• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

5. Teori Perlindungan Hukum

Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 ayat (3) berbunyi:

“Indonesia adalah Negara hukum”. Menurut Albert Venn Dicey terdapat 3 (tiga) ciri penting negara hukum yang disebut denganRule of Lawyaitu:80

1) Supremasi hukum (supremacy of law) artinya tidak boleh ada kesewenang-wenangan sehingga seseorang hanya boleh dihukum jika melanggar hukum;

2) Kedudukan yang sama didepan hukum (equality before the law/audi et alteram partem)baik bagi rakyat biasa atau pejabat pemerintah;

3) Terjaminnya hak-hak manusia dalam undang-undang (constitution based of human rights)atau putusan pengadilan.

Pada dasarnya manusia senantiasa menginginkan ketertiban dan keteraturan, itulah sebabnya dikehendaki adanya peraturan-peraturan hukum yang dapat dijadikan patokan/pedoman dalam 80

Philipus M. Hadjon, Pengantar HukumAdministrasiNegara, Bina Aksara, Yogyakarta, 1987, hlm. 2

kehidupan bersama sehingga masing-masing anggota masyarakat akan tahu hak dan kewajibannya, tahu mana yang patut dilakukan serta tahu perbuatan-perbuatan mana yang harus ditinggalkan. Oleh karena itu diharapkan akan tercipta ketertiban dan keteraturan itu.81

Pengertian perlindungan menurut ketentuan Pasal 1 butir 8 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban menentukan bahwa perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada Saksi dan/atau Korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.

Perlindungan hukum merupakan suatu perlindungan yang diberikan terhadap subyek hukum (dari tindakan sewenang-wenang seseorang) dalam bentuk perangkat hukum baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.82

Perlindungan hukum adalah unsur yang utama yang harus ada dalam suatu negara. Didalam suatu negara ada suatu hubungan antara negara dengan warga negaranya. Negara wajib memberikan perlindungan hukum bagi warga negaranya dengan menciptakan suatu produk hukum. Warga negara berhak atas suatu perlindungan dari negara yang bersangkutan.

Hukum itu dibuat oleh penguasa yang berwenang untuk menuju kebaikan-kebaikan maka konsekuensinya setiap pelanggaran hukum harus diberi reaksi atau tindakan yang tepat, pantas agar wibawa tegaknya hukum terjaga. Undang-undang merupakan produk hukum yang dapat memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dari hal-hal yang dapat merugikan bagi kehidupan masyarakat. Sebagaimana pernyataan Satjipto Rahardjo yang mengatakan bahwa

81

Rusli Muhammad, Lembaga Pengadilan Indonesia Beserta Putusan Kontroversial, UII Press, Yogyakarta, 2013, hlm. 17

82

Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1987, hlm. 2

hukum menciptakan kepastian peraturan, dalam arti adanya peraturan seperti undang-undang.83

Perlindungan hukum adalah penyempitan arti dari perlindungan, dalam hal ini hanya perlindungan oleh hukum saja. Perlindungan yang diberikan oleh hukum, terkait pula dengan adanya hak dan kewajiban, dalam hal ini yang dimiliki oleh manusia sebagai subyek hukum dalam interaksinya dengan sesama manusia serta lingkungannya. Sebagai subyek hukum manusia memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan suatu tindakan hukum.84

Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah-kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.85 Menurut pendapat Phillipus M. Hadjon bahwa perlindungan hukum bagi rakyat terhadap suatu tindakan pemerintah dapat bersifat preventif dan represif, yaitu sebagai berikut:86

a. Perlindungan hukum yang bersifat preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, yang mengarahkan tindakan pemerintah untuk bersikap hati-hati dalam pengambilan keputusan berdasarkan kewenangan. Dalam hal ini Notaris sebagai pejabat umum harus berhati-hati dalam menjalankan tugas jabatannya berdasarkan kewenangan yang diberikan Negara kepadanya untuk membuat suatu akta otentik guna menjamin kepastian hukum bagi masyarakat.

b. Perlindungan hukum yang bersifat represif bertujuan untuk menyelesaikan terjadinya sengketa, termasuk penanganannya di lembaga peradilan. Dalam hal ini, dengan begitu banyaknya akta 83

Satjipto Rahardjo, Biarkan Hukum Mengalir, Catatan Kritis tentang Pergulatan Manusia dan Hukum, Kompas, Jakarta, 2007, hlm. 78

84

CST. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1989, hlm. 31

85

Muchsin,Perlindungan dan Kepastian Hukum Bagi Investor di Indonesia, Surakarta,

Magister Ilmu Hukum Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret, 2003, hlm. 14

otentik yang dibuat oleh Notaris, tidak jarang Notaris tersebut dipermasalahkan oleh salah satu pihak atau pihak lainnya karena dianggap telah merugikan kepentingannya, baik itu dengan pengingkaran akan isi akta, tanda tangan maupun kehadiran pihak dihadapan Notaris.

Keadilan dibentuk oleh pemikiran yang benar, dilakukan secara adil dan jujur serta bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Rasa keadilan dan hukum harus ditegakkan berdasarkan Hukum Positif untuk menegakkan keadilan dalam hukum sesuai dengan realitas masyarakat yang menghendaki tercapainya masyarakat yang aman dan damai. Keadilan harus dibangun sesuai dengan cita hukum (Rechtidee) dalam negara hukum (Rechtsstaat), bukan negara kekuasaan (Machtsstaat). Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia, penegakkan hukum harus memperhatikan 4 unsur :87

1) Kepastian hukum (Rechtssicherkeit); 2) Kemanfaat hukum (Zeweckmassigkeit); 3) Keadilan hukum (Gerechtigkeit); 4) Jaminan hukum (Doelmatigkeit).

Sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik, Notaris akan sering mendapat masalah berkenaan dengan akta autentik yang sedang atau telah dibuatnya. Tidak jarang Notaris dipanggil untuk menjadi saksi terkait gugatan yang dilaporkan oleh orang yang merasa dirugikan terhadap akta tersebut. Ketika aparat hukum akan memanggil Notaris, tidak bisa serta merta dapat memanggil Notaris untuk dimintai keterangan, tetapi harus mengajukan permohonan persetujuan atau penolakan dahulu kepada MKNW.

Seperti yang tercantum dalam Pasal 66 UU No. 2 Th. 2014 tertulis bahwa:

87

“Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris berwenang:

1) Mengambil fotokopi minuta Akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris; dan

2) Memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan Akta atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris”.

Ketika Notaris diperiksa oleh MKNW sudah sesuai prosedur pemanggilan tidak menjadi masalah, tetapi ketika MKNW langsung menerbitkan Keputusan MKNW tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu kepada Notaris dan ketika MKNW tidak memberikan jawaban selama paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja maka hal tersebut menjadi masalah. Karena hal tersebut MKNW sudah tidak lagi menjadi pelindung bagi Notaris. Jika hal tersebut terjadi Notaris berhak untuk mengajukan banding terhadap Keputusan MKNW yang merugikan Notaris yang bersangkutan tersebut.

Tetapi didalam Permenkumham No. 7 Th. 2016 tidak diatur mengenai banding yang dapat dilakukan oleh Notaris. Maka dari itu penulis ingin menganalisis pembahasan ini dengan menggunakan teori perlindungan hukum. Jadi pada rumusan masalah pertama akan menggunakan teori perlindungan hukum milik Philipus M. Hadjon yaitu teori perlindungan hukum represif yaitu yang bertujuan untuk menyelesaikan terjadinya sengketa yang mengakibatkan pemanggilan dari aparat hukum kepada Notaris karena suatu dugaan tindak pidana termasuk penanganannya ketika Notaris membutuhkan suatu perlindungan hukum dari MKNW. Terkait rumusan masalah yang kedua penulis juga menggunakan teori perlindungan hukum.