• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6 Landasan Teoritis

1.6.2. Teori Politik Pembangunan

Sebagai sebuah paradigma, politik pembangunan memerlukan teori untuk menjelaskannya. Menurut Arief Budiman dari sisi teori pendekatan khusus terhadap politik pembangunan di negara berkembang telah mendapat perhatian tersendiri. Dalam konteks iniliah Arief Budiman menjelaskan pentingnya Teori Pembangunan Dunia Ketiga yaitu teori-teori pembangunan yang berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh negara-negara miskin atau negara-negara yang sedang berkembang dalam sebuah dunia yang didominasi oleh kekuatan ekonomi, ilmu pengetahuan

dan militer negara-negara adikuasa karena persoalan yang dihadapnya berlainan19.

Menurut Arief Budiman ada tiga kelompok teori yang perlu disampaikan dalam penjelasan mengenai pembangunan dinegara Dunia Ketiga. Pertama, kelompok teori modernisasi yang terutama menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budayanya sebagai persoalan pokok dalam pembangunan. Teori modernisasi merupakan kelompok teori yang dominan dalam mengkaji masalah pembangunan di Negara Dunia Ketiga. Kedua, kelompok teori ketergantungan. Teori ini merupakan reaksi terhadap teori modernisasi, yang dianggap tidak mencukupi, bahkan menyesatkan. Teori ketergantungan mula-mula berkembang dan tumbuh di kalangan ahli-ahli ilmu sosial di Amerika Latin.

Pengaruhnya kemudian meluas ke Amerika Serikat, Eropa dan akhirnya Asia. Teori ini banyak dipengaruhi oleh metode Marxis.

Ketiga, kelompok teori pasca ketergantungan. Didalamnya terdapat teori sistem dunia ataupun teori artikulasi. Teori pasca-ketergantungan menolak teori pasca-ketergantungan yang dianggap terlalu terlalu menyederhanakan persoalan dalam pembangunan di Dunia Ketiga. Bagi negara Dunia Ketiga, persoalannya adalah bagaimana bertahan hidup atau bagaimana meletakkan dasar-dasar

19 Warjio, Ph.D. Politik Pembangunan :Paradoks, Teori, Aktor, dan Ideologi. Kencana, Jakarta, 2016. Hal. 163

ekonominya, supaya bisa bersaing di pasar internasional; sementara bagi negara-negara Adikuasa bagaimana melakukan ekspansi lebih lanjut bagi kehidupan ekonomminya yang sudah mapan.20 Itu berarti studi politik pembangungan semakin menjadi subjek tersendiri dalam khazanah ilmu politik sejalan dengan upaya para ahli dan peneliti untuk mendapatkan pola perkembangan yang diasumsikan berbeda dengan pengalaman negara-negara berkembang.

Sementara itu setiap negara sudah tentu mempunyai pluralisme budaya yang berbeda-beda. Pluralisme budaya diartikan sebagai eksistensi pola solidaritas berdasarkan agama, bahasa , identitas etnik, ras strata social, daerah21. Pluralisme pada masa lalu sering diterapkan pada kategori rasial saja seperti pembedaan ras melayu dan cina di Malaysia. Tetapi kini pluralisme disamping ras terdapat juga etnik, bahasa , agama daerah, golongan sosial. Negara yang mempunyai asal-usul maupun pluralisme budaya yang bermacam-macam pada dasarnya mempunyai tujuan yang kurang lebih sama seperti: keamanan nasional, pertumbuhan ekonomi dan kebebasan.

Dalam Logika pembangunan politik menurut Gabriel A Almond hal tersebut menuntut adanya peningkatan pembangunan

20 Ibid.

21 Charles W Anderson, Issues Of Political Development . New Jersey, 1967. Hal. 17.

kebijakan yang memenuhi syarat keteraturan (regulative), (Extractive), distribusi (distributive), symbolic. Selanjutnya hal ini menuntut meningkatnya terspesialisasi dan efektifitasnya proses pengambilan keputusan , implementasi kebijakan dan artikulasi serta agregasi kepentingan. Proses terspesialisasi tergantung pada perubahan struktur dan budaya: Pertama: differensiasi dari peran yang terspesialisasi dalam struktur politik seperti: eksekutif , birokrasi, partai politik, kelompok kepentingan, media massa.

Kedua: penyebaran nilai-nilai, sikap-sikap sosial dan konsistennya keahlian dengan peran khususnya kesiapan untuk taat pada hukum, kecenderungan berpartisipasi pengharapan akan kesejahteraan.22

Prinsip-prinsip strategi pembangunan politik didunia ketiga pada tiga dekade terakhir menggunakan aspek pembangunan ekonomi politik yang terdiri atas23

a. Kemampuan Pemerintah (Governmental Capacity) meliputi:

Pembentukan eksekutif politik, badan birokrasi, kemampuan dalam mengambil keputusan dan implementasi dalam masyarakat khususnya pemeliharaan tertib politik dan legitimasi.

b. Partisipasi politik (Political Participation). Menunjukkan pembentukan struktur politik ( seperti partai politik dan

22 Gabriel A Almond & Bingham Powell, Comparative Politics , Boston.1978, Hal. 360

23 Ibid., Hal. 372.

kelompok kepentingan) yang mampu memobilisasi dan mengagregasi tuntutan untuk kebijakan publik

c. Tingkat pertumbuhan ekonomi dalam pengertian agregasi d. Distribusi: menunjukkan tingkat pembagian pertumbuhan

secara merata . 1.6.3. Ekonomi Politik

Ekonomi politik adalah (suatu gugusan teori yang didasarkan pada pemahaman mengenai) saling ketergantungan antara ekonomi dengan politik. Ekonomi dan politik berinteraksi dengan banyak cara dalam rangka alokasi sumberdaya, distribusi pendapatan, stabilisasi. Ekonomi dan politik tidak dapat dipisahkan. Para pengambil keputusan (aktor) bidang ekonomi dan bidang politik tergantung satu sama lain dan keduanya adalah aktor utama sistem ekonomi politik. Keputusan yang diambil oleh para aktor, dan karena itu perkembangan dan hasil seluruh sistem, tergantung pada aturan dan institusi yang membentuk kerangka dasarnya24. Perilaku ekonomi, dengan kata lain, dapat dipengaruhi dengan mengubah aturan dan institusi. Perubahan semacam ini hanya mungkin terjadi melalui suatu konsensus sosial, dalam suatu situasi di mana para aktor tidak dapat memastikan apakah

24 Lord Lionel Robbins, “Political Economy : Past and Present : A Review of Leading Theories of Economy Policy”, London, 1976. Hal. 228

kepentingan pokok mereka akan terpenuhi dengan adanya perubahan aturan dan institusi itu atau tidak.

Ekonomi politik muncul pada abad 18 didorong oleh perubahan dramatik dalam sistem pemenuhan kebutuhan, baik dalam hal sifat dan jenis kebutuhan maupun dalam hal cara produksi dan distribusi barang dan jasa untuk memenuhinya.

Perubahan tersebut ditandai oleh pergeseran istilah dari “economy”

menjadi “political economy”25. Karena itu, pengertian ekonomi politik dapat ditelusuri dari sisi ekonomi maupun dari sisi politik.

Sebagaimana diketahui, istilah “Ekonomi Politik” seringkali dipertukarkan dengan istilah “Politik Ekonomi”, padahal secara metodologis kedua istilah tersebut mengandung perbedaan yang substansial. Politik Ekonomi merupakan suatu unsur atau elemen yang menjadi alat dari ekonomi dan rasionalisasi kekuatan politik dalam melaksanakan rencana-rencana untuk mencapai sasaran yang dikehendaki. Politik Ekonomi secara umum disebut sebagai Das Sollen, karena dipandang tidak sama dan sebangun dengan ilmu pengetahuan, melainkan hanya sebagai sebuah produk Policy Sciences.26 Sedangkan Ekonomi Politik disebut sebagai Das Sains, karena di dalamnya secara eksplisit terdapat berbagai prasyarat

25 Indria Samego, Ekonomi Politik Baru (New Political Economics), Slide, Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Administrasi Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI), Cabang Bekasi, 2013. Hal. 128

26 Ibid, Hal. 129

keilmuan, yang memiliki wilayah kajian yang luas sebagai ilmu maupun pengetahuan menyangkut studi tentang hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara faktor ekonomi dan faktor politik.

Substansi Ekonomi Politik antara lain berupa persoalan interdependensi, dependensi, keterbelakangan, pertumbuhan, perkembangan, pembangunan ekonomi sosial, sistem-sistem ekonomi, realisme dan idealisme, linear dan strukturalis internasional, globalisasi, regionalisme, dan sebagainya.

Dalam pendekatan Ekonomi Politik, masalah yang dihadapi antara lain mencakup variabel-variabel politik, variabel ekonomi, variabel sosial budaya, sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh meliputi (1) intervensi pemerintah, perubahan kebijakan, tindakan politik ekonomi, (2) kenaikan harga di pasar, (3) kemerosotan daya beli masyarakat, (4) kelangkaan sumber daya, (5) revolusi sosial, transformasi industrial, (6) revolusi dan kemajuan ilmu, pengetahuan, teknologi, komunikasi, dan informasi.27

Sedangkan ekonomi politik pembangunan lebih spesifik dari pada ekonomi politik. Ekonomi Politik Pembangunan merupakan kajian tentang keputusan-keputusan politik atau kebijakan public dibidang ekonomi yang khusus membahas tentang pembangunan

27 Ibid, Hal. 131

barang dan jasa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pengertian ekonomi politik pembangunan dapat dipahami dengan mudah melalui bagan yang ada di bawah ini :

Secara teoritik kajian eknomi politik pembangunan berguna :

1. Untuk mengetahui mengapa dan dengan cara bagaimana kebijakan pembangunan (termasuk kebijakan ekonomi dan politik) dirumuskan dan diimplementasikan dalam suatu negara dan siapa saja yang terlibata dalam pengambilan keputusan dan kebijakan.

2. Untuk memahami kebijakan pembangunan dan dampaknya dengan benar pada kurun waktu tertentu dengan menelusuri secara cermar perilaku, motivasi dan preferensi para aktornya. Sehingga diperoleh jawaban siapa, memperoleh apa, berapa banyak, mengapa dan dengan cara bagaimana.

Ekonomi Politik

Keputusan Politik

Kebijakan Publik

Ekonomi Pembangunan

Jasa Barang

Kesejahteraan Masyarakat

3. Sebagai alat analisa untul mengkaji berbagai isu social yang menyangkut persoalan proses kebijakan dan pembangunan pada umumnya.

Teori-Teori yang Berkaitan dengan Ekonomi Politik

Berikut mengenai perkembangan Ekonomi Politik berdasarkan teori yang dikembangkan beberapa ahli28 :

Teori Merkantilisme

Merkantilisme adalah pandangan dunia tentang elit-elit politik yang berada pada garis depan pembangunan negara modern.

Merkantilisme melihat perekonomian internasional sebgai arena konflik antara kepentingan nasional yang bertentangan daripada sebgai wilayah kerjasama dan saling menguntungkan. Persaingan ekonomi antar negara dapat mengambil dua bentuk yang berbeda : Pertama adalah merkantilisme bertahan atau ramah yaitu negara memelihara kepentingan ekonomi nasionalnya sebab hal tersebut merupakan unsur penting dalam keamanan nasionalnya, kebijakan seperti itu tidak memiliki dampak negatif pada negara lain.29 Yang kedua adalah merkantilisme agresif atau jahat yaitu negara-negara berupaya mengeksploitasi perekonomian internasional melalui kebijakan ekspansi. Sebagai contoh, imperalisme kekuatan kolonial bangsa Eropa di asia dan Afrika.

28 Deliarnov. 2006. Ekonomi Politik. Jakarta : Erlangga. Hal 186

29 Ibid, Hal. 187

Merkantilisme dengan demikian melihat kekuatan ekonomi dan kekuatan politik militer sebagai tujuan yang saling melengkapi, bukan saling bersaing, dalam lingkaran arus balik positif.

Pencapaian kekuatan ekonomi mendukung pengembangan kekuatan politik dan militer negara dan kekuatan politik dapat meningkatkan dan memperkuat ekonomi negara. Kaum merkantilis menyatakan bahwa perekonomian seharusnya tunduk pada tujuan utama peningkatan kekuatan negara30, politik harus di utamakan daripada ekonomi. Tetapi isi dari kebijakan-kebijakan spesifik yang direkomendasikan untuk menjalankan tujuan tersebut telah berubah sepanjang waktu.

Ringkasnya merkantilisme mengganggap perekonomian tunduk pada komunitas politik dan khususnya pemerintah.

Aktivitas ekonomi di lihat dalam konteks yang lebih besar atas peningkatan kekuatan negara. Organisasi yang bertanggung jawab dalam mempertahankan dan memajukan kepentingan nasional yang di sebut negara, memerintah di ats kepentingan ekonomi swasta.

Kekayaan dan kekuasaan adalah tujuan yang saling melengkapi bukan saling bertentangan. Ketergantungan ekonomi pada negara-negara lain seharusnya di hindari sejauh mungkin. Ketika

30 Ibid, Hal. 188

kepentingan ekonomi dan keamanan pecah, kepentingan keamanan mendapat prioritas.

Liberalisme Ekonomi

Adam Smith (1723-1790), bapak Liberalisme ekonomi, yakin bahwa pasar cenderung meluas secara spontan demi kepuasan kebutuhan manusia. Juga menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh ikut campur. Ekonomi liberal di sebut doktrin dan serangkaian prinsip dalam mengorganisasikan dan mengatur pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan individu.31 Ekonomi liberal didasarkan pada pemikiran bahwa jika di biarkan sendiri perekonomian pasar akan berjalan spontan menurut mekanisme atau hukumnya sendiri. Hukum ini dipndang melekat dalam proses produksi ekonomidan perdagangan. Kaum ekonomi liberal menolak pandangan kaum merkantilis bahwa negara adalah aktor dan fokus sentral ketika menghadapi permasalahan ekonomi. Aktor sentral adalah individu sebgai konsumen dan sebagai produsen.

Pasar adalah arena terbuka tempat para individu bersama-sama menukarkan barang dan jasa. Kaum liberal selanjutnya menolak pandangan ”zero sum” kaum merkantilis,32 suatu pandangan bahwa keuntungan ekonomi suatu negara sebenarnya merupakan kerugian ekonomi negara lain. Kaum ekonom liberal terdahulu

31 Ibid, Hal 189

32 Ibid, Hal 191

menyebut Laissez faire yaitu kebebasan pasar dari semua jenis pembatasan dan peraturan politik.

Ringkasnya, kaum ekonomi liberal berpendapat bahwa perekonomian pasar merupakan suatu wilayah otonom dari masyarakat yangberjalan menurut hukum ekonominya sendiri.

Pertukaran ekonomi bersifat “positive sum game” dan pasar cenderung akan nampak memaksimalkan keuntungan bagi semua individu, rumah tangga, dan perusahaan yang berpartisipasi dalam pertukaran pasar. Perekonomian merupakan wilayah kerjasama bagi keuntungan timbal balik antar negara dan juga antar individu33. Dengan demikian, perekonomian internasional seharusnya di dasarkan perdagangan bebas.

Marxisme

Teori Marxis dan teori Neo-Marxis dalam Hubungan Internasional menolak pandangan realis/liberal tentang konflik atau kerja sama negara, tetapi sebaliknya berfokus pada aspek ekonomi dan materi. Marxisme membuat asumsi bahwa ekonomi lebih penting daripada persoalan-persoalan yang lain sehingga memungkinkan bagi peningkatan kelas sebagai fokus studi. Para pendukung Marxis memandang sistem internasional sebagai sistem kapitalis terintegrasi yang mengejar akumulasi modal (kapital).

33 Ibid, Hal. 192

Kaum Marxis sepakat dengan kaum merkantilis bahwa politik dan ekonomi sangat berkaitan, keduanya menolak pandangan kaum liberal tentang bidang ekonomi yang berjalan dengan hukumnya sendiri. Tetapi , sementara kaum merkantilis melihat ekonomi sebagai alat politik, kaum marxis menempatkan ekonomi yang pertama dan politik yang kedua. Bagi kaum marxis, perekonomian kapitalis didasarkan pada dua kelas sosial yang bertentangan salah satu kelas, kaum borjuis, memiliki alat-alat produksi. Kelas lain, kaum protelar, hanya memiliki kekuatan kerjanya saja, yang harus di jual pada borjuis34. Tetapi buruh lebih banyak bekerja di banding yang ia dapatkan kmbali. Terdapat nilai tambah yang di ambil kaum borjuis. Hal ini merupakan keuntungan kapitalis, dan keuntungan itu berasal dari eksploitasi tenaga kerja.

Pandangan kaum Marxis tersebut disebut “Matrialisme”.

Hal ini didasarkan pada pernyataan bahwa aktivitas inti dalam masyarakat mana pun hirau dengan cara-cara bagaimana manusia menghasilkan alat-alat eksistensinya.

Teori ekonomi politik internasional saat ini yang berdasarkan kerangka Marxisme adalah analisis Immanuel Wallerstein tentang perkembangan sejarah perekonomian dunia kapitalis. Wallerstein memberikan banyak tekanan pada

34 Ibid, Hal. 193

perekonomian dunia dan cenderung mengabaikan politik Internasional. Ia mempercayai perekonomian dunia sebagai pembangunan yang tidak seimbang yang telah menghasilkan hierarki dari wilayah core,semi periphery, dan periphery. Yang kaya dari wilayah core (Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang) digerakkan atas penderitaaan wilayah periphery (Dunia Ketiga)35. Wellerstein melihat akhir Perang Dingin dan kehancuran blok Soviet sebagai akibat dari perkembangan perekonomian dunia kapitalis.

Meskipun demikian, prospek jangka panjang adalah kehancuran system kapitalis36. Sebab kontradiksi dari system tersebut sekarang dibiarkan pada sekala dunia. Keberhasilan, bukan kegagalan, merupakan ancaman nyata bagi kapitalisme global, ketika kemungkinan perluasan semuanya digunakan, upaya tanpa akhir dalam mencari keuntungan akan mengakibatkan pada krisis baru dalam perekonomian kapitalis dunia yang, cepat atau lambat, akan menengarai kematiannya.

Kami dapat meringkas pendekatan kaum marxis sebagai berikut. Perekonomian adalah tempat eksploitasi dan perbedaan antar kelas sosial, khususnya kaum borjuis dan kaum proletar.

Politik sebagian besar ditentukan oleh konteks sosial ekonomi.

35 Ibid, Hal. 195

36 Ibid, Hal. 193

Kelas ekonomi yang dominan juga dominan secara politik. Hal itu berarti bahwa dalam perekonomian kapitalis kaum borjuis akan menjadi kelas berkuasa.37 Pembangunan kapitalis global bersifat tidak seimbang bahkan menghasilkan krisis dan kontradiksi, baik antar Negara maupun antar kelas sosial. Ekonomi Politik marxis selanjutnya hirau pada sejarah tentang perluasan kapitalisme global, perjuangan antar kelas dan Negara yang telah membangkitkan kebangkitan di seluruh dunia, dan bagaimana transformasi yang revolusioner dari dunia tersebut mungkin akan muncul.

1.7 Definisi Konsep 1.7.1. Konsep Peran

Peran adalah sebuah konsep yang digunakan dalam dunia sosiologi, psikologi dan antropologi yang merupakan perpaduan berbagai teori, orientasi maupun disiplin ilmu. Konsep peran berbicara tentang istilah “peran” yang biasa digunakan dalam dunia teater, dimana seorang aktor dalam teater harus bermain sebagai tokoh tertentu dan dalam posisinya sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk berprilaku secara tertentu. Posisi seorang aktor dalam teater

37 Ibid, Hal. 194

dinalogikan dengan posisi seseorang dalam masyarakat, dan keduanya memiliki kesamaan posisi.38

Peran diartikan pada karakterisasi yang disandang untuk dibawakan oleh seorang aktor dalam sebuah pentas drama, yang dalam konteks sosial peran diartikan sebagai suatu fungsi yang dibawakan seseorang ketika menduduki suatu posisi dalam struktur sosial. Peran seorang aktor adalah batasan yang dirancang oleh aktor lain, yang kebetulan sama- sama berada dalam satu penampilan/unjuk peran (role perfomance).39

Dari paparan diatas tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep peran adalah konsep yang berbicara tentang posisi dan prilaku seseorang yang diharapkan dari padanya tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam kaitannya dengan adanya orang- orang lain yang berhubungan dengan orang atau aktor tersebut. Pelaku peran menjadi sadar akan struktur sosial yang didudukinya, oleh karena itu seorang aktor berusaha untuk selalu nampak “mumpuni” dan dipersepsi oleh aktor lainnya sebagai “tak menyimpang“ dari sistem harapan yang ada dalam masyarakat40.

38 Sarlito Wirawan Sarwono, Teori- Teori Psikologi Sosial, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), Hal.215

39 Edy Suhardono, Teori Peran (Konsep, Derivasi dan Implikasinya), (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1994), Hal. 3

40 Ibid., Hal. 4

Berbagai istilah tentang orang-orang dalam konsep peran.

Orang- orang yang mengambil bagian dalm interaksi sosial dapat dibagi dalam dua golongan sebagai berikut :

a. Aktor atau pelaku, yaitu orang yang sedang berprilaku menuruti suatu peran tertentu.

b. Target (sasaran) atau orang lain, yaitu orang yang mempunyai hubungan dengan aktor dan perilakunya.

Aktor maupun target bisa berupa individu ataupun kumpulan individu (kelompok). Hubungan antara kelompok dengan kelompok misalnya terjadi antara sebuah paduan suara (aktor) dan pendengar (target). Biasanya istilah aktor diganti dengan person, ego, atau self. Sedangkan target diganti dengan istilah alter-ego, ego, atau non-self.41

Dengan demikian dapat dilihat bahwa sebenarnya konsep peran digunakan untuk menganalisis setiap hubungan atara dua orang atau banyak orang. Menurut cooley dan Mead, hubungan antara aktor dan target adalah untuk membentuk identitas aktor (person, ego, self) yang dalam hal ini dipengaruhi oleh penilaian atau sikap orang- orang lain (target) yang telah digeneralisasikan oleh aktor. Secord dan Backman berpendapat bahwa aktor menempati posisi pusat tersebut (focal position), sedangkan target

41 Sarlito Wirawan Sarwono, Teori- Teori Psikologi Sosial, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), Hal. 216

menempati posisi padanan dari posisi pusat tersebut (counter position). Maka dapat dilihat bahwa, target dalam teori peran berperan sebagai pasangan (partner) bagi aktor.

Dokumen terkait