27 | Page Sinaestesia dibangkitkan ke dalam doktrin estetika dalam soneta yang ditulis oleh Beaudelaire yang berjudul Correspondances.
Les parfums, les couleurs et les sons se répondent.
Il est des parfums frais comme des chairs d’enfants, Doux comme les hautbois, verts comme les prairies
“Parfum, bunyi dan warna saling bersambut.
Ada parfum yang segar dan dingin seperti tubuh bayi, Merdu seperti seruling, hijau seperti ladang.”
(Correspondence – Charles Baudelaire) Sejak itu imajinasi sinaestetik sepenuhnya dieksploitasi dalam puisi maupun prosa. Upaya-upaya dilakukan untuk mensistematisasikan korespondensi antara berbagai indera; percobaan yang paling terkenal dalam hal ini ialah soneta Rimbaud tentang warna bunyi-bunyi vokal: “A noir, E blanc, I rouge, O bleau...”, yang mungkin disugesti oleh memori-memori tentang buku-eja yang dipakai pada masa kanak-kanaknya”. Pada masa sekarang transposisi semacam itu sudah begitu umum sehingga tidak seorang pun dikejutkan ketika seorang novelis berbicara tentang “rasa atau selera yang kuning” atau “hijaunya bau”.
28 | Page saat ini, paling tidak empat teori metafora yang mengungkapkan metafora dengan berbagai sudut pandang.
Berikut ini adalah uraian singkat tentang keempat teori tersebut, yang secara khusus ditinjau dari perspektif penerjemahan.
1. Teori perbandingan
Teori perbandingan, yang identik dengan definisi etiomologis di atas, digagas oleh Aristoteles pada abad keempat masehi. Menurut Aristoteles, metafora merupakan sarana berpikir yang sangat efektif untuk memahami suatu konsep abstrak, yang dilakukan dengan cara memperluas makna konsep tersebut dengan cara membandingkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami.
Bagi Aristoteles, fungsi utama metafora adalah sebagai stilistika atau ornamen retoris, khususnya majas. Danesi (2004:118 dalam http://www.dinus.ac.id/wbsc/assets/dokumen/majalah/Artikel_Asep1.pdf diakses pada tanggal 22 November 2016) menambahkan bahwa majas tersebut digunakan untuk memperindah ungkapan-ungkapan dalam puisi.
Dengan kata lain, Aristoteles lebih mementingkan metafora sebagai konsep berpikir yang menghasilkan ekspresi tersebut.
Teori perbandingan ini didukung oleh Larson (1998: 271) yang menekankan bahwa, seperti simile, metafora merupakan ungkapan figuratif yang didasarkan pada perbandingan. Dia menjelaskan bahwa
29 | Page metafora dan simile merupakan bentuk-bentuk gramatikal yang mewakili dua proposisi dalam struktur semantik. Sebuah proposisi terdiri dari sebuah topik dan penjelasan mengenai topik itu. Dalam ungkapan “Guru adalah matahari bangsa”, “guru” merupakan topik dan “adalah matahari bangsa” merupakan penjelasan. Hubungan antara kedua proposisi tersebut merupakan sebuah perbandingan yang terdapat dalam bagian penjelasan.
Penjelasan tersebut mengungkapkan kemiripan atau menunjukkan titik kesamaan tertentu. Dalam contoh di atas, bagian penjelasan mengungkapkan kemiripan antara “guru” dan “matahari” sebagai pemberi
„terang‟ dan kehangatan‟.
2. Teori Interaksi
Pemunculan konsep metafora yang berbeda dengan konsep Aristoteles diawali oleh Richards. Perbedaan itu terlihat paling tidak dalam dua poin. Poin pertama, Richards (1936: 90) menyatakan bahwa metafora sesuatu yang istimewa dan hanya digunakan oleh orang-orang berbakat sebagai ornamen retoris. Dengan kata lain, dia menolak pandangan bahwa metafora digunakan secara khusus hanya dalam karya sastra.
Kedua, Richards menekankan bahwa metafora merupakan proses kognitif yang dilakukan untuk memahami suatu gagasan yang asing (vehicle) melalui interaksi gagasan tersebut dengan gagasan lain yang maknanya secara harfiah sudah lebih dikenal (tenor), bukan melalui
30 | Page pemindahan makna. Gagasan baru yang dihasilkan melalui interaksi vehicle dan tenor disebut ground. Secara grafis, proses kognitif yang menghasilkan metafora ini dapat digambarkan dalam bagan dibawah ini.
Gambar 1. Proses kognitif.
Guru Matahari (vehicle) (tenor)
Pada bagan tersebut, tampak dua lingkaran yang disatukan, masing-masing menampilkan wilayah makna “guru” dan wilayah makna
“matahari”. Sebahagian dari kedua wilayah makna itu bertumpang tindih (bagian tengah gambar), dan hal itu menunjukkan adanya sekumpulan komponen makna penyama (ground) atau makna yang sama-sama dimiliki kedua wilayah makna. Dalam konteks metafora ini, makna penyama tersebut terdiri dari „hangat‟ dan „menerangi‟. Meskipun wilayah makna itu menyatu, makna harfiah „guru‟ dan „matahari‟ tidak menghilang, melainkan ada di latar belakang makna metaforis. Itulah sebabnya Richard menekankan bahwa dalam metafora tidak terjadi substitusi makna melainkan interkasi makna.
31 | Page Istilah vehicle yang diajukan Richard ini mirip dengan „topik‟, istilah tenor mirip dengan „citra‟, dan istilah ground mirip dengan „titik kesamaan‟. Menurut Stockwell (2002: 106), dalam ungkapan stilistik posisi vehicle selalu mendahului tenor, meskipun dalam skema kognitifnya tenor diletakkan sebelum vehicle. Jadi dalam metafora “Guru adalah matahari bangsa”, „Guru‟ merupakan vehicle dan „matahari‟ merupakan tenor. Fitur umum yang terdapat diantara keduanya, seperti „hangat‟ dan
„menerangi‟, disebut ground.
Berdasarkan gagasan Richards, Black mengembangkan teori interaksi dengan menekankan bahwa metafora pada hakikatnya merupakan instrumen kognitif yang tidak dapat berlangsung tanpa adanya interaksi antar elemen-elemen pembentuknya, yang terdiri dari aspek konteks, situasi, pembicara/pendengar, penulis/pembaca, dan tema pertuturan.
Jika konsep Aristoteles dibandingkan dengan konsep Richards dan Black, akan terlihat bahwa konsep metafora Aristoteles dilandaskan pada perbandingan antara tenor (citra) dan vehicle (topik), sedangkan konsep metafora Richards dan Black didasarkan pada interaksi kedua ranah tersebut. Namun, walau berbeda dalam hal hubungan antara tenor dan vehicle, konsep Aristoteles, Richards, dan Black sama-sama menekankan bahwa konteks yang terdapat dalam ungkapan metafora mengandung dua sisi makna: makna metaforis di satu sisi dan makna harfiah di sisi yang
32 | Page lainnya. Selain itu, ketiga konsep itu juga sama-sama menekankan fungsi metafora sebagai bahasa figuratif.
3. Teori Pragmatik
Teori pragmatik merupakan penolakan terhadap konsep adanya perubahan makna pada topik karena adanya pemindahan makna dari citra, atau karena adanya interaksi vehicle dengan tenor. Dengan kata lain, teori pragmatik membantah konsep teori perbandingan dan teori interaksi.
Davidson (1978: 32) mempertanyakan asumsi standar tentang keberadaan makna metaforis yang berbeda dengan makna harfiah. Menurut Davidson, metafora pada hakikatnya tidak berbeda dengan ungkapan linguistik lainnya. Metafora mengungkapkan makna kata-kata sesuai dengan makna harfiahnya, tidak lebih dari itu. Bagi Davidson, persoalan metafora merupakan ranah pragmatik, bukan semantik. Metafora tidak membentuk makna-makna yang berbeda karena metafora tidak berkreasi; metafora merupakan kata-kata yang makna harfiahnya digunakan untuk membentuk pemahaman. Dengan kata lain, makna sebuah metafora ditentukan oleh makna harfiah kata-kata maupun kalimat yang membentuknya, dan bagaimana makna tersebut digunakan. Jadi, metafora tidak memiliki makna khusus. Metafora adalah penggunaan ungkapan untuk menyarankan, mengakrabkan, atau mengarahkan penutur kepada makna yang mungkin diabaikannya.
33 | Page Sumbangan utama teori pragmatik terhadap konsep metafora adalah pemahaman bahwa proses pembentukan makna metaforis tidak hanya ditentukan oleh pemindahan makna dari citra ke topik atau oleh interaksi antara kedua ranah tersebut. Makna metaforis itu juga dibentuk oleh hubungan internal elemen-elemen kontekstual tuturan tersebut, termasuk makna yang disampaikan penutur.
4. Teori Kognitif
Wilayah kajian metafora yang dulu cenderung mengacu pada ungkapan figuratif mulai berubah sejak Lakoff dan Jonhson menerbitkan Metaphors We Live By pada tahun 1980. Dalam buku ini mereka menegaskan bahwa metafora tidak hanya digunakan dalam karya sastra tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut mereka, “metaphors are pervasive in our ordinary everyday way of thinking, speaking, and acting”. Pendapat ini merupakan penolakan mereka terhadap pendapat umum dalam linguistik konvensional bahwa ungkapan metaforis merupakan alternatif bagi penuturan harfiah. Danesi (2004: 120), menjelaskan bahwa secara khusus mereka menentang asumsi Grice bahwa seseorang akan mencoba mendahulukan interpretasi jika dia mendengar sebuah kalimat. Jika konteks kalimat tersebut tidak memungkinkan baginya untuk memperoleh pemahaman, barulah dia mencoba interpretasi metaforis. Menurut Lakoff dan Johnson, asumsi ini terkesan benar hanya
34 | Page karena pengguna bahasa tidak menyadari bahwa banyak ungkapan-ungkapan yang biasa mereka gunakan sebenarnya didasarkan pada struktur metaforis. Sebagai contoh, kalimat yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari, seperti: “Pendapatmu tidak dapat dipertahankan”,
“Aku berhasil menghancurkan argumentasinya” dan “Dia selalu menang dalam perdebatan”, sebenarnya merupakan variasi metafora linguistik yang dibentuk berdasarkan metafora konseptual ARGUMEN MERUPAKAN PERANG, seperti terlihat dari uraian yang diadopsi dari penjelasan Lakoff dan Johnson berikut.
Metafora konseptual : ARGUMEN MERUPAKAN PERANG Metafora linguistik :
Selain itu, berbagai kalimat sering diinterpretasikan secara metaforis tanpa memperhatikan makna sebenarnya. Sebagai contoh, kalimat “Pembunuhnya adalah binatang” cenderung diinterpretasikan secara metaforis. Biasanya, setelah dijelaskan bahwa kata “binatang”
dalam kalimat itu adalah hewan sesungguhnya (singa, beruang, dan sebagainya), barulah pendengar menginterpretasikannya secara harfiah.
Menurut Ortony (1993: 208-209), prinsip utama dalam teori kognitif Lakoff dan Johnson adalah bahwa metafora berlangsung dalam a. Pendapatmu tidak dapat dipertahankan.
b. Aku berhasil mematahkan argumentasinya.
c. Dia selalu menang dalam perdebatan.
35 | Page tataran proses berpikir. Metafora menghubungkan dua ranah konseptual yang disebut ranah sumber (source domain) dan ranah sasaran (target domain). Ranah sumber terdiri dari sekumpulan entitas, atribut atau proses yang terhubung secara harfiah, dan secara semantis terhubung dan tersimpan dalam pikiran. Hal-hal itu diungkapkan dalam pertuturan melalui seperangkat kata atau ungkapan yang dianggap terhimpun dalam kelompok-kelompok yang serupa dengan kumpulan tersebut – yang sering disebut oleh linguis sebagai „kelompok leksikal‟ (lexical sets) atau
„bidang-bidang leksikal‟ (lexical fields). Ranah sasaran cenderung bersifat lebih abstrak dan mengikuti struktur yang dimiliki ranah sumber melalui pemetaan ontologis. Pemetaan inilah yang disebut metafora konseptual.
Oleh karena itu, entitas, atribut, dan proses dalam ranah sasaran diyakini berhubungan satu sama lain seperti pola yang dipetakan dari hubungan antara entitas, atribut, dan proses dalam ranah sumber. Pada tataran bahasa, seluruh entitas, atribut, dan proses dalam ranah sasaran dileksikalkan melalui kata-kata dan ungkapan dari ranah sumber. Kata-kata atau ungkapan inilah yang disebut dengan metafora linguistik.
Berdasarkan berbagai teori dan definisi yang cukup beragam tersebut, terlihat bahwa pengertian metafora relatif sama sejak zaman Aristoteles. Meskipun dinyatakan melalui ungkapan-ungkapan yang cukup variatif, definisi-definisi itu tetap bermuara kepada dua tataran,
36 | Page yakni: metafora konseptual dan metafora linguistik. Metafora konseptual merupakan proses pemindahan sebuah konsep yang dikenal kepada konsep lain yang masih asing agar konsep yang asing itu dapat dipahami.
Pemindahan konsep itu biasa melalui perbandingan, interaksi, atau pemetaan. Metafora linguistik merupakan ekspresi linguistik yang diperoleh dari sebuah metafora konseptual.
Perbedaan yang terdapat dalam berbagai definisi dan teori metafora di atas terletak pada penekanan esensi dan fungsi kedua jenis metafora tersebut. Bagi Aristoteles, metafora linguistik lebih penting dari metafora konseptual dan sangat diperlukan sebagai bahasa figuratif (majas) dalam puisi dan kajian sastra. Bagi Lakoff dan Johnson, metafora yang paling esensial adalah metafora konseptual, dengan alasan bahwa metafora linguistik merupakan manifestasi linguistis dari metafora konseptual (sebagai sistem berpikir yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari manusia). Krennmayr (2011 : 11) menegaskan bahwa berbeda dengan pandangan filsuf dan linguis terdahulu, yang memandang bahasa terpisah dari pikiran, linguis kontemporer sejak pemunculan linguistik kognitif memandang bahasa berinteraksi dengan persepsi, memori, dan pikiran.
Karena dilandaskan pada perbandingan antara sebuah benda, ide, atau tindakan dengan sebuah benda, ide, atau tindakan lain, metafora juga mencakup personifikasi, karena personifikasi juga didasarkan pada