Secara individu dan komunal, manusia dihadapkan pada proses perubahan, langsung maupun tidak langsung. Begitu pula yang terjadi di masyarakat, Masyarakat senantiasa dihadapkan pada pola yang berbeda antara generasi satu terhadap generasi lain. Laksana sebuah peristiwa yang sulit untuk dibendung keberadaannya, perubahan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan, individual maupun kolektif. Perubahan masyarakat terkait erat dengan kebudayaannya,
serta saling memengaruhi. Dapat dikatakan bahwa perubahan merupakan karakteristik umum dari semua kebudayaan dan masyarakat.
Dinamika perubahan yang terjadi pada
masyarakat senantiasa melahirkan sesuatu yangbaru dalam kehidupannya. Akan tetapi, tingkat perubahan tersebut akan mengalami perbedaan satu sama lain. Sulasman dan Gumilar (2013) menyatakan, hal ini disebabkan oleh sosiokultur yang ada di masyarakat berbeda satu dengan yang lainnya. Perubahan dapat menentukan keberadaan suatu masyarakat, apakah akan muncul mengikuti arus perubahan ataupun mengalami penurunan yang diakibatkan
ketidakpastian sumber daya manusia, karakter sosiokultur yang tidakmendukung, dan faktor-faktor lainnya.
Lauer (dalam Sulasman dan Gumilar, 2013) menyatakan, bahwa perubahan perubahan sosial merupakan prasayarat untuk memahami struktur masyarakat sebagai setiap yang berada dalam keseimbangan dan mencoba menganalisis aspek sosial dari sistem itu dan mengakui bahwa
keseimbangan itu hanya dapat dipertahankan melalui perubahan tertentu. Proses perubahan bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti akulturasi, asimilasi, dan difusi. Perubahan kebudayaan terjadi melalui mekanisme yang berbeda-beda. Salah satu faktor yang memengaruhi perubahan kebudayaan yang banyak menjadi perhatian para ahli adalah adanya penemuan dan gejala persebaran unsur-unsur kebudayaan baru. Sulasman dan Gumilar (2013)
menyatakan, untuk mengenali karakterisitik unsur kebudayaan dan perubahan kebudayaan terdapat beberapa teori diantaranya adalah teori evolusi dan difusi.
a. Teori Evolusi
Perubahan sosio-kultur pada suatu
masyarakat merupakan keniscayaan dan tidak dapat dielakan, disebabkan oleh adanuya
perubahan pada masyarakat. Perubahan ini dapat dikatakan sebagai salah satu cara dari suatu masyarakat untuk bertahan (survive) atau mempertahankan diri. Oleh karena itu,
masyarakat tidak pernah statis, selalu dinamis berubah dari suatu keadaan ke keadaan lainnya yang disebabkan oleh berbagai faktor. Perubahan ini dimaksudkan sebagai wujud tanggapan
manusia terhadap tantangan lingkungannya.
Menurut Tylor (dalam Sulasman dan Gumilar , 2013) kebudayaan manusia dalam sejarah
evolusinya berjalan melalui tiga tahap
perkembangan dan masing-masing tahapan dibedakan berdasarkan unsur ekonomi dan teknologi yang mereka gunakan, ketiga tahapan perkembangan kebudayaan manusia tersebut adalah savagery, barbarian, dan civilization. Pada tahappertamaa (savagery), manusia hanya
bertahan hidup dengan cara berburu dan meramu dengan menggunakan peralatan yang mereka ciptakan dari benda-benda yang ada disekitar mereka. Berkembang kemudian menuju tahap kedua (barbarian) yang ditandai dengan mulainya
manusia mengenal cocok tanam. Karena mulai memahami cara menanam, mereka berpikir untuk menjaga agar tanaman tersebut dapat dipelihara dan dimanfaatkan hasil sehingga mereka mulai hidup menetap. Tahap kedua ini juga ditandai dengan perkembangan peralatan mereka dariyang semula dengan kayu atau tulangdan batu menjadi terbuat dari logam. Selanjutnya, berkembang menjaditahap ketiga (civilization) atau peradaban yang ditandai dengan pengenalan manusia
dengan tulisan, kehidupan perkotaan dan kemampuan mereka membangun bangunan-bangunan besar yangsebelumnya belum pernah ada. Di tahap ketiga ini pun akan terjadi lagi suatu proses evolusi dalam masyarakat dan memiliki kompleksitas.
Evolusi budaya merupakan proses perubahan budaya dari waktu kewaktu dan dari satu wilayah kewilayah yang lain beserta interaksi dan saling keterpengaruhan satu sama lainnya. Fakta tentang evolusi budaya tersebut dapat diamati dalam banyak hal, seperti perubahan norma, bahasa, teknologi, gaya hidup hingga ke dinamika dalam sistem ekonomi.
Harus disadari bahwa sistem sosial tersusun atas banyak individu yang secara aktif
berinteraksi dan saling memengaruhi satu sama lain, saling bertukar informasi dan kemudian menstransmisikannya satu sama lain, baik intra maupun inter-generasi. Dalam keadaan
beradaptasi dengan kondisi lingkungannya dan kemudian berubah secara dinamis dan
beradaptasi dengan perubahan lingkungan tersebut.
Evolusi kultur harus dilihat sebagai pola dinamis dengan menyadari bahwa dasarnya kultur terdiri atas sistem bertingkat yang di dalamnya mengandung berbagai elemen kultur tertentu yang senantiasa berubah secara dinamis, dan perubahan ini terjadi karena adanya proses
asimilasi, akulturasi, komunikasi maupun interaksi antar individu. Sulasman dan Gumilar
(2013)menjelaskan, Evolusi menggambarkan bahwa perubahan kebudayaan terjadi secara perlahan-lahan dan bertahap. Setiap masyarakat mengalami proses evolusi yang berbeda-beda sehingga evolusi budaya dapat dijelaskan melalui dua teori yakni evolusi universal dan evolusi kebudayaan multilinier.
1) Evolusi universal
Menurut White (dalam Sulasman dan Gumilar , 2013), kebudayaan yang ada dalam masyarakat merupakan dampak atau hasil dari pemakaian atau penggunaan energi dan
teknologi yang mereka gunakan dalam kehidupan mereka pada fase-fase
perkembangannya. Dengan rumusan yang disebutnya sebagai “hukum” evolusi
kebudayaan ini, White (dalam Sulasman dan Gumilar , 2013) sampai pada sebuah
kebudayaan dalam sebuah komunitas merupakan hasil dari mengemukanya perubahan dalam sistem yang melakukan transformasi energi dengan bantuan teknologi yang ada saat itu.
Menurut White ((dalam Sulasman dan Gumilar, 2013) teori evolusi bersifat objektif, menurutnya pada dasarnya setiap kebudayaan adalah sistem yang melakukan transformasi energi. White menyebutnya sebagi sebuah “hukum” evolusi kebudayaan, rumusnya yaitu C = E x T. Penjelasannya adalah Cmerupakan kebudayaan (culture), E adalah energi (energy), dan T adalah teknologi (technology). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam teori mengenai evolusi kebudayaan ini terdapat beberapa konsep baru “thermodinamika” (sistem yang melakukan transformasi energi), energi dan transformasi.
2) Evolusi kebudayaan multilinier
Teori evolusi multilinier digunakan untuk mengkaji perbedaan dan kesamaan suatu budaya dengan cara memperbandingkan antara tuntunan perkembangan kebudayaan yang sejalan yang terdapat di tempat-tempat terpisah. Menurut Steward (dalam Sulasman dan Gumilar , 2013) bahwa tidak berjalannya perkembangan kebudayaan dalam sebuah komunitas, disebabkan karena suku / masyarakat tertentu telah mengalami penyesuaian atau beradaptasi dengan
lingkungan tempat tinggal dan menetap dalam keseharian mereka.
Menurut teori multilinier, terjadinya
evolusi kebudayaan berhubungan erat dengan kondisi lingkungan, bahwa setiap kebudayaan memiliki culture core, berupa teknologi dan organisasi kerja. Dengan demikian, terjadinya evolusi dalm sebuah kebudayaan ditentukan oleh adanya interaksi yang terjalin antara kebudayaan dan lingkungan yang ada di dalamnya. Pokok pikiran dari teori evolusi multilinier adalah bahwa kebudayaan yang memiliki inti kebudayaan yang kurang lebih sama akan berevolusi mengikuti suatu rangkaian evolusi yang sama meskipun berbeda dalam detail spesifiknya. b. Teori Difusi
Difusi kebudayaan dimaknai sebagai
persebaran kebudayaan yang disebabkan adanya migrasi manusia.Perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, akan menularkan budaya tertentu. Hal ini akan semakian tampak dan jelas kalau perpindahan manusia itu secara kelompok dan atau besar-besaran, di kemudian hari akan menimbulkan difusi budaya yang luar biasa. Setiap ada persebaran kebudayaan, di situlah terjadi penggabungan dua kebudayaan atau lebih. Akibat pengaruh kemajuan
teknologi-komunikasi, juga akan mempengaruhi terjadinya difusi budaya. Keadaan ini memungkinkan
kebudayaan semakin kompleks dan bersifat multikultural. Dengan adanya penelitian difusi,
maka akan terungkap segala bentuk kontak dan persebaran budaya sampai ke wilayah yang kecil-kecil. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kontribusi pengkajian difusi terhadap kebudayaan manusia bukan pada aspek historis budaya
tersebut, melainkan pada letak geografi budaya dalam kewilayahan dunia.
Seperti telah disebutkan pada paparan
mengenai lanjutan teori evolusi sepeninggal Tylor dan Morgan bahwa teori evolusi mendapat dua jenis kritikan yang salah satunya menentang keras pandangan teori tersebut. Ide awal adanya teori difusi kebudayaan ini dilontarkan pertama kali oleh G. Elliot Smith (1871-1937) dan WJ. Perry (1887-1949), dua orang ahli antropologi asal Inggris.
Setelah membaca dan mempelajari banyak catatan sejarah serta benda-benda arkeologis mengenai kebudayaan-kebudayaan besar yang pernah ada di muka bumi, kedua tokoh ini sampai pada suatu tekad untuk mengajukan sebuah teori yang mereka namakan Heliolithic Theory. Menurut keduanya, berdasarkan teori yang mereka ajukan ini, peradaban-peradaban besar yang pernah ada di masa lampau merupakan hasil persebaran yang berasal dari Mesir. Hal ini karena berdasarkan kajian keduanya, pernah terjadi suatu peristiwa difusi yang sangat besar di masa lampau yang berpusat di Mesir. Persebaran dari titik utama di Mesir ini kemudian bergerak ke arah timur yang
meliputi daerah-daerah terjauh seperti India, Indonesia dan Polinesia hingga mencapai Amerika. Orang-orang Mesir yang disebut dengan ‘putra-putra dewa matahari’ ini melakukan perpindahan dengan cara menyebar ke berbagai tempat
tersebut dalam usaha mereka untuk mencari logam mulia dan batu mulia seperti emas, perak dan permata.