TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI DAN MODEL PENELITIAN
2.3 Landasan Teori
2.3.1 Teori Reproduksi Budaya
Kajian tentang reproduksi kebudayaan pernah dikemukakan oleh Pierre F. Bourdiou melalui konsep habitus dan arena serta hubungan dialektis antara keduanya. Menurut Bourdieu (1989), habitus adalah struktur mental atau kognitif
35
yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Aktor dibekali serangkian skema atau pola yang diinternalisasikan yang nereka gunakan untuk merasakan, memahami, menyadari, dan menilai dunia sosial. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Secara dialektika, habitus adalah”produk internalisasi struktur” duniasosial (dalam Ritzer, 2003:522). Habitus dipahami sebagai seperangkat nilai, praktik dan kecenderungan bathin yang distrukturkan” maupun “menstrukturkan”. Habitus merupakan sesuatu yang bersifat generatif yang akan selalu berkembang, artinya, habitus terdiri atas penguasaan praktis sejumlah kecakapan (skill), rutinitas, kemampuan dan asumsi yang masih bisa dimodifikasi dan digunakan sebagai dasar improvisasi. Meskipun dibentuk dalam suatu wilayah atau ranah tertentu, disposisi-disposisi habitus bisa ditransfer dari satu ranah ke ranah yang lain (Barker, 2014:115).
Nilai-nilai budaya Bali dengan berbagai praktik budayanya merupakan merupakan kebiasaan-kebiasaan yang senantiasa melekat pada diri orang Bali. Secara nyata meskipun nilai-nilai serta berbagai praktik budaya tersebut lahir dan dibentuk di Bali, habitus ini bisa perpindah ke ranah yang lain mengikuti alur perpindahan orang Bali. Berpindahnya orang-orang Bali dan selanjutnya menetap di Kota Mataram, diikuti dengan dipreproduksinya berbagai kebiasaan, khususnya dalam aktivitas budaya, seni, tradisi, agama dan berbagai aspek kehidupan sosial.
Ranah (field) adalah sejenis lingkungan kompetitif yang di dalamnya terdapat berbagai jenis modal (sosial, ekonomi, budaya, dan simbolis) yang digunakan dan dimanfaatkan. Ada sejumlah arena semi otonom di dunia sosial misalnya artistik, religious, dan perguruan tinggi yang semuanya memiliki logika
36
spesifik tersendiri dan semuanya membangun keyakinan di kalangan para aktor tentang hal-hal yang mereka pertaruhkan di suatu arena. Pada rumusan yang lain, Bourdieu (1990a: 123-129) memakaifieldsebagai dunia sosial yang terus menerus berada dalam proses diferensiasi progresif serta jumlah kendala struktural anggotanya. Field adalah arena perjuangan anggotanya untuk mendapatkan berbagai sumber daya material ataupun kekuatan simbolis. Tujuan utamanya adalah memastikan “perbedaan” yang akan menjamin status aktor sosial yang dapat berfungsi sebagai sumber kekuasaan simbolis yang kemudian digunakan untuk mencapai keberhasilan lebih lanjut (dalam Lubis, 2014:108).
Mengacu pada rumusan tersebut, wilayah Kota Mataram merupakan arena perjuangan bagi masyarakat etnis Bali untuk mendapatkan berbagai sumber daya material dan kekuatan simbolis. Dengan mereproduksi kebudayaan, khususnya kesenian, hal ini dijadikan sumber daya atau modal budaya untuk meraih materi dan sebagai kekuatan simbolis yang kemudian digunakan untuk mencapai keberhasilan lebih lanjut.
Hubungan dialektis di antara habitus dan arena sebagaimana diungkap Bourdieu (1984a) menunjukkan bahwa habitus dan arena saling menentukan satu sama lainnya. Secara tegas dikatakan,
“ habitus yang mantap hanya terbentuk, hanya berfungsi, dan hanya sah dalam sebuah lingkungan, dalam hubungannya dengan suatu lingkungan. Habitus itu sendiri adalah “ lingkungan dari kekuatan yang ada”, sebuah situasi dinamis di mana kekuatan hanya terjelma dalam hubungan dengan kecenderungan tertentu. Inilah yang menyebabkan mengapa habitus yang sama mendapat makna dan nilai yang berlawanan dalam lingkungan yang berlainan, dalam konfigurasi yang berbeda atau dalam sektor yang berlawanan dari lingkungan yang sama (dalam Ritzer, 2003:528).
37
Secara sederhana, dapat dipahami bahwa suatu tindakan yang sama dapat memperoleh sesuatu makna yang berbeda atau bahkan bertolak belakang jika dilakukan di arena yang berbeda. Terkait dengan pernyataan tersebut, habitus sangat berpengaruh ketika memasuki arena yang berbeda. Terjadinya perbedaan makna berimplikasi terhadap beberapa aspek kehidupan di antaranya aspek sosial dan budaya. Fenomena ini searah dengan pandangan Kingsley Davis yang menyatakan perubahan sosial dan perubahan kebudayaan adalah dua bidang yang saling berkaitan. Perubahan sosial adalah bagian dari perubahan kebudayaan mencakup kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan seterusnya (dalam Soekanto, 2001:342).
Irwan Abdullah dalam bukunya Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan (2007) menguraikan bahwa reproduksi kebudayaan merupakan proses penegasan identitas budaya yang dilakukan oleh pendatang, yang dalam hal ini menegaskan keberadaan kebudayaan asalnya. Kebudayaan bagi suatu masyarakat bukan sekedar sebagai frame of reference yang menjadi pedoman tingkah laku dalam berbagai praktik sosial, tetapi lebih sebagai “barang” atau materi yang berguna dalam proses identifikasi diri dan kelompok. Kebudayaan sebagai simbol menunjuk pada bagaimana suatu budaya dimanfaatkan untuk menegaskan batas-batas kelompok. Pembentukan identitas kelompok migran di berbagai tempat cenderung terperangkap ke dalam kerinduan masa lalu. Dasar reproduksi kebudayaan lebih disebabkan oleh usaha menghadirkan masa lalu ke masa kini dan beban sejarah yang dipikul oleh setiap kelompok yang meninggalkan wilayah kebudayaannya, yakni untuk mewujudkan cita-cita dan identitas (Abdullah, 2007:51-52).
38
Berpindahnya orang Bali dan memasuki wilayah budaya berbeda terkadang sulit melepaskan diri dari identitas budaya asal yang sudah melekat dan cenderung masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi sebagai kelompok minoritas, untuk dapat diterima dan menjadi bagian dari sistem yang lebih luas harus mereka beradaptasi untuk menyesuaikan diri sehingga sering menimbulkan perubahan dalam kehidupan sosial dan budaya. Teori konfigurasi menjelaskan, bahwa terjadi tiga proses sosial ketika ada perubahan sebagai akibat dari penyesuaian tersebut di antaranya: pertama terjadi pengelompokan baru dengan orang-orang yang berbeda berarti adanya pembentukan hubungan sosial baru. Kedua, terjadi redefinisi sejarah kehidupan karena adanya fase kehidupan baru. Ketiga, terjadi proses pemberian makna baru bagi diri seseorang, yang menyebabkan ia mendefinisikan kembali kultural dirinya dan asal usulnya (Abdullah, 2007:44)
Berpindahnya orang-orang Bali dan menempati wilayah dan lingkungan sosial yang baru di Lombok secara tidak langsung menimbulkan pengelompokan baru dan membentuk hubungan sosial yang baru baik sesama orang Bali maupun masyarakat setempat. Muncul fase baru dalam kehidupan masyarakat dan fase tersebut menjadi tonggak sejarah di wilayah yang baru. Keberadaan orang-orang Bali dan menetap di Lombok memberikan pandangan baru terhadap identitas pribadi, kelompok dan identitas kesukubangsaan. Bagi orang Bali sendiri, keberadaan mereka di Lombok senantiasa bangga menyebutkan diri sebagai orang Bali walaupun mereka lahir dan dibesarkan di Lombok dan mungkin mereka tidak mengetahui daerah asalnya di Bali. Dari sudut pandang yang lain, bagi masyarakat
39
Lombok, mereka juga masih dianggap sebagai orang Bali. Walaupun demikian bagi orang Bali yang mempunyai sanak saudara di Bali, oleh sanak saudaranya mereka sudah dianggap sebagainyame Sasak(orang Lombok).
Sebagaimana fenomena yang terjadi pada wilayah yang lebih besar, dalam wilayah yang lebih spesifik yakni di bidang seni pertunjukan juga terjadi beberapa perubahan yang cukup signifikan. Perubahan-perubahan yang terjadi menyesuaikan dengan etika dan norma-norma kesopanan, di mana tari-tarian yang disajikan dengan kostum yang agak terbuka diharuskan mengubah konsep pakaian agar bagian-bagian yang terbuka tertutupi. Sebagaimana diketahui beberapa tarian Bali disajikan dengan konsep kostum yang agak terbuka pada bagian lengan dan bahu. Untuk dapat ditampilkan dihadapan masyarakat atau pejabat pemerintahan bagian-bagian tersebut ditutupi dengan baju. Perubahan juga terjadi pada bentuk seni pertunjukan lainnya. Agar kesenian tersebut diterima oleh semua kalangan termasuk masyarakat setempat, beberapa elemen budaya sasak dimasukkan ke dalam seni pertunjukan seperti digunakannya bahasa tradisional sasak.
Berada di wilayah etnik yang berbeda menyebabkan orang-orang Bali menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlaku secara umum yang tentunya berbeda dengan situasi dan kondisi yang terdapat di Bali. Perubahan budaya dalam konteks reproduksi tidak dapat dihindari karena ruang atau wilayah budaya yang baru memiliki kosmologi dan atmosfir yang berbeda dengan di daerah asalnya. Atmosfir masyarakat di Kota Mataram khususnya berbeda dengan atmosfir masyarakat di Bali. Ketika masih dikuasai oleh keturunan Raja Karangasem, Kota Mataram memiliki armosfir kehidupan budaya seperti di Bali di mana nuansa
40
kehidupan masyarakatnya hampir sama dengan yang ada di Bali. Seni, dan tradisi budaya masyarakat di Kota Mataram masih kuat dengan nuansa budaya Bali. Namun setelah terjadinya perubahan dalam sistem pemerintahan dan pola kepemimpinan yang cenderung agamis, lambat laun atmosfir kehidupan masyarakatnya mengalami perubahan. Keberadaan tradisi, dan budaya masyarakat termasuk di antaranya juga seni budaya Bali semakin memudar, bahkan banyak di antaranya yang mengalami kepunahan.
Semakin menguatnya kehidupan keagamaan di wilayah Lombok, justru semakin memperlemah posisi keberadaan kebudayaan asli masyarakat terutama seni tradisi yang ada termasuk seni pertunjukan Bali. Segala bentuk kesenian yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai atau norma keagamaan akan ditinggalkan dalam kehidupan yang lebih luas. Ninuk Kleden (2004) pernah mencatat bahwa pada era tahun 1990-angendang beleqsalah satu seni tradisional masyarakat Sasak menurun popularitasnya dan dikalahkan dengan Kecimol. Hal ini terjadi karena keberadaannya ditolak oleh kelompok Islam karena kelompok ini tidak membenarkan adanya peralatan yang tebuat dari perunggu dan besi. Namun seiring dengan terjadinya perubahan pandangan pada kelompok-kelompok tersebut, pada tahun 2000an peralatan tersebut populer kembali hingga dijadikan ikon budaya Sasak. Diterimanya Gendang Beleq dalam wacana Islam bukannya tidak bersyarat. Ketua Sanggar Bedede dari Dasan Agung, Gapuk menunjukkan telapak tangan dengan kelima jarinya terlentang, yang diartikan sebagai lima waktu shalat dan katanya seni itu letaknya di sela-sela jari tangan. Ini berarti kegiatan kesenian
41
seharusnya dilaksanakan di antara waktu sembahyang, misalnya di antara Lohor dan Azhar atau di antara Azhar dan Mahgrib (Kleden, 2004:2009).
Fakta di atas menunjukkan bahwa keberadaan dan berbagai aktivitas kesenian dalam masyarakat untuk bisa tetap eksis dalam kondisi masyarakat seperti itu mesti dilakukan perubahan dan penyesuaian dengan kondisi serta norma-norma yang ada dan berlaku secara mayoritas. Terjadinya perubahan dan penyesuaian tersebut tidak saja pada kesenian lokal, namun juga kesenian-kesenian lainnya yang terdapat di Lombok termasuk kesenian Bali. Untuk mendukung teori reproduksi budaya digunakan juga teori konfigurasi sebagai pisau analisis atas permasalahan pertama yaitu yang terkait dengan bentuk reproduksi senikakebyaranBali di Kota Mataram. Bahwa dalam proses reproduksi seni kakebyaran tersebut di samping mereproduksi bentuk seni pertunjukan yang hampir sama dengan di daerah asalnya (Bali), terjadi juga beberapa perubahan yang bersifat konfiguratif dalam perkembangan seni kakebyaran di Kota Mataram. Beberapa bentuk komposisi kakebyaranditata kembali dan dimodifikasi untuk digunakan mengiringi tari-tarian Sasak dantembang pesasakandan dramatari.