada kasus Flour Albus Nn. M merasakan cemas karena daerah genetalia Nn. M selalu basah dan terasa gatal (Manuaba,2009)
2) Data Objektif
Setelah data subjektif kita dapatkan untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa (Sulistyawati,2009).
a) Pemeriksaan fisik
Langkah-langkah pemeriksaan menurut (Sulistyawati, 2009)
(1) Keadaan umum
Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secara menyeluruh. Hasil pengamatan akan dilaporkan dengan kriteria baik atau sedang. Pada kasus Flour Albus keadaan umum Nn. M baik
(Norma dan Dwi, 2013) (2) Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, bidan dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar). Pada kasus Flour Albus kesadaran Nn. M composmentis
(Norma dan Dwi, 2013). (3) Tanda vital
(a) Tekanan darah
Tekanan darah diukur dengan menggunakan menggunakan alat tensimeter dan stetoskop. Tekanan darah normal, sistolik antara 110 sampai 140 mmHg dan diastolik antara 70 sampai 90
mmHg. Pada kasus Flour Albus tekanan darah Nn. M normal (Astuti, 2012).
(b) Suhu
Dalam keadaan normal suhu badan berkisar 36,5 – 37,2oC (Astuti, 2012). Menurut Ambarwati dan Wulandari (2010) pada kasus Flour Albus bila suhu ibu >380C mengarah ke tanda – tanda infeksi. (c) Nadi
Pemeriksaan nadi dilakukan dengan meraba pulsasi pada arteri. Frekuensi nadi normal : 60 – 100 kali / menit. Pada kasus Flour Albus normal
(Astuti, 2012). (d) Pernafasan
Frekuensi pernafasan, normal (16 – 24 kali / menit). Pada kasus Flour Albus pernafasan Nn. M normal (Astuti, 2012).
b) Pemeriksaan Sistematis (1) Kepala
(a) Rambut
Untuk mengetahui rambut bersih tidak, rontok atau tidak, berketombe tidak (Cahyani, 2012).
(b) Muka
Untuk mengetahui ada oedema apa tidak, anemia atau tidak, pucat atau tidak (Cahyani, 2012).
(c) Mata
Meliputi pemeriksaan conjungtiva, sklera dan oedema (Astuti, 2012).
(d) Hidung
Meliputi pemeriksaan secret dan polip (Astuti, 2012).
(e) Telinga
Meliputi pemeriksaan tanda infeksi, serumen dan kesimetrisan telinga (Astuti, 2012).
(f) Mulut, gusi
Meliputi pemeriksaan keadaan bibir, stomatitis, epulis, karies dan lidah (Astuti, 2012).
(2) Leher
Meliputi pemeriksaan pembesaran kelenjar limfe, pembesaran kelenjar tyroid (Astuti, 2012).
(3) Dada dan mamae
Menurut Astuti (2012) meliputi pemeriksaan :
(a) Pembesaran, simetris, areola, putting, kolostrum dan tumor.
(b) Retraksi pembesaran kelenjar limfe ketiak, massa dan nyeri tekan.
(4) Ekstremitas
Untuk mengetahui adanya edema pada tanga dan kaki, pucat pada kuku jari atau tidak, terdapat varises atau tidak serta reflek patella (Muslihatun dkk, 2009). c) Pemeriksaan khusus obstetri
(1) Abdomen
Meliputi pemeriksaan perut normal atau tidak, kandung kemih, ada benjolan atau tidak nyeri / tidak
(Astuti, 2012). (2) Anogenital
Meliputi pemeriksaan varices, kemerahan, pengeluaran pervaginam dan bekas luka (Astuti, 2012). Pengeluaran pervaginam didapatkan rasa panas, gatal dan nyeri yang dapat terasa didaerah vulva dan paha, perineum (kulit diantara vagina dan anus), dapat pula disertai nyeri saat berkemih dan senggama (Shadine, 2013).
(3) Inspeculo
Untuk mengetahui keadaan serviks (cairan atau darah, luka atau peradangan, tanda – tanda keganasan), serta untuk mengetahui keadaan dinding vagina terdapat cairan, darah atau luka (Muslihatun dkk, 2009). Pada
kasus Flour Albus ditemukan keluar cairan yang berlebihan dari vagina (Shadine, 2012).
(4) Anus
Untuk mengetahui bersih atau tidak, terdapat haemoroid atau tidak (Norma dan Dwi, 2013).
d) Pemeriksaan Penunjang
Untuk melengkapi data yang telah dikumpulkan dan keperluan menegakkan diagnosis pasien. Pada kasus Flour Albus pemeriksaan laboratorium yang dilakukan antara lain pemeriksaan melalui, sekret atau cairan pervaginam (Muslihatun dkk, 2009)
b. Langkah II : Interpretasi Data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis, masalah, dan kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan (Sulistyawati, 2009).
1) Diagnosa Kebidanan
Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan Para, Abortus, Anak hidup, umur Nn. M, dan keadaan Nn. M.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). Diagnosa Kebidanan yang ditegakkan adalah : Nn. M Umur 18 tahun dengan Flour Albus. Menurut Sibagariang dkk (2010), data subyektif dari kasus Flour Albus antara lain :
(2) Nn. M mengatakan belum pernah melahirkan dan belum pernah keguguran.
(3) Keluhan Nn. M merasa tidak nyaman, gatal, berbau dan bahkan terkadang terasa perih (Shadine, 2012).
(4) Keputihan yang dibiarkan dan tidak segera diatasi maka dapat menyebabkan kehamilan prematur, ketuban pecah sebelum waktunya dan berat bayi lahir rendah (Shadine,2012).
(5) Pada Flour Albus akseptor KB Pil dan IUD juga menimbulkan keputihan pada wanita (Irianto,2015). (6) Keputihan menyebabkan peradangan pada saluran
kencing sehingga menimbulkan rasa nyeri dan pedih saat BAK (Mumpuni dan Andang, 2013).
(7) Pada Flour Albus biasanya sering dikaitkan dengan perilaku tidak higenis atau infeksi jamur
(Shadine, 2012).
(8) Selama mengalami keputihan tidak dianjurkan berolahraga berlebihan dan mengangkat beban berat (Shadine, 2012).
(9) Pada Flour Albus Nn. M merasa cemas karena daerah genetalia selalu basah dan terasa gatal
a) Data Obyektif
(1) Keadaan umum : Pada kasus Flour Albus keadaan umumnya baik.
(2) Kesadaran : Pada kasus Flour Albus kesadaran Nn. M composmentis.
(3) TTV
Pada kasus Flour Albus TTV meliputi tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan pasien normal
(Ambarwati dan wulandari, 2010). (4) Pengeluaran pervaginam
Pada kasus Flour Albus didapatkan rasa panas, gatal dan nyeri yang dapat terasa didaerah vulva dan paha, perineum (kulit diantara vagina dan anus), dapat pula disertai nyeri saat berkemih dan senggama
(Shadine, 2012). (5) Inspeculo
Pada kasus Flour Albus ditemukan keluar cairan yang berlebihan dari vagina (Shadine, 2012)
(6) Pemeriksaan penunjang
Pada kasus Flour Albus pemeriksaan laboratorium yang dilakukan antara lain pemeriksaan melalui, sekret atau cairan pervaginam (Muslihatun dkk, 2009).
2) Masalah
Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Pada kasus Flour Albus pasien mengeluh merasakan cemas karena daerah genetalia Nn. M selalu basah dan terasa gatal (Manuaba, 2009).
3) Kebutuhan
Menurut Sibagariang dkk (2010), kebutuhan yang diperlukan oleh ibu dengan gangguan reproduksi Flour Albus adalah :
(a) Dukungan moril
(b) KIE cara menjaga personal Hygiene.
c. Langkah III : Diagnosa Potensial
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi. Pada langkah ini diidentifikasikan masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa, hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan, bila memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benar-benar terjadi (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Diagnosa potensial yang mungkin terjadi pada kasus Flour Albus yaitu menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat buang air kecil (Shadine, 2012).
d. Langkah IV: Tindakan Segera / Antisipasi Masalah
Dalam penatalaksanaannya terkadang bidan dihadapkan pada beberapa situasi yang memerlukan penanganan segera (emergensi) di
mana bidan harus segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan pasien, namun kadang juga berada pada situasi pasien yang memerlukan tindakan segera sementara menunggu intruksi dokter, atau bahkan mungkin juga situasi pasien yang memerlukan konsultasi dengan tim kesehatan lain (Sulistyawati, 2009). Pada kasus Flour albus dilakukan tindakan segera yaitu memberi terapi obat sesuai dengan kebutuhan yaitu golongan flukonazol untuk mengatasi infeksi candidia dan golongan metronidazol untuk mengatasi infeksi bakteri dan parasit (Sibagariang dkk, 2010).
e. Langkah V : Perencanaan
Langkah-langkah ini ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya yang merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau di antisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah dilihat dari kondisi pasien atau dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga berkaitan dengan kerangka pedoman antisipasi bagi wanita tersebut yaitu apa yang akan teradi berikutnya (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Menurut Sibagariang dkk (2010) rencana asuhan yang diberikan pada gangguan reproduksi Flour Albus diantaranya :
1) Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olah raga ringan, istirahat cukup, hindari rokok dan alkohol serta hindari stres berkepanjangan.
2) Setia kepada pasangan untuk mencegah penularan penyakit menular seksual.
3) Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap kering dan tidak lembab misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat. Biasanya untuk mengganti pembalut, panty liner pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak.
4) Biasanya membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan ke belakang.
5) Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat memastikan flora normal vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu sebelum menggunakan cairan pembersih vagina.
6) Hindari penggunaan bedak talk, tisu atau sabun dengan pewangi pada daearah vagina karena dapat menyebabkan iritasi.
7) Hindari pemakaian barang – barang yang memudahkan penularan seperti meminjam perlengkapan mandi. Sedapat mungkin tidak duduk di atas kloset di WC umum atau biasakan mengelap dudukan kloset sebelum menggunakannya.
8) Berikan terapi pada keputihannya
Obat untuk Flour Albus patologis karena iritasi candida diberikan terapi golongan Flukonazol dan infeksi bakteri dan parasit diberikan terapi Metronidazol.
f. Langkah VI : Pelaksanaan
Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada klien dan keluarga
(Ambarwati dan Wulandari, 2010). Pelaksanaan asuhan kebidanan gangguan reproduksi Flour Albus sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat (Sibagariang, 2010) yaitu :
1) Menjelaskan pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olah raga ringan, istirahat cukup, hindari rokok dan alkohol serta hindari stres berkepanjangan.
2) Menjelaskan setia kepada pasangan untuk mencegah penularan penyakit menular seksual.
3) Menjelaskan selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap kering dan tidak lembab misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat. Biasanya untuk mengganti pembalut, panty liner pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak.
4) Menjelaskan biasanya membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan ke belakang.
5) Menjelaskan kenggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat memastikan flora normal vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu sebelum menggunakan cairan pembersih vagina.
6) Menjelaskan hindari penggunaan bedak talk, tisu atau sabun dengan pewangi pada daearah vagina karena dapat menyebabkan iritasi.
7) Menjelaskan hindari pemakaian barang – barang yang memudahkan penularan seperti meminjam perlengkapan mandi dsb. Sedapat mungkin tidak duduk di atas kloset di WC umum atau biasakan mengelap dudukan kloset sebelum menggunakannya.
8) Berikan terapi pada keputihannya
Obat untuk Flour Albus patologis karena iritasi candida diberikan terapi golongan Flukonazol dan infeksi bakteri dan parasit diberikan terapi Metronidazol.
g. Langkah VII : Evaluasi
Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang telah dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tapi belum efektif atau merencanakan kembali yang belum terlaksana (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Pada evaluasi kasus gangguan
reproduksi dengan Flour Albus diharapkan dalam waktu 2 minggu Flour Albus sudah berkurang tidak ada infeksi lanjutan, klien merasa tidak cemas dan nyaman.
Evaluasi asuhan yang diberikan pada gangguan reproduksi Flour Albus diantaranya :
1) Flour Albus dapat sembuh dan telah diatasi dengan baik.
2) Klien sudah mengerti bagaimana cara membersihkan daerah pribadi dan genetalnya agar tetap bersih dan kering.
3) Klien bersedia melaksanakan anjuran yang diberikan oleh bidan. 4) Klien bersedia datang kembali jika ada keluhan.
Data Perkembangan SOAP
Menurut (Walyani, 2015) metode SOAP merupakan singkatan dari :
S : Subjektif
a) Menggambarkan pendokumentasian pengumpulan data klien melalui anamnesa
b) Tanda gejala subjekif yang diperoleh dari hasil bertanya pada klien, suami atau keluarga (identitas umum, keluhan, riwayat menarche, riwayat perkawinan, riwayat kehamilan, riwayat persalinan, riwayat KB, penyakit keluarga, riwayat penyakit keturunan, riwayat psikososial, pola hidup)
c) Catatan ini berhubungan dengan masalah sudut pandang klien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan keluhannya dicatat
sebagai kutipan langsung atau ringkasan ang berhubungan dengan diagnosa.
O : Objektif
a) Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan fisik klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung assessment.
b) Tanda gejala objektif yang diperoleh dari hasil pemeriksaan (keadaan umum, vital sign, fisik, pemeriksaan dalam, laboratorium dan pemeriksaan penunjang, pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi).
c) Data ini memberikan bukti gejala klinis klien dan fakta yang berhubungan dengan diagnosa.
A : Assesment
a) Masalah atau diagnosa yang ditegakkan berdasarkan data atau informasi subjektif maupun objektif yang dikumpulkan atau disimpulkan.
b) Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi.
P : Planning
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi berdasarkan assesment.
a) Perencanaan
Membuat rencana tindakan saat itu atau yang akan datang. Untuk mengusahakan tercapainya kondisi klien yang sebaik mungkin b) Implementasi
Pelaksanaan rencana tindakan untuk menghilangkan dan mengurangi masalah klien. Tindakan ini harus disetujui oleh klien kecuali bila tidak dilaksanakan akan membahayakan keselamatan klien.
c) Evaluasi
Tafsiran dari efek tindakan yang telah di ambil merupakan hal penting untuk menilai keefektifan asuhan yang diberikan.Analisis dari hasil yang dicapai menjadi fokus dari kecepatan nilai tindakan.Jika kriteria tujuan tidak tercapai, proses evaluasi dapat menjadi dasar untuk mengembangkan tindakan alternatif sehingga mencapai tujuan.