BAB II STUDI PUSTAKA
2.4 Teori Pustaka Pendekatan Rancangan
Arsitektur Simbiosis pertama kali muncul pada zaman postmodern. Postmodern merupakan gaya yang muncul sebagai tanggapan dari arsitektur modern sebelumnya, yang banyak memunculkan kritik terhadap pandangan logis dan universal pada gaya arsitekturnya sehingga dianggap tidak rasional (Ikhwanuddin, 2005: 124). Namun pada akhirnya, para pemikir postmodern berpendapat bahwa, kemunculan postmodernisme di bidang arsitektur lebih sesuai jika dilihat sebagai pergantian atau pergeseran paradigma, bukan sebagai lawan pemikiran. Semua kritikan yang dilontarkan pada ideologi arsitektur postmodern tak lain hanyalah untuk merevisi bagian yang salah dari pandangan modernism (Ikhwanuddin, 2005:124).
Postmodern merupakan sebuah gaya yang menghargai adanya plural atau keberagaman. Pada periode ini muncul tema-tema dalam arsitektur dari beberapa pemikir era postmodern mengenai penggabungan keberagaman tersebut dalam
Gambar 2.29 Standart Ukuran Motor Sumber: Neufert, Data Arsitek Jilid 2, 2002
Gambar 2.30 Pola Parkir Sepeda Sumber: Neufert, Data Arsitek Jilid 1, 1996
58
perancangan (Ningsar: 1). Salah satu pemikir arsitektur postmodern tersebut adalah Kisho Kurokawa. Kurokawa berangkat dari pemikiran postmodern Jencks, dan mengembangkannya lebih lanjut dalam teori “simbiosis”. (Ikhwanuddin, 2005:29).
Kisho Kurokawa mengajukan “simbiosis” sebagai dasar pemikiran
postmodernismenya dalam buku yang berjudul Intercultural Architecture (1991). Arsitektur simbiosis sendiri berangkat dari filsafat simbiosis dengan pendekatan filsafat-kebudayaan (Ikhwanuddin, 2005:73).
Filsafat simbiosis merupakan teks untuk mendekonstruksi metafisika, logos dan budaya Barat yang begitu diagungkan (Kurokawa, 1991:163 dalam Ikhwanuddin, 2005:73). Simbiosis sendiri secara filosofis berarti percampuran dua unsur (budaya) yang berbeda dalam satu entitas, dalam keadaan kedua unsur tersebut masih independen, namun saling menguntungkan satu sama lainnya (eksistensi kesatuan dualisme) (Ikhwanuddin, 2005:80). Filsafat simbiosis mencakup simbiosis budaya yang heterogen, manusia dan teknologi, interior dan eksterior, whole and part, sejarah dan masa depan, akal dan intuisi, agama dan ilmu, manusia dan alam (Ikhwanuddin, 2005:73)
Sedangkan arsitektur berdasarkan filsafat simbiosis, atau yang lebih dikenal dengan arsitektur simbiosis adalah pendekatan yang diwujudkan dengan menelusuri akar sejarah dan budaya secara mendalam, dan di saat yang sama berusaha untuk menggabungkan (unification) elemen-elemen dari budaya lain dalam karyanya, sehingga terjadi gabungan antara dua elemen langgam budaya yang berbeda (Ikhwanuddin, 2005:73).
Tujuan dari simbiosis adalah untuk membangkitkan makna (evokes of meaning) (Ikhwanuddin, 2005:74). Pembangkitan makna melalui penggabungan budaya menurut Kurokawa diperlukan, karena tidak ada satu pun ikon arsitektural ideal yang universal (dapat diterapkan pada semua situasi dan kondisi). Arsitek harus mengekspresikan budayanya, dan pada saat yang sama “menabrakkan” (collision) dengan budaya lain, saling menyesuaikan, tanpa harus satu sisi berusaha mengalahkan sisi lainnya dan memaksakan nilai-nilai pada lawannya. Sebaliknya, mereka bisa mencari kesamaan, bahkan sambil tetap dalam keadaan saling menghormati pertentangan yang ada (oposisi),dan melalui simbiosis menciptakan arsitektur baru (Ikhwanuddin, 2005:74 dan http://www.kisho.co.jp/index.html, diakses pada 14 Oktober 2016).
Gambar 2. 31 Basic Formula Arsitektur Simbiosis Sumber: Analisis Penulis, 2017
59
Adapun prinsip simbiosis Kisho Kurokawa, dapat diketahui berdasarkan kesimpulan Ikhwanuddin (2005: 81) dalam tabel postmodernisme arsitektur menurut Kisho Kurokawa, dengan penjabaran sebagai berikut:
1. Simbiosis/ kesatuan dualisme
Simbiosis/ eksistensi kesatuan dualism, merupakan prinsip mendasar dalam arsitektur simbiosis. Kesatuan dualisme yakni menyatukan dua hal yang berbeda. Dalam konteks arsitektur simbiosis dapat diartikan menyatukan elemen-elemen dari dua budaya yang berbeda dalam rancangan.
Budaya yang dapat digabungkan/ disimbiosiskan beragam dan dinamis, tak hanya tampilan fisik yang dapat disentuh (tangible). Gaya hidup, kebiasaan, sensibilitas estetik, da ide-ide merupakan sesuatu yang sulit diraba (intangible) dan dibagi (indivisible) dari aspek kebudayaan dan tradisi (Ikhwanuddin, 2005:75).
Aplikasinya dalam rancangan dapat dicontohkan berdasarkan karya Kisho Kurokawa berikut:
Simbiosis dari masa lalu ke masa depan
Simbiosis dari masa lalu ke masa depan diterapkan Kisho Kurokawa melalui penggunaan bahan material secara bertahap dari dasar batu alam, kemudian ke atas batu kasar, batu dipoles, ubin dan paling atas alumunium. Simbiosis ini diterapkan pada rancangan beliau “The Hiroshima City of Contemporary Art”.
Simbiosis heterogen element (budaya Jepang dan Eropa)
Arsitektur tradisional Jepang dikutip dalam desain jendela dan kisi, sedangkan menara cahaya dan ekspresi dinding melengkung memiliki konotasi dari tanda-tanda budaya Eropa. Simbiosis ini diterapkan pada rancangan Kisho Kurokawa “Fukuoka Seaside Momochi” (http://www.kisho.co.jp/index.html, diakses pada 14 Oktober 2016).
2. Respect to history and culture (penghargaan atas sejarah dan budaya)
Menurut Kurokawa, waktu adalah sebuah evolusi dari masa lalu ke masa sekarang, dan menuju masa depan. “Time is not a linier series”, waktu tidak tersusun secara linier. Jika masa lalu, sekarang, dan masa depan disusun dengan model rhizome (jenis tumbuhan umbi-umbian yang memiliki akar menjalar), kita berada pada jarak yang sama terhadap semua waktu dan bebas menyesuaikan dengan yang mana saja (reativitas terhadap waktu). Oleh sebab itu, pada masa postmodern, konsep diakronik dan sinkronik menjadi penting:
Diakronik (Diachronicity of time): perbedaan budaya yang muncul karena adanya
perbedaan waktu terjadinya, dalam satu tempat yang sama (relativitas terhadap waktu pada satu tempat);
60
Sinkronik (Synchronicity of place): perbedaan budaya yang muncul karena beda
tempat, sehingga masyarakat dan budayanya berbeda (relativitas terhadap tempat/ ruang dalam satu masa/ waktu) (Ikhwanuddin, 2005:75).
Berdasarkan penjelasan di atas disimpulkan bahwa sejarah budaya yang berbeda baik dari masa lalu, masa sekarang ataupun masa depan pada hakekatnya saling berhubungan. Oleh sebab itu kita diharapkan dapat menghargai dan tidak melupakan sejarah dan budaya tersebut pada rancangan.
Aplikasinya pada rancangan arsitektur dapat berupa dasar pemikiran sejarah/budaya dari simbiosis yang dipilih pada prinsip pertama sesuai konteks (objek atau tempat rancangan), untuk menghasilkan novelty/ gaya khas pada rancangan tersebut. Dengan demikian, penerapan simbiosis kesatuan dualism pada prinsip yang pertama sebelumnya tidak sembarangan, melainkan disesuaikan dengan konteks sejarah dan budaya yang ada pada objek atau tempat rancangan, seperti yang dicontohkan Kisho Kurokawa berikut:
Honjin Memorial Museum of Art (Synchronicity of place)o
Pada rancangan museum ini didapati penggunaan “geometris murni dari lingkaran sebagai ciri dari periode Edo di Jepang”, dan adanya “parit dengan kisi-kisi persegi sebagai pagar yang mengelilingi bangunan, merupakan tanda bahwa tempat rancangan tersebut pernah menjadi lokasi dari sebuah kastil Cina yang dikelilingi parit”.
Melbourne Central, Australia (Diachronicity of time)
Pada rancangannya Kisho memanfaatkan Shot Tower yang merupakan bangunan lama sebagai pengimbang bangunan modern. Sebuah kerucut kaca yang besar, membentuk sebuah atrium di pusat perbelanjaan dan di dalamnya terdapat The Shot Tower, sehingga seakan-akan kerucut itu melindunginya (masa sekarang melindungi masa lampau). Bisa dikatakan bila pengunjung memasuki kerucut itu maka mereka akan berada di sebuah bangunan modern dan dapat melihat bangunan lama. Keadaan ini bisa diartikan lagi menjadi, bila kita sedang berada di masa sekarang, maka kita juga dapat menengok lagi ke masa lampau (http://www.kisho.co.jp/index.html, diakses pada 14 Oktober 2016).
3. Pleasure/ Intermediary zone (di antara sacred dan profane)
Karakteristik utama era postmodern adalah dieliminasinya dualisme dan oposisi binomial. Batas antar perlawanan, seperti antar agama dan sains, artifisial dan alami, teknologi dan kemanusiaan, sastra murni dan popular, keseriusan dan ironi, kerja dan permainan, hidup dan mati, perlahan-lahan akan tidak jelas. Di sisi lain, “zona antara” (intermediary zone) sebagai ekspresi pleasure (kesenangan yang tidak terikat, dinamis) di antara keduanya yang diterapkan Kisho Kurokawa dalam arsitektur simbiosis, memungkinkan kreativitas akan makin menonjol (Ikhwanuddin, 2005:75).
61
Pengertian mudahnya, intermediary zone seperti halnya stimulus dalam metamorfosis (larva-kepompong-kupu-kupu, dsb), tidak ada prinsip hidup yang terjadi secara tiba-tiba atau ekstrem (http://www.kisho.co.jp/index.html, diakses pada 14 Oktober 2016).
Berdasarkan penjelasan di atas dipahami bahwa prinsip intermediary zone merupakan penerapan zona antara sebagai area transisi dari fungsi/ bentuk satu ke fungsi/ bentuk yang lain agar perubahan tidak terjadi secara tiba-tiba/ ekstrem.
Aplikasi penerapannya dalam rancangan arsitektur dapat berupa ruang jalan, plaza, taman, waterfronts, landmark tower, street scenes atau urban infrastructure (http://www.kisho.co.jp/index.html, diakses pada 14 Oktober 2016).
4. Hybrid style
Postmodernisme mengakui berbagai budaya yang berbeda di dalam jaringan budaya dunia dan mengizinkannya untuk hidup dalam simbiosis. Dalam arsitektur, terdapat penghargaan terhadap kombinasi elemen-elemen yang berasal dari budaya yang berbeda dan terhadap sebuah gaya turunan baru (a new hybrid style). Produk yang demikian tidak lagi dikritik sebagai produk kompromistis, namun akan dilihat sebagai ekspresi positif dari energy multivalent (Kurokawa, 1991).
Arsitektur postmodern adalah arsitektur yang cenderung pada hibridisasi, yaitu sebuah konglomerasi (perpaduan) beberapa sistem nilai yang berbeda, atau sebuah
order yang menyiratkan berbagai elemen yang heterogen (Ikhwanuddin, 2005:76).
Berdasarkan penjelasan di atas dipahami bahwa maksud dari prinsip hybrid style adalah perpaduan/ kombinasi elemen-elemen yang berasal dari budaya yang berbeda untuk menghasilkan sebuah inovasi bentukan baru yang menyiratkan berbagai elemen berbeda tersebut, dengan catatan masih dapat diidentifikasi bentuk atau elemen aslinya. Prinsip hybrid style sekilas sama dengan prinsip pertama (simbiosis), namun sebenarnya berbeda, pada prinsip ini yang ditekankan adalah hasil dari bentukan dua hal yang disimbiosiskan, yakni harus terlihat inovatif, namun masih tersirat/ dapat diidentifikasi bentukan-bentukan elemen asalnya.
Contoh penerapannya dalam rancangan arsitektur adalah karya Kisho Kurokawa pada New Wing of the Van Gogh Museum, Belanda. Pada rancangan tersebut, Kisho menggunakan bentukan lengkung dinamis yang dipadukan dengan garis khas arsitektur Jepang yang diolah menggunakan tampilan material kebaruan berupa kaca.
(http://www.kisho.co.jp/index.html, diakses pada 14 Oktober 2016).
5. Whole and part (Keseluruhan and Bagian)
Arsitektur Simbiosis memberikan perhatian sama besar antara part (individual dan privat) dengan whole (keseluruhan, masyarakat dan publik). Di dalam era modern “keseluruhan” selalu mendapatkan kedudukan istimewa dibandingkan dengan “bagian”.
62
Di dalam era postmodern, konsep “whole” akan runtuh, digantikan dengan konsep “whole and part”. Ini berarti sebuah dunia di mana kelompok-kelompok kecil mengambil inisiatif untuk membentuk semacam federasi (Kurokawa, 1991:147-148).
Berdasarkan penjelasan di atas dipahami bahwa maksud dari whole and part adalah menyetarakan/ menyeimbangkan antara “keseluruhan dan bagian”, tanpa ada bagian yang lebih unggul ataupun yang lebih lemah.
Contoh penerapannya dalam rancangan arsitektur adalah dengan memperhatikan kesesuaian antara keseluruhan rancangan dengan bagian-bagian yang spesifik dan detail dari tiap elemen rancangan, seperti: tekstur dinding, pola, dll, seperti yang dilakukan Kisho Kurokawa dalam tiap rancangannya (http://www.kisho.co.jp/index.html, diakses pada 14 Oktober 2016).
6. Simulacra
Rasionalisme tidak hanya memegang peranan penting di dalam masyarakat industri, namun juga telah mendorong untuk menghina dan menurunkan nilai spiritual dan emosional. Zaman postmodern dikenal dengan abad pertukaran simbol (exchange of symbol). Kata kunci di dalam abad pertukaran simbol adalah simulacra. Pada abad 21 kita akan hidup dalam sebuah dunia yang dikelilingi oleh simulacra,”Sesuatu yang mirip sesuatu yang lain” (Kurokawa, 1991:151-152).
Era materialisme modern menilai segala sesuatu berdasarkan terminologi fungsi dan kegunaannya. Bagian-bagian yang tidak tampak berfungsi ditolak dan dianggap sembarangan. Pada masa postmodern, material dan mental, fungsi dan emosi, keindahan dan ketakutan, pemikiran analisis dan sintesis akan eksis di dalam simbiosis. Aspek nonfungsional, seperti desain, aura, konteks intangible, spiritualitas, akan menjadi makin penting di dalam masyarakat informasi. Jadi, jika sebuah toko didekorasi ulang, bukan karena tidak berfungsi lagi atau karena pemanasnya rusak, namun karena simbol dan tandanya yang sudah ketinggalan (Kurokawa, 1991:150).
Berdasarkan penjelasan di atas dipahami bahwa maksud dari simulacra adalah suatu bentuk dan fungsi nyata yang menyimbolkan dan menginformasikan makna (intangible) di dalamnya.
7. Ambiguity
Ambiguitas telah menjadi tema utama sains dan filsafat. Jika medernisme mencari kebenaran yang meliputi semua hal, postmodern mencari kebenaran relatif. Postmodern adalah penegasian atau kebalikan modernism dalam ide dan keyakinannya. Sains tradisional terbatas hanya sampai pada fenomena sederhana yang memiliki aturan jelas (order), mengabaikan yang tidak teratur (disorder) dan chaos. Sains postmodern mempelajari fenomena order dan disorder, dan hubungan antara keduanya (Kurokawa, 1991:151).
63
Ambiguitas makna diciptakan dengan memperlawankan identitas, melalui penguatan dan sekaligus penolakan pada tataran konsep (Kurokawa, 1991: 46). Empson (1930), dalam Kurokawa (1991: 82), menjelaskan cara mencapai ambiguitas adalah:
a) Jika dua makna atau lebih diubah jadi satu
b) Jika makna yang tampaknya tidak berhubungan diletakkan serempak
c) Kombinasi makna alternatif makin menampakkan kerumitan pikiran pencipta d) Jika penuh dengan kontradiksi (Ikhwanuddin, 2005:77).
Berdasarkan penjelasan di atas dipahami bahwa ambiguity adalah memberikan makna relatif dengan mengkombinasikan dua atau lebih makna. Ambiguitas yang dimaksud bukan karena ketidakjelasan tujuan, melainkan ambiguitas yang dihasilkan dengan tujuan tertentu (purposefully) secara kreatif (creatively). Ambiguitas di sini sebagai intisari makna yang baru secara keseluruhan (http://www.kisho.co.jp/index.html, diakses pada 14 Oktober 2016).
Kemudian metode perancangan utama yang digunakan Kisho Kurokawa dalam rancangan adalah Metode Hibridisasi, yakni metode untuk mengkombinasi elemen-elemen yang berbeda untuk menghasilkan turunan baru. Hibridisasi merupakan metode yang digunakan dalam proses mengolah bentuk. Hibridisasi dilakukan dengan cara:
1. Quotation: pengambilan elemen dari berbagai budaya (tubrukan kebudayaan yang
berbeda (Kurokawa, 1991: 160)), dengan cara menelusuri dan memilih perbendaharaan bentuk dan elemen arsitektur di masa lalu/ karya arsitektur yang telah ada sebelumnya, yang dianggap potensial untuk diangkat kembali. Artinya menjadikan arsitektur masa lalu sebagai titik berangkat, bukan sebagai model ideal, karena dianggap telah diterima dan dipahami oleh masyarakat;
2. Collision: percampuran/ penggabungan antar budaya yang berbeda, yakni dengan
menggabungkan langgam bentuk dari budaya yang berbeda;
3. Introduce Noise: memanipulasi/ memodifikasi elemen-elemen dari langgam budaya
yang digabungkan dari hasil quotation pada tahap sebelumnya (Ikhwanuddin, 2005:80). Beberapa teknik yang digunakan dalam manipulasi (Erdiono dan Ningsar:14, komparasi arsitektur hybrid dan arsitektur simbiosis, http://www/ejournal.unsrat.ac.id, diakses pada 08 Februari 2017), adalah sebagai berikut:
a. Reduksi atau simplifikasi, reduksi adalah pengurangan bagian yang dianggap tidak
penting. Simplifikasi adalah penyederhanaan bentuk dengan cara membuang bagian-bagian yang dianggap tidak atau kurang penting, misalnya dekorasi dengan pola tumbuh-tumbuhan yang rumit, menjadi pola garis atau datar tanpa pola sama sekali;
b. Repetisi, pengulangan elemen-elemen yang diquotationkan sebelumnya;
c. Distorsi bentuk, pengubahan bentuk dari bentuk asalnya, dengan cara misalkan
64
d. Disorientasi, perubahan arah (orientasi) suatu elemen dari pola atau tatanan asalnya.Orientasi meliputi orientasi arah mata angin, depan-belakang, dan atas-bawah. Disorientasi model dilakukan dengan mengubah pola orientasi yan baku pada model misalnya utara-selatan menjadi timur-barat;
e. Disproporsi, proporsi berkaitan dengan perbandingan ukuran atau dimensi elemen,
atau antara elemen dan keseluruhan. Ada beberapa sistem proporsi, seperti golden section, modular dan proporsi harmoni. Pada disproporsi, perubahan proporsi tidak mengikuti sistem proporsi referensi (model);
f. Dislokasi, perubahan letak atau posisi elemen di dalam model referensi sehingga
menjadi tidak pada posisisnya, seperti pada model referensi.
Selain metode hibridisasi untuk pencarian bentuk, metode lain yang digunakan Kisho Kurokawa untuk dalam segi makna adalah Metode Simbolisasi/ Simulacra, yakni penciptaan dan pertukaran simbol-simbol yang dilakukan dengan teknik asosiasi dan bisosiasi, dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Asosiasi, menghubungkan antara dua hal dengan beberapa hubungan; 2. Bisosiasi, mengubungkan dua hal yang tidak berhubungan sama sekali. 2.4.2 Ide Dasar dalam Pendekatan Rancangan
Ide dasar dalam pendekatan rancangan adalah dengan menerapkan simbiosis makna prinsip dasar bisnis syariah (kemaslahatan bersama) dengan prinsip ekonomi kerakyatan Indonesia (usaha bersama dan kekeluargaan). Didukung dengan alat bantu (media) pola bentukan arsitektur berupa kombinasi langgam budaya yang dihasikan pada masa keemasan ekonomi Islam secara diakronik (dalam satu waktu, namun berbeda tempat), yakni masa Dinasti Ottoman awal abad XIV hingga XX M) dan Kerajaan Demak perempat akhir abad XV hingga XVI M) (Sumalyo, 2006), guna memberikan novelty/ kekhasan pada rancangan. Sekaligus membuktikan tentang suksesnya perekonomian yang dilakukan sesuai syariah pada peradaban sebelumnya, sehingga dapat membangkitkan ghirah (semangat) untuk mengikuti jejak peradaban sebelumnya dalam melakukan praktek bisnis yang sesuai syariah bagi para pengguna rancangan di dalamnya.
Alasan penerapan simbiosis budaya pada bentuk dan makna pada ide dasar tersebut sejalan dengan filosofi simbiosis Kisho Kurokawa, yakni untuk kemajuan sebuah negara diperlukan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan, yakni daya (kekuatan) dan otoritas (sebagai identitas). Daya didapatkan melalui kemajuan di bidang ekonomi (termasuk bisnis) dan militer. Sedangkan otoritas didapatkan melalui sinergi budaya yang terbuka terhadap keadaan masa kini. Daya tanpa otoritas, merupakan kekuatan yang tidak memiliki identitas, sehingga sulit untuk dapat dihargai oleh pihak lain, maka daya dan otoritas harus saling melengkapi. Daya dapat maju dan bertahan jika memiliki identitas/ otoritas. Sebaliknya, otoritas dapat dikenal, jika daya atau kekuatan suatu
65
negara mengalami kemajuan (http://www.kisho.co.jp/index.html, A Shared Strategy for Business and Culture, diakses pada 14 Oktober 2016).
Bisnis syariah merupakan daya bagi Negara (karena merupakan bagian dari ekonomi), sehingga memerlukan budaya sebagai otoritas untuk membantu kemajuannya.
Arsitektur dan pembangunan kota merupakan inti dari budaya yang berperan sebagai otoritas suatu negara. Oleh sebab itu, ketika membangun perancangan yang mengandung unsur bisnis, termasuk Pusat Kajian dan Pengembangan Bisnis Syariah yang akan dirancang, sudah seharusnya menyertakan budayanya agar perwujudan arsitekturalnya selain dapat berkontribusi dalam menjaga daya dan kekuatan suatu negara melalui fungsi di dalamnya, juga dapat menunjukkan otoritas negara, berupa budaya yang terkandung dalam perwujudan arsitekturalnya.
Adapun ide perwujudan rancangan terkait pendekatan arsitektur simbiosis, berdasarkan alasan-alasan yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, adalah dengan mensimbiosiskan antara budaya universal dan lokal yang memiiki kaitan dengan bisnis syariah sebagai objek rancangan. Budaya universal dengan lokal tersebut akan diwujudkan dalam bentuk dan makna arsitektur.
Bentuk universal dan lokal akan diwujudkan dalam karakter fisik bangunan dan suasana ruang. Sedangkan makna universal dan lokal akan dibudayakan, baik dalam menentukan fungsi, perletakan, maupun pola rancangan (operasional).
Penjelasan mengenai ide dasar pendekatan rancangan tersebut akan dijabarkan secara rinci sebagai berikut:
PHYLOSOPHY OF SYMBIOSIS (KISHO KUROKAWA) A Shared Strategy for Business and Culture
Untuk kemajuan sebuah negara diperlukan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan, yakni daya (kekuatan) dan otoritas (sebagai identitas). Daya didapatkan melalui kemajuan di bidang ekonomi (termasuk bisnis) dan militer. Sedangkan otoritas didapatkan melalui sinergi budaya yang terbuka terhadap keadaan masa kini. Daya tanpa otoritas, merupakan kekuatan yang tidak memiliki identitas, sehingga sulit untuk dapat dihargai oleh pihak lain, maka daya dan otoritas harus saling melengkapi. Daya dapat maju dan bertahan jika memiliki identitas/ otoritas. Sebaliknya, otoritas dapat dikenal, jika daya atau kekuatan suatu negara mengalami kemajuan (http://www.kisho.co.jp/index.html, A Shared Strategy for Business and Culture, diakses pada 14 Oktober 2016).
DAYA ( KEKUATAN) OTORITAS ( IDENTITAS)
BISNIS SYARIAH BUDAYA
Gambar 2.32 Diagram Ide Pendekatan Rancangan Sumber: Analisis Penulis, 2017
66
1. WujudWujud didapatkan dari langgam arsitektur yang memiiki kaitan dengan bisnis syariah, yakni dengan strategi memadukan langgam masa keemasan ekonomi Islam dunia dan lokal Indonesia yang sezaman (diakronik), sebagai wujud implementasi arsitektur simbiosis pada bentukan rancangan nantinya. Dari segi wujud, universal didapat dari langgam/style arsitektur yang dihasilkan pada masa keemasan ekonomi Islam di dunia, yakni pada masa Dinasti Ottoman. Sedangkan lokal didapat dari langgam/style arsitektur yang dihasilkan pada masa keemasan ekonomi Islam di Indonesia, yakni pada masa Kerajaan Demak.
Pengambilan langgam masa keemasan ekonomi Islam untuk wujud simbiosis rancangan, dapat memberikan pencitraan yang baik pada rancangan, dalam rangka mengembangkan sektor bisnis syariah, berupa:
Memberikan keyakinan pada masyarakat bahwa bisnis syariah dapat memberikan
dampak positif bagi dunia bisnis, terbukti dengan adanya bukti sejarah keemasan ekonomi Islam pada peradaban sebelumnya;
Dapat menarik minat masyarakat melalui unsur perpaduan bentukan peradaban dunia
dan local yang menghasikan novelty/
Penggunaan budaya setempat/ lokal sebagai salah satu unsur simbiosis, dapat
membuat rancangan mudah membaur dan diterima dengan baik di mata masyarakat. Adapun overview dari rencana ide wujud rancangan yang akan diterapkan adalah sebagai berikut:
Gambar 2. 33 Diagram Ide Elemen Tangible pada Pendekatan Rancangan Sumber: Analisis Penulis, 2017
Pembahasan mengenai arsitektur Dinasti Abbasiyah dan Arsitektur Kerajaan Demak yang akan disimbiosiskan adalah sebagai berikut:
a. Arsitektur Dinasti Ottoman (1281-1924 M)
Dinasti Ottoman membuat sejarah Islam baru dalam periode kekuasaan lebih dari enam abad, dari awal abad XIV hingga awal abad XX M. Pernah berpusat pada tiga kota, yakni pertama Bursa, kemudian Edirne dan terakhir di Istanbul (Sumalyo, 2006:248-24). Dinasti Ottoman membawa satu perubahan positif yang signifikan dalam perkembangan ummat Islam di segala bidang, termasuk ekonomi.
•Universal •Lokal Simbiosis •Dinasti Ottoman •Kerajaan Demak Langgam/ stye yang dihasilkan pada masa Keemasan Ekonomi Islam •Langgam Dinasti Ottoman •Langgam Kerajaan Demak Hasil Indikator
67
Jika menilik mengenai sejarah praktek ekonomi Islam pada masa keemasan Islam, Dinasti Turki Utsmani (Ottoman) merupakan dinasti yang berkuasa dalam kurun waktu pemerintahan lebih dari 6 abad (awal abad XIV hingga awal abad XX) yang sukses menerapkan dan mengolah sebagian model perekonomian negara sebagaimana model yang telah dilakukan oleh para pemimpin Islam sebelumnya di seluruh wilayah kekuasaannya yang luas, untuk kemakmuran rakyatnya. Sekaligus ia juga menjadi tonggak bagi jalannya roda ekonomi negara (kesultanan) selama dua abad berikutnya (Biadilah, 2010).
Oleh sebab itu, dapat dikatakan Dinasti Ottoman merupakan era Keemasan Ekonomi yang sesuai dengan syariat Islam dalam konteks global/ dunia Islam, dengan berbagai strategi fisik dan non fisik. Strategi non fisik antara lain berupa kebijakan ekonomi dan