• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Kerangka Teori

3. Teori Perlindungan Hukum

Hukum lahir untuk memberikan kepastian dan perlindungan dalam kehidupan masyarakat. Dalam hakekatnya manusia telah memperoleh hak untuk mendapatkan perlindungan sejak ia lahir, yang dimana hal ini tentu sangat berkaitan dengan teori perlindungan hukum. Teori Perlindungan hukum dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu Fitzgerald, Satjipto Raharjo, Philipus M Hardjon dan M Isnaeni. Fitzgerald dalam pendapatnya mengutip istilah dari salmond bahwa hukum mempunyai tujuan untuk memberikan integritas dan mengkoordinasikan berbagai kepentingan masyarakat dalam suatu lalu lintas kehidupan untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan tertentu yang dilakukan dengan cara membatasi beberapa kepentingan pihak lain. Dengan kata lain perlindungan hukum merupakan suatu perbuatan yang mengurusi hak dan kepentingan manusia sehingga hukum dianggap memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan kepentingan manusia yang perlu dilindungi. 12

Sajipto Rahardjo memiliki pandangan lain dari yang telah dikemukakan oleh Fitzgerald. Menurut Sajipto Rahardjo Perlindungan Hukum memberikan pengayoman terhadap Hak Asasi

12 Satjipto Raharjo. 2006. “Ilmu Hukum”, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, hlm. 53.

14

Manusia (HAM) yang dianggap dirugikan oleh orang lain sehingga dapat diberikan perlindungan hukum agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum. 13

Sedangkan menurut Philipus M. Hadjon perlindngan hukum merupakan suatu tindakan yang diberikan oleh pemerintah kepada rakyatnya. Menurut teori ini, perlindungan hukum dibagi menjadi dua yaitu perlindungan hukum preventif dan perlindungan hukum respensif. Perlindungan hukum preventif mempunyai tujuan untuk meencegah adanya sengketa dengan cara penerapan prinsip kehati-hatian oleh pemerintah berdasarkan diskresi dan perlindungan hukum respensif mempunyai tujuan untuk mencegah terjadinya sengketa yang ada di masyarakat serta sengketa yang ada di peradilan.14

Selanjutnya menurut M. Isnaeni perlindungan hukum dapat di golongkan menjadi dua macam berdasarkan dengan sumbernya yaitu perlindungan hukum internal dan perlindungan hukum eksternal.15 Perlindungan hukum internal pada hakekatnya merupakan perlindungan hukum yang dibuat sendiri oleh para pihak dalam pembuatan suatu perjanjian, yang dimana pada waktu pembuatan klausula-klaulsula kontrak, para pihak mencapai kata sepakat demi kepentingannya terpenuhi. Maka dengan adanya kata

13 Ibid, hlm. 69.

14 Ibid, hlm. 54

15 Moch. Isnaeni. 2016. “Pengantar Hukum Jaminan Kebendaan”, Surabaya: PT. Revka Petra Media, hlm. 159

15

sepakat tersebut dalam suatu perjanjian, diharapkan dapat meminimalisir resiko terjadinya sengketa sehingga perjanjian tersebut akan menimbulkan perlindungan hukum bagi para pihak.

Perlindungan hukum internal dapat diperoleh jika kedudukan para pihak relatif sama atau sederajat, dalam artian berdasarkan asas kebebasan berkontrak para pihak bebas untuk menentukan suatu isi perjanjian demi memenuhi kepentingannya masing-masing. Sehingga perlindungan hukum ini diperoleh pada waktu para pihak menyusun isi perjanjian yang disepakati, sehingga perlindungan hukum dapat terwujud secara lugas atas inisiatif dari para pihak.16

Pelindungan Hukum eksternal ialah perlindungan hukum yang dibuat oleh penguasa lewat regulasi demi kepentingan pihak yang lemah, sesuai dengan pedoman perundang-undangan yang mempunyai makna hukum tidak boleh bersifat memihak, dan harus diberikan perlindungan hukum yang sama kepada pihak lainnya.17 Sebab dalam penerapannya, sangat dimungkinkan pada saat dibuatnya suatu perjanjian ada suatu pihak yang relatif lebih kuat dibandingkan dengan pihak mitranya, namun dalam seyogyanya pihak yang relatif kuat seringkali terjerumus menjadi pihak yang lema dan teraniyaya, yakni pada saat debitur terbukti melakukan

16 Moch. Isnaeni. 2016. “Pengantar Hukum Jaminan Kebendaan”, Surabaya: PT. Revka Petra Media. hlm. 160

17 Ibid, hlm.160

16

wanprestasi maka selayaknya kreditur juga perlu membutuhkan perlindungan hukum.

G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Normatif. Penelitian hukum normatif merupakan penelitian hukum keperpustakaan yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka berdasarkan peraturan-peraturan yang ada dan norma hukum yang berlaku di masyarakat. 18 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian hukum normatif merupakan penelitian yang berlandaskan pada asas-asas hukum, peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan dan doktrin atau pengertian dari pakar hukum terkemuka.19 2. Pendekatan Penelitian

a. Pendekatan Undang-Undang (Statue Approach)

Pendekatan perundang-undangan (Statue Approach) merupakan pendekatan yang dilakukan dengan cara menelaah undang-undang dan regulasi yang berkaitan dengan isu hukum yang akan dibahas yaitu kepastian hukum kreditur terhadap eksekusi

18 Soerjono Soekanto, Sri Mamudji. 2009. “Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat”, Jakarta: Rajawali Press. hlm.13-14

19 Bachtiar. 2018. “Metode Penelitian Hukum”, Tangerang: Unpam Press, hlm.57

17

objek jaminan fidusia dikaitkan dengan asas kebebasan berkontrak.20

b. Pendekatan Konsep (Conceptual Approach)

Pendekatan konsep merupakan pendekatan yang berasal dari pandangan dan doktrin-doktrin dalam ilmu hukum yang dimana dengan pendekatan konsep ini, peneliti akan membangun pemikiran analitis untuk menyelesaikan isu hukum yang akan dibahas.21 3. Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum yang diperoleh dalam penulisan penelitian ini adalah sumber hukum sekunder, yang terdiri dari:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang mempunyai sifat mengikat dan autoratif yang mempunyai suatu otoritas yaitu salah satu contohnya adalah Undang-Undang.22 Bahan hukum primer yang digunakan dalam penulisan penelitian ini ialah:

1) Undang-Undang Dasar 1945;

2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;

3) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tantang Jaminan Fidusia;

20 Abdul kadir Muhammad. 2004.“Hukum dan Penelitian Hukum”, Bandung: Citra Aditya Bakti, hlm. 134.

21 Johnny Ibrahim. 2005. “Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif”. Malang: Bayu Media Publishing, hlm. 306.

22 Peter Mahmud Marzuki. 2005. “Penelitian Hukum”, Kencana Prenada Media Group.

hlm.141.

18

4) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XVII/2019 tentang Pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

5) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 2/PUU-XIX/2021.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang digunakan untuk memberikan penjelasan pendukung untuk memperjelas apa yang dimaksud dalam bahan hukum primer, diantaranya ialah jurnal, buku-buku, literatur oleh ahli hukum dan artikel yang berkaitan dengan isu kepastian hukum kreditur dalam eksekusi objek jaminan fidusia. 23

Dokumen terkait