• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Teori Pertumbuhan Harrod-Domar

Harrod Domar adalah ahli ekonomi yang mengembangkan analisis Keynes yang menekankan tentang perlunya penanaman modal dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu menurutnya setiap usaha ekonomi dapat menyisihkan proporsi tertentu dari pendapatan nasional untuk mengganti barang-barang modal (gedung, peralatan, material) yang rusak. Sehingga diperlukan tambahan stok modal yang akan digunakan dalam investasi baru.

Menurut Harrod Domar ada hubungan ekonomi yang langsung antar besarnya stok modal(K) dan jumlah produksi nasional (Y). Teori yang dikembangkan adalah konsep capital output ratio (COR) atau sering juga disebut koefisien modal menunjukkan hubungan antar besarnya investasi (modal) dengan nilai output .

Pertumbuhan output secara positif berhubungan dengan rasio tabungan. Makin tinggi tabungan dan diinvestasikan, makin tinggi pula output yang dihasilkan. Sedangkan hubungan antara COR dengan tingkat pertumbuhan output adalah negatif dimana semakin besar COR maka semakin rendah tingkat pertumbuhan output.

Dalam Arsyad (2000:234) Teori Harrod Domar menganalisis syarat- syarat yang diperlukan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang. Dengan kata lain, teori ini berusaha menunjukkan syarat yang dibutuhkan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dengan mantap (steady growth).

Sukirno (1976: 131) mengemukakan dua aspek penting dalam teori Harrod-Domar dalam usaha untuk menyusun strategi pembangunan di negara sedang berkembang. Pertama, teori tersebut menekankan analisanya pada syarat untuk mencapai penggunaan alat modal yang tersedia secara maksimal (full capacity). Pada umumnya negara sedang berkembang memiliki modal yang terbatas tetapi jumlah tenaga kerjanya sangat berlebihan, mengakibatkan full capacity dalam penggunaan alat modal sudah tercapai jauh sebelum kesempatan kerja penuh tercipta. Akibatnya pertumbuhan melebihi laju tingkat pertumbuhan yang dikehendaki sehingga perlu diperhatikan dalam menciptakan kebijaksanaan pembangunan.

Selanjutnya aspek kedua teori ini memberikan penjelasan dan menunjukkan tentang peranan modal dalam pembangunan dan sampai dimana pertumbuhan alat produksi akan menciptakan pembangunan. Dalam perencanaan pembangunan teori ini dapat menaksir besarnya jumlah dan tingkat investasi atau modal yang diperlukan pada suatu waktu tertentu untuk mencapai suatu tingkat pertumbuhan ekonomi tertentu.

Harrod-Domar memberikan peranan kunci pada investasi di dalam proses pertumbuhan ekonomi, khususnya mengenai sifat yang dimiliki oleh investasi yakni; pertama, investasi menciptakan pendapatan. Kedua, investasi memperbesar kapasitas produksi perekonomian dengan cara meningkatkan stok modal. Yang pertama disebut “dampak permintaan” dan yang kedua disebut “dampak penawaran” dari investasi. Karena itu selama investasi netto tetap berlangsung, pendapatan nyata tetap berlangsung,

pendapatan nyata dan output akan senantiasa menyesuaikan. Baik pendapatan maupun output tersebut keduanya harus meningkat kedalam laju yang sama pada saat kapasitas produksi meningkat (Jhingan, 1988:291). a. Pengertian konsep Capital – Output Ratio

Secara analistis COR berguna dalam menunjukkan arti penting modal di dalam pembangunan ekonomi dikemukakan oleh Arsyad (1999:244). COR merupakan konsep penting yang berguna bagi perencanaan ekonomi di Negara sedang berkembang. Pentingnya COR akan tampak ketika diuji konsistensinya antara target pertumbuhan ekonomi dengan tambahan modal, dalam rangka memperkirakan kebutuhan keuangan untuk mencapai pertumbuhan diperlukan adanya perkiraan mengenai volume investasi yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran pertumbuhan output tersebut. Dengan demikian, COR dapat dipakai untuk menentukan laju pertumbuhan suatu perekonomian.

Konsep COR ada 2 macam yaitu average capital-output ratio (ACOR) dan incremental capital-output ratio (ICOR). ACOR menunjukkan hubungan antara stok modal yang ada dengan aliran output lancar yang dihasilkan. Sedangkan ICOR menunjukkan hubungan antara jumlah kenaikan output (pendapatan) ∆Y yang disebabkan oleh kenaikan tertentu pada stok modal ∆K. ICOR dapat digambarkan sebagai ∆K/∆Y.

ACOR menunjukkan hubungan antara segala sesuatu yang telah diinvestasikan pada masa lalu dengan keseluruhan pendapatan. Sedangkan ICOR menunjukkan segala sesuatu yang saat ini ditambahkan pada modal

atau pendapatan. ACOR merupakan konsep statis , sementara ICOR merupakan konsep dinamis. Istilah COR sebagaimana sering digunakan dalam ilmu ekonomi biasanya berkaitan dengan ICOR.

Konsep COR dapat diterapkan tidak hanya pada perekonomian secara keseluruhan, tetapi juga di berbagai sektor perekonomian. Besarnya COR tergantung pada teknik produksi yang digunakan. Pada sektor produksi yang menggunakan teknik produksi bersifat padat modal memiliki COR yang tinggi. Sebaliknya, pada sektor yang menggunakan teknik padat karya memiliki COR yang rendah. COR memberikan hasil yang lebih berarti dalam jankgka panjang ketimbang dalam jangka pendek. Secara analitis COR berguna dalam menunjukkan arti penting modal di dalam pembangunan ekonomi (Aryad, 1999:251).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya COR

Besarnya COR pada suatu perekonomian tidak hanya tergantung pada jumlah modal yang dipergunakan tetapi juga pada faktor-faktor lain, faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut (Arsyad, 1999:239-242) : 1) Ketersediaan sumberdaya alam dan pertumbuhan penduduk

Suatu daerah dengan sumberdaya alam yang melimpah akan mempunyai COR rendah, karena daerah tersebut menggantikan modal dengan sumber daya yang ada. Selain itu jika suatu daerah dengan pertumbuhan penduduk yang cepat akan menyebabkan COR cenderung rendah, karena pertumbuhan penduduk menyebabkan tabungan modal yang besar pada prasarana sosial.

2) Tingkat dan sifat kemajuan teknologi

Kemajuan teknologi terpacu karena banyaknya inovasi, maka COR cenderung meningkat. Sifat kemajuan teknologi berkaitan dengan inovasi padat modal dan padat karya. COR akan cenderung naik jika teknologi bersifat padat modal. Pada sisi lain, COR akan cenderung turun jika inovasi teknologi bersifat padat karya.

3) Laju dan komposisi investasi

Semakin tinggi laju investasi baru maka COR akan semakin tinggi pula. Pola investasi dalam suatu perekonomian tergantung pada kebijaksanaan pemerintah. Jika pemerintah merencanakan pengeluaran besar di bidang pelayanan umum dan barang publik maka COR akan tinggi. Hal yang sama juga akan terjadi jika pembangunan dilakukan di sektor-sektor industri dasar dan industri berat. COR akan rendah jika pola investasi lebih ditekankan pada pembangunan pertanian dan perindustrian rakyat yang padat karya.

4) Efisiensi penggunaan faktor produksi

Tingkat efisiensi yang rendah dalam menggunakan barang modal baru akan menyebabkan COR menjadi tinggi, sebaliknya jika tingkat efisiensi yang tinggi dalam penggunaan faktor produksi maka COR ekan rendah.

5) Keterampilan Manajerial dan Organisasional

Dalam suatu daerah jika kualitas keterampilan manajerial dan organisasionalnya tinggi, memiliki COR rendah. Sebaliknya, jika

kuantitas dan kualitas kewiraswastaan rendah, maka COR akan tinggi. Semakin efisien penggunaan sumberdaya, terutama modal , maka akan menurunkan COR.

6) Kebijakan harga faktor produksi

Suatu perubahan harga (upah, suku bunga, sewa dan sebagainya) akan mempengaruhi besarnya COR. Penurunan suku bunga, dengan harga faktor produksi lainnya konstan, mungkin akan meningkatkan permintaan investasi akan modal sehingga menaikkan COR. Demikian pula dengan kenaikan upah , sementara hal-hal lainnya tetap sama. COR akan naik jika ada kemungkinan modal digantikan dengan tenaga kerja.

7) Kebijaksanaan Ketenagakerjaan

Kebijaksanaan pemerintah yang mengarah pada penyerapan pengangguran pada industri besar, khususnya industri manufaktur, maka COR akan lebih kecil. Hanya sedikit sekali modal dan tenaga kerja yang akan digunakan pada industri seperti itu bila dibandingkan dengan pekerjaan umum.

8) Kemajuan Industrialisasi

Kemajuan industrialisasi cenderung menaikkan COR. Industrialisasi menyebabkan urbanisasi, akibatnya COR terdorong naik dimana investasi yang diperlukan untuk pembangunan perumahan dan prasarana umum banyak membutuhkan modal.

9) Penggunaan prasarana sosial dan ekonomi

Pada tahap awal pembangunan ekonomi ada kecenderungan bahwa investasi lebih banyak ditanamkan pada pembangunan prasarana sosial dan ekonomi sehingga COR cenderung tinggi. Tetapi dengan berjalannya waktu, pemanfaatan prasarana sosial dan ekonomi secara maksimum akan menciptakan eksternalitas ekonomi dan menyebabkan kenaikan penghasilan. Selanjutnya menyebabkan pemanfaatan maksimal peralatan modal yang ada sehingga menaikkan output, dan akibatnya COR akan menurun.

c. Incremental capital output ratio (ICOR)

Teori Harrod-Domar menerangkan syarat yang harus dipenuhi supaya suatu perekonomian dapat mencapai pertumbuhan yang teguh atau steady growth dalam jangka panjang. Syarat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang teguh akan mencapai kapasitas penuh dalam jangka panjang. Pertumbuhan itu sendiri bisa direalisasikan dengan menetapkan tingkat efisiensi pembangunan lewat formula besaran ICOR (Incremental Capital Output Ratio) dimana menunjukkan besarnya tambahan kapital dengan tambahan output. Karena unit kapital bentuknya berbeda-beda sementara unit output relatif tidak berbeda, maka untuk memudahkan perhitungan keduanya dinilai dalam bentuk uang (nominal). ICOR dapat merefleksikan besarnya produktifitas kapital yang pada akhirnya menyangkut besarnya pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai

dan kebutuhan dana investasi yang diperlukan untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi (ICOR Kab. Bandung, 2008:7).

Dokumen terkait