• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Perilaku Keagamaan

3. Teori Perilaku Keagamaan

a. Teori Perilaku Keagamaan Kohlberg

Kohlberg mengklasifikasikan tahapan-tahapan perkembangan moral kedalam 6 (enam) tahap. Kohlberg menyatakan bahwa penalaran moral dipengaruhi oleh tahap perkembangan kognitif yang

tinggi (seperti pendidikan) dan pengalaman sosiomoral.62 Hal tersebut dapat ditemui di lingkungan sekolah atau ranah pendidikan. Tahapan Kohlberg tersebut terdiri dalam 3 tahapan yang setiap tahapannya terbagi lagi hingga total terdapat enam tahapan.63 Secara berurutan, berikut tahapan perilaku keagamaan menurut Kohlberg:

Gambar 2.3 Teori perilaku keagamaan Kohlberg 1) Tahap Prakonvensional

Pada tingkat pertama ini, anak sangat tanggap terhadap norma-norma budaya, misalnya norma-norma baik atau buruk,

62 Glover, R. J, “Relathionship in Moral Reasoning and Relgion Among Membeer of Conservative, Moderate, and Liberal Religious Groups,” The journal of social psychology, 137 (2), 247-254.

63 Anggota IKAPI, Lawrence Kohlberg, john de Santo, Agus Cremers, Tahapan-tahapan

Perkembangan Moral: Diterjemahkan dari karya-karya penting Kohlberg (Yogyakarta: Kanisius,

salah atau benar, dan sebagainya. Anak akan mengaitkan norma-norma tersebut sesuai dengan akibat yang akan dihadapi atas tindakan yang dilakukan. Anak juga menilai norma-norma tersebut berdasarkan kekuatan fisik dari yang menerapkan norma-norma tersebut. Pada tingkat prekonvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu:

a) Tahap Punishment and Obedience Orientation.

b) Tahap Instrumental-Relativist Orientation atau Hedonistic Orientation.

2) Tahap Konvensional

Pada tingkat perkembangan moral konvensional, memenuhi harapan keluarga, kelompok, masyarakat, maupun bangsanya merupakan suatu tindakan yang terpuji. Tindakan tersebut dilakukan tanpa harus mengaitkan dengan konsekuensi yang muncul, namun dibutuhkan sikap dan loyalitas yang sesuai dengan harapan-harapan pribadi dan tertib sosial yang berlaku.

Pada tingkat ini, usaha seseorang untuk memperoleh, mendukung, dan mengakui keabsahan tertib sosial sangat ditekankan, serta usaha aktif untuk menjalin hubungan positif antara diri dengan orang lain maupun dengan kelompok di sekitarnya. Pada tingkat konvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu:

a) Tahap Interpersonal Concordance atau Good-Boy/Good-Girl Orientation.

b) Tahap Law and Order Orientation. 3) Tahap Pasca Konvensional

Pada tingkat ketiga ini, terdapat usaha dalam diri anak untuk menentukan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang memiliki validitas yang diwujudkan tanpa harus mengaitkan dengan otoritas kelompok maupun individu dan terlepas dari hubungan seseorang dengan kelompok. Pada tingkat ketiga ini, di dalamnya mencakup dua tahap perkembangan moral, yaitu:

a) Tahap Social-Contract, Legalistic Orientation. b) Tahap Orientation of Universal Ethical Principles.

Perilaku keagamaan yang berlandaskan kebenaran agama dan ketulusan hati dalam teori Kohlberg akan tercermin ketika seseorang mencapai tahap ke-6 yakni dimana semua perilaku itu hanya benar berdasarkan penilaian yang berorientasi pada suara hati, suara hati selalu mengarah pada kebenaran ajaran Allah. Kohlberg yang fenomenal dengan 6 tahapannya, berbeda dengan Glock dan Stark yag fenomenal dengan membagi dimensi perilaku keagamaa menjadi 5 dimesi.

Teori perkembangan moral Kolhberg menjadi sangat menarik karena dalam teori ini mengungkapkan moral yang kasat mata melaui tingkah laku moral. Semakin tinggi tahap perkembangan moral

seseorang, akan semakin terlihat tingkah laku bermoral yang lebih tinggi dan bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.64 Teori Kohl Berg yang menekankan bahwa tingkat moral seseorang menjadi dasar perilakunya, maka hal yang kurang lebih sama diungkap oleh Glock dan Stark melalui dimensinya dalam beragama. Moral seseorang akan sangat mempengaruhi perilakunya, begitu juga keagamaan seseorang yang kasat mata, dapat mempengaruhi perilakunya. Kohl Berg mampu mengkonkritkan moralitas melalui perilaku manusia itu sendiri, tidak jauh berbeda dengan Glock dan Stark juga mampu mengkonkritkan keagamaan seseorang melalui perilaku orang itu sendiri.

b. Teori Perilaku Keagamaan Menurut Glock dan Stark

Menurut Glock dan Stark terdapat lima dimensi keberagamaan dalam mengkaji ekspresi keberagamaan, yaitu dimensi keyakinan (ideologi), dimensi praktek agama (ritualistik), dimensi penghayatan (experiental), dimensi pengetahuan agama (intelektual), dan dimensi

pengalaman (konsekuensial).65 Berikut skema dimensia perilaku

keagamaan Glock dan Stark:

64 Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016),

hlm. 261

65 Glock and Stark, dalam Roland Robertson, Sosiology Of Religion, (terj)Achmad Fedyani Syaifudin, Agama Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis (Jakarta: Rajawali, 1995), hlm. 295.

Gambar 2.4 Teori perilaku keagamaan Glock dan Stark 1) Dimensi Keyakinan (Ideologi)

Dimensi ini berisikan pengharapan dengan berpegang teguh pada teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin agama, dan memberikan premis eksistensial untuk menjelaskan tetang Tuhan, alam dan manusia serta hubungan antar ketiganya.66

Dengan demikian dimensi keyakinan ini menyangkut keyakinan seorang Muslim terhadap kebenaran ajaran agamanya, terutama terhadap ajaran agama yang fundamental dan dogmatis. Dimensi keyakinan ini (dalam ajaran Islam) terkait dengan keimanan seseorang pada rukun iman.

2) Dimensi Praktek Agama (Ritualistik)

66 Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama Sebuah pengantar (Yogayakarta: Tiara Wacana, 1989), hlm. 93.

Dimensi keberagamaan yang berkaitan dengan sejumlah perilaku. Perilaku disini bukanlah perilaku umum yang dipengaruhi keimanan seseorang, melainkan mengacu kepada perilaku-perilaku khusus yang ditetapkan oleh agama, seperti tata cara (dalam Islam) ibadah sholat, puasa, zakat, haji, bermuamalah, dan lain sebagainya yang semua ini merupakan ritus-ritus khusus aturan yang wajib ditaati dan dilaksanakan.

Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Indikasinya mengarah pada pengalaman-pengalaman ibadah khusus, sejauh mana rutinitas seseorang dalam menjalankan ibadah-ibadah itu.

3) Dimensi Penghayatan (Eksperiensial)

Dimensi pengalaman ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi dan sensasi yang dialami seorang pelaku yang melihat komunikasi walaupun kecil, dengan esensi Ketuhanan yakni dengan Tuhan, dan otoritas transendental.67

Dimensi ini berkaitan dengan perasaan keagamaan yang dialami oleh penganut agama. Perasaan agama ini dapat bergerak dalam empat tingkatan, yaitu: Responsif (merasa bahwa Tuhan menjawab keluhanya atau kehendaknya), Eskatik (merasakan

hubungan yang akrab penuh cinta dengan Tuhan), Konfirmatif (merasakan kehadiran Tuhan atas apa saja yang diamatinya), Partisipatif (merasa menjadi kawan setia, kekasih atau wali

Tuhan, menyertai Tuhan dalam melakukan karya ilmiahnya).68

Dimensi penghayatan menunjukkan seberapa jauh tingkat seseorang merasakan perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman religious yang dialami. Sebagai contoh dalam agama Islam dimensi ini terwujud dalam perasaan dekat seorang hamba dengan Allah SWT, merasakan Allah mengabulkan do’a-do’anya, perasaan khusyuk ketika sholat dan berdo’a serta

perasaan selalu mendapat peringatan serta pertolongan dari Allah SWT.

4) Dimensi Pengetahuan Agama (Intelektual)

Dimensi pengetahuan agama ini mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki jumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, Kitab Suci dan tradisi-tradisi yang ada dalam ajaran agamanya.69

Dimensi ini erat kaitanya dengan pengetahuan seseorang terkait dengan ajaran-ajaran yang ada dalam agamanya. Tentu saja pengetahuan ini diperoleh melalui proses intelektual yang

68 Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama, hlm. 93.

cukup lama baik melalui pendidikan formal maupun non-formal. Sebagai contoh orang Islam harus memiliki pengetahuan tentang pokok-pokok ajaran agamanya dalam Kitab Sucinya, hukum-hukum Islam, sejarah Islam dan lain sebagainya.

5) Dimensi Pengalaman (Konsekuensional)

Dimensi ini menunjukkan akibat ajaran agama dalam perilaku umum, yang tidak secara langsung dan secara khusus ditetapkan agama (seperti dalam dimensi ritualistik). Inilah efek ajaran agama pada perilaku individu dalam kehidupannya sehari-hari. Efek agama ini boleh jadi positif atau negatif, pada tingkat personal dan sosial.70

Glock dan Stark melihat keberagamaan tidak hanya dari sisi ritual

seseorang, melainkan juga pada dimensi-dimensi lain. Dimensi-dimensi

tersebut dapat digunakan sebagai tolak ukur tingkat religiusitas seseorang. Dimensi-dimensi ini diantaranya merupakan konsep ideal perilaku keagamaan secara berkesinambungan. Jika dari beberapa dimensi tersebut ada yang tidak terpenuhi maka hal itu mengindikasikan rendahnya tingkat keagamaan seseorang.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku keagamaan adalah bentuk yang menerjemahkan seberapa jauh seseorang menghayati tentang agamanya serta ajaran keagamaan tersebut.

Dokumen terkait