E. EVOLUSI ILMU PERILAKU DALAM MANAJEMEN
3. Teori Social Learning
Teori ini menunjukkan model interaksi timbal balik antara pemimpin, perilaku, dan lingkungan melalui dasar teori yang jelas dan dilakukan secara komprehensif (Thoha 2007).
Keberlangsungan, interaksi timbal balik seluruh variabel, dan perilaku kepemimpinan adalah fokus pada teori ini. Jadi dapat dinyatakan bahwa, pemusatan pada perilaku sendiri ataupun lainnya serta penaksiran kemungkinan kognisi dan lingkungan yang bisa menjadi perantara antara pimpinan dan bawahan dengan cara saling aktif berpartisipasi.
Konsep Teori Kepemimpinan Klasik a. Teori sifat
Teori ini mampu mengenali perbedaan antara pemimpin dan non pemimpin dalam hal karakteristik atau sifat. Fisik, golongan sosial, penampilan, stabilitas emosi, kemampuan bersosialisasi, dan kelan-caran berbicara adalah karakteristik-karakteristik yang menjadi pembeda. Teori sifat beranggapan bahwa kepeimimpinan bukan karena dilatih atau dididik melainkan karena bawaan lahir, sehingga kepemimpinan yang efektif dapat tercapai tanpa harus melalui proses pembelajaran.
Dengan kata lain, pemimpin efektif dapat hadir jika memiliki sifat yang tepat ketika lahir. Akan tetapi, banyak pandangan menunjukkan bahwa sifat dari bawaan lahir tersebut tidak dapat dikenali pada seseorang pemimpin efektif. Teori ini dipatahkan oleh pandangan lainnya bahwa sifat-sifat
bawaan lahir tersebut tidak membantu dalam mengenali pemimpin yang efektif. Oleh karena, faktor situasional berupa interaksi antara pemimpin dan anggota kelompok diabaikan dan yang menjadi dasar hanya sifat saja. b. Teori perilaku
Selama 3 dekade yang dimulai pada awal tahun 1950-an, riset tentang perilaku pemimpin didominasi oleh pandangan yang berfokus pada sejumlah kecil aspek-aspek dari perilaku.
Pada era ini, studi hanya berkisar pada pengukuran perilaku yang bertujuan pada tugas dan pada hubungan lebih banyak menggunakan kuesioner. Dengan demikian, teori perilaku adalah teori kepemi-mpinan yang mengenali perilaku pemimpin efektif dan pemimpin tidak efektif. c. Teori kontingensi
Berdasarkan teori ini, efektivitas kepemimpinan memerlukan pola atau ciri perilaku pemimpin. Jadi, definisi muncul dari masing-masing teori ini mengenai gaya kepemimpinan dan situasi, dimana dium-pamakan jika X merupakan konteks dan situasinya maka Y merupakan gaya kepemimpinan terbaik untuk dipilih/digunakan.
Konsep Teori Kepemimpinan Modern
Di negara berkembang, teori modern mengenai perubahan sosial seringkali dipandang dengan berjalan secara linear (bergerak dari tradisional ke modernisasi) dan evolusioner (bergerak lambat), padahal pada praktiknya terdapat beberapa teori seperti:
a. Teori kepemimpinan tranformasional
Pada teori ini, produktivitas dari pekerja dapat distimulasi dan diberikan inspirasi oleh para pemimpin.
b. Teori kepemimpinan Kharismatik-visioner
Anggota suatu organisasi dapat dipengaruhi untuk berperilaku sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para pemimpin kharismatik yang memiliki antusiasme dan percaya diri yang tinggi. Sehingga, situasi terkini dapat diperbaiki oleh pemimpin yang mampu merealisasikan visi masa depan atau dengan kata lain dapat dilakukan oleh pemimpin visioner.
c. Teori kepemimpinan tim
Berdasarkan teori ini, memfasilitasi proses dan menentukan batas tim adalah tugas dari pemimpin.
Teori klasik dan teori modern memiliki perbedaan, yakni:
a. Pada teori klasik lebih mengutamakan keteraturan sedangkan teori modern lebih fleksibel.
b. Pada teori klasik cenderung menetapkan gaya kepemimpinan menjadi dua yakni efektif dan tidak efektif sedangkan pada teori modern, kepemimpinan dapat ditetapkan melalui kemampuan pemimpin untuk memberikan motivasi dan inspirasi bagi anggotanya.
c. Pada teori kasik lebih mengutamakan aspek yang mendasar yakni: sifat, perilaku, dan situasi sedangkan pada teori modern, kebutuhan dan kepentingan anggota kelompok adalah landasan utama.
Di Indonesia, sejarah kepemimpinan dalam analisa yang bersifat umum dapat diklasifikasikan berdasar beberapa fase perkembangan, yakni:
a. Fase Masa Kolonial Belanda sampai tahun 1953 atau “fase
mandor/klerek”
Fase ini adalah “masa primadona administrasi” (administratie) dimana administrasi memegang peran penting. Penguasa kolonial Belanda yang cenderung otokratis memposisikan para pemimpin inlander/pribumi hanya pada tingkatan: mandor, klerek, kopral atau sersan, dan sebagainya. Dengan kata lain, para pemimpin hanya sampai pada aras operasional. Pemimpin aras operasional ini hanya memiliki peran “middle administrator” atau “supervisor kerja” bukanlah sebagai manajer/top
leader. Top leader dipegang oleh kelompok kolonial yang meyakini bahwa mereka bahwa mereka lahir sebagai pemimpin.
b. Fase tahun 1953 sampai tahun 1970 - 1980 atau “fase perkembangan administrasi dan manajemen”
Pada fase ini ilmu administrasi menjadi sangat populer di Indonesia, dengan berdirinya banyak akademi-akademi administrasi dan kesekretariatan. Lembaga Administrasi Negara (LAN) dalam bidang pemerintahan, memegang peran penting dan utama dalam mencetak para pemimpin untuk bidang pemerintahan. Kebangkitan pada fase ditandai
juga dengan munculnya ilmu manajemen di Indonesia, dimulai dari lahirnya manajemen klasik, manajemen berdasar sasaran, manajemen performansi tinggi, manajemen perencaraan strategis, dan manajemen total kualitas (TQM/Total Quality Management).
Pada tataran ini, para pemimpin Indonesia walau masih terbatas pada kelompok elit telah mampu mengimplementasikan ilmu mena-jemen dengan berperan besar sebagai wirausahawan walaupun dalam jumlah yang sedikit. Ilmu manajemen sudah diterapkan pada bidang militer, pemerintahan, perbankan, bisnis, politik, pendidikan, dan sebagainya yang dilakukan secara khas pula yang menandakan dipraktikkannya manajemen secara umum.
c. Fase tahun 1980-2000 sampai dengan sekarang atau “fase kepemimpinan baru/kepemimpinan global”
Fase ini bermula dengan adanya gerakan yang menumbukan Ilmu Manajemen SDM yang berbeda dengan Personnel Management di era sebelumnya. Bidang studi kepemimpinan mulai menjamur dan berkembang pada masyarakat Indonesia, yang menyebar luas pada bidang umum sampai dengan bidang khusus, seperti: keagamaan (pendidikan teologi), perusahan swasta, pendidikan umum, dan lain sebagainya. Perkembangan selanjutnya dapat dilihat dari banyak dilaksanakannya pendidikan serta pelatihan kepemimpinan (formal, nonformal dan informal) dalam segala bidang kerja. Hasilnya banyak bermunculan para pemimpin baru dalam segala bidang kehidupan yang menunjukkan bahwa Indonesia sedang berada dalam era baru, era global, dengan persaingan kepemimpinan yang cukup ketat yang terjadi pada semua level ditengah perubahan lingkungan yang kompleks.
Perkembangan Konsep Kepemimpinan di Dunia Digital
Saat ini diperlukan peningkatan kapabilitas yang lebih tinggi dika-renakan pemahaman mengenai kepemimpinan dimasa lalu dinilai tidak memadai lagi. Era revolusi industri 4.0/Digital dan pengaruh global baik mikro maupun makro menyebabkan situasi bisnis semakin sulit dan kompleks untuk diprediksi apalagi perubahannya dapat terjadi dengan cepat. Para pemimpin dalam memasuki era digital harus dapat menguasai kemampuan yang merupakan tools kepemimpinan yang revelan dengan
kebutuhan dan tantangan dalam perusahaan yang disebut “soft skill 3 C”,
yakni: Complex problem solving, Critical thingking, dan Creativity (Balance
Right & Left Brain function) selain kompetensi-kompetensi soft skill lainnya.
Di dunia digital terjadi beberapa pergeseran konsep kepemi-mpinan, dimana pada tahun 2020, kepemimpinan akan bercirikan memiliki kemampuan dalam: pemecahan masalah yang kompleks, berpikir kritis, kreativitas, manajemen SDM, koordinasi dengan orang lain, kecerdasan emosional, judgment dan pengambilan keputusan, memiliki orientasi pada layanan, negosiasi dan fleksibilitas kognitif.
Menurut Eric Mary, Country Manager dari Robert Walters Indonesia, untuk dapat sukses dalam memimpin generasi yang berbeda di tempat kerja terdapat kriteria-kriteria baru yang wajib ada pada diri para pemimpin di era ini, yakni: (Mary 2019)
a. Kemampuan dalam berkomunikasi b. Berpikiran terbuka
c. Tanggap terhadap perubahan d. Berani mengambil risiko
e. Mengoptimalkan energi diri sendiri
f. Memperoleh dan memberikan energi pada pemimpin lainnya g. Memberikan energi pada keseluruhan organisasi
h. Mengelola konflik antargenerasi di tempat kerja
Oleh karena itu, riset lanjutan perlu meneliti dampak penerapan kepemimpinan pada Era revolusi industri 4.0/Digital untuk perusahaan bisnis/oraganisasi yang melakukan transformasi digital.