• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Teori Manajemen Kebidanan

Manajemen kebidanan adalah merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan-temuan,

ketrampilan suatu keputusan yang berfokus pada klien (Sukini dan Rofi’ah, 2016).

2. Tujuh Langkah Manajemen Kebidanan

Menurut Varney dkk (2007), tujuh langkah Varney meliputi: Langkah I: Pengkajian

Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi (data) yang akurat dan lengkap dan semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik (Soepardan, 2008).

a. Identitas

Identitas ini diperlukan untuk memastikan bahwa yang diperiksa benar-benar anak yang dimaksud dan tidak keliru dengan anak lain (Matondang dkk, 2013). Identitas tersebut meliputi:

1) Nama balita :Diperlukan untuk memastikan bahwa yang diperiksa benar-benar anak yang dimaksud. Nama harus jelas dan lengkap serta ditulis juga nama panggilan akrabnya (Matondang dkk, 2013).

2) Umur :Perlu diketahui mengingat periode anak mempunyai kekhasannya sendiri dalam morbiditas dan mortalitas. Usia anak juga diperlukan untuk menginterpretasikan apakah data pemeriksaan klinis anak

tersebut normal sesuai umurnya (Matondang dkk, 2013)

3) Jenis kelamin :Jenis kelamin sangat diperlukan selain untuk identitas juga untuk penilaian data pemeriksaan klinis (Matondang dkk, 2013). 4) Nama orang tua :Agar dituliskan dengan jelas agar tidak

keliru dengan orang lain mengingat banyak nama yang sama (Mtondang dkk, 2013). 5) Agama :Berguna untuk memantapkan identitas,

disamping itu perilaku seseorang tentang kesehatan dan penyakit sering berhubungan dengan agama (Matondang dkk, 2013). 6) Pendidikan :Selain sebagai tambahan identitas

informasi tentang pendidikan orang tua baik ayah maupun ibu, dapat menggambarkan keakuratan data yang diperoleh serta dapat ditentukan pola pendekatan dalam anamnesis (Matondang dkk, 2013).

7) Alamat :Daerah tempat tinggal pasien juga diperlukan agar sewaktu-waktu dapat dihubungi (Matondang dkk, 2013).

b. Anamnesa (Data Subjektif)

Anamnesa adalah data yang didapatkan dan pasien sebagai suatu pendapat terhadap situasi dan kejadian (Nursalam, 2009).

1) Alasan datang atau keluhan utama

Keluhan utama untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan pasien(Ambarwati dan Wulandari, 2009). Balita dalam sehari sudah lebih dari 3 kali buang air besar berbentuk cair dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (Dewi, 2013).

2) Riwayat kesehatan a) Imunisasi

Status imunisasi klien dinyatakan, khususnya imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B. Hal tersebut selain diperlukan untuk mengetahui status perlindungan pediatrik yang diperoleh juga membantu diagnosis pada beberapa keadaan tertentu (Matondang dkk, 2013). Diare lebih sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang menderita campak (Marmi dan Rahardjo, 2012).

b) Riwayat penyakit lalu

Diperlukan untuk mengetahui penyakit yang pernah diderita anak sebelumnya, karena mungkin ada hubungannya dengan penyakit sekarang atau setidak-tidaknya memberikan informasi untuk membantu pembuatan

diagnosis (Matondang dkk, 2013). Pada kasus balita sakit biasanya batuk, panas, pilek, kejang yang terjadi sebelum selama atau setelah diare (Susilaningrum dkk, 2013).

c) Riwayat penyakit sekarang

Untuk mengetahui kemungkinan penyakit yang diderita pada saat ini (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Pada kasus balita dengan diare gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare (Marmi dan Rahardjo, 2015).

d) Riwayat penyakit keluarga

Terdapatnya penyakit tertentu pada keluarga perlu ditanyakan, sebab mungkin berhubungan dengan masalah kesehatan yang dihadapi sekarang (Matondang dkk, 2013). 3) Riwayat sosial

Dikaji untuk mengetahui siapa yang mengasuh balita, hubungan pasien dengan anggota keluarga, yaitu dengan ibu, ayah serta anggota keluarga yang lain, hubungan dengan teman sebaya di lingkungan sekitar rumah (Matondang dkk, 2013). Perlu diupayakan untuk mengetahui terdapatnya masalah dalam keluarga, tetapi harus diingat bahwa masalah ini sering menyangkut hal-hal sensitif, sehingga diperlukan kebijakan dan kearifan tersendiri dalam pendekatannya (Matondang dkk, 2013).

4) Riwayat kebiasaan sehari-hari a) Pola nutrisi

Penilaian status gizi pasien secara klinis dilakukan terutama dengan inspeksi dan palpasi, apakah baik, kurus

atau gemuk. Juga dinilai apakah ada kelainan yang menyebabkan proporsi tubuh berubah (Matondang dkk, 2013).Pada kasus balita dengan diare

tidak nafsu makan berkurang atau tidak ada (Marmi dan Rahardjo, 2012).

b) Pola istirahat

Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam pasien tidur, kebiasaan tidur siang, penggunaan waktu luang (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Pada balita dengan diare cenderung cengeng, rewel dan gelisah (Dewi, 2013).

c) Pola eliminasi

Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan bauang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna dan jumlah (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Pada kasus balita dengan diare tinja yang encer dengan frekuensi kurang dari 4 kali atau lebih dalam sehari dengan konsistensi cair (Syaifrudin dkk, 2011).

c. Pemeriksaan Fisik (Data Objektif)

Data objektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur oleh tenaga kesehatan (Nursalam, 2009). Data objektif tersebut meliputi:

1) Status generalis a) Keadaan umum:

Penilaian keadaan umum ini akan dapat diperoleh kesan apakah pasien dalam keadaan distres akut yang memerlukan pertolongan segera ataukah pasien dalam keadaan yang relatif stabil sehingga pertolongan dapat diberikan setelah dilakukan pemeriksaan fisik (Matondang dkk, 2013). Hasil pengamatan keadaan umum ada dua yaitu:

(1) Keadaan umum baik

Jika pasien memperlihat respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.

(2) Keadaan umum lemah

Jika pasien tidan memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri (Sulistyowati, 2012).

b) Kesadaran

Kesadaran baru dapat dinilai bila pasien tidak tidur, Composmentis pasien sadar sepenuhnya dan memberi respon yang adekuat terhadap stimulus yang diberikan, apatis adalah keadaan sadar tetapi acuh tak acuh terhadap keadaan sekitarnya, samnolen adalah tingkat kesadaran yang lebih rendah dan apatis tampak mengantuk selalu ingin tidur, sopor pola keadaan ini pasien tidak memberikan respon ringan maupun sedang tetapi masih memberi sedikit respon, koma pasien tidak dapat bereaksi terhadap stimulus apapun, delirium keadaan kesadaran yang menurun serta kacau (Matondang dkk, 2013). Pada kasus balita diare akut kesadaran adalah compos mentis yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekeliling (Sulisyawati, 2012).

2) Tanda-tanda vital

Tanda-tanda vital mencakup nadi, tekanan darah, pernafasan dan suhu.

a) Denyut nadi :Menilai frekuensi atau laju nadi, kecepatan irama, suara jantung jelas dan teratur. Nadi normal pada balita umur 2-10 tahun adalah 70-110x/menit (Matondang dkk, 2013). Pada kasus balita dengan diare akut nadi cepat dan kecil (Arief dan Kristiyanasari, 2009).

b) Pernafasan :Menilai sifat pernafasan dan bayi nafas dalam 1 menit. Pernafasan normal pada balita yaitu 20-30x/menit (Matondang dkk, 2013). Pada balita dengan diare akut, pernafasan cenderung dalam tapi cepat lebih dari 30 kali per menit (Saifuddin, 2006).

c) Suhu :Menilai suhu tubuh. Suhu tubuh normal yaitu antara 36oC (Matondang dkk, 2013). Pada kasus diare akut suhu meningkat (Dewi, 2013).

3) Pemeriksaan Sistematis

Pemeriksaan sistematis meliputi antara lain:

a) Kepala : Bagaimana bentuk kepala, apakah ada kelainan atau lesi pada kepala. Pada kasus balita dengan diare akut ubun-ubunnya cekung (Dewi, 2013).

b) Mata : Conjungtiva dari merah, merah muda sampai pucat, sklera putih, kelopak mata cekung. Perhatikanlah adanya secret mata (Matondang dkk, 2013). Pada kasus dengan diare akut bentuk kelopak mata cekung (Dewi, 2013).

c) Mulut : Dikaji warna bibir, mukosa bibir (Matondang dkk, 2013). Pada balita diare akut mulut menjadi kering (Dewi, 2013).

d) Leher : Pada anak umur 3-4 tahun leher tampak memanjang dan tiroid bergerak ke atas bila menelan (Matondang dkk, 2013).

e) Dada : Untuk mendapatkan gambaran gambaran tentang dinding dada, bentuk dan besar dada, simetris (Matondang dkk, 2013). f) Perut : Perut cenderung kembung, turgor baik

sampai buruk, cubitan kulit kembali lambat (Matondang dkk, 2013).

g) Ekstremitas : Dikaji untuk mengetahui adakah oedem tanda sianosis, apakah kuku sudah melebihi jari-jari (Varney dkk, 2007).

h) Kulit : Dikaji untuk mengetahui balita dengan diare turgor kulit kembali cepat kurang dari 2 detik bila dicubit (Marmi dan Rahardjo, 2012).

i) Anus : Anus lecet (Dewi, 2013). 4) Pemeriksaan Penunjang

Pada kasus balita dengan diare, diperlukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan laboraturium dalam arti luas adalah pemeriksan yang dilakukan diluar pemeriksaan fisis (Matondang, dkk 2013).

e) Pemeriksaan tinja baik secara makroskopi maupun mikroskopis, ph dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest bila diduga terdapat intoleransi gula, bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.

f) Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan Ph dan cadangan alkali atau dengan pemeriksaan analisa gas menurut ASTRUP (bila memungkinkan).

g) Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalsium, kalium, dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang).

h) Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasite secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik (Marmi dan Rahardjo, 2012).

Langkah II: Interpretasi Data

Data data penting harus dikaji untuk mengklasifikasikan diare, pada langkah ini dilakukan identifikasi atas data-data yang telah dikumpulkan (Sukini dan Rofi’ah, 2016). Mengidentifikasi diagnosa kebidanan, masalah, kebutuhan berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Dalam langkah ini data yang telah dikumpulkan diinterpretasikan menjadi diagnosa kebidanan dan masalah.

Keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosa tetapi membutuhkan penanganan yang dituangkan dalam rencana asuhan terhadap pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2010).

a. Diagnosa Kebidanan

Diagnosa kebidanan adalah hasil perumusan masalah atau keputusan yang ditegakkan oleh bidan yang mencangkup kondisi, masalah, penyebab, dan prediksi terhadap kondisi tertentu (Estiwidani dkk, 2008). Dalam kasus ini diagnosa kebidanan adalah

“Balita An.x umur x tahun dengan diare akut”. Data Dasar

1) Data subyektif

Data subyektif adalah data didapat dan klien sebagai suatu pendapat terhadap situasi dan kejadian, informasi tersebut tidak dapat ditemukan oleh tenaga kesehatan secara independent tetapi melalui suatu system interaksi atau komunikasi (Nursalam, 2009).

a) Balita dikatakan diare dalam sehari sudah lebih dari 3 kali buang air besar berbentuk cair dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (Dewi, 2013).

b) Pada kasus balita sakit diare akut pada riwayat kesehatan imunisasi diare lebih sering terjadi dan berakibat

berat pada anak-anak yang menderita campak (Marmi dan Rahardjo, 2012).

c) Pada kasus balita dengan diare pada riwayat penyakit lalu biasanya batuk, panas, pilek, kejang yang terjadi sebelum selama atau setelah diare (Susilaningrum dkk, 2013).

d) Pada kasus balita dengan diare akut pada pola nutrisi

tidak nafsu makan berkurang atau tidak ada (Marmi dan Rahardjo, 2012).

e) Pada kasus balita dengan diare akut pada pola eliminasi

tinja yang encer dengan frekuensi kurang dari 4 kali atau lebih dalam sehari dengan konsistensi cair (Syarifudin dkk, 2011).

2) Data obyektif

Data obyektif adalah data yang sesungguhnya dapat diobservasi dan dilihat oleh tenaga kesehatan (Nursalam, 2009).

a) Pada kasus balita dengan diare akut pada keadaan umum yaitu baik (Sulistyawati, 2012).

b) Pada kasus balita dengan diare akut pada kesadaran compos mentis yaitu normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekeliling (Sulistyawati, 2012).

c) Pada kasus balita dengan diare akut pada nadi cepat dan kecil (Arief dan Kristiyanasari, 2009).

d) Pada kasus balita dengan diare akut pada pernafasan cenderung dalam tapi cepat lebih dari 30 kali per menit (Saifuddin, 2006).

e) Pada kasus balita dengan diare akut pada suhu tubuh meningkat (Dewi, 2012).

f) Pada kasus balita dengan diare akut pemeriksaan sistematis pada kepala ubun-ubunnya cekung (Dewi, 2012).

g) Pada kasus balita dengan diare akut pada mata kelopak mata cekung (Dewi, 2012).

h) Pada kasus balita dengan diare akut pada mulut pada balita menjadi kering (Dewi, 2012).

i) Pada kasus balita dengan diare akut pada kulit turgor kulit kembali cepat bila dicubit kurang dari 2 detik (Marmi dan Rahardjo, 2012).

j) Pada kasus balita sakit diare akut pada anus lecet (Dewi, 2012).

3) Pemeriksaan Penunjang

Pada kasus balita dengan diare, diperlukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang tau pemeriksaan laboraturium dalam arti luas adalah pemeriksan yang dilakukan diluar pemeriksaan fisis (Matondang, dkk 2013).

a) Pemeriksaan tinja baik secara makroskopi maupun mikroskopis, ph dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest bila diduga terdapat intoleransi gula, bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.

b) Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan Ph dan cadangan alkali atau dengan pemeriksaan analisa gas menurut ASTRUP (bila memungkinkan).

c) Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalsium, kalium, dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang).

d) Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik (Marmi dan Rahardjo, 2012).

b. Masalah

Masalah adalah segala sesuatu yang menyimpang sehingga kebutuhan klien terganggu, kemungkinan mengganggu kesehatan tetapi tidak masuk dalam diagnosa (Rukiyah, 2014). Masalah yang sering terjadi pada anak dengan diare akut adalah kekurangan volume cairan, perubahan pola pemenuhan nutrisi, perubahan

integritas kulit, gangguan rasa nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua (Susilaningrum dkk, 2013).

c. Kebutuhan

Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan pasien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah yang didapat dengan melakukan analisa data (Rukiyah, 2014). Menurut Suriadi dan Yulianti (2010), kebutuhan yang diperlukan pada balita sakit diare akut meliputi penanganan fokus pada penyebab, pemberian cairan elektrolit, oral (pediatylet atau oralit) atau terapi parenteral.

Langkah III: Diagnosa Potensial

Pada langkah ini mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien. Bidan diharapkan bersiap-siap bila diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi (Rukiyah, 2014). Pada kasus balita diare akut potensial terjadi dehidrasi, renjatan

hipovolemik, hypokalemia, hipokglikemia kejang dan malnutrisi (Jitowiyono dan Kristiyanasari, 2011).

Langkah IV: Tindakan Segera/Antisipasi

Dalam melakukan tindakan harus sesuai dengan prioritas masalah atau kebutuhan yang dihadapi kliennya. Setelah merumuskan tindakan yang dilakukan untuk mengantisipasi diagnosa potensial pada langkah sebelumnya harus merumuskan tindakan emergency/segera. Dalam

rumusan ini termasuk tindakan segera yang mampu dilakukan secara mandiri, secara kolaborasi atau bersifat rujukan (Rukiyah, 2014). Menurut (Susilaningrum dkk, 2012) kebutuhan yang diperlukan pada balita sakit diare akut meliputi beri cairan tambahan sebanyak yang anak mau, lanjutkan pemberian makan sesuai usia, bila keadaan tidak membaik rujuk ke rumah sakit.

Langkah V: Rencana Tindakan

Langkah ini memerlukan kesinambungan dan manajemen kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan dan dokter atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2010).

Menurut Susilaningrum dkk (2013) rencana tindakan yang diperlukan antara lain:

a. Beri ASI lebih lama.

b. Berikan oralit sedikit-sedikit dengan sendok.

c. Bila muntah tunggu sepuluh menit, kemudian berikan lagi, lanjutkan pemberian makan sesuai usianya.

d. Bila keadaan anak tidak membaik dalam lima hari atau bahkan memburuk, maka anjurkan untuk dibawa kerumah sakit. Selama perjalanan kerumah sakit, oralit tetap diberikan.

Langkah VI: Penatalaksanaan

Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada klien dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman (Ambarwati dan Wulandari, 2014). Pada langkah ini dilakukan:

a. Memberi ASI lebih lama.

b. Memberikan oralit sedikit-sedikit dengan sendok

c. Bila muntah tunggu sepuluh menit, kemudian berikan lagi, lanjutkan pemberian makan sesuai usianya.

d. Bila keadaan anak tidak membaik dalam lima hari atau bahkan memburuk, maka anjurkan untuk dibawa kerumah sakit. Selama perjalanan kerumah sakit, oralit tetap diberikan.

Langkah VII: Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam manajemen kebidanan guna mengetahui apa yang telah dilakukan bidan, mengevaluasi keefektifan dari asuahan yang diberikan

(Ambarwati dan Wulandari, 2010). Pada langkah ini evaluasi dan asuhan kebidanan yang sudah diberikan meliputi:

a. Pemenuhan kebutuhan nutrisi apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi dalam diagnosa.

b. Bayi keadaan umum baik c. Diare teratasi

Data Perkembangan

Berdasarkan evaluasi selanjutnya rencana asuhan kebidanan dituliskan dalam catatan perkembangan yang menggunakan SOAP yang menurut Rukiyah (2014), meliputi :

S : Subjektif

Menggambarkan hasil pendokumentasian hasil pengumpulan data melalui anamnesa, dimana anamnesa ini akan menghasilkan jawaban dan pasien, suami atau keluarga tentang identitas umum. O : Objektif

Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil lab dan test diagnostic lain dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan langkah Varney.

A : Assesment

Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subyektif dalam suatu identifikasi:

a. Diagnosa atau masalah

b. Antisipasi diagnosa lain atau masalah potensial

c. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter konsultasi atau kolaborasi.

P : Planning

Menggambarkan pendokumentasian dan perencanaan dan evaluasi berdasarkan assessment.

Dokumen terkait