• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Pilihan Rasional

Dalam dokumen Proposal S3 Dan Mansyur Radjab (Halaman 32-35)

Teori pilihan rasional berakar dari teori tindakan individu sebagaimana diperkenalkan oleh Homans (Poloma, 1979) dan Weber (1962a, 1968b, 2002c), kemudian dikembangkan dalam teori pertukaran sosial sebagaimana dapat ditelusuri dalam pemikiran Blau (Poloma, 1979). Selanjutnya, teori pilihan rasional ini mendapat tempat pembahasan penting dalam teori-teori sosiologi sebagaimana dikembangkan oleh Coleman (dalam Ritzer dan Goodman, 2004:394-395) oleh karena, teori pilihan rasional dapat menjelaskan fenomena struktur melalui tindakan individu atau dalam perspektif sosiologi disebut menghubungkan perspektif makro dan mikro.

Hal terpenting sebelum membahas teori pilihan rasional Coleman adalah menelusuri pemikiran Weber (dalam Johnson, 1981:220-221) tentang tindakan rasional yang membagi atas rasional instrumental dan rasionalitas nilai. Rasional instrumental dimaksudkan, seseorang melakukan pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan tujuan tindakan itu dan alat yang dipergunakan. Individu dilihat sebagai memiliki macam-macam tujuan yang mungkin diinginkannya, dan atas dasar suatu kriterium menentukan satu pilihan di antara tujuan-tujuan yang saling bersaingan ini. Individu itu lalu menilai alat yang mungkin dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang dipilih tadi. Sedangkan, tindakan rasional yang berorientasi nilai adalah bahwa alat-alat hanya merupakan obyek pertimbangan dan perhitungan yang sadar, tujuan-tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau merupakan nilai akhir baginya. Nilai-nilai akhir bersifat nonrasional dan komitmen terhadap nilai-nilai ini adalah sedemikian sehingga pertimbangan-pertimbangan rasional mengenai kegunaan, efisiensi, dan sebagainya tidak relevan. Tindakan religious mungkin merupakan bentuk dasar dari rasionalitas yang berorientasi nilai ini.

Di samping dua tindakan rasional tersebut, Weber (dalam Johnson, 1981:221) membandingkan dengan dua tindakan nonrasional yaitu tindakan tradisional dan tindakan afektif. Tindakan tradisional yaitu seorang individu memperlihatkan perilaku karena kebiasaan, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan. Individu selalu bertindak dengan cara seperti itu atau perilaku seperti itu merupakan kebiasaan baginya. Apabila kelompok-kelompok atau seluruh masyarakat didominasi oleh orientasi ini, maka kebiasaan dan institusi mereka diabsahkan atau didukung oleh kebiasaan atau tradisi yang sudah lama mapan yang diterima begitu saja tanpa persoalan. Akan tetapi, menurut Weber tipe tindakan ini sedang hilang lenyap karena meningkatnya rasionalitas instrumental. Selanjutnya, tindakan afektif yaitu, tipe tindakan yang didominasi oleh perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. Tindakan tersebut dikatakan benar-benar tidak rasional karena kurangnya pertimbangan logis, ideologi, atau kriteria rasionalitas lainnya.

Perasaan meluap-luap seperti cinta, kemarahan, ketakutan atau kegembiraan, dan secara spontan mengungkapkan perasaan itu tanpa refleksi, berarti sedang memperlihatkan tindakan afektif.

Relevan dengan tindakan rasional tersebut, Coleman mengembangkan melalui teori pilihan rasional yang menyatakan bahwa, tindakan perseorangan mengarah kepada sesuatu tujuan dan tujuan itu (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi). Pernyataan Coleman bersumber dari akar pemikiran ilmu ekonomi yang melihat aktor memilih tindakan yang dapat memaksimalkan kegunaan atau yang memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka. Ada dua unsur utama dalam teori Coleman, yakni aktor dan sumber daya, dan menyatakan bahwa basis minimal untuk sistem sosial tindakan adalah dua orang aktor, masing-masing mengendalikan sumber daya yang menarik perhatian pihak yang lain. Perhatian satu orang terhadap sumber daya yang dikendalikan orang lain itulah yang menyebabkan keduanya terlibat dalam tindakan saling membutuhkan, terlibat dalam sistem tindakan. Selaku aktor yang mempunyai tujuan, masing-masing bertujuan untuk memaksimalkan perwujudan kepentingannya yang memberikan cirri saling bergantung atau ciri sistemik terhadap tindakan mereka.

Secara teoretis, teori pilihan rasional Coleman memusatkan perhatian pada hubungan mikro-makro atau bagaimana cara gabungan tindakan individual menimbulkan perilaku sistem sosial serta hubungan makro ke mikro atau bagaimana cara sistem memaksa orientasi aktor. Salah satu hubungan dari mikro ke makro adalah mengakui wewenang dan hak yang dimiliki oleh seorang individu terhadap individu lain. Tindakan ini cenderung menyebabkan subordinasi seorang aktor terhadap aktor lain. Terpenting di sini ialah, pengakuan ini menciptakan fenomena makro paling mendasar, yakni satu unit tindakan yang terdiri atas dua orang, ketimbang dua aorang aktor yang bebas. Akibatnya, struktur berfungsi terbebas dari aktor (Coleman dalam Ritzer dan Goodman, 2004: 395-396).

Sedangkan penjelasan dari makro ke mikro oleh Coleman adalah norma. Meski kebanyakan sosiolog menganggap norma dapat digunakan untuk menerangkan

perilaku individu, namun tidak menerangkan mengapa dan bagaimana cara norma itu terwujud. Atau cara norma muncul dan dipertahankan dalam sekelompok aktor yang rasional. Menurutnya, norma diprakarsai dan dipertahankan oleh beberapa orang yang melihat keuntungan yang dihasilkan dari pengalaman terhadap norma dan kerugian yang berasal dari pelanggaran norma itu. Orang ingin melepaskan pengendalian terhadap perilaku mereka sendiri, tetapi dalam proses, mereka memperoleh pengendalian (melalui norma) terhadap perilaku orang lain. Sebagaimana dinyatakan lebih lanjut bahwa, unsur sentral dari norma adalah melepaskan sebagian hak untuk mengendalikan tindakan diri sendiri seseorang dan menerima sebagian hak unrtuk mengendalikan tindakan orang lain dan itulah yang memunculkan norma. Hasil akhirnya adalah bahwa pengendalian yang dipertahankan setiap orang sendirian akan terdistribusikan secara luas ke seluruh kumpulan aktor yang melaksanakan kontrol itu (Coleman dalam Ritzer dan Goodman, 2004:396-397).

Relevan dengan penelitian ini maka, penjelasan teori pilihan rasional diharapkan dapat menjelaskan terutama fenomena hubungan punggawa-sawi dalam masyarakat petani rumput laut dalam perspektif mikro atau tindakan individu. Penelitian Sallatang (1982) pada masyarakat nelayan Pabiringa Kabupaten Jeneponto memberikan penekanan pada hubungan punggawa-sawi dalam perspektif makro atau struktur fungsional dari Parsons. Dijelaskan bahwa, hubungan punggawa-sawi mengarah pada hubungan patron-klien berdasarkan norma yang telah tertanam kuat dalam masyarakat nelayan sehingga setiap individu harus taat dan patuh dalam menjaga kestabilan dalam masyarakat. Disinilah letak perbedaan penelitian ini dengan Sallatang yang akan memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap norma dalam hubungan punggawa-sawi tidak pada tingkatan struktur akan tetapi pada tingkatan individu secara timbal balik.

Dalam dokumen Proposal S3 Dan Mansyur Radjab (Halaman 32-35)

Dokumen terkait