• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Restorative Justice

Dalam dokumen Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang Be (Halaman 30-33)

Restorative justice merupakan proses penyelesaian yang dilakukan di luar sistem peradilan pidana dengan melibatkan korban, pelaku, keluarga korban dan pelaku, masyarakat, serta pihak-pihak yang berkepentingan dengan suatu tindak pidana yang terjadi untuk mencapai kesepakatan dan penyelesaian.32 Restorative justice dianggap paradigma baru dalam memandang sebuah tindak kejahatan yang dilakukan manusia. Konsep restorative justice mempunyai pengertian dasar bahwa kejahatan merupaan sebuah tindakan melawan orang atau masyarakat dan berhubungan dengan pelanggaran sebagai suatu pengrusakan norma hukum.33

Pelanggaran yang dilakukan tidak hanya merusak t atanan hukum yang dibuat negara, tetapi juga merusak tatanan masyarakat. Tindak kejahatan menyangkut kepentingan masyarakat luas dan negara. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Howard Zehr pda tahun 1990.34

Menurut pandangan restorative justice, penanganan kejahatan yang terjadi tidak hanya menjadi tanggung jawab negara tetapi juga masyarakat. Oleh karena itu, konsep restorative justice dibangun berdasarkan pengertian kerugian

32 Marlina, Op.cit, hal. 23.

33 Allison Morris and C. Brielle Maxwell, Restorative Justice for Juveniles;

Conferening Mediation and Circles, (Oxford-Portland Oregon: Hart Publishing, 2001), hal. 3.

34 Howard Zehr, Changing Lenses: A New Focus for Crime and Justice,

25

yang ditimbulkan oleh kejahatan akan dipulihkan kembali, baik kerugian yang diderita oleh korban maupun kerugian yang ditanggung oleh masyarakat.

Pelaksanaan konsep restorative justice memberi banyak kesempatan kepada masyarakat untuk berperan aktif dalam penyelesaian masalah tindak pidana. Konsep restorative justice mempunyai suatu kerangka pikir dalam upaya mencari alternatif penyelesaian terhadap kasus tindak pidana yang dilakukan oleh anak tanpa hukuman pidana. Alternatif penyelesaian yang dilakukan sebagai sebuah upaya menciptakan keadilan yang berperikemanusiaan.35

Dalam penyelesaian suatu kasus menurut konsep restorative justice peran dan keterlibatan anggota masyarakat sangat berguna dan penting untuk membantu memperbaiki kesalahan dan penyimpangan yang terjadi di sekitar lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Penyelesaian dengan sistem restorative justice diharapkan agar semua pihak yang merasa dirugikan akan terpulihkan kembali dan adanya penghargaan dan penghormatan terhadap korban dari suatu tindak pidana. Penghormatan yang diberikan kepada korban dengan mewajibkan pihak pelaku melakukan pemulihan kembali atas akibat tindak pidana yang telah dilakukannya. Pemulihan yang dilakukan pelaku berupa ganti rugi, pekerjaan sosial, melakukan perbaikan atau kegiatan tertentu sesuai dengan keputusan bersama yang telah disepakati semua pi hak dalam pertemuan yang dilakukan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Llewellyn dan Howse pada tahun 1998 dikatakan bahwa keikhlasan hati, kejujuran dalam sebuah pertemuan tatap muka antara korban dan pelaku sebagai elemen utama dari proses restorative justice.

Restorative justice proses penyelesaiannya melibatkan korban, pelaku, dan masyarakat, sebagaimana dikemukakan oleh Howard Zehr pada tahun 1990 dalam bukunya mengatakan:36

35 Marlina, Ibid, hal. 24.

26

Restorative justice sees things differently… Crimes is a violation of

people and relationships... it creates obligations to make things right. Justice involves the victim, the offender and the community in a search for solutions which promote repair, reconciliation, and

reassurance”.

Selanjutnya Howard Zehr menyebutkan perbandingan antara retributive justice dengan restorative justice. Konsep pemidanaan retributive justice memfokuskan pada perlawanan terhadap hukum dan negara, sedangkan restorative justice memfokuskan pada pengrusakan atau kekerasan terhadap manusia dan yang berhubungan dengannya.37 Retributive justice berusaha mempertahankan hukum dengan menetapkan kesalahan dan mengatur tindakan hukumnya, sedangkan restorative justice berusaha membela korban dengan memperhatikan perasaan sakitnya dan memperhatikan pelaku dengan menetapkan kewajiban pertanggungjawabannya kepada korban dan memberikan peran masyarakat yang dirugikan sehingga semuanya mendapatkan haknya masing - masing. Retributive justice melibatkan negara dan pelaku dalam proses peradilan formal, sedangkan restorative justice melibatkan korban, pelaku, dan masyarakat dalam suasana dialog untuk mencari penyelesaian.38

Fondasi restorative justice dapat dimodifikasi dan dikembangkan sesuai pengalaman praktek. Kerangka konseptual yang ada dapat menghasilkan sebuah praktek pelaksanaan restorative justice. Selanjutnya praktek tersebut didokumentasikan dengan baik untuk dilakukan pengamatan dan evaluasi kembali dilakukan penyempurnaan terhadap kerangka konsep yang ada sebelumnya.39

Perkembangan konsep restorative justice tidak terlepas dari perkembangan teori pemidanaan, mulai dari teori retributif atau teori absolute, teori relatif, teori penggabungan,

37Ibid.

38 Allison Morris dan C. Brielle Maxwell, Restorative Justice for Juveniles:

Conferencing Mediation and Circles, (Oxford-Portland Oregon: Institute of Criminology Victoria University of Welington New Zealand, Hart Publishing, 2001), hal. 3.

39 Mark S. umbreit et, al., May 2002, The Impact of Restorative Justice

conferencing, A Review of 63 Empirical Studies in 5 Countries, University of Minnesota, Peters Hall, hal. 1: It is likely that conceptual underpinnings of Restorative justice are being modified some by the experience of practice, conceptual frameworks, hopefully, shape practice and well -documented practice will in turn bring about a ref inement in conceptual frameworks.

27

terutama teori treatment dan perlindungan sosial. Menurut teori treatment yang dikemukakan oleh aliran positif menyatakan pemidanaan sangat pantas diarahkan kepada pelaku kejahatan, bukan pada perbuatannya. Tujuan pemidanaan menurut treatment untuk memberikan tindakan perawatan dan perbaikan kepada pelaku kejahatan sebagai pengganti dari penghukuman.40 Adapun yang menjadi landasan pemikiran aliran treatment pelaku kejahatan merupakan orang sakit sehingga membutuhkan tindakan perawatan dan perbaikan.

Oleh karena itu, upaya penanggulangan kejahatan dilakukan dengan adanya keterpaduan antara aparat penegak hukum dan masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam upaya penanggulangan kejahatan menjadi penting karena kejahatan yang terjadi tidak hanya merupakan tanggung jawab aparat penegak hukum akan tetapi masyarakat. Sebagaimana dikemukakan oleh Adam Crawford:41

“… it come to the view that the “term crime prevention” is often narrowly interpreted and this reinforce the view that it is solely the responsibility of the policy. Instead they advocated the used of the term “community safety” as it open to wider interpretation which could encourage greater participation from all sections of the community in the fight against crime. Hence, community safety it is argued, incorporated and encompasses a greater diversity of activity and people which itself. It is believed, will assist in the reducation of crime”.

Dalam dokumen Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang Be (Halaman 30-33)