• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.5 Teori Perancangan Lanskap

Dalam Buku Urban Space (Krier, 1979), dinyatakan bahwa pengertian lanskap adalah suatu sistem yang menyeluruh yang di dalamnya ada hubungan antara komponen biotik dan abiotik, termasuk komponen pengaruh manusia. Proses perancangan suatu lanskap, meliputi pembuatan keputusan-keputusan mengenai segala hal secara spesifik, mulai dari bentuk fisik dan penataan hingga sirkulasi; detail-detail tentang pagar, jalur pejalan, hingga tanaman yang dipakai. Dalam merancang lanskap adalah menentukan bentuk yang tepat dan penataan segala hal untuk dilihat atau “dialami” oleh individual atau kelompok di area atau zona pergerakan tersebut. Jangkauan dalam arsitektur lanskap pada umumnya adalah mengenai ruang terbuka antar bangunan, jalan, dan konstruksi teknik, maupun lahan yang belum terbangun. Arsitektur lanskap mengusahakan

31

pembentukan keberlanjutan, hubungan, atau keterkaitan antara bangunan, tempat, dan lanskap sekitarnya (Eckbo, 1969).

Eckbo (1969), dalam bukunya yang berjudul The Landscape We See, menyatakan terdapat beberapa unsur dalam perancangan lanskap, yaitu:

a. Garis.

Garis yang membentuk pola linier seringkali digunakan dalam desain lanskap secara sadar. Pola dua dimensi di atas tanah membentuk “rasa” mengenai volume dan pergerakan pada ruang. Pada pola 3 dimensi, menghasilkan hubungan yang memunculkan “rasa” akan struktur, tensi, dan volume. Terdapat bentuk lain dari garis, yaitu garis siluet. Garis siluet terbentuk dari topografi, bebatuan, vegetasi, struktur, atau obyek lain yang setara yang berpengaruh pada lanskap. Garis siluet ini lebih dinamis, variatif, dan lebih ekspresif daripada garis lurus. b. Bentuk

Bentuk adalah area yang penuh atau hampir penuh yang dikeliling oleh garis perimeter yang bisa merupakan garis yang pasti (fixed) atau siluet. Beton merupakan bentuk yang pasti (fixed), sedangkan pohon adalah bentuk siluet karena dapat berubah seiring pergerakannya. Tujuan utama dari keberadaan bentuk adalah untuk memberikan rasa mengenai ruang tiga dimensi. Keberadaan bentuk yang pasti dan siluet membentuk pola yang variatif.

c. Warna

Warna menghidupkan dunia bagi manusia, hal ini membuat manusia merasa “ada” dan positif, ceria atau diam, menyenangkan atau membuat depresi. Sedangkan, Tone adalah keterkaitan antara warna, cahaya, dan tekstur; warna yang sama dapat tampak berbeda dengan pencahayaan yang berbeda. Sehingga, alam ikut menentukan dalam desain lanskap. Maka, dalam desain garis, bentuk, dan warna dilakukan pendekatan yang berbeda-beda sesuai dengan lokasi dan iklim.

d. Tekstur

Tekstur adalah variasi permukaan dari suatu bentuk atau area atau di sekitar massa. Hal ini berhubungan dekat dengan skala. Pada komunitas yang besar, atau lanskap secara general, tekstur adalah pola dari bangunan dan jalan, pola skala vegetasi, semak, dan pohon, dsb.

32 e. Massa

Massa adalah bentuk tiga dimensi yang solid. Gunung merupakan contoh dari massa yang solid, namun biasa dianggap sebagai bentuk, namun diketahui secara umum memiliki bentukan yang solid. Tanaman, dari kejauhan dianggap sebagai massa, akan tetapi tanaman terdiri atas daun ranting dan cabang-cabang yang menyebabkan rancunya massa dan ruang terbukanya.

f. Ruang

Ruang adalah volume yang didefinisikan dengan elemen-elemen fisik. Seluruh elemen fisik diatas maupun dibawah garis horizon membentuk ruang, mengkualifikasikannya, memberikan ketinggian, aturan yang simple, struktur kompleks, atau keberlanjutan yang tidak terhingga.

g. Ritme

Ritme dibentuk dari pengulangan antara elemen yang mirip atau setara. Di alam, tidak ada elemen yang berulang sama persis (mis: gunung berderet). Ritme yang simetris absolute dan regular biasa dibentuk di taman yang formal, akan tetapi seringkali ritme yang simetris.

h. balance

Balance adalah penataan dari elemen-elemen fisik dalam pola atau struktur yang memberikan pengamatnya rasa equilibrium dan stabilitas.

Selain itu, keberadaan aspek kualitas sosial akan terpengaruh secara langsung oleh lanskap yang dirancang, sehingga perlu bagi perancang lanskap untuk sadar akan tanggungjawab sosialnya dan merancang dengan memperhatikan sudut pandang pengguna.

Dalam hal taman secara khusus, menurut Arifin (2006), dalam perancangan taman perlu dilakukan pemilihan dan penataan secara detail elemen-elemennya, agar taman dapat fungsional dan estetis. Elemen taman dapat diklasifikasikan menjadi:

a. Berdasarkan jenis dasar elemen :

1. Elemen alami

2. Elemen non alami (buatan) b. Berdasarkan kesan yang ditimbulkan:

33

2. Elemen keras (hard material) seperti paving, pagar, patung, pergola, bangku taman, kolam, lampu taman, dan sebagainya.

c. Berdasarkan kemungkinan perubahan:

1. Taman dalam skala besar (dalam konteks lansekap), memiliki elemen perancangan yang lebih beragam yang memiliki perbedaan dalam hal kemungkinan dirubah. Elemen tersebut diklasifikasikan menjadi:

2. Elemen mayor (elemen yang sulit diubah), seperti sungai, gunung, pantai, hujan, kabut, suhu, kelembaban udara, radiasi matahari, angin, petir dan sebagainya.

3. Elemen minor (elemen yang dapat diubah), seperti sungai kecil, bukit kecil, tanaman, dan sebagainya serta elemen buatan manusia. Beberapa prinsip desain yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman adalah :

a. Tema, unity.

Penetapan tema yang terlihat dari adanya kesan kesatuan (unity) merupakan upaya untuk memunculkan kesan utama, karakter atau identitas. Melalui unity yang terjadi, karakter taman dapat terlihat dengan jelas, misal memiliki karakter sebagai taman bermain, taman rumah, taman formal, taman tropis, dan sebagainya.

b. Gradasi, variasi, repetisi. Pembuatan gradasi bertujuan untuk menimbulkan kesan gerak sehingga terkesan dinamis dan berirama. Hal ini akan mencegah kemonotonan.

Contoh :

1. warna hijau menjadi gradasi hijau tua ke hijau muda

2. bentuk bulat diolah menjadi berbagai variasi bulat, misal berdasarkan ukuran (kecil – besar), berdasarkan tekstur (halus – kasar) dan sebagainya.

c. Kontras, penarik perhatian. Melalui pembuatan desain elemen tertentu yang memiliki kontras dengan elemen yang lainnya, akan menarik perhatian. Pemberian kontras ini akan memberikan kesan kejutan ataupun klimaks. Kontras, antara lain dapat dibuat dengan menerapkan:

34 1. warna yang menyolok

2. bentuk individual yang menarik

3. elemen yang unik, misal peletakan elemen tanaman pada lingkungan yang terdiri dari elemen buatan, dan sebagainya.

d. Kontrol, balance, skala, sederhana.

Prinsip desain ini mampu menjadi aspek penyeimbang, agar taman terkesan harmonis.

Berdasarkan kedua teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa elemen perancangan lanskap taman, terdiri dari 2 elemen, yaitu hardscape dan softscape. dalam perancangannya harus memperhatikan prinsip-prinsip desain, yaitu harmoni antara garis, bentuk, warna yang kontras sebagai penarik perhatian, adanya gradasi tekstur, ruang, massa, variasi dan repetisi ritme, balance, proporsi, emphasis, dan skala, juga adanya tema / unity untuk menyatukan elemen-elemen lanskap dalam satu harmoni. Perancangan lanskap juga harus memperhatikan aspek sosial, yaitu bagaimana lanskap tersebut memenuhi kebutuhan dan atau memberi pengaruh penggunanya.

Dalam hal ini, pengguna lanskap berupa taman adalah masyarakat lansia. Maka, perlu diperhatikan aspek karakteristik dan kebutuhan dari masyarakat lansia terhadap penataan taman yang akan dilakukan.