BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Teori Pembangunan dan Pertumbuhan Wilayah
Aliran Klasik muncul pada akhir abad ke 18 yang dipelopori oleh Adam Smith. Selain Adam Smith ada beberapa tokoh lain yang berbicara tentang pembangunan dan pertumbuhan wilayah seperti David Ricardo, Robert Malthus dan J.B. Say.
Adam Smith berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi disebabkan karena faktor kemajuan teknologi dan perkembangan jumlah penduduk. Kemajuan teknologi tergantung pada pembentukan modal. Dengan adanya akumulasi modal akan memungkinkan dilaksanakannya spesialisasi atau pembagian kerja sehingga produktivitas tenaga kerja dapat ditingkatkan. Dampaknya akan mendorong penambahan investasi (pembentukan modal) dan persediaan modal (capital stock), yang selanjutnya diharapkan akan meningkatkan kemajuan teknologi dan menambah pendapatan berarti meningkatnya kemakmuran (kesejahteraan penduduk). Peningkatan kemakmuran mendorong bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan berlakunya hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang (law of diminishing return), yang selanjutnya akan menurunkan akumulasi modal.
David Ricardo berpendapat, bila jumlah penduduk dan akumulasi modal bertambah terus menerus maka ketersediaan tanah (lahan) yang subur menjadi berkurang jumlahnya. Akibatnya sewa tanah yang subur akan lebih tinggi daripada tanah yang kurang subur. Pengolahan tanah yang subur akan memperoleh penghasilan dan keuntungan yang tinggi sehingga mampu untuk membayar sewa tanah yang tinggi.
Menurut Robert Malthus, kenaikan jumlah penduduk yang terus menerus konsekuensinya adalah permintaan akan bahan pangan semakin meningkat. Tingkat pertumbuhan jumlah penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan tingkat pertumbuhan Bahan pangan mengikuti deret hitung artinya akan terjadi ketimpangan yang semakin besar antara jumlah penduduk dan jumlah bahan
pangan yang dibutuhkan. Hal ini berdampak terhadap semakin menurunnya tingkat kemakmuran (kesejahteraan penduduk).
Menurut J.B. Say “supply creates its own demand” artinya setiap barang yang dihasilkan oleh produsen selalu ada pembelinya sehingga tidak mungkin terjadinya kelebihan produksi dan pengangguran. Hukum Say hanya akan berlaku apabila kenaikan pendapatan seluruhnya digunakan untuk membeli barang dan jasa, artinya semua tabungan digunakan untuk kegiatan investasi. Jadi tambahan pendapatan adalah sama dengan tambahan konsumsi. Tabungan itu sangat diperlukan untuk pembentukan modal atau investasi. Investasi dilakukan dilakukan setelah ada kenaikan jumlah permintaan secara agregat (aggregate demand).
2.2.2 Aliran Neo Klasik
Ahli-ahli aliran Neo Klasik banyak menyumbang pemikiran mengenai teori pertumbuhan ekonomi, yaitu sebagai berikut:
i. Akumulasi modal merupakan faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi, ii. Pertumbuhan ekonomi merupakan pertumbuhan yang gradual,
iii.Pertumbuhan ekonomi merupakan proses yang harmonis dan kumulatif, iv.Aliran Neo Klasik merasa optimis terhadap pertumbuhan (perkembangan).
Meskipun model pertumbuhan neo klasik telah digunakan secara luas dalam analisis regional, namun beberapa asumsi mereka tidak tepat, yakni: (i) full employment yang terus menerus tidak dapat diterapkan pada sistem multi-regional timbul disebabkan karena perbedaan-perbedaan geografis dalam hal tingkat
penggunaan sumberdaya, dan (ii) persaingan sempurna tidak dapat diberlakukan pada perekonomian regional dan spasial.
Tingkat pertumbuhan terdiri dari tiga sumber yaitu akumulasi modal, penawaran kerja dan kemajuan teknik. Model neo klasik menarik perhatian ahli-ahli teori ekonomi regional karena mengandung teori tentang mobilitas faktor. Implikasi dari persaingan sempurna adalah modal dan tenaga kerja akan berpindah apabila balas jasa faktor-faktor tersebut berbeda-beda. Modal akan berarus dari daerah yang mempunyai tingkat biaya tinggi ke daerah yang mempunyai tingkat biaya rendah, karena keadaan yang terakhir itu memberikan suatu penghasilan (return) yang lebih tinggi. Tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan akan pindah ke daerah lain yang mempunyai lapangan kerja baru yang merupakan pendorong untuk pembangunan di daerah tersebut.
Model Neo Klasik kurang menjelaskan tentang alasan-alasan riil mengapa beberapa daerah mempunyai daya saing yang kuat dan beberapa daerah lain mengalami kegagalan. Neo klasik berpendapat bahwa dalam perkembangan ekonomi jangka panjang, senantiasa akan muncul kekuatan tandingan (counter forces) yang dapat menanggulangi ketidakseimbangan dan mengembalikan penyeimbangan kepada keadaan keseimbangan yang stabil, sehingga tidak diperlukan intervensi kebijakan pemerintah secara aktif.
2.2.3 Aliran Keynes dan Pasca Keynes
Aliran yang dikemukakan oleh John Maynard Keynes ini muncul pada tahun 1930-an. Mula-mula Keynes menekankan pada persoalan permintaan efektif
(effective demand). Analisisnya adalah jangka pendek. Kumpulan pemikiran Keynes dibukukan dalam bukunya yang berjudul General Theory of Employment, Interest, and Money (1936). Tema sentralnya adalah bahwa karena upah bergerak lamban, maka sistem kapitalisme tidak akan secara otomatis menuju kepada keseimbangan penggunaan tenaga kerja secara penuh (full employment equilibrium). Menurut Keynes, akibat yang ditimbulkan adalah justru sebaliknya (equilibrium underemployment) yang dapat diperbaiki melalui kebijakan fiscal atau moneter untuk meningkatkan permintaan agregat.
Aliran Pasca Keynes memperluas Teori Keynes menjadi teori output dan kesempatan kerja dalam jangka panjang, yang menganalisis fluktuasi jangka pendek untuk mengetahui adanya perkembangan jangka panjang. Beberapa persoalan pentingpenting dalam analisis pasca Keynes adalah:
i. Syarat-syarat apakah yang diperlukan untuk mempertahankan perkembangan pendapatan yang mantap (steady growth) pada tingkat pendapatan dalam kesempatan kerja penuh (full employment income) tanpa mengalami deflasi ataupun inflasi.
ii. Apakah pendapatan itu benar-benar bertambah pada tingkat sedemikian rupa sehingga dapat mencegah terjadinya kemacetan yang lama atau tingkat inflasi terus-menerus.
Apabila jumlah penduduk bertambah, maka pendapatan per kapita akan berkurang, kecuali bila pendapatan riil juga bertambah. Selanjutnya bila angkatan kerja berkembang, maka output harus bertambah juga untuk mempertahankan
bertambah pula untuk mencegah terjadinya kapasitas yang menganggur (idle capacity).
2.2.4 Teori Basis Eksport (Export Base Theory)
Teori basis ekspor adalah bentuk model pendapatan yang paling sederhana. Teori ini sebenarnya tidak dapat digolongkan sebagai bagian dari ekonomi makro internasional karena karena teori ini menyederhanakan suatu sistem regional menjadi dua bagian yaitu daerah yang bersangkutan dan daerah-daerah lainnya.
Dalam teori ini masyarakat itu dapat dinyatakan sebagai suatu sistem sosial ekonomi. Sebagai suatu sistem, keseluruhan masyarakat melakukan perdagangan dengan masyarakat lain di luar batas wilayahnya. Faktor penentu (determinan) pertumbuhan ekonomi dikaitkan secara langsung kepada permintaan akan barang dari daerah lain di luar batas masyarakat ekonomi regional. Pertumbuhan industri yang menggunakan sumberdaya lokal, termasuk tenaga kerja dan material (bahan) untuk komoditas ekspor akan meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat.
Teori basis ekonomi (economic base theory) mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut. Kegiatan ekspor dikelompokkan atas kegiatan basis dan kegiatan nonbasis. Kegiatan basis adalah semua kegiatan baik penghasil produk maupun penyedia jasa yang mendatangkan uang dari luar wilayah. Lapangan kerja dan pendapatan di sektor basis adalah fungsi dari
permintaan yang bersifat exogenous (tidak tergantung pada kekuatan intern/permintaan lokal). Sedangkan, sektor nonbasis adalah semua kegiatan lain yang bukan kegiatan basis termasuk ke dalam kegiatan sektor service atau pelayanan, tetapi untuk tidak menciptakan pengertian yang keliru tentang arti service. Sektor basis sifatnya untuk memenuhi kebutuhan lokal, permintaan sektor ini sangat dipengaruhi oleh oleh tingkat pendapatan setempat.
2.2.5 Teori Sektor (Sektor Theory of Growth)
Salah satu teori pertumbuhan wilayah yang paling sederhana adalah Teori Sektor. Teori ini dikembangkan berdasarkan hipotesis Clark-Fisher yang mengemukakan bahwa kenaikan pendapatan per kapita akan dibarengi oleh penurunan dalam proporsi sumber daya yang digunakan dalam sektor pertanian (sektor primer) dan kenaikan dalam sektor industri manufaktur (sektor sekunder) dan kemudian dalam industri jasa (sektor tersier). Laju pertumbuhan dalam sektor yang mengalami perubahan (sektor shift). Dianggap sebagai determinan utama dari perkembangan suatu wilayah.
Terjadinya perubahan atau pergeseran sektor dan evaluasi spesialisasi (pembagian kerja) dipandang sebagai sumber dinamika pertumbuhan wilayah. Suatu perluasan dari teori sektor ini adalah teori tahapan (stages theory) yang menjelaskan bahwa perkembangan wilayah merupakan proses evolusioner internal dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
i. Tahapan perekonomian subsistem swasembada dimana hanya terdapat sedikit investasi atau perdagangan. Sebagian besar penduduk bekerja pada sektor pertanian.
ii. Dengan kemajuan transportasi di wilayah yang bersangkutan akan mendorong perdagangan dan spesialisasi. Industri pedesaan masih bersifat sederhana (tradisional) untuk memenuhi kebutuhan para petani.
iii. Dengan bertambah majunya perdagangan antar wilayah, maka wilayah yang maju akan memprioritaskan pada pengembangan sub sektor tanaman pangan, selanjutnya diikuti oleh sub-sub sektor peternakan dan perikanan.
iv. Industri sekunder berkembang, pada permulaan mengolah produk-produk primer, kemudian diperluas dan makin lebih berspesialisasi.
v. Pengembangan industri tersier (jasa) yang melayani permintaan dalam wilayah maupun di luar wilayah.
2.2.6 Teori Kausasi Kumulatif (Cummulative Causation Theory)
Pada tahun 1955, Gunnar Myrdal mengemukakan tiga kesimpulan penting yaitu:
i. Dunia dihuni oleh segelintir negara-negara yang sangat kaya dan sejumlah besar Negara-negara yang sangat miskin.
ii. Negara-negara melaksanakan pola perkembangan ekonomi yang terus menerus, sedangkan negara-negara miskin mengalami perkembangan yang sangat lamban dan bahkan ada yang mandeg.
iii. Jurang ketidakmerataan ekonomi antara negara kaya dan negara-negara miskin semakin bertambah besar.
Berdasarkan prinsip kausasi sirkuler kumulatif, dapat dijelaskan terjadinya ketidakmerataan ekonomi (internasional, nasional dan regional). Apabila proses kausasi sirkuler kumulatif dibiarkan bekerja atas kekuatan sendiri, maka akan menimbulkan pengaruh merambat yang ekspansioner di satu pihak (spread effects) dan pengaruh pengurasan (backwash effects). Strategi campur tangan pemerintah yang dikehendaki adalah pengambilan tindakan yang melemahkan backwash effect dan memperkuat spread effect agar proses kausasi sirkuler kumulatif mengarah ke atas. Dengan demikian semakin memperkecil ketidakmerataan.
Untuk menanggulangi masalah keterbelakangan, ketidakmerataan dan kemiskinan dalam pembangunan dihadapi proses lingkaran tidak berujung pangkal (vicious circle). Daerah yang terbelakang karena masyarakatnya miskin, mereka menjadi miskin karena mereka terbelakang (kapasitas sumberdaya manusianya lemah serta ketersediaan prasarana dan sarana pembangunan terbatas). Kondisis semacam ini dapat diperlihatkan pula pada kesenjangan atau ketimpangan antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan yang cenderung bertambah semakin besar. Demikian pula kesenjangan antar daerah akan menjadi besar.
Kegiatan perdagangan juga bergerak dengan kecendrungan yang menguntungkan daerah yang lebih kaya atau lebih maju dan merugikan
daerah-keuntungan bersaing kepada industri-industri di pusat-pusat ekpansi yang sudah mapan. Sebaliknya mengancam kematian kegiatan usaha kerajinan dan industri kecil di daerah-daerah lain yang kurang maju.
2.2.7. Kerangka Konseptual
Pertanian merupakan sektor yang berperan dalam pemenuhan pangan sehingga untuk mengatasi krisis pangan perlu dilakukan perhatian khusus untuk meningkatkan hasil-hasil pertanian. Hasil-hasil pertanian yang diproduksi akan dilihat potensi ekspornya dari sisi produksi dan dari segi permintaan negara
Pertanian
Hasil-Hasil Pertanian Potensi Ekspor Tingkat Permintaan Negara Pengimpor Kontribusi Ekspor Pengembangan Pertanian Pembangunan Ekonomipengimpor. dengan terjadinya kegiatan perdagangan luar negeri maka kegiatan ekspor akan member kontribusiny terhadap pendapatan daerah. Dengan demikian perlu dilakukan pengembangan pertanian guna meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil-hasil pertanian. secara tidak langsung pengembangan pertanian mampu meningkatkan pembangunan ekonomi wilayah.