BAB I PENDAHULUAN
1.6 Kerangka Teori
1.6.2 Teori Politik Luar Negeri
Politik luar negeri merupakan jalan atau metode yang dipilih suatu negara untuk menunjukkan eksistensinya atau mencapai tujuannya di dunia internasional.
Politik luar negeri, sebagaimana didefenisikan oleh Walter Calsnaes yaitu,
“Tindakan-tindakan yang diarahkan ke tujuan, kondisi dan aktor (baik pemerintah atau non pemerintah) yang berada di luar wilayah teritorial mereka dan yang ingin mereka pengaruhi. Tindakan-tindakan tersebut diekspresikan dalam bentuk tujuan-tujuan, komitmen dan/atau arah yang dinyatakan secara eksplisit dan yang dilakukan oleh wakil-wakil pemerintah yang bertindak atas nama negara/komunitas yang berdaulat.”21
Politik luar negeri menjadi bentuk pengejawantahan dari kebijakan pemerintah negara dalam berinteraksi dengan pihak di luar wilayah teritorial negara. Oleh karena itu, dalam proses perumusannya, Politik luar negeri harus memperhitungkan kondisi internal dari negara. Salah satunya adalah kondisi geografis negara tersebut. Potensi geografis dan isinya merupakan aset atau bisa menjadi bargaining point dalam interaksinya dengan negara lain. Termasuk keberadaan sumber daya alam yang ada di Indonesia khususnya Papua.
Rentetan perencanaan hingga kebijakan di forum-foruminternasional tersebut bisa disebut sebagai politik luar negeri suatu negara. Politik luar negeri,
21Walter Carlsnaes dalam Abubakar Eby Hara.2011.Pengantar Analisa Politik Luar Negeri.Bandung:
Nuansa. hal. 13
kemudian menjembatani batas wilayah dalam negeri dan lingkungan internasional. Politik luar negeri itu bisa berupa hubungan diplomatik, mengeluarakan doktrin, membuat aliansi, mencanangkan tujuan jangka panjang maupun jangka pendek.22
Roeslan Abdul Gani juga mengemukakan argumen bahwa “Politik Luar negeri tidak bisa dipandang berdiri sendiri dalam konteks kebijakan, melainkan Politik Luar negeri dari tiap-tiap negara adalah lanjutan dan merupakan refleksi dari politik dalam negeri tersebut.”23 Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan suatu negara dalam berinteraksi di dunia internasional diharapkan dapat mengartikulasikan kepentingan dan kebutuhan di dalam negeri.
Politik Luar Negeri diarahkan pada upaya mengaitkan kebijakan pembangunan nasional dengan langkah-langkah yang ditempuh di tingkat internasional. Namun berbeda dengan politik dalam negeri, Politik Luar Negeri memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Dalam proses pengambilan kebijakan para pengambil keputusan biasanya memiliki sedikit kontrol terhadap situasi dan pengetahuan yang juga sangat terbatas.24
Beberapa defenisi diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa fokus utama dalam mengkaji Politik Luar negeri adalah untuk memperhatikan intensi (maksud), pernyataan dan tindakan aktor yang diarahkan pada dunia eksternal dan
22 Ibid. Hal 20
23 Roeslan Abdul Gani, dalam Ganewati Wulandari dkk.2008. Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik Domestik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Hal. 1
24 Abubakar Eby Hara, loc. cit.
respon dari aktor-aktor lain terhadap intensi, pernyataan dan tindakan ini.25 Kekuasaan coba didistribusikan secara luas kepada semua anggotanya. Persepsi ancaman khusus seperti ancaman militer dapat membantu menjelaskan alasan dalam membentuk aliansi. Selain itu, adanya kedekatan geografis, kesamaan ideologi atau kesamaan ancaman.26
Diplomasi
Diplomasi secara teori yaitu praktek pelaksanaan hubungan antar negara melalui perwakilan resmi. Diplomasi juga merupakan teknik operasional untuk mencapai kepentingan nasional di luar wilayah jurisdiksi sebuah negara.
Sedangkan pengertian lain mengatakan diplomasi sangat erat dihubungkan dengan hubungan antar negara, adalah seni mengedepankan kepentingan suatu negara melalui negosiasi dengan cara-cara damai apabila mungkin dalam berhubungan dengan negara lain.27 Bagi negara manapun, tujuan diplomasi adalah pengamanan kebebasan politik dan integritas teritorialnya. Ini bisa dicapai dengan memperkuat hubungan dengan negara sahabat, memelihara hubungan erat dengan negara yang sehaluan dan menetralisir negara yang memusuhi.
Diplomasi merupakan aplikasi kecerdasan dan kebijaksanaan dalam menerapkan taktik negara yang merdeka dalam hubungan resmi dengan negara lainnya. Beberapa ahli menyimpulkan, unsur diplomasi yaitu negosiasi yang
25 Ibid.
26 Ibid. hal 25
27 Ibid. hal 37
dilakukan untuk mencapai kepentingan nasional dengan tindakan-tindakan diplomatik yang diambil untuk menjaga dan memajukan kepentingan nasional sejauh mungkin bisa dilaksanakan dengan sarana damai, pemeliharaan perdamaian tanpa merusak kepentingan nasional adalah tujuan diplomasi.28
Diplomasi juga bisa dikatakan sebuah jalan untuk menghindari kekerasan dan peperangan dalam menyelesaikan sengketa antar negara. Seperti ungkapan Chausewitz berikut:
“Bila diplomasi berakhir, perang pun dimulai, dan sementara negara-negara berbicara, maka sekurang-kurangnya mereka sedang tidak berlaga”.29
Diplomasi yang berarti belum terjadi peperangan atau penyelesaian lewat kekerasan, suatu negara harus mengukur kekuatannya dalam menghadapi lawannya. Dalam diplomasi yang cerdik, ia juga berusaha untuk mengisolasi lawannya, yang berarti melemahkan lawan secara moral. Pada saat yang sama negara tersebut juga berusaha untuk memperoleh sebanyak mungkin dukungan dari negara lain sehingga tak satupun negara ikut memusuhinya. Suatu negara perlu untuk memobilisasi pendapat umum dunia ke dalam pihaknya untuk membenarkan tindakannya.30
28 Christer Jönnson dan Martin Hall.2005. Essence of Diplomacy.London: Palgrave Macmillan. Hal. 1.
29 John Spanier. 1975. Games Nation Play. New York: New York press. Hal. 132.
30 Ibid
Menurut kaca mata kaum idealist, diplomasi dipraktekan untuk mencapai tujuan-tujuan lebih dari sekedar mencapai kemenangan material/fisik. Diplomasi berfungsi untuk memenangkan hati manusia, mengubah cara pandang dan sikap saling berlawanan, sehingga masing-masing pihak mau menerima perdamaian dan optimis pada nilai-nilainya, mengarahkan Negara-negara dan bangsa-bangsa hidup berdampingan dengan damai, karena itu dunia sangat membutuhkan diplomat dengan kecerdasan sekaligus kearifan, untuk mengerem nafsu berperang yang menjadi sumber masalah dunia.31
Sejatinya diplomasi hal yang tidak bisa dipisahkan dari kepentingan nasional, karena diplomasi membawa misi untuk mencapai kepentingan nasional sebuah negara. Seperti yang dikatakan KM Panikkar dalam bukunya the principle and practice of diplomacy, diplomasi dalam hubungan dengan politik internasional adalah seni mengedepankan kepentingan suatu negara dalam hubungannya dengan negara lain”.32Jika dianalisis dari study diplomasi, Jack C.
plano dan Roy Olton mengatakan:
“National intersest is higly generalized conception of those elements that constirtute the state must vital needs. These include self preservation, independence, territorial integrity, military security and economic well being”33
31Ibid. hal 20
32 KM Panikkar.1995.The Prinsiple and Practice Diplomacy. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1995. Hal.
3
33 Roy Olton dan Jack C. Plano. 1999.Internasional Relations Dictionary. Diterjemahkan oleh Wawan Juanda.Jakarta: Putra A. Bardhin CV. Cetakan Kedua, 1999. Hal. 201.
Pernyataan atau asumsi ini mengemukakan bahwa kepentingan nasional sebuah negara diantaranya kemerdekaan dan kedaulatan negara, kelangsungan hidup negara, keamanan militer, politik dan ekonomi. Sependapat dengan asumsi diatas, Hans J. Morgentau mendefinisikan kepentingan nasional sebagai penggunaan kekuasaan secara bijak untuk menjaga berbagai kepentingan yang dianggap paling esensial dan vital bagi kesejahteraan negara bangsa.34
Metode dan Teknik Diplomasi
Menurut S.L Roy, terdapat beberapa metode dalam dunia diplomasi.
Metode ini kemudian memiliki beberapa teknik atau tata cara tersendiri dalam mengaplikasikan diplomasi secara utuh. Beberapa metode dan teknik diplomasi memperkaya pengetahuan kita akan dunia diplomasi dengan semua aktivitasnya, namun tidak dapat pula kita generalisir, bahwa itulah yang paling tepat dan mesti dipraktikkan oleh semua diplomat untuk penanggulangan permasalahan.
Diplomasi Konferensi
Ada yang menyebut bahwa metode diplomasi melalui konferensi, baru muncul pada Abad 20. Suatu jaringan menyeluruh komite antar sekutu dibentuk untuk bertugas bertemu di konferensi untuk membicarakan persoalan-persoalan vital menyangkut peperangan. Konferensi digelar untuk membicarakan masalah mendesak tentang strategi dan politik semasa perang, demi keberhasilan perang,
34 Moctar Mas’oed. 1990. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi LP3ES: Jakarta.hal. 8.
untuk membicarakan hal-hal mengenai perang,membangun aliansi, dan membahas kebutuhan perang.35
Seiring berjalanya waktu, konferensi menemukan fungsi baru tidak hanya untuk kepentingan perang namun lebih luas. Konferensi merupakan pembaharuan mendasar yang kemudian menjadi praktek yang biasa dalam perundingan internasional hingga akhirnya menjadi arena konferensi internasional yang permanen di Majelis Umum PBB untuk membahas berbagai macam agenda diplomasi, selain perang.
Sementara untuk yang menyangkut perang dibawa kedalam perundingan di Dewan Keamanan PBB. Para wakil dari hampir semua negara di dunia besar atau kecil, ditempatkan di markas besar organisasi PBB, hal ini memberikan suasana yang cocok bagi negosiasi diplomatik multilateral. Dalam konferensi internasional, persiapan dan pembicaraan pendahuluan akan memantapkan dasar-dasar bagi persamaan tujuan dan nilai dan persamaan pengertian sebagai teknik dalam konferensi agar berhasil. PBB memberikan kerangka yang memungkinkan pelaksana konferensi internasional mendiskusikan masalah-masalah yang mendesak dan membutuhkan kesepakatan yang cepat.36
35 KM Panikkar. Op. Cit., hlm. 142.
36 Mohtar Mas’oed. Loc. cit
1.7. Kerangka Konsep