• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap 2: Migrasi dan Urbanisasi

2.7.3. Teori Patterns-of-Development

Teori patterns-of-development dikemukakan oleh Chenery memfokuskan tentang perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi, industri, dan kelembagaan secara bertahap pada suatu perekonomian yang terbelakang, sehingga memungkinkan tampilnya industri-industri baru untuk menggantikan kedudukan sektor pertanian sebagai penggerak roda pertumbuhan ekonomi.

Hasil penelitian empiris yang dilakukan oleh Chenery dan Syrquin (1975) mengidentifikasi bahwa sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat per kapita yang membawa perubahan dalam pola permintaan konsumen dari

penekanan pada makanan dan barang-barang kebutuhan pokok lain ke berbagai macam barang-barang manufaktur dan jasa, akumulasi modal fisik dan manusia (Sumber Daya Manusia), perkembangan kota-kota dan industri –industri di urban bersamaan dengan proses migrasi penduduk dari pedesaan ke perkotaan, dan penurunan laju pertumbuhan penduduk dan family size yang semakin kecil, struktur perekonomian suatu negara bergeser dari yang semula di dominasi oleh sektor pertanian atau dan pertambangan menuju sektor-sektor non primer khususnya industri.

Menurut Chenery dalam Tambunan (2001), bahwa proses transformasi struktural akan mencapai tarafnya paling cepat bila pergeseran pola permintaan domestik ke arah output industri manufaktur diperkuat oleh perubahan yang serupa dalam komposisi perdagangan luar negeri atau ekspor. Transformasi struktural dapat dilihat pada perubahan pangsa nilai output atau nilai tambah dari setiap sektor di dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan hasil studi dari Chenery dan Syrquin, maka perubahan pangsa nilai output atau nilai tambah dari setiap sektor di dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam periode jangka panjang menunjukkan suatu pola yang diilustrasikan dalam Gambar 2.9. berikut ini:

Sumber: Tambunan (2001)

Gambar 2.9. Perubahan Struktur Ekonomi dalam Proses Pembangunan Ekonomi : Suatu Ilustrasi

Kontribusi output dari pertanian terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) mengecil, sedangkan pangsa Produk Domestik Bruto (PDB) dari industri manufaktur dan jasa mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan PDB atau pendapatan nasional perkapita. Pada saat PNB per kapita US$ 200, sektor-sektor primer menguasai 45 persen dari Pendapatan nasional, sementara industri hanya menyumbang 15 persen saja. Pada saat pendapatan per kapita mencapai US$ 1.000, kontribusi output dari sektor-sektor primer mengalami penurunan menjadi 20 persen dan sektor industri meningkat menjadi 28 persen.

Kemajuan sektor industri manufaktur tidak hanya dilihat dari laju

pertumbuhan outputnya, tetapi juga dari transformasi struktural atau diversifikasi industri atau produksinya, yaitu pergeseran struktur industri dari kegiatan

produksi yang bersifat padat karya dan berteknologi rendah ke arah kegiatan produksi yang lebih bersifat padat modal dan berteknologi tinggi.

Pengertian dari struktur industri memiliki berbagai arti sesuai dengan ragam jenis atau kelompok barang menurut sifat atau penggunaannya, misalnya barang modal versus barang konsumsi, atau barang–barang konsumsi sederhana versus barang –barang konsumsi yang lebih sophisticated atau durable, kemudian berdasarkan jenis kandungan input misalnya produk-produk yang padat modal dengan menggunakan teknologi canggih versus produk-produk yang proses

produksinya padat tenaga kerja dengan teknologi sederhana atau menurut orientasi pasar, yaitu barang-barang untuk pasar domestik (impor substituted goods) versus barang-barang ekspor. Jadi, struktur industri manufaktur erat kaitannya dengan tiga hal yaitu tingkat diversifikasi produk, intensitas pemakaian faktor-faktor produksi, termasuk Sumber Daya Alam (SDA), dan orientasi pasar.

Indikator penting kedua yang sering digunakan di dalam studi-studi empiris untuk mengukur pola perubahan struktur ekonomi adalah distribusi kesempatan kerja menurut sektor. Ditunjukkan dalam gambar 2.9, pada tingkat pendapatan per kapita yang rendah (tahap awal pembangunan ekonomi), sektor-sektor primer merupakan kontributor terbesar dalam penyerapan tenaga kerja.

Pada tingkat pendapatan perkapita yang tinggi (tahap akhir), sektor-sektor

sekunder terutama industri menjadi sangat penting dalam penyediaan kesempatan kerja. Relasi antara tingkat pendapatan per kapita dan perubahan struktur ekonomi dapat di analisis selain dengan pendekatan time-series, juga bisa dengan

pendekatan cross section.

Hasil penelitian Chenery dan Syrquin adalah sama dengan Kuznets, dimana semakin tinggi Gross National Product (GNP), maka peranan sektor pertanian di dalam output dan kesempatan kerja semakin menurun, sebaliknya peranan sektor industri dan jasa semakin meningkat. Transformasi diartikan sebagai proses perubahan struktur ekonomi, hal ini berarti yang dimaksud dengan perubahan struktur ekonomi adalah terjadinya pergeseran dari satu sektor ekonomi kepada sektor ekonomi lain yang dapat mempengaruhi perubahan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara. Aspek penting yang dibahas dalam analisis Chenery tentang transformasi ekonomi adalah adanya penekanan mengenai hubungan kuantitatif antara pendapatan perkapita dalam persentase sumbangan sektor-sektor ekonomi terhadap Produk Domesti Bruto (PDB) tergantung kepada tingkat pendapatan perkapita dan jumlah penduduk pada negara tersebut. Chenery menggambarkan perubahan peranan berbagai sektor ekonomi dalam menciptakan Produksi Nasional (PDB) adalah sebagai berikut:

Sumber: H.B. Chenery, “Patterns of Industrial Growth” dalam Sukirno (2006) Gambar 2.10. Perubahan Peranan Berbagai Sektor dalam Menciptakan

Produksi Nasional dalam Proses Pembangunan

Pada Gambar 2.10 diatas, untuk menunjukkan perubahan yang terjadi dalam sub-sektor industri pengolahan dalam proses pembangunan, maka Chenery membagi industri-industri tersebut ke dalam tiga golongan, yaitu industri barang konsumsi, industri barang mentah, dan industri barang modal. Mengenai

perubahan sub-sektor industri pengolahan, Chenery menunjukkan bahwa pada waktu pendapatan per kapita US$100 berbagai sub-sektor industri pengolahan di atas peranannya adalah sebagai berikut; 68 persen dari produksi sub-sektor industri itu berasal dari industri barang-barang mentah, dan 12 persen berasal dari industri barang-barang modal. Kemudian pada tingkat pendapatan per kapita sebesar US$ 600, komposisi produksi sub-sektor industri pengolahan adalah sebagai berikut; industri barang-barang konsumsi peranannya menurun dan hanya

menghasilkan sebesar 43 persen dari produksi sub-sektor industri pengolahan, sedangkan industri barang-barang modal peranannya meningkat, yaitu

menghasilkan sebesar 35 persen dari produksi sub-sektor industri pengolahan, sementara peranan industri barang-barang mentah tidak mengalami perubahan.

Selain itu, ada dua hal lain yang dibahas Chenery dalam analisisnya mengenai transformasi ekonomi, antara lain:

1. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya proses industrialisasi

2. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan peranan sektor industri di berbagai negara

Industrialisasi menurut Tambunan (2001) adalah suatu proses interaksi antara pengembangan teknologi, inovasi, spesialisasi dalam produksi dan perdagangan antarnegara yang pada akhirnya sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita mendorong perubahan struktur ekonomi. Chenery mengemukakan bahwa ada 3 faktor yang mendorong terjadinya proses industrialisasi yaitu:

1. Adanya subtitusi impor

2. Adanya permintaan untuk barang-barang jadi atau final goods

3. Adanya kenaikan permintaan akan barang-barang setengah jadi (intermediate goods)

Pembangunan ekonomi pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam harga-harga relatif faktor-faktor produksi, subtitusi

barang-barang impor dengan hasil-hasil dalam negeri, serta subtitusi hasil-hasil industri rumah tangga dengan hasil-hasil industri pengolahan modern.

Selanjutnya, Chenery juga menjelaskan beberapa faktor yang

menyebabkan mengapa peranan berbagai industri di suatu negara berbeda, yaitu:

1. Luasnya pasar. Tingkat pendapatan dan jumlah penduduk merupakan dua faktor yang menentukan luas pasar suatu negara. Di negara-negara yang tingkat pendapatan perkapitanya sama, peranan berbagai industri dalam perekonomian akan berbeda apabila jumlah penduduknya berbeda. Makin besar jumlah penduduk, maka akan semakin besar peranan berbagai industri dalam perekonomian.

2. Bentuk distribusi pendapatan. Corak distribusi pendapatan di tiap-tiap negara berbeda. Di beberapa negara, distribusi pendapatan penduduknya sangat tidak merata, seperti misalnya di Afrika Selatan, Kenya, dan Peru, dimana golongan kaya terdiri dari bangsa kulit putih yang merupakan golongan pendatang. Sebagian besar rakyatnya yang terdiri dari penduduk asli, taraf hidupnya sangat rendah. Perbedaan dalam distribusi pendapatan ini merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan terjadinya ketimpangan dalam peranan sektor industri dari peranannya yang normal.

3. Kekayaan alam. Kekayaan alam suatu negara juga dapat mempengaruhi peranan sektor industri dalam kegiatan ekonomi. Dapat dikatakan bahwa di negara yang relatif miskin, peranan sektor industri menjadi sangat penting dibandingkan dengan negara yang memiliki kekayaan alam lebih banyak. Hal

ini didasarkan pada kenyataan bahwa sejak permulaan usaha pembangunan, negara miskin kekayaan alam akan selalu berusaha untuk mengembangkan sektor industri dengan tujuan mengurangi impor barang –barang industri, pada akhirnya negara tersebut mempunyai kemampuan yang lebih terbatas untuk mengembangkan ekspornya.

4. Perbedaan keadaan di berbagai negara. Perbedaan keadaan di berbagai negara seperti perbedaan iklim, kebijakan pemerintah dan faktor-faktor sosial dan budaya, merupakan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat produksi dan peranan sektor industri terhadap pembentukan pendapatan nasional di suatu negara. Faktor-faktor ini dapat mengakibatkan peran masing-masing sektor dalam perekonomian lebih tinggi atau lebih rendah dari peranan mereka yang normal.

Di antara tahun 1950-1970, Chenery dan Syrquin melakukan penelitian mengenai bagaimana bentuk-bentuk perubahan yang terjadi dalam berbagai aspek kegiatan ekonomi apabila tingkat pembangunan ekonomi di negara berkembang bertambah tinggi. Dari hasil penelitian tersebut, mereka menyimpulkan bahwa ada sepuluh jenis perubahan yang terjadi dalam proses pembangunan negara

berkembang, dimana perubahan-perubahan tersebut dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yaitu:

1. Perubahan dalam struktur ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses akumulasi

2. Perubahan dalam struktur ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses alokasi sumber daya (resources)

3. Perubahan dalam struktur ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses demografis dan distribusi.

Kegiatan ekonomi yang termasuk dalam proses akumulasi meliputi kegiatan pembentukan modal, pengumpulan tabungan pemerintah dan kegiatan menyediakan pendidikan kepada masyarakat. Proses akumulasi modal ini dapat dijelaskan melalui Gambar 2.11 berikut ini:

Sumber: H.B. Chenery dan Muses Syrquin, “Patterns of Development” dalam Kuncoro (2006)

Gambar 2.11. Akumulasi Modal

Peningkatan peran sektor industri dalam perekonomian sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita yang terjadi di suatu negara, berhubungan erat dengan akumulasi modal dan peningkatan sumber daya manusia (human capital).

Gambar 2.11 menunjukkan semakin tingginya tingkat investasi sektor rill dan sektor pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Teori pola pembangunan (patterns of development theory) menyatakan bahwa peningkatan tabungan dan investasi merupakan syarat yang harus dipenuhi, tetapi tidak akan memadai jika harus berdiri sendiri (necessary but not sufficient conditions) dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Dalam analisis pola

pembangunan diasumsikan bahwa selain akumulasi modal untuk pengadaaan sumber daya fisik maupun sumber daya manusia, diperlukan juga suatu rangkaian perubahan yang saling berkaitan dalam struktur perekonomian negara yang bersangkutan demi terselenggaranya transisi yang bersifat mendasar dari sistem ekonomi tradisional ke sistem ekonomi modern. Kemudian yang tergolong sebagai alokasi sumber daya adalah struktur permintaan domestik (pengeluaran masyarakat atas produksi dalam negeri), struktur produksi, dan struktur

perdagangan. Selanjutnya perubahan struktur ekonomi dari segi demografis dan distribusi ditunjukkan dengan adanya perubahan dalam alokasi tenaga kerja di berbagai sektor, urbanisasi, tingkat kelahiran dan kematian, serta distribusi pendapatan.

Hasil penelitian Hollis B. Chenery tentang transformasi struktur produksi menunjukkan bahwa sejalan dengan peningkatan pendapatan perkapita,

perekonomian suatu negara akan bergeser dari yang semula mengandalkan sektor pertanian menuju sektor industri. Chenery kemudian membuat pengelompokan

negara sesuai dengan proses perubahan struktural yang dialami berdasarkan tingkat pendapatan per kapita penduduknya, dimana:

1. Untuk negara dengan tingkat pendapatan per kapita kurang dari $600 dikelompokkan ke dalam negara yang baru melakukan pembangunan atau sering disebut dengan Negara Sedang Berkembang (NSB).

2. Untuk negara dengan nilai pendapatan antara $600 hingga $3000 digolongkan sebagai negara dalam fase transisi pembangunan.

Penggolongan yang dilakukan oleh Chenery didasarkan pada harga-harga yang terjadi pada tahun 1976 sesuai dengan waktu penelitiannya. Perubahan waktu tentu akan berdampak pada perubahan interval dan nilai batas dari pendapatan per kapita yang menjadi standar pengelompokkan negara tersebut.

Analisis Chenery mengunakan data di berbagai negara dalam suatu masa tertentu atau lazim disebut dengan data cross section dimana analisis tersebut lebih ditekankan kepada menunjukkan hubungan kuantitatif di antara pendapatan per kapita dengan persentase sumbangan berbagai sektor ekonomi dan industri dalam sub–sektor industri pengolahan terhadap produksi nasional. Dengan demikian, analisis tersebut dapat digunakan untuk membuat ramalan mengenai peranan berbagai sektor pada berbagai tingkat pembangunan ekonomi, dan selanjutnya dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan sumber daya yang perlu dialokasikan ke berbagai sektor ekonomi. Chenery hanya menganalisis perubahan peranan industri-industri yang tergolong dalam industri pengolahan

dalam menciptakan produksi nasional, tidak meneliti perubahan peranannya dalam menampung tenaga kerja apabila perekonomian bertambah maju.

Chenery menentukan perubahan sumbangan berbagai sektor dalam produksi nasional apabila pendapatan per kapita naik dari US$100 menjadi US$1000; dan perubahan peranan berbagai industri pengolahan dalam

keseluruhan produksi sub-sektor industri pengolahan apabila pendapatan perkapita naik dari US$100 menjadi US$600. Kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut:

1. Peranan sektor industri dalam menciptakan produksi nasional meningkat sebesar 17 persen dari produksi nasional pada tingkat pendapatan per kapita sebesar US$100, menjadi 38 persen pada tingkat pendapatan perkapita sebesar US$ 1000. Khusus untuk industri pengolahan, peranannya meningkat dari menciptakan sebanyak 12 persen menjadi 33 persen produksi nasional pada proses perubahan yang dinyatakan diatas.

2. Peranan sektor perhubungan dan pengangkutan juga akan menjadi dua kali lipat dari peranannya pada waktu pendapatan perkapita US$100, apabila pendapatan per kapita telah mencapai sebesar US$ 1000. Sedangkan peranan sektor pertanian menurun dari 45 persen menjadi hanya 15 persen dari produksi nasional apabila pendapatan per kapita naik dari US$100 menjadi US$1000.

3. Peranan sektor jasa tidak mengalami perubahan yang berarti yaitu tetap mencapai di sekitar 38 persen dari produksi nasional dalam proses peningkatan pendapatan perkapita dari US$100 menjadi US$1000.

Dokumen terkait