• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teori

2.2.3. Teori Pelatihan

Menurut Mathis dan Jackson (2006) pelatihan merupakan proses di mana karyawan memperoleh kapabilitas guna membantu karyawan mencapai tujuan organisasi. Sedangkan menurut Dessler (2004) pelatihan adalah, suatu proses yang bertujuan untuk memberikan pembelajaran bagi karyawan baru maupun karyawan yang ada saat ini, berupa pelatihan keterampilan dasar yang mendukung untuk menjalankan suatu pekerjaan di perusahaan tersebut.

Berdasarkan pernytaan beberapa ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah suatu proses untuk mengkomunikasikan kepada karyawan baru akan tugas, tanggung jawab dan kewajiban mereka. Selain hal tersebut dengan program pelatihan karyawan diharapkan dapat mengetahui apa saja hal yang harus dilakukan dan batasan dalam bekerja secara rinci.

Menurut Simamora (2006) pada dasarnya pelatihan dibagi menjadi beberap jenis yang berbeda-beda. Jenis-jenis pelatihan sendiri meliputi:

1. Pelatihan Keahlian

Pelatihan keahlian (skill training) merupakan jenis pelatihan yang sering ditemukan dalam organisasi. Program pelatihannya relatif sederhana, kebutuhan atau kekurangan diidentifikasi melalui penilaian yang jeli. Kriteria penilaian efektivitas program pelatihan yang diberikan berdasarkan sasaran yang diidentifikasi dalam tahap penilaian.

2. Pelatihan Ulang

Pelatihan ulang (retraining) meruapakan sub-set dari pelatihan keahlian. Pelatihan ulang berupaya memberikan kepada karyawan keahlian-keahlian yang karyawan butuhkan untuk menghadapi tuntutan kerja.

3. Pelatihan Lintas Fungsional

Pelatihan lintas fungsional (cross fungtional training) melibatkan pelatihan karyawan untuk melakukan aktivitas kerja dalam bidang lainnya selain dan perkajaan yang ditugaskan kepada karyawan.

4. Pelatihan Tim

Pelatihan tim merupakan kerjasama yang terdiri dari sekelompok individu, untuk menyelesaikan pekerjaan demi tujuan bersama dalam sebuah tim kerja yang ada dalam suatu perusahaan tersebut.

5. Pelatihan Kreativitas

Pelatihan kreativitas (creativiy training) merupakan pelatihan yang bertujuan untuk mengeluarkan gagasan sebebas mungkin dari para karyawan. Melalui pelatihan tesebut diharapkan karyawan dapat meningkatkan kreativitasnya dalam memberikan suatu gagasan dan ide. Dalam melakukan proses pelatihan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Hal tersebut diperuntukan memperoleh modes strategi pelatihan yang efektif. Demi memperoleh model strategi pelatihan yang efektif, maka perlu beberapa tahapan. Menurut Snell dan Bohlander (2013) tahapan pelatihan meliputi beberapa hal penting yang dapat dijelaskan pada halaman berikutnya:

1. Analisis Kebutuhan

Dalam tahapan ini analisis yang dimaksud adalah analisis apa hal apa yang dibutuhkan untuk menunjang program pelatihan tersebut. Pada tahapan ini analisi dilakukan pada 3 aspek penting. Hal tersebut meliputi

analisis organisasi, pada aspek ini hal yang perlu analisis adalah

mendukung dalam penentuan pelatihan karyawan. Faktor berikutnya adalah analisis tugas, pada tahapan tersebut hal yang dilakukan adalah menganalisis tugas sesuai dengan pekerjaan yang dibutuhkan. Faktor terakir adalah analisis personal, analisis yang dilakukan secara individual terhadap karyawan yang membutuhkan program pelatihan berdasarkan kinerja, kemampuan dan pengetahuan pribadi.

2. Penetapan Desain Pelatihan

Tahapan berikutnya adalah penetapan desain pelatihan apa yang sesuai dengan kebutuhan yang sebelumnya telah dilakukan anlisis. Dalam tahapan tersebut beberapa hal yang perlu diamati adalah tujuan

instruksional, hal yang diperhatikan adalah tentang bagaimana

perusahaan mendesain program pelatihan apa yang cocok guna meningkatkan kemampuan dan pengetahuan yang menunjang tujuan organisasi. Hal kedua adalah kesiapan peserta pelatihan dalam mengikuti proses program pelatihan dari awal samai dengan akhir. Hal ketiga adalah, prinsip pembelajaran apa saja yang akan didapat oleh peserta pelatihan. Hal keempat adalah karakteristik instruktur dari program pelatihan. Pemilihan instruktur pelatihan yang memiliki kapabilitas dan transfer of knowledge yang baik terhadap peserta pelatihan dapat mensuskseskan program pelatihan yang diiginkan.

3. Implementasi Program Pelatihan

Dalam tahapan implementasi program pelatihan yang diberikan pada dasarnya meliputi 3 metode implementasi program pelatihan, yang dapat dijelaskan dengan detail dan terperinci pada halaman berikutnya:

On The Job Training

Metode tersebut merupakan program pelatihan yang dilakukan di dalam waktu kerja sedang berjalan. Dalam program ini supervisor memberikan contoh untuk melakukan pekerjaan yang baik kepada karyawan sesuai instruktur prorgam pelatihan.

Off The Job Training

Merupakan metode pelatihan yang dilakukan khusus kepada karyawan yang ditunjuk dan diakukan di luar waktu kerja. Program pelatihan yang diberikan pada metode tersebut biasanya meliputi program khusus, studi kasus, program kelas dan beberapa program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan.

Management Development

Pada metode ini program pelatihan diperuntukan bagi karyawan yang diproyeksikan untuk menempati jajaran manajemen perusahaan seperti manajer maupun supervisor.

4. Evaluasi Program Pelatihan

Setelah melakukan implementasi program pelatihan, evaluasi program pelatihan merupakan suatu hal yang penting. Evaluasi pelatihan diperlukan guna mengukur efektivitas dari program pelatihan yang diberikan kepada peserta program pelatihan pada suatu perusahaan.

Program pelatihan yang telah terlaksana sudah seharusnya dilakukan pengukuran efektivitas dari program tersebut. Guna mengukur seberapa besar efetivitas program pelatihan dan pengembangan, perusahaan sudah seharusnya memperhatikan beberapa aspek. Menurut Kirkpatrick (1994) efektivitas dari program pelatihan dan pengembangan dapat diukur melalui beberapa indikator penting sebagai berikut:

1. Reaction, hal tersebut dilakukan untuk melihat reaksi peserta terhadap program pelatihan yang berlangsung. Dengan melihat reaksi peserta pelatihan, perusahaan dapat mengetahui apakah peserta pelatihan menyukai atau tidak desain model program pelatihan tersebut.

2. Learning, pada hal tersebut efektivitas program pelatihan juga dapat diamati apakah perusahaan dapat memberikan pembelajaran yang berharga, dan apakah peserta program pelatihan dapat mengimplementasikan pembelajaran tersebut dalam melakukan suatu pekerjaan setelah program pelatihan tersebut berkahir. 3. Behavior, melakukan pengamatan seberapa besar pengaruh

program pelatihan terhadap perilaku karyawan dalam bekerja, setelah mengikuti program pelatihan yang diberikan perusahaan. 4. Results, aspek terakhir adalah terkait bagaimana hasil yang

diperoleh atas suat pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan. Apakah sesuai dengan target yang diiginkan atau jauh dari harapan. Jika karyawan jauh dari standar hasil yang ditetapkan, maka perlu dilakukan evaluasi dan perubahan program pelatihan.