• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Kerangka Teori

F.1. Teori Organisasi Internasional

Organisasi internasional merupakan sebuah wadah yang mampu menyatukan kepentingan – kepentingan nasional oleh sebuah negara dan dicoba untuk dijewantahkan ke dalam sebuah wadah hubungan bersama antar negara – negara tersebut. Jika ditinjau dari sejarah pertama kali, gagasan pemikiran organisasi internasional telah ada sejak zaman Yunani Kuno, dimana pada saat itu tengah berkembang sistem negara – kota di Yunani Kuno. Hal ini bisa dibuktikan dari tulisan Thuycides yang menulis tentang Perang Peloponesia (431-404 SM) antara Sparta dan Athena. Dalam beberapa tulisannya mengenai perang tersebut, digambarkan hal-hal seperti perundingan, perjanjian, aliansi, dan pola kerja sama, serta adanya ketergantungan untuk bertahan dari masing – masing bangsa untuk mempertahankan kepentingan bangsanya. Yang menjadi penting dari makna tulisan tersebut adalah cikal bakal dari hubungan diplomatik yang secara tidak langsung diperkenalkan dalam penyelesaian perang tersebut. Dapat dikatakan hal tersebut sebagai bentuk sederhana dari kerja sama internasional yang selalu dibutuhkan dalam organisasi internasional.

Organisasi internasional dalam kapasitasnya sebagai salah satu aktor dalam pergaulan internasional memegang peranan penting dalam dinamika

kehidupan antar negara-negara di dunia.14 Organisasi internasional menjadi wadah bagi negara-negara di dunia untuk menyalurkan aspirasi institusionalnya maupun wadah untuk membangun relasi yang lebih luas dengan negara-negara lain. Organisasi internasional dalam dinamikanya harus dibarengi dengan diberlakukannya peraturan-peraturan hukum yang lebih kita kenal sebagai hukum internasional agar tidak bergesekan dengan kepentingan negara atau komunitas lain dalam hubungan internasional tersebut.

Organisasi Internasional adalah pola kajian kerjasama yang melintasi batas – batas negara dengan didasari struktur organisasi yang jelas dan lengkap serta diharapkan atau diproyeksikan untuk berlangsung serta melaksanakan fungsinya secara berkesinambungan dan melembaga guna mengusahakan tercapainya tujuan – tujauan yang diperlukan serta disepakati bersama, baik antara pemerintah dengan pemerintah maupun antar sesama kelompok non pemerintah pada negara yang berbeda.15 Tujuan – tujuan yang dimaksudkan dalam hal ini berupa kepentingan nasional yang harus dibawa institusi negara ke dalam hubungannya dengan organisasi internasional tersebut.

Menurut Rudy, organisasi internasional memiliki peran yaitu wadah atau forum untuk menggalang kerjasama serta untuk mengurangi intensitas konflik antar sesama anggota.16

14 Natsir Asnawi , “Hukum Organisasi Internasional”, diakses dari

Wadah ini kemudian memiliki peran sebagai sarana perundingan untuk menghasilkan keputusan bersama yang saling menguntungkan dan ada kalanya bertindak sebagai lembaga yang mandiri untuk melaksanakan kegiatan yang diperlukan antara lain kegiatan yang berkaitan dengan masalah sosial, bantuan untuk pelestarian lingkungan hidup, ataupun kegiatan – kegiatan yang bekaitan dengan masalah yang dihadapi negara – negara yang tergabung dalam organisasi tersebut.

pukul 17.05.

15 T. May Rudy, Administrasi dan Organisasi Internasional, Bandung, Refika Aditama, 2005, hal 3.

Semakin berkembangnya tingkat interaksi di antara negara-negara serta individu, telah menghasilkan implikasi-implikasi yang sangat besar kaitannya dengan hubungan intenasional. Le Roy Bennet memprediksi penyebabnya dalam tulisannya yaitu,

“Since the states of the modern world must, in so many areas, cooperate, adjust, accommodate, and compromise to promote their common welfare, to solve problems not limited to national boundaries, and to lessen conflict, it is entirely logical for them to create elaborate agencies of international organization for these ends.”17

Yang dimaksudkan Bennet adalah ketika modernitas dari negara – negara merupakan sebuah keharusan, di banyak wilayah, kerja sama, penyesuaian, pengakomodasian, dan kompromi untuk memajukan kesejahteraan umum mereka dan untuk memecahkan masalah tidak terbatas pada batas-batas nasional. Serta pengurangan konflik sangatlah logis bagi negara – negara tersebut untuk menciptakan lembaga rumit organisasi internasional untuk tujuan ini

1. Organisasi ini bersifat permanen dan dijalankan fungsinya secara

berkelanjutan.

Dari pernyataan Bennet di atas, dapat dibuat beberapa karakteristik dari organisasi internasional, yaitu :

2. Keanggotaan dari organisasi ini bersifat sukarela sesuai dengan kebutuhan masing – masing negara dan anggotanya bersedia untuk memenuhi persyaratan.

3. Organisasi internasional memiliki instrumen – instrumen dasar dan pasti memiliki struktur, tujuan, dan metode dalam pengoperasiannya.

4. Organisasi internasional digunakan sebagai alat perundingan yang dapat menyelesaikan permasalahan hubungan antar anggotanya.

5. Organisasi internasional memiliki sekretariat tetap tempat dimana struktur organisasi tersebut bekerja.

Dengan kata lain, organisasi internasional dapat dilihat sebagai alat, yaitu alat untuk memperjuangkan kepentingan nasional negara anggotanya, dan sebagai proses, yaitu proses menuju integrasi di mana terbentuk unit politik baru yang merupakan fungsi dari unit-unit politik yang sebelumnya terpisah. Organisasi internasiona dalam penelitian ini yaitu organisasi IMF ( International Monetary Fund ) yang disebut juga sebagai Dana Moneter Internasional, memiliki arti penting karena negara-negara anggotanya pasti membutuhkan bantuan dari organisasi tersebut.

Suatu negara memasuki suatu organisasi internasional karena alasan-alasan tertentu, di antaranya alasan-alasan ekonomi, politik, dan keamanan. Keanggotaan suatu negara dalam organisasi internasional dapat menguntungkan negara tersebut secara ekonomis, misalnya pada keanggotaan IMF ini yang memungkinkan para anggotanya mendapatkan akses pada bantuan utang luar negeri secara berkelanjutan.

Munculnya organisasi ini pada sekitar tahun 1944 juga dapat kita lihat sebagai sebuah bentuk permasalahan bersama antar negara terutama ketika pada tahun 1929 terjadi depresi perekonomian global yang menyebabkan hancurnya perekonomian dunia pada saat itu. Hal ini kemudian membuat banyak negara untuk membangun kembali perekonomiannya dan memperkuat sistem perekonomian negaranya masing – masing.

Dalam hal ini, ekonomi politik merupakan sebuah perpaduan ilmu yang mempelajari bagaimana ekonomi dan politik dapat saling mempengaruhi ataupun sebaliknya. Pada dasarnya pelaksanaan dari sistem ekonomi oleh pemerintah tidak akan terlepas dari sikap politik pemerintahan tersebut. Konsep ekonomi pada dasarnya berkaitan dengan konsep – konsep politik misalnya bagaimana faktor dari industri, ataupun bagaimana sistem ekonomi dilaksanakan oleh pemerintahan. Jika dikaitkan antara konsep ekonomi dan politik maka dapat dikatakan bahwa ekonomi politik adalah kajian tentang relasi sosial, khususnya relasi kekuasaan, F.2. Kebijakan Ekonomi Politik di Indonesia

yang bersama – sama membentuk produksi, distribusi dan konsumsi sumber daya – sumber daya, termasuk sumber daya komunikasi.18

Politik dalam kajian terhadap penelitian ini menetukan alur bergerak dari kegiatan ekonomi dan mengarahkannya untuk mengikuti kepentingan – kepentingan kelompok mayoritas, pengunaan kekuasaan dalam bentuk yang sangat dominan pada suatu sistem ekonomi. Proses kontrol secara luas terkait dengan politik karena melibatkan relasi – relasi organisasi sosial dalam sebuah hubungan kelompok. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekonomi dan politik akan mempengaruhi satu dengan yang lain. Sumbangan dari masing –masing ilmu berupa gagasan, aliran pemikiran, dan juga teknik analisisnya. Ilmu ini maka akan berkaitan dengan perubahan – perubahan sosial yang dipengaruhi oleh kedua aspek ilmu tersebut.

Ekonomi politik biasanya dapat diartikan sebagai analisis menyeluruh terhadap proses – proses politik yang berkaitan dengan bidang ekonomi ataupun proses pengambilan kebijakan yang terkait dengan masalah ekonomi. Batasan lainya mengatakan bahwa ekonomi politik merupakan kajian sistematis terhadap hubungan antara proses ekonomi serta proses politik dalam pembuatan suatu undang – undang. Banyak lagi makna yang bisa diajukan terhadap antusiasme para ahli untuk mengembangkan instrumen analisis ekonomi politik terhadap suatu fenomena masyarakat, yang sebenarnya berada disuatu wilayah tetapi terpisahkan oleh kotak – kotak disiplin ilmu ekonomi dan ilmu politik.19

Ketika kita akan membahas masalah ekonomi maka biasanya hal tersebut akan terkait dengan kebijakan – kebijakan yang terkait dengan masalah politik. Kebijakan yang dibuat oleh lembaga – lembaga politik dalam pemerintahan pasti ada yang langsung bersinggungan dengan permasalahan ekonomi. Kajian dalam ekonomi politik yang menyeluruh lebih menggunakan analisis terhadap sistem

18 Vincent Mosco, “ Apa Itu Ekonomi – Politik Komunikasi? Definisi dan Karakteristik “, diakses dari

19 Prof. Didik J. Rachbani, 2002, Ekonomi Politik : Paradigma dan Teori Pilihan Publik, Jogjakarta, Penerbit Ghalia Indonesia, hal. 14.

kekuasaan di dalam suatu negara, yang mungkin atau potensial memberikannya ruang kebebasan atau tidak terhadap bekerjanya mekanisme pasar. Hal ini menjadikan pemerintah sebagai pihak yang menentukan jalannya perekonomian baik dalam pelaksanaan ataupun kebijakannya. Negara memiliki kewenangan dan akses penuh untuk melakukan analisis terhadap jalannya mekanisme pasar serta memformulasikan sebuah kebijakan sesuai dengan analisis yang mereka lakukan. Selain itu, tindakan – tindakan dalam pengambilan keputusan harus sesuai dengan pertimbangan proses politik yang dilakukan oleh negara.

Penjelasan diatas misalnya dapat kita lihat pada Teori Keynesian tentang konsep pasar. Pada penganut mahzab Keynesian beranggapan bahwa jika regulasi pasar tidak diciptakan oleh negara pasti akan menyebabkan terjadinya eksploitasi terhadap sumber daya produktif masyarakat tertentu. Berpijak pada hal inilah maka keynesian berpandangan bahwa dalam derajat tertentu menhendaki adanya peran negara dalam aktifitas ekonomi. 20 Tampak pada penjelasan teori di atas telah menelaah kontrol pemerintah sebagai variabel politik dalam membuat kebijakan – kebijakan pasar sebagai sebuah perangkat ekonomi.

Dibawah pemerintahan Orde Baru terdapat ketimpangan terhadap terlaksananya ekonomi politik. Institusi ini bersifat primitif karena aturan main untuk mendukung sistem sangat elitis dan tergantung pada perilaku elite yang berkuasa.21

20 Ahmad Erani Yustika,2009, Ekonomi Politik, Kajian Teoritis dan Kajian Empiris, Jogjakarta, Pustaka Pelajar, hal. 31.

Masyarakat tidak mendapatkan akses untuk mengetahui informasi mengenai kegiatan – kegiatan perekonomian yang dilakukan oleh pemerintah. Perilaku ini secara bertahap menjadi sebuah lembaga, yang beperan menyelesaikan masalah, tetapi bias dan mengabaikan kepentingan – kepentingan kelompok kecil. Proses pengambilan keputusan masalah-masalah publik yang besar tidak terbuka termasuk di dalmnya pada pengambilan keputusan ekonomi makro, investasi dan lainnya. Masyarakat diberikan pemaparan yang sederhana

tentang hasil dari kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tanpa penjelasan yang dapat diterima oleh mereka.

Pada pembahasan teori kali ini maka teori ekonomi politik difokuskan kepada kebijakan dan utang luar negeri. Fenomena ini menjadikan studi ekonomi dan studi politik bersifat kausal ( sebab – akibat ) Dikatakan demikian karena dalam pembahasan utang luar negeri tentu saja negara memiliki peranan yang cukup besar. Otoritas negara sebagai lembaga yang terlegitimasi untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi dalam negeri menjadi salah satu objek penelitian dalam teori ini. Kebijakan ekonomi didasarkan pada upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan negara berusaha untuk mencari alternatif bantuan dalam membangun perekonomian negara.

Kwik Kian Gie juga menjelaskan bahwa ekonomi politik merupakan sebuah formula yang dapat dipergunakan dalam kaitan terhadap pembuatan kebijakan terhadap utang luar negeri. Kwik menjadikan negara sebagai fokus utama dalam pelaksanaan kontrol atas utang luar negeri sebuah negara. Dia juga meembahas secara tuntas kaitan politik dengan ekonomi yang berkaitan dengan kebijakan fiskal dan utang luar negeri Indonesia yang mengakibatkan krisis moneter dan berpengaruh terhadap kondisi sosial Indonesia pada saat itu. Kwik menjelaskan secara jelas bagaimana perubahan – perubahan yang terjadi di tengah – tengah masyarakat pada saat itu terutama ketika pemerintah mulai membuka diri terhadap bantuan luar negeri.

Kutipan pada pengantar bukunya yaitu “ The best government is the least government “ 22

22 Kwik Kian Gie, Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar, Jakarta, PT.Kompas Mediatama Nusantara, 2009, hal. ix.

menjelaskan kepada kita bagaimana peranan pemerintah harus diminimalisir dalam sebuah hubungan internasional jika hal tersebut tidak mampu menjadikan permasalahan ataupun kepentingan masyarakat terlaksana. Dalam bukunya juga Kwik menilai bahwa pemerintah menjadi sosok yang sangat baik terhadap pengaturan mekanisme pasar tanpa memperhatikan kebutuhan

masyarakat Indonesia secara luas. Hal ini terletak pada penjelasannya mengenai BBM serta subsidinya.

Pemerintah melihat bagaimana pasar bekerja dalam bidang ekonomi. Pasar kemudian dipakai secara berlanjut oleh pemerintah secara berkelompok dan saling berkaitan sebagai instrumen politik yang paling tepat dalam rangka pembuatan kebijakan tersebut. Dan pemerintah dalam pelaksanaan kebijakannya menjadikan kontrol atas pasar menjadi dasar bagi para pelaku politik untuk member kesinambungan antara pelaku pasar baik sebagai produsen, distributor, ataupun konsumen sehingga kesempatan bagi masyarakat untuk tidak mendapatkan keuntungan yang merata dalam kegiatan ekonominya. Biasanya analisis ekonomi tidak pernah keluar dari lingkup mekanisme pasar dan analisis politik sulit menjangkau fenomena-fenomena ekonomi masyarakat.

Kebijakan – kebijakan politik yang dibuat pemerintah lahir dari pergolakan ekonomi yang terjadi di dunia. Dalam hal ini teori ekonomi politik menggambarkan dua bidang hubungan yang saling berkaitan atau bahkan dikaitkan antara suatu keadaan, kejadian, peristiwa, gejala, ataupun fenomena dalam dunia ekonomi maupun politik. Peran pemerintah dalam membuat sebuah kebijakan yang berkaitan dengan masalah utang luar negeri merupakan salah satu bidang yang menjadi pembahasan teori ekonomi politik.

23

Yang menjadi kriteria dari pengertian tentang ekonomi politik dapat diidentifikasikan dari beberapa pokok perhatian yakni :

Dalam penelitian yang terkait dengan maslah ekonomi politik ini ditunjukan secara langsung bagimana pasar berhubungan dengan negara, produsen, distributor ataupun konsumen melakukan interaksi langsung dengan pemerintah sebagai pembuat kebijakan.

1. Ekonomi Politik dapat dipahami sebagai suatu bidang pengetahuan dan / atau ilmu pengetahuan yang berhubungan antara disiplin ilmu ekonomi dan politik atau hanya merupakan perluasan konsep / teori daripada masing – masing disiplin ilmu tersebut atau pula hanya sebagai perspektif belaka.

2. Ekonomi politik dapat dipahami sebagai suatu metode dan pendekatan atau suatu cara dan jalan bagi suatu ilmu pengetahuan sebagai alat analisis penelitian atau penyelidikan masalah – masalah sosial, ekonomi, politik, budaya serta lingkungan hidup manusia.

3. Ekonomi politik dapat dipahami sebagai kajian dari berbagai peristiwa, fakta, fenomena, dan gejala yang ditimbulkan oleh efek kebijaksanaan ( public strategy ) pemerintah dalam berbagai aspek yang langsung berkaitan dengan proses hubungan dimensial antara negara, rakyat, dan lingkungan hidupnya.24

Selain mengenai utang luar negeri dalam pembahasan teori ekonomi ini erat kaitannya dengan pembangunan ekonomi melalui kondisi politik. Pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keadaan ekonomi menyebabkan perubahan – perubahan politik yang terjadi dalam sebuah negara.

Indikator – indikator yang mencerminkan pembangunan ekonomi dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan : sifat universalitas dari indikator yang biasa dipakai di pelbagai negara ; tersedianya data ekonomi tentang indikator tersebut dalam kedua periode yang dipilih ; dan akhirnya relevansi indikator tersebut pada sistem ekonomi di Indonesia.25

F.3. Teori Kebijakan

Indikator ini kemudian dipergunakan oleh menilai apakah sebuah negara mampu bertumbuh secara ekonomi atau tidak yang mengakibatkan negara tersebut digolongkan ke dalam sebuah indikator politik tertentu. Pembangunan ekonomi dan perubahan politik merupakan hal yang kerap kali dijelaskan dalam teori ekonomi politik.

F3.1. Konsep Dan Pengertian Kebijakan

Pada penelitian ini yang mengambil rentan waktu pada masa Orde Baru bisa dilihat bahwa peran pemerintah dalam keadaan tersebut sangatlah dominan terutama yang berkaitan dengan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang dan sering mengalami neraca

24 Yanuar Ikbar, Ekonomi Politik Internasional 2, Bandung, Refika Aditama, 2007, hal. 7.

ekonomi yang defisit merupakan negara yang selama ini dikenal sebagai negara dengan jumlah pinjaman luar negeri yang cukup besar. Hal ini dapat dilihat melalui semakin meningkatnya jumlah pinjaman terhadap luar negeri guna menutupi defisit neraca anggaran pemerintah Indonesia.

Kebijakan – kebijakan yang dilakukan pemerintah dominan sekali terlihat melalui peran Indonesia dalam menghadapi masalah – masalah pembangunan pada saat itu. Kebijakan, menurut Titmuss, senantiasa berorientasi kepada masalah (problem-oriented) dan berorientasi kepada tindakan (action-oriented) dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kebijakan adalah suatu ketetapan yang memuat prinsip-prinsip untuk mengarahkan cara-cara bertindak yang dibuat secara terencana dan konsisten dalam mencapai tujuan tertentu.26 Kebijakan (policy) adalah sebuah instrumen pemerintahan yang tidak saja diartikan sebagai ‘government’ (menyangkut aparatur negara) tetapi juga ‘governance’ yang menyangkut pengelolaan sumber daya publik.

Aturan atau peraturan tersebut secara sederhana kita pahami sebagai kebijakan publik, jadi kebijakan publik ini dapat kita artikan suatu hukum. Aturan ataupun kebijakan ketika sudah menjadi sebuah hukum yang harus ditaati maka peran kontrol dari lembaga pemerintahan juga mutlak harus dijalankan.

Ketika suatu isu yang menyangkut kepentingan bersama dipandang perlu untuk diatur maka formulasi isu tersebut menjadi kebijakan publik yang harus dilakukan dan disusun serta disepakati oleh para pejabat yang berwenang. Ketika kebijakan publik tersebut ditetapkan menjadi suatu kebijakan publik; apakah menjadi Undang-Undang, apakah menjadi Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden termasuk Peraturan Daerah maka kebijakan publik tersebut berubah menjadi hukum yang harus ditaati.

Dari penjelasan di atas maka dapat disebutkan bahwa keputusan pemerintah merupakan kebijakan publik. Dye mendefinisikan kebijakan publik sebagai apa yang dilakukan pemerintah, bagaimana mengerjakannya, mengapa

perlu dikerjakan dan perbedaan apa yang dibuat. Dye seperti yang dikutip Winarno, berpandangan lebih luas dalam merumuskan pengertian kebijakan yaitu, sebagai pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (whatever governments choose to do or not to do)27

Pemerintah memiliki alasan mengapa suatu kebijakan harus dilakukan dan apakah manfaat bagi kehidupan bersama harus menjadi pertimbangan yang holistik agar kebijakan tersebut mengandung manfaat yang besar bagi warganya dan berdampak kecil dan sebaiknya tidak menimbulkan persoalan yang merugikan. Kemudian disinilah pemerintah harus memperhatikan aspek – aspek yang dimiliki masyarakat dan negaranya dalam menetapkan suatu kebijakan.

Karakteristik masalah publik yang harus diatasi selain bersifat interdependensi dan juga bersifat dinamis, sehingga pemecahan masalahnya memerlukan pendekatan holistik (holistic approach) yaitu pendekatan yang memandang masalah sebagai kegiatan dari keseluruhan yang tidak dapat dipisahkan atau diukur secara terpisah dari yang faktor lainnya.

James E. Anderson secara lebih jelas menyatakan bahwa yang dimaksud kebijakan adalah kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabat-pejabat pemerintah. Pengertian ini, menurutnya, berimplikasi: (1)bahwa kebijakan selalu mempunyai tujuan tertentu atau merupakan tindakan yang berorientasi pada tujuan, (2)bahwa kebijakan itu berisi tindakan-tindakan atau pola-pola tindakan pejabat-pejabat pemerintah, (3)bahwa kebijakan merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah, (4)bahwa kebijakan bisa bersifat positif dalam arti merupakan beberapa bentuk tindakan pemerintah mengenai suatu masalah tertentu atau bersifat negatif dalam arti merupakan keputusan pejabat pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu, (5)bahwa kebijakan, dalam arti positif, didasarkan pada peraturan perundang-undangan dan bersifat memaksa (otoritatif)28

27 Budi Winarno, Teori dan Proses Kebijakan Publik, Yogyakarta, Media Presindo, 2002, hal. 25.

28 James E. Anderson, Public Policy Making, (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1984), cet. ke-3, hal. 3.

F.3.2. Analisis Kebijakan

Penjelasan mengenai definisi kebijakan di atas merupakan sebuah uraian dari bagaimana proses – proses munculnya sebuah kebijakan. Selain itu, pada penjelasan konsep kebijakan sebelumnya kita dapat mengetahui siapa atau lembaga – lembaga mana yang bekerja untuk menciptakan sebuah kerangka kebijakan untuk selanjutnya dirangkai sedemikian rupa dan menghasilkan sebuah kebijakan.

Dalam pengertian yang lebih rinci kemudian, analisis kebijakan dijelaskan sebagai sebuah proses dalam menguraikan sebuah kebijakan. Kegiatan menguraikan ini dapat dikatakan untuk mencari inti ataupun detail dari sebuah kebijakan sehingga kita dapat menguraikan keterangan bagaimana sebuah kebijakan tersebut dibuat.

Melakukan analisis terhadap sebuah kebijakan merupakan salah satu cara agar kita mengerti langkah ataupun dasar – dasar dari sebuah kebijakan tersebut dirancang. Dalam penelitian ini misalnya, analisis terhadap Kepmenperindag nomor 402 tahun 1997 dilakukan untuk menggali kembali alasan atau penyebab yang mempengaruhi kebijakan tersebut diambil.

Selain itu melalui penjelasan analisis jugalah kita dapat mengidentifikasi sebuah kebijakan. Identifikasi tersebut kemudian membantu kita dalam hal pengelompokan kebijakan tersebut. Apakah termasuk ke dalam kebijakan ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya. Analisis kebijakan memberikan sebuah penjelasan ataupun pengertian yang mendalam terhadap sebuah kebijakan.

Carl W. Patton dan David S. Savicky, menjelaskan bahwa analisis kebijakan adalah tindakan yang diperlukan untuk dibuatnya sebuah kebijakan, baik kebijakan yang baru sama sekali, atau kebijakan yang baru sebagai konsekuensi dari kebijakan yang ada.29

29 Riant Nugroho, Kebijakan Publik Formulasi , Implementasi, dan Evaluasi, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2003, hal. 88.

Informasi kebijakan yang kita peroleh melalui langkah menganalisis paling tidak membantu kita menilai kebijakan

tersebut secara mendalam sehingga kita dapat membuat revisi – revisi yang diperlukan jika kita ingin merubah kebijakan tersebut.

Analisis kebijakan dapat diharapkan untuk menghasilkan informasi dan argumen – argumen yang masuk akal mengenai tiga macam pertanyaan yaitu30

1.

:

2.

Nilai yang pencapaiannya merupakan tolak ukur utama yang melihat apakah masalah telah teratasi.

3.

Fakta yang keberadaanya dapat membatasi atau meningkatkan pencapaian nilai – nilai, dan

Tindakan yang penerapannya dapat menghasilkan pencapaian nilai – nilai. Penjelasan yang tertuang dalam analisis kebijakan diharapkan mampu memberikan keterangan ataupun informasi yang menyeluruh sehingga dengan mudah mengidentifikasi kebijakan tersebut. Pencapaian, fakta, ataupun tindakan penerapan memberikan gambaran apakah suatu kebijakan tersebut cocok ataupun telah berhasil dilaksanakan.

Sebagai sebuah objek yang dianalisis, isi dan proses kebijakan menjadi

Dokumen terkait