• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Perpajakan Secara Umum

Dalam dokumen ELYSA ADE NURSETIA F3409028 (Halaman 34-41)

BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. TINJAUAN PUSTAKA

1. Teori Perpajakan Secara Umum

a. Pengertian Pajak

1) Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang- undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa imbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Soemitro dan Suandy, 2008).

2) Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat. (Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan).

3) Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang- Undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Waluyo, 2010).

commit to user

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak, adalah sebagai berikut:

1) Iuran dari rakyat kepada negara yang dapat dipaksakan;

2) Berdasarkan Undang-Undang;

3) Tanpa jasa imbal balik atau kontraprestasi dari negara secara langsung;

4) Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara.

b. Fungsi Pajak

Terdapat dua fungsi pajak, yaitu fungi Budgeting (sumber keuangan negara) dan fungsi Regulerend atau pengatur (Resmi, 2007). 1) Fungsi Budgeting (Sumber Keuangan Negara)

Pajak mempunyai fungsi Budgeting, artinya pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran baik rutin maupun pembangunan. Sebagai sumber keuangan negara, pemerintah berupaya memasukan uang sebanyak-banyaknya untuk kas negara. Upaya tersebut ditempuh

dengan cara ekstensifikasi pemungutan pajak melalui

penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan lain-lain.

commit to user 2) Fungsi Regulerend (Pengatur)

Pajak mempunyai fungsi pengatur, artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi,serta mencapai tujuan-tujuan tertentu diluar bidang keuangan.

Beberapa contoh penerapan pajak sebagai fungsi pengatur adalah sebagai berikut:

a) Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah.

Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dikenakan pada saat transaksi jual beli barang mewah. Semakin mewah suatu barang, maka tarif pajaknya semakin tinggi sehingga barang tersebut semakin mahal harganya. Pengenaan pajak ini dimaksudkan agar rakyat tidak berlomba-lomba untuk mengkonsumsi barang mewah (mengurangi gaya hidup mewah);

b) Tarif pajak progresif dikenakan atas penghasilan. Hal ini dimaksudkan agar pihak yang memperoleh penghasilan tinggi memberikan kontribusi (membayar pajak) yang tinggi pula, sehingga terjadi pemerataan pendapatan;

c) Tarif pajak ekspor sebesar 0% dimaksudkan agar para pengusaha terdorong menegkspor hasil produksinya dipasar dunia sehingga dapat memperbesar devisa negara;

commit to user

d) Pajak penghasilan dikenakan atas penyerahan barang hasil industri tertentu seperti industri semen, industri rokok, industri baja, dan industri lain-lain, dimaksudkan agar terdapat penekanan produksi terhadap industri tersebut karena dapat menggangu lingkungan atau polusi (membahayakan kesehatan);

e) Pemberlakuan ta x holida y dimaksudkan untuk menarik investor asing agar menanamkan modalnya di Indonesia.

c. Pengelompokan Pajak

Terdapat berbagai jenis pajak yang dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu pengelompokan menurut golongan, menurut sifat dan menurut lembaga pemungutannya (Suandy, 2008).

1) Menurut Golongan a) Pajak Langsung

Pajak langsung yaitu pajak yang bebannya harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan tidak dapat dialihkan kepada pihak lain. Sebagai contoh Pajak Penghasilan (PPh).

b) Pajak Tidak Langsung

Pajak tidak langsung yaitu pajak yang pembebannanya dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Pajak tidak langsung terjadi jika terdapat suatu kegiatan yang menyebabkan

commit to user

terutangnya pajak, misalnya terjadi penyerahan barang atau jasa. Sebagai contoh Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

2) Menurut Sifat a) Pajak subjektif

Pajak subjektif yaitu pajak yang pengenaanya

memerhatikan keadaan pribadi wajib pajak. Sebagai contoh pajak Penghasilan (PPh) yang pengenaan PPh untuk orang pribaadi memperhatikan status perkawinan, banyaknya anak dan tanggungan lainnya sehingga dengan kedaan wajib pajak tersebut digunakan untuk menentukan besarnya penghasilan tidak kena pajak.

b) Pajak Objektif

Pajak Objektif yaitu pajak yang pengenaanya

memerhatikan objeknya tanpa memerhatikan keadaan pribadi wajib pajak maupun tempat tinggal. Sebagai contoh Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

3) Menurut Lembaga Pemungutan

a) Pajak Pusat

Pajak pusat adalah jenis pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Hasil dari pemungutan pajak pusat dikumpulkan dan dimasukan sebagai bagian dari penerimaan

commit to user

APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Contohnya Pajak Penghasilan (PPh),Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak/Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan Bea Materai.

b) Pajak Daerah

Pajak Daerah adalah jenis pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah yang dalam pelaksanaannya sehari-hari dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda).

d. Sistem Pemungutan Pajak

Sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi atas3 macam (Waluyo, 2010) yaitu:

1) Officia l Assesment System

Officia l Assesment System adalah sistem pemungutan pajak yang

memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang.

Ciri-ciri Officia l Assesment System adalah sebagai berikut:

a) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang berada pada fiskus;

b) Wajib pajak bersifat pasif;

c) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

commit to user

2) Self Assesment System

Self Assesment System adalah suatu sistem pemungutan pajak

yang memberi wewenang penuh kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, menyetorkan, dan melaporkan sendiri besarnya utang pajak.

3) Withholding System

Withholding System adalah suatu sistem pemungutan pajak

yang memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk

memotong/memungut besarnya pajak yang terutang.

e. Asas Pemungutan Pajak

Menurut Adam Smith dalam bukunya “An Inquiri into Nature

a nd Cause of the Wea lth of Nation” tentang asas-asas pemungutan

pajak yang dikenal dengan “The Four Ma xims” adalah sebagai berikut:

1) Asas Equa lity (asas keseimbangan atau asas keadilan)

Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu pajak yang dikenakan wajib pajak harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak serta sesuai dengan manfaat yang diterima.

2) Asas Ceratainty (asas kepastian hukum)

Penetapan pajak tidak ditentukan sewenang-wenang tetapi harus berdasarkan Undang-Undang, sehingga bagi yang melanggar akan dikenai sanksi hukum.

commit to user

3) Asas Convenience of Pa yment (asas pemungutan pajak tepat waktu)

Pajak hendaknya dipungut pada saat yang paling baik bagi wajib pajak, yaitu saat yang paling dekat dengan saat diterimanya penghasilan/keuntungan yang dikenakan pajak.

4) Asas Economy (asas efisien atau asas ekonomis)

Pemungutan pajak hendaknya dilakukan sehemat/seefisien

mungkin, jangan sampai biaya pemungutan pajak lebih besar dari penerimaan pajak.

Dalam dokumen ELYSA ADE NURSETIA F3409028 (Halaman 34-41)

Dokumen terkait