• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2. Teori Yang Digunakan

2.2.3. Teori Semiotik

Tujuan analisis karya sastra adalah mengungkapkan makna.Karya sastra hanyalah karya yang bersifat artefak jika tidak diketahui makna yang terkandung di dalamnya.Suatu karya sastra dalam hal ini syair, merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna.Sesuai dengan konvensi ketanda-tandaan maka analisis struktur tidak dapat dilepaskan dari analisis semiotik.Hal ini sesuai dengan pendapat Pradopo (2008: 108-109), sesungguhnya strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra.Untuk menangkap (merebut) makna unsur-unsur struktur karya sastra harus

memerhatikan sistem tanda yang dipergunakan dalam karya sastra.Dapat dikatakan struktur karya sastra merupakan struktur sistem tanda yang bermakna.

Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia.Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda.Semiotik memelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang meyakinkan tanda-tanda itu mempunyai arti.

Dalam kritik sastra, penelitian semiotik meliputi analisis sastra sebagai sebuah penggunaan bahasa yang bergantung (ditentukan) pada konvensi-konvensi tambahan dan meneliti ciri (sifat-sifat) yang menyebabkan bermacam-macam cara agar wacana memiliki makna (Pradopo, 2008: 119). Hal ini berarti penekanan pendekatan semiotik adalah pemahaman maknakaryasastramelaluitanda-tandadalam karya sastra

Pierce (dalam Nurgiantoro, 2007: 42) membedakan hubungan antara tanda dengan acuannya ke dalam tiga jenis hubungan, yaitu: (1) Ikon adalah tanda yang menggunakan kesamaan atau ciri-ciri yang sama dengan apa yang dimaksudkannya; (2) Indeks adalah suatu tanda yang memiliki kaitan kausal dengan apa yang diwakilinya; (3) Simbol (tanda yang sesuai) adalah hubungan antara penanda dengan petanda yang tidak bersifat alamiah melainkan merupakan kesepakatan masyarakat semata-mata.

Barthes (dalam Al-Ma’ruf, 2006: 45) mengemukakan bahwa di dalam karya sastra sebagai sistem semiotik tahap kedua terdapat tiga aspek, yaitu penanda, petanda, dan tanda. Dalam sistem tanda yaitu asosiasi total antara konsep dan imajinasi yang menduduki posisi sebagai penanda dalam sistem yang kedua.

Semiotik berhubungan erat dengan strukturalisme sebagai sarana untuk menganalisis karya sastra.Hal ini sesuai dengan pendapat Pradopo (2008: 108-109) yang mengemukakan bahwa strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra.Karya sastra adalah sebuah struktur yang komplek.Oleh karena itu, untuk dapat memahaminya haruslah karya sastra itu dianalisis.

Dalam analisis itu karya sastra diuraikan unsur-unsur pembentuknya.

Dengan demikian, makna keseluruhan karya sastra akan dapat dipahami. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu adalah sebuah karya sastra yang utuh.Di samping itu, sebuah struktur sebagai satu kesatuan yang utuh dapat dipahami makna keseluruhannya bila diketahui unsur-unsur pembentuknya dan saling hubungan di antaranya dengan keseluruhannya. (Pradopo, 2008: 108).

Strukturalisme dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya sastra yang bersangkutan. Analisis struktural karya sastra dalam hal ini fiksi dapat dilakukan dengan mengidentifikasikan, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan.(Nurgiantoro,2007:60).

Menurut Teeuw (dalam Ratna, 2008: 103), khususnya dalam ilmu sastra, strukturalisme berkembang melalui tradisi formalism.Artinya, hasil-hasil yang dicapai melalui tradisi formalis sebagian besar dilanjutkan dalam strukturalis.Secara definitif, strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antarhubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya.

Sebuah karya sastra, fiksi, atau puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur (pembangunnya). Strukturalisme dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan (baca: penelitian) kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya sastra yang bersangkutan. Analisis struktural karya sastra dalam hal ini fiksi dapat dilakukan dengan mengidentifikasika, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan.(Nurgiantoro,2007:61)

Stanton (2007: 22) mendeskripsikan unsur-unsur pembagian struktur fiksi terdiri atas tema, fakta cerita, dan sarana sastra.Tema merupakan makna penting atau gagasan utama dalam sebuah cerita.Fakta cerita merupakan aspek cerita yang berfungsi sebagai elemen-elemen catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita.

Fakta cerita terdiri atas alur, tokoh, dan latar. Sarana cerita adalah metode pengarang dalam memilih dan menyusun detil agar tercapai pola-pola yang bermakna. Fungsi sarana sastra adalah memadukan fakta cerita dan tema sehingga makna sastra dapat dipahami dengan jelas. Sarana cerita terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa dan suasana, simbol-simbol, imajinasi, dan juga cara-cara pemilihan judul di dalam karya sastra.

Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.

Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure.

Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.

Dalam menelaah tanda, kita dapat membedakannya dalam dua tahap.Pada tahap pertama, tanda dapat dilihat latar belakangnya pada (1) penanda dan (2) petandanya.Tahap ini lebih melihat tanda secara denotatif.Tahap denotasi ini baru menelaah tanda secara bahasa.Dari pemahaman bahasa ini, kita dapat masuk ke tahap kedua, yakni menelaah tanda secara konotatif.

Roland Barthes (1915-1980) menggunakan teori siginifiant-signifié dan muncul dengan teori mengenai konotasi.Perbedaan pokoknya adalah Barthes menekankan teorinya pada mitos dan pada masyarakat budaya tertentu (bukan individual). Barthes mengemukakan bahwa semua hal yang dianggap wajar di dalam suatu masyarakat adalah hasil dari proses konotasi. Perbedaan lainnya adalah pada penekanan konteks pada penandaan.

Denotasi merupakan makna sesungguhnya, atau sebuah fenomena yang tampak dengan panca indera, atau bisa juga disebut deskripsi dasar.Contohnya adalah Coca-Cola merupakan minuman soda yang diproduksi oleh PT. Coca-Cola Company, dengan warna kecoklatan dan kaleng berwarna merah.

Konotasi merupakan makna-makna kultural yang muncul atau bisa juga disebut makna yang muncul karena adanya konstruksi budaya sehingga ada sebuah pergeseran, tetapi tetap melekat pada simbol atau tanda tersebut. Contoh adalah Coca-Cola merupakan minuman yang identik dengan budaya modern, di mana Coca-Cola menjadi salah satu produk modern dan cenderung kapitalis.

Dengan mengkonsumsi Coca-Cola, seorang individu akan tampak modern dan bisa dikatakan memiliki pemikiran budaya populer.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif.Penerapan metode kualitatif ini bersifat deskriptif yang berarti data yang dihasilkan berupa kata-kata dalam bentuk kutipan-kutipan.Menurut Moleong (dalam Arikunto, 2002: 6), metode kualitatif yang bersifat deskriptif dimaksudkan adalah bahwa data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka.

Penelitian kualitatif bersifat deskriptif lebih mengutamakan proses daripada hasil, analisis data cenderung induktif, dan makna merupakan hal yang esensial (Semi, 1993: 59). Proses dalam penelitian kualitatif lebih diutamakan karena hubungan antar bagian-bagian yang sedang diteliti jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses. Dalam pelaksanaannya, metode deskriptif kualitatif menuntut peneliti untuk menangkap aspek penelitian secara akurat serta memperhatikan secara cermat apa saja yang menjadi fokus penelitian sehingga pemberian interpretasi dapat lebih mendalam.

3.2. Lokasi Penelitian

Di dalam penelitian ini lokasi dan sumber yang dicari ditinjau langsung ke lapangan untuk memenuhi data yang dicari, tepatnya di desa Besilam Kecamatan Kampung Lalang Kabupaten Langkat. Sumber data terdiri dari masyarakat Melayu di Besilam Kecamatan Kampung Lalang Kabupaten Langkat,seperti tokoh adat,tokoh masyarakat,telangkai dan buku-buku yang ada kaitannya dengan isi proposal ini

3.3. Sumber Data

Data dalam penelitian ini adalah syair atau berupa paparan bahasa (teks tertulis) yaitu kata-kata,dan gambar-gambar sesuai dengan apa yang di teliti yaitu

“syair pohon kelapa (puisi lama).

Data merupakan bahan yang sesuai untuk memberi jawaban terhadap masalah yang dikaji (Subroto dalam Al-Ma’ruf, 2009: 11).Data penelitian sastra adalah unsur-unsur sastra yang terdapat dalam teks sastra yang berkaitan langsung dengan masalah penelitian.Data penelitian demikian substansinya dipandang berkualifikasi valid (shahih) dan reliable (terandal) (Al-Ma’ruf, 2009: 11).

Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2002: 107).Sumber data yang digunakan dalam penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber dara skunder (Al-Ma’ruf, 2009: 11-12).

Sumber data primer adalah sumber data yang mengandung data primer dalam hal ini adalah teks sastra yang diteliti.Sumber data primer dalam penelitian ini berupa teks syair pohon kelapa yang di dapatkan dari Pak Akhyar (informan).

Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian atau telaah yang dilakukan oleh orang lain yang terdapat dalam berbagai pustaka seperti majalah, buku kritik sastra, makalah artikel pada jurnal sastra, hasil seminar sastra, dan sebagainya.

Sumber data yang di paparkan ini menggunakan sumber data sekunder yang mana di hasilkan dengan peninjauan secara langsung ataupun kelapangan.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca kembali teks dan menyesuaikan gambar dengan cermat, terarah, dan teliti.Pada saat melakukan pembacaan tersebut, peneliti mencatat data-data tentang nilai-nilai syair pada teks dan gambar tersebut.

3.5. Teknik Analisis Data

Metode analisis data adalah metode atau cara peneliti dalam mengolah data mentah sehingga menjadi data akurat dan ilmiah.pada dasarnya menganalisis data diperlukan kreativitas sehingga diuji kemampuannya peneliti dalam menalar sesuatu.informasi dan data yang diproleh akan ditulis kemudian disusun secara sistematis,selanjutnya dianalisis data,informasi diklasifikasikan sesuai dengan bagian-bagian yang telah ditentukan,adapun langkah-langkah analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Menuliskan data yang diproleh dari lapangan

b. Data kemudian diklasifikasikan sesuai objek penelitian

c. Setelah diklasifikasikan,data-data dianalisis sesuai keperluan objek penelitian

d. Setelah data diklasifikasikan,kemudian diolah dalam laporan penelitian sebagai bentuk pertanggung jawaban terhadap kegiatan yang dilakukan.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1.Struktur Syair

4.1.1. Unsur-Unsur Puisi

Unsur-unsur puisi terdiri dari struktur fisik dan struktur batin puisi antara lain sebagai berikut :

4.1.2.Struktur Fisik Puisi

Diksi ialah pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya.Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-katanya dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin.Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.

Imaji, yaitu kata atau susunan kata yang mengungkapkan pengalaman indrawi, misalnya penglihatan, pendengaran, dan perasaan.Imaji terbagi atas tiga yakni imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan apa yang dialami penyair.

Kata Konkret, adalah kata yang memungkinkan memunculkan imaji karena dapat ditangkap indera yang mana kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Seperti kata konkret "salju" dimana melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dan lain-lain.Sedangkan kata kongkret "rawa-rawa"

melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan dan lain-lain.

Gaya Bahasa, adalah penggunaan bahasa dengan menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu dengan bahasa figuratif yang menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya makna. Gaya bahasa disebut dengan majas. Macam-macam majas yaitu metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi,

anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks

Rima/Irama ialah persamaan bunyi puisi dibaik awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup yakni: Onomatope (tiruan terhadap bunyi seperti /ng/

yang memberikan efek magis puisi staudji C. B); Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan sebagainya; Pengulangan kata/ungkapan ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Rima sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

Peneliti mengambil struktur yang dikemukakan oleh Dunton (dalam Djoko, 1997:6) berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistic dalam bahasa emosional serta berirama karena syair ini di ciptakan langsung oleh pemikiran seorang ahli yaitu H.Akhyar.

Contoh diksi pada syair

Pohon kelapa rupanya indah Hidup di dunia membawa tuah Mayangnya mekar membawa buah Untuk makanan si hamba Allah

Syair di atas memiliki diksi atau pemilihan kata-kata A-B-A-B

Contoh syair yang memiliki imaji Pohon kelapa rupanya indah Hidup di dunia membawa tuah Mayangnya mekar membawa buah Untuk makanan si hamba Allah

Syair diatas mengungkapkan imaji sang penyair di bait pertama “Pohon kelapa rupanya indah”karna penyair menggunakan panca indra penglihatannya dengan melihat suatu benda sehingga menciptakan sebuah syair.

Contoh syair yang memiliki kata konkret Pohon kelapa rupanya indah Hidup di dunia membawa tuah Mayangnya mekar membawa buah Untuk makanan si hamba Allah

Syair yang memiliki kata konkret di atas terletak pada “hamba”yang mana menunjukkan sebuah kata yang memunculkan imaji penyair sehingga dapat menciptakan kata-kata baru.

Contoh syair yang memiliki gaya bahasa Pohon kelapa rupanya indah Hidup di dunia membawa tuah Mayangnya mekar membawa buah Untuk makanan si hamba Allah

Contoh syair di atas memiliki gaya bahasa tersendiri karena setiap kata atau bait memiliki maknanya masing-masing.

4.2.Makna Syair (semiotik)

Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia.Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda.Semiotik memelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang meyakinkan tanda-tanda itu mempunyai arti.

Peneliti menggunakan teori yang di kemukakan oleh Barthes (dalam Al-Ma’ruf, 2006: 45) mengemukakan bahwa di dalam karya sastra sebagai sistem semiotik tahap kedua terdapat tiga aspek, yaitu penanda, petanda, dan tanda.

Dalam sistem tanda yaitu asosiasi total antara konsep dan imajinasi yang menduduki posisi sebagai penanda dalam sistem yang kedua.

Gambar 4.1 Pohon kelapa

Pohon kelapa rupanya indah Hidup di dunia membawa tuah Mayangnya mekar membawa buah

Untuk makanan si hamba Allah

Dari teks syair di atas yang menyatakan sebuah “Tanda” terdapat di bait pertama yaitu“Pohon kelapa rupanya indah”karena syair atau bait pertama tersebut memiliki makna simbol atau logo yang menjadi acuan terciptanya sebuah syair.

Dari teks di atas yang menunjukkan “penanda” adalah bunyian dari syair atau teks tersebut.

Syair atau teks di atas memiliki bunyian dan makna-makna yang mana bisa di katakan sebuah “penanda”.

Pohon kelapa rupanya indah” – Jelas terlihat bahwa pohon kelapa memiliki bentuk yang indah.

“Hidup di dunia membawa tuah” – Kalimat ini menjelaskan bahwa hidupnya pohon kelapa di dunia sangatlah berkat, artinya pohon kelapa memberikan keuntungan.

“Mayangnya mekar membawa buah” –Mayang berarti tongkol bunga palem, maka jika mayang terssebut mekar akan menghasilkan buah.

“Untuk makanan si hamba Allah” –Sangat jelas bahwa pohon kelapa diciptakan Allah untuk umatnya, salah satunya pada buah yang bisa di makan.

Dari syair atau teks diatas yang menyatakan “petanda” adalah pikiran atau pun konsepan untuk menjadikan sebuah syair.jadi syair di atas merupakan petanda dari syair tersebut atau sebaliknya petanda yang dikatakan petanda adalah syair tersebut.

Pohon kelapa di tepi pantai Akar rumpunnya dilanda badai Tampak daunnya lemah gemulai

Ditiup angin rasa melambai

Dari teks syair di atas yang menyatakan sebuah “tanda” terdapat di bait pertama yaitu “Pohon kelapa rupanya indah”karena syair atau bait pertama tersebut memiliki makna simbol atau logo yang menjadi acuan terciptanya sebuah syair.

Dari teks di atas yang menunjukkan “penanda” adalah bunyian dari syair atau teks tersebut.

Syair atau teks di atas memiliki bunyian dan makna-makna yang mana bisa di katakan sebuah“penanda”.

Pohon kelapa di tepi pantai”– Seseorang yang tinggal di pedesaan.

Akar rumpunnya dilanda badai” – Seseorang yang selalu mendapatkan cobaan atau masalah.

“Tampak daunnya lemah gemulai” –Seseorang yang selalu diremehkan.

“Ditiup angin rasa melambai” – Seseorang yang selalu ikhlas dalam menghadapi apa pun.

Dari syair atau teks diatas yang menyatakan “petanda” adalah pikiran atau pun konsepan untuk menjadikan sebuah syair. Jadi, syair di atas merupakan petanda dari syair tersebut atau sebaliknya petanda yang dikatakan petanda adalah syair tersebut.

Gambar 4.2 Buah kelapa muda

Pohon kelapa buah bertandan Masa mudanya enak dimakan Yang tua di ramas dijadikan santan Dimasak pula jadi minyak makanan

Dari teks syair di atas yang menyatakan sebuah “Tanda” terdapat di bait pertama yaitu“Pohon kelapa rupanya indah”karena syair atau bait pertama tersebut memiliki makna simbol atau logo yang menjadi acuan terciptanya sebuah syair.

Dari teks di atas yang menunjukkan “penanda” adalah bunyian dari syair atau teks tersebut.

Syair atau teks di atas memiliki bunyian dan makna-makna yang mana bisa di katakan sebuah“penanda”.

Pohon kelapa buah bertandan” – Kalimat ini mulai terlihat tidak jelas karena jelaslah bahwa pohon kelapa tidak bertandan seperti buah pisang.

“Masa mudanya enak dimakan” – Jika buah kelapa masih muda memanglah enak untuk dinikmati.

“Yang tua diramas dijadikan santan” – Jika buah kelapa sudah tua maka lebih baik dikukur, diramas lalu menjadi santan.

“Dimasak pula jadi minyak makanan” – Buah kelapa yang sudah dikukur juga bisa diolah menjadi minyak makanan yang biasa disebut minyak kelapa.

Dari syair atau teks diatas yang menyatakan “petanda” adalah pikiran atau pun konsepan untuk menjadikan sebuah syair.jadi syair di atas merupakan petanda dari syair tersebut atau sebaliknya petanda yang dikatakan petanda adalah syair tersebut.

Gambar 4.3Buah kelapa tua

Gambar 4.4 Kelapa yang sudah di parut

Gambar 4.5 Air santan kelapa

Gambar 4.6Batang pohon kelapa yang sudah menjadi kayu

Gambar 4.7Daun kelapa yang sudah diparut menjadi lidi

Pohon kelapa dijadikan ilahi Batangnya bisa dibuat titi

Tempurung dan seludangnya dijadikan kayu api Daunnya diraut dijadikan sapu lidi

Dari teks syair di atas yang menyatakan sebuah “Tanda” terdapat di bait pertama yaitu” Pohon kelapa rupanya indah”karena syair atau bait pertama tersebut memiliki makna simbol atau logo yang menjadi acuan terciptanya sebuah syair.

Dari teks di atas yang menunjukkan “penanda” adalah bunyian dari syair atau teks tersebut.

Syair atau teks di atas memiliki bunyian dan makna-makna yang mana bisa di katakan sebuah”penanda”.

“Pohon kelapa dijadikan ilahi” – Kembali dikatakan bahwa pohon kelapa adalah ciptaan Allah.

“Batangnya bisa dibuat titi” – Batang pohon kelapa sangat kokoh sehingga bisa dibuat menjadi jembatan penyebrangan.

“Tempurung dan seludangnya dijadikan kayu api” – Tempurung buah kelapa dan kulit pembalut mayang berguna sebagai kayu bakar.

“Daunnya diraut dijadikan sapu lidi” – Pada bagian daun kelapa terdapat tulang di tengahnya yang berguna sebagai lidi jika dikumpulkan maka menjadi sapu lidi.

Dari syair atau teks diatas yang menyatakan “petanda” adalah pikiran atau pun konsepan untuk menjadikan sebuah syair. Jadi syair di atas merupakan petanda dari syair tersebut atau sebaliknya petanda yang dikatakan petanda adalah syair tersebut.

Betapolah tidak pohon selalu Daunnya berbunyi dihembus bayu Bagaikan berpesan di dalam kalbu Menyuruh taatilah Tuhan yang satu

Dari teks syair di atas yang menyatakan sebuah “Tanda” terdapat di bait pertama yaitu” Pohon kelapa rupanya indah”karena syair atau bait pertama tersebut memiliki makna simbol atau logo yang menjadi acuan terciptanya sebuah syair.

Dari teks di atas yang menunjukkan “penanda” adalah bunyian dari syair atau teks tersebut.

Syair atau teks di atas memiliki bunyian dan makna-makna yang mana bisa di katakan sebuah”penanda”.

“Betapolah tidak pohon selalu” – Masih menyinggung pohon kelapa yang selalu demikian.

“Daunnya berbunyi dihembus bayu” – Jika bayu (angin) berhembus maka daun kelapa saling bersinggungan hingga menghasilkan bunyi.

“Daunnya berbunyi dihembus bayu” – Jika bayu (angin) berhembus maka daun kelapa saling bersinggungan hingga menghasilkan bunyi.

Dokumen terkait