BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi
2.2.7 Teori Pertumbuhan Baru
Para pembuat teori baru seperti Romer (1975) menganggap bahwa inovasi dan perubahan teknologi yang meningkatkan produktivitas kapital dan tenaga kerja adalah faktor utama bagi proses pertumbuhan. Paul Romer percaya bahwa jika teknologi adalah endogen, atau dijelaskan dalam model, para ekonom akan bisa menjelaskan hal-hal yang gagal diterangkan dalam model pertumbuhan Neo-Klasik (dalam model Neo-Neo-Klasik, teknologi diasumsikan eksogen). Ketika tingkat teknologi diperbolehkan bervariasi, kita akan bisa menerangkan bagaimana negara maju mempunyai tingkat yang lebih tinggi daripada negara berkembang. Dengan teknologi yang bisa berbeda-beda tersebut, konvergensi antara negara maju dengan negara berkembang akan ditentukan oleh kecepatan persebaran ilmu pengetahuan.
Para pembuat teori Neo-Klasik mengasumsikan bahwa teknologi adalah barang publik global, sehingga semua manusia bisa menggunakan teknologi baru pada waktu yang sama. Para ekonom pertumbuhan yang baru beranggapan bahwa penemuan teknologi dipengaruhi oleh R&D industri serta kebijakan pemerintah di negara berkembang, sedangkan dalam teori pertumbuhan klasik maupun neoklasik, peran pemerintah adalah minimal. Para ekonom klasik mengasumsikan bahwa inovator tidak menerima keuntungan monopoli dari penemuan mereka. Para ekonom baru menganggap bahwa para inovator akan menikmati posisi monopoli meskipun untuk sementara, karena individual dan perusahaan bisa memperoleh hak paten untuk menghalangi penggunaan pesaingnya. Para ekonom
Neo-Klasik menekankan pentingnya upaya pembentukan kapital. Para ekonom pertumbuhan yang baru, di sisi yang lain, menekankan pentingnya perekonomian eksternal sebagai sumber akumulasi kapital.
2.3 Pengangguran
2.3.1 Definisi dan Klasifikasi Pengangguran
Satu di antara masalah paling serius yang dihadapi negara-negara berkembang adalah pertumbuhan angkatan kerja yang lebih cepat dibanding pertumbuhan kesempatan kerja, yang berujung pada pengangguran. Pengangguran merupakan masalah ketenagakerjaan yang dialami banyak negara termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.
Pengangguran terbuka (open unemployment) atau secara umum disebut dengan pengangguran, adalah penduduk berusia kerja yang tidak mempunyai pekerjaan apapun, yang secara aktif mencari pekerjaan. Pengangguran di negara-negara berkembang bisa dipilah kedalam dua kelompok, yaitu pengangguran perkotaan dan pedesaan.
Jenis pengangguran yang lain adalah underemployment, yaitu mereka yang bekerja lebih sedikit daripada yang mereka inginkan. Underemployment ini bisa berwujud dua bentuk. Pertama, para pekerja yang terpaksa bekerja dalam jam yang pendek sebagai sebuah alternatif dari pada tidak bekerja (visible underemployment). Kedua, mereka yang terpaksa bekerja dalam bidang pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang dengan pendidikan atau kualifikasi yang lebih rendah dari yang dimilikinya (invisible underemployment).
Ada tiga bentuk underemployment yang kelihatan aktif bekerja tetapi tidak secara penuh yaitu (sukirno, 2004) :
1. Pengangguran tidak kentara (disguised unemployment). Banyak orang yang tampak bekerja di tanah pertanian atau di kantor pemerintah dengan waktu penuh (dari pagi sampai sore) meskipun jasa yang mereka berikan jauh dari yang sebenarnya bisa diberikan sepanjang waktu tersebut.
2. Pengangguran tersembunyi (hidden unemployment) . Golongan ini terdiri dari mereka yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan khusus seperti pendidikan dan rumah tangga, sebagai sebuah ‘pilihan kedua’ karena kesempatan kerja: (a) tidak tersedia pada tingkat pendidikan yang dimiliki; atau (b) tidak terbuka bagi wanita, menyangkut masalah diskriminasi. Lembaga pendidikan dan rumah tangga tersebut menjadi ‘ladang pekerjaan terakhir’. Termasuk juga di sini para siswa yang ‘terpaksa’ melanjutkan sekolah lagi, karena mencari pekerjaan saat ini tampaknya tidak mungkin.
3. Para pensiunan dini (premateurely retired). Fenomena ini khususnya terjadi di jasa sipil atau kantor-kantor pemerintah. Di kebanyakan negara berkembang, usia pensiun dipercepat dalam rangka memberi kesempatan kerja bagi pemuda.
2.3.2 Jenis-jenis Pengangguran Berdasarkan Penyebabnya
Dilihat dari sebab-sebab timbulnya, pengangguran dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis sebagai berikut (sukirno, 2004) :
Pengangguran friksional (frictional unemploymen) adalah jenis pengangguran yang timbul akibat dari adanya perubahan di dalam syarat-syarat kerja yang terjadi seiring dengan perkembangan atau dinamika ekonomi yang terjadi. Jenis pengangguran ini dapat pula terjadi karena berpindahnya orang-orang dari satu daerah ke daerah lain atau dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain atau melalui berbagai tingkat siklus kehidupan yang berbeda.
Pengangguran struktural (structural unemploymrnt) adalah jenis pengangguran yang terjadi sebagai akibat adanya perubahan di dalam struktur pasar tenaga kerja yang menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian antara penawaran dan permintaan tenaga kerja. Ketidakseimbangan dalam pasar tenaga kerja yang terjadi antara lain karena adanya peningkatan permintaan atas satu jenis pekerjaan, sementara jenis pekerjaan lainnya permintaannya mengalami penurunan dan penawaran itu sendiri tidak dapat melakukan penyesuaian dengan cepat terhadap situasi tersebut.
Pengangguran siklus (cyclical unemployment) adalah jenis pengangguran yang terjadi sebagai akibat merosotnya kegiatan ekonomi atau karena terlampau kecilnya permintaan efektif agregat (aggregate effective demand) di dalam perekonomian dibanding dengan penawaran agregat. Singkatnya, pengangguran siklis adalah
pengangguran di atas tingkat alamiah (above the natural rate) atau pengangguran yang terjadi ketika output berada di bawah tingkat kesempatan kerja penuh (below full employment level).
Pengangguran teknologi. Pengangguran dapat pula ditimbulkan oleh adanya penggantian tenaga manusia oleh mesin-mesin dan bahan kimia. Dalam pertumbuhan industri kita bisa mengamati bahwa teknologi yang dipakai dalam proses produksi selalu berubah. Perubahan teknologi produksi membawa dampak kesempatan kerja ke berbagai arah. Kekuatan substantif dan kekuatan mengubah spesifikasi jabatan yang ditimbulkan membawa dampak negatif bagi kesempatan kerja berupa pengangguran. Sebagai contoh dapat disebutkan adanya perubahan lokomotif tenaga uap menjadi lokomotif diesel sehingga tidak lagi dibutuhkan tukang api. Bila tukang api tidak cepat menguasai keterampilan yang baru, maka kemungkinan ia tergusur oleh perubahan teknologi.
2.3.3 Faktor Penyebab Pengangguran di Negara-negara Berkembang a. Kebijakan Pemerintah yang Tidak Tepat
Beberapa peneliti pembangunan ekonomi mencoba menganalisis sukses pertumbuhan kesempatan kerja di perekonomian yang tumbuh pesat di Asia Timur, dan juga stagnasi kesempatan kerja di negara-negara Afrika dan Dunia Ketiga yang lain. Cerita sukses peningkatan kesempatan kerja di beberapa negara Asia Timur adalah sebagai berikut (Kusumo Siwindo, 1981) :
Perekonomian-perekonomian di negara berkembang dianggap mempunyai dua sektor, yaitu sektor subsisten yang diasumsikan dan dicirikan sebagai sektor yang lamban, tradisional, terbelakang, dan banyak mempunyai pengangguran tidak kentara dan sektor modern berupa pertambangan, perkebunan, dan industri. Pembangunan kemudian disusun dengan strategi perluasan sektor modern melalui akumulasi kapital. Pertumbuhan sektor modern akan menyerap angkatan kerja dari sektor tradisional sampai pada akhirnya tidak ada lagi yang tersisa.
Berbeda dengan kondisi di beberapa negara berkembang yang lain, kesempatan kerja sektor formal berkembang sangat lambat bahkan menurun. Beberapa ekonom mengatakan bahwa hal ini merupakan akibat dari perubahan teknologi yang berasal dari negara-negara industri maju. Di negara-negara maju teknik-teknik produksi dikembangkan menjadi sangat padat kapital mengingat semakin mahalnya tenga kerja di sana. Di negara maju penggunaan teknologi padat kapital adalah pilihan yang benar jika dibandingkan dengan penggunaan teknologi padat tenaga kerja. Namun di negara berkembang yang kaya tidak selalu demikian. Strategi inilah yang telah dilakukan NICs Asia Timur dengan begitu suksesnya dan kemudian diikuti oleh negara-negara sekawasan ketika pembangunan industri mulai tersebar. Kebijakan pemerintah di negara-negara tersebut dilakukan untuk mempromosikan industry-industri yang paling sesuai pada kepemilikan faktor produksinya, dalam hal ini tenaga kerja.
Di kebanyakan negara Afrika dan negara-negara berkembang lainnya, kasusnya tidak seperti itu. Mereka justru mengadopsi kebijakan yang protektif yang kemudian mendorong penggunaan teknologi yang padat kapital. Dorongan fiskal pada bentuk investasi yang padat kapital ini disebabkan oleh kepercayaan
yang salah bahwa segala sesuatu yang mendorong investasi kapital pasti akan meningkatakan kesempatan kerja. Namun kenyataannya, dengan teknologi yang tidak tepat, jumlah kesempatan kerja yang diciptakan sangat kecil. Kebijakan lain yang tidak tepat adalah kecilnya upaya pelatihan tenaga kerja yang menyebabkan langkanya penduduk yang berskil. Keadaan ini akan mendorong pengusaha untuk memilih proses yang mekanis.
b. Distorsi Harga Faktor Produksi b.1 Tingginya Upah di Sektor Modern
Upah yang berlaku untuk tenaga kerja tak berskil di sektor modern di negara-negara berkembang seringkali melebihi tingkat upah keseimbangan pasar karena adanya kebijakan upah minimum dari pemerintah, tekanan serikat pekerja, dan perusahaan asing yang beroperasi di negara tersebut yang biasanya menentukan upah lebih tinggi dari tingkat upah domestik. Pemerintah sering berinisiatif memberlakukan kebijakan upah minimum dengan argumentasi untuk membantu para pekerja miskin. Sering pula kebijakan pemerintah tersebut merupakan pengaruh dari dari tekanan serikat buruh. Sementara itu, perusahaan asing yang berlokasi di negara tersebut biasanya memang memberikan upah yang meskipun di bawah standar negara mereka, tetapi lebih tinggi dari standar domestik untuk memastikan mendapatkan tenaga kerja berkualitas dan akhiranya mendorong tingkat upah domestik untuk ikut meningkat.
Jika dihitung secara kasar di seluruh negara berkembang, pendapatan per pekerja dari uaph minimum resmi ternyata beberapa kali lebih tinggi daripada pendapatan per kapita negara tersebut. Hal ini akan menyebabkan pengangguran
yang lebih tinggi karena beberapa studi menunjukkan tingkat upah yang tinggi akan mengurangi penyerapan tenaga kerja.
b.2 Rendahnya Biaya Kapital
Beberapa kebijakan pemerintah telah membuat biaya kapital di negara-negara berkembang menjadi rendah, misalnya kebijakan mendorong investasi dengan mengenakan subsidi tingkat bunga dan potongan pajak, atau kebijakan menjaga tingkat kurs lebih rendah dari keseimbangan pasar. Kurs yang rendah membuat harga barang impor, termasuk barang-barang kapital menjadi murah. Kebijakn ini ditunjang pula dengan kebijakan pemerintah di negara-negara berkembang untuk memprioritaskan impor barang-barang kapital (supaya impornya tidak berupa barang konsumsi, tetapi barang-barang produktif), sehingga sempurna mendorong pengusaha untuk mengimpor barang-barang kapital bagi perusahaannya, dan akhirnya mengadopsi teknologi padat kapital yang akan menyerap sedikit tenaga kerja.
c. Pengangguran Penduduk Berpendidikan Tinggi
Pengangguran tenaga kerja berpendidikan di negara-negara berkembang tersebut disebabkan karena lapangan kerja tidak sesuai dengan kurikulum yang diajarkan di bangku sekolah. Salah satu sebabnya adalah karena kurikulum yang disusun di negara-negara berkembang tersebut lebih condong ke ilmu sosial yang lebih mudah diselenggarakan daripada ilmu-ilmu alam dan teknik yang sebenarnya lebih dibutuhkan dibanyak perusahaan. Di sisi lain para lulusan tersebut lebih suka memilih untuk pekerjaan yang mereka rasakan cocok dengan pendidikan mereka yang menolak untuk bekerja di bidang lain, terutama jika
bayarannya di bawah standar yang mereka inginkan. Pengangguran jenis ini mempunyai kompleksitasnya sendiri.
2.4 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)