BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Teori yang Digunakan
2.2.1 Teori Struktural
Secara umum, teori utama dan terpenting yang dilahirkan atau yang berinduk pada pendekatan objektif adalah teori strukturalisme. Secara etimologis, kata struktur berasal dari bahasa latin structura yang berarti bentuk atau bangunan.
Asal usul teori struktural dalam kaitannya dengan tragedi, lebih khusus lagi dalam pembicaraan mengenai plot. Konsep plot harus memiliki ciri-ciri yang terdiri atas : kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan (Ratna 2005: 88).
Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah.
Pada skripsi ini penulis menggunakan teori struktural yang dipaparkan oleh Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya yang berjudul Teori Pengkajian Fiksi untuk menelaah unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam legenda Tombak Hatuaan. Nurgiyantoro (2007: 38) menyatakan analisis struktural tidak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi, misalnya : tema, alur, latar/setting, dan perwatakan/penokohan. Namun yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antar unsur itu, dan sumbangan apa
yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai.
Hal itu perlu dilakukan mengingat bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks dan unik, disamping setiap karya mempunyai ciri kompleksan dan keunikannya sendiri, dan hal inilah antara lain yang membedakan antara karya yang satu dengan karya yang lain.
1. Tema
Tema adalah gagasan (makna) dasar umum yang menopang sebuah karya sastra sebagai struktur semantis dan bersifat abstrak yang secara berulang-ulang dimunculkan lewat motif-motif dan biasanya dilakukan secara implisit.
Kenny (dalam Nurgiyantoro 1966: 88) mengemukakan bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita.
2. Alur/Plot
Plot merupakan unsur fiksi yang penting,bahkan tidak sedikit orang yang menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai unsur fiksi yang lain. Kenny (dalam Nurgiyantoro 2007: 113) mengemukakan plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat.
Menurut Richard(dalam Nurgiyantoro 2007: 149) menyatakan bahwa alur berkembang dari awal hingga akhir.
Dalam perkembangan menunjukkan tingkatan-tingkatan tertentu, membedakan tahapan plot menjadi lima bagian, yaitu:
a. Tahap situasi/Situation
b. Tahap pemunculan konflik/Generating Ciscumstances c. Tahap peningkatan konflik/Rising Action
d. Tahap klimaks/climax
e. Tahap penyelesaian/Denouement
3. Latar/ Setting
Abrams (dalam Nurgiyantoro 2007: 216) menyatakan bahwa latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu sejarah, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
Menurut (Nurgiyantoro 2007: 227) unsur-unsur latar dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: tempat, waktu, dan sosial.
a. Latar Tempat
Latar tempat adalah menunjuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Bila latar tersebut termasuk latar tipikal, akan disebutkan nama dari tempat tersebut.
b. Latar waktu
Latar waktu adalah yang berhubungan dengan masalah “kapan”
terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Waktu dalam latar dapat berupa masa terjadinya peristiwa tersebut dikisahkan, waktu dalam hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan lain sebagainya.
c. Latar sosial
Latar sosial adalah menunjuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup mencakup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap.
4. Perwatakan/ Penokohan
Jones (dalam Nurgiyantoro 2007: 33) menyatakan bahwa penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Perwatakan tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra ada beberapa watak, yaitu: tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan trigonis.
a. Tokoh Protagonis
Tokoh yang dikagumi yang salah satunya secara populer yang merupakan pengenjawantahan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi pembaca/ penikmat karya sastra.
b. Tokoh Antagonis
Tokoh penyebab terjadinya konflik, beroposisi dengan tokoh protagonis.
c. Tokoh Trigonis
Tokoh yang tidak memiliki sifat Protagonis dan Antagonis atau tokoh yang berada diluar kedua tokoh/pihak ketiga.
2.2.2 Teori Kepribadian Psikoanalisis Sigmund Freud
Buku pertama yang di tulis oleh Freud dalam kerja sama dengan Dokter Josef Breuer: Studi-Studi Tentang Histeria (1895) adalah awal mulanya psikoanalisis ia temukan ketika mengobati pasien-pasien neourosisnya. Awalnya Freud berpendapat bahwa kehidupan psikis manusia mengandung dua bagian, yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Tetapi pada bukunya Ego dan Id (1923) Freud merevisi kesadaran dan ketidaksadaran menjadi id,ego, dan superego.
Menurut Sigmund Freud struktur kepribadian manusia terbagi tiga instansi, yaitu : Id,Ego,dan Superego.
1. Id
Id berasal dari bahasa latin yang berarti “itu” (dia untuk benda) atau Es dalam bahasa Jerman bahasa yang digunakan oleh Freud , merupakan bagian dari ketidaksadaran. Menurut Freud (2016: 32) Id adalah lapisan psikis paling mendasar. Terdapat naluri-naluri bawaan (seksual dan agresif) dan keinginan-keinginan yang direpresikan. Id, menjadi bahan dasar bagi pembentukan hidup psikis lebih lanjut.
Menurut Rokhana (2009:19) Ciri-ciri Id adalah :
a. Merupakan aspek biologis kepribadian karena berisi unsur-unsur biologis termasuk di dalamnya insting-insting.
b. Merupakan sistem yang paling asli di dalam diri seseorang karena dibawa sejak lahir dan tidak memperoleh campur tangan dari dunia luar (dunia objektif).
c. Berupa realitas psikis yang sesungguhnya karena hanya merupakan dunia batin/dunia subjektif manusia dan sama sekali tidak berhubungan dengan dunia objektif.
d. Merupakan sumber psikis yang menggerakkan Ego dan Superego.
e. Prinsip kerja Id untuk mengurangi ketegangan adalah prinsip kenikmatan, yaitu mengurangi ketegangan dengan menghilangkan ketidakenakan dan mengejar kenikmatan.
2. Ego
Ego berasal dari bahasa Latin yang berarti “aku”. Menurut Freud (2016: 33).
Ego terbentuk dengan diferensiasi Id karena kontaknya dengan dunia luar. Ego bersifat sadar dan sebagai contoh aktivitas sadar boleh disebut: presepsi lahiriah, presepsi batin, proses-proses ingatan.
Menurut Rokhana (2009: 20) ciri-ciri Ego adalah:
a. Merupakan aspek psikologis kepribadian karena timbul dari kebutuhan organisme untuk berhubungan baik dengan dunia nyata dan menjadi perantara antara kebutuhan instingtif organisme dengan keadaan lingkungan.
b. Bekerja dengan prinsip kenyataan (reality principle) yaitu menghilangkan ketegangan dengan cara mencari objek yang tepat di dunia nyata untuk mengurangi ketegangan.
c. Proses yang dilalui dalam menemukan objek yang tepat adalah proses sekunder, yaitu proses yang berfikir realitas melalui perumusan rencana
pemuasan kebutuhan dan mengujinya (secara teknis disebut reality testing) untuk mengetahui berhasil tidaknya melalui suatu tindakan.
d. Merupakan aspek eksekutif kepribadian karena merupakan aspek yang mengatur dan mengontrol jalan yang ditempuh serta memilih objek yang tepat untuk memuaskan kebutuhan.
3. Superego
Superego atau Ueberich dalam bahasa Jerman. Menurut Freud (2016: 33) Superego dibentuk melalui jalan internalisasi, artinya larangan-larangan atau perintah-perintah yang berasal dari luar (pengasuh-pengasuh, khususnya orang tua) diolah sedemikian rupa sehingga akhirnya terpancar didalam. Dengan kata lain, Superego adalah buah hasil proses internalisasi, sejauh proses larangan-larangan dan perintah-perintah yang tadinya ditemui sebagai “asing” bagi si subjek akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari subjek sendiri.
Menurut (Rokhana,2009: 21) ciri-ciri Superego adalah:
a. Merupakan aspek sosiologis kepribadian karena merupakan wakil nilai-nilai tradisional dan cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya melalui berbagai perintah dan larangan.
“Engkau tidak boleh...” atau “Engkau harus...” menjadi “Aku tidak boleh...” atau “Aku harus...”.
b. Merupakan aspek moral kepribadian karena fungsi pokoknya adalah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak sehingga seseorang dapat bertindak sesuatu dengan moral masyarakat.
Dihubungkan dengan ketiga aspek kepribadian, fungsi pokok Superego adalah:
1. Merintangi impuls-impuls Id terutama impuls-impuls terutama seksual dan agresi yang sangat di tentang masyarakat.
2. Mendorong Ego untuk belajar lebih mengejar hal-hal yang moralistis dari pada realistis.
3. Mengejar kesempurnaan.
2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejiwaan Manusia
Kejiwaan manusia dapat dipengaruhi oleh banyak hal. Menurut (Dougall dalam Rakhmat. 2007: 33) menyebutkan pentingnya faktor-faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dan masyarakat, Tetapi, Edward Ross, seseorang sosilog menegaskan utamanya faktor situasional dan sosial dalam membentuk perilaku individu. Secara umum faktor yang mempengaruhi kejiwaan ada dua (Rakhmat 2007: 33) yaitu:
I. Faktor Personal
Faktor personal adalah faktor yang berasal dari individu itu sendiri, antara lain:
A. Faktor Biologis
Faktor biologis berpengaruh dalam seluruh kegiatan manusia. Warisan biologis manusia menentukan kejiwaannya. Kejiwaannya yang merupakan bawaan manusia, bukan pengaruh lingkungan (Dougall dalam Rakhmat 2007: 34).
B. Faktor Sosiopsikologis
Manusia sebagai makhluk sosial mengalami proses sosial sehingga diperoleh beberapa karakteristik yang mempengaruhi perilaku. Faktor sosiopsikologis digolongkan menjadi tiga, yaitu:
1. Komponen Afektif
Komponen afektif merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis.
Yang termasuk ke dalam komponen afektif adalah sebagai berikut:
a. Motif Sosiogenis
Motif sosiogenis disebut juga motif sekunder. Peranannya sangat penting dalam pembentukan perilaku sosial. Motif sosiogenis meliputi:
1. Motif ingin tau.
2. Motif kompetensi.
3. Motif cinta.
4. Motif harga diri dan kebutuhan mencari identitas.
5. Motif kebutuhan pemenuhan diri.
6. Motif akan nilai.
b. Sikap
Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, dan nilai. Sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi, sikap bukan rekaman masa lalu, sikap mengandung aspek evaluatif dan sikap timbul dari pengalaman (Rakhmat, 2007: 40).
c. Emosi
Emosi menunjukkan kegoncangan organism yang disertai gejala-gejala kesadaran perilaku, dan proses fisiologi. Emosi mempunyai empat fungsi (Rakhmat,2007: 40), yaitu:
1. Sebagai pembangkit energi.
2. Sebagai pembawa informasi.
3. Pembawa pesan dalam interoersonal.
4. Pemberi informasi tentang sumber keberhasilan mereka.
2. Faktor Kognitif
Termasuk dalam komponen ini adalah kepercayaan, kepercayaan adalah keyakinan bahwa sesuatu itu benar atau salah atas dasar bukti, sugesti, otoritas, pengalaman, atau intuisi (Kohler dalam Rakhmat, 2007: 43).
3. Komponen Konatif
Komponen konatif terdiri dari kebiasaan dan kemauan. Kebiasaan adalah aspek manusia menetap, berlangsung secara otomatis tidak direncanakan. Kebiasaan merupakan hasil pelaziman yang berlangsung pada waktu yang lama atau sebagai reaksi khas yang diulangi berkali-kali. Sedangkan kemauan erat dengan tindakan, bahkan ada yang mendefinisikan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan (Kohler dalam Rakhmat,2007: 43).
II. Faktor Situasional
Faktor situasional adalah faktor yang datang dari luar individu. Menurut (Sampson dalam Rakhmat, 1986: 54-58) faktor situasional meliputi hal-hal sebagai berikut:
A. Faktor Ekologis
Keadaan alam akan sangat mempengaruhi gaya hidup dan kejiwaan seseorang. Contoh: Banyak orang yang menghubungkan kemalasan bangsa Indonesia pada mata pencaharian bertani dan matahari yang selalu bersinar
setiap hari. Hal ini disebabkan efek temperatur pada tindakan kekerasan, perilaku, dan emosional (Rakhmat, 2007: 44).
B. Faktor Temporal
Waktu memberi pengaruh pada jiwa manusia. Contoh: tubuh manusia dari tengah malam sampai pukul 04:00, fungsi tubuh manusia berada pada tahap paling rendah, Tapi pendengaran sangat tajam, pada pukul 10:00 bagi orang introvert. Konsentrasi dan daya ingat mereka mencapai pada puncaknya.
Sedangkan pukul 15:00 oarang-orang ekstrovert mencapai puncak dalam kemampuan analisis dan kreativitas (Panati dalam Rakhmat,2007: 45).
C. Faktor Suasana Perilaku
Lingkungan merupakan beberapa satuan yang terpisah yang disebut suasana perilaku. Contohnya: di mesjid orang tidak akan berteriak keras, seperti dalam pesta ulang tahun orang tidak aka melakukan upacara ibadah.
Dalam suatu kampanye di lapanan terbuka, komunikator akan menyusun dan menyampaikan pesan dengan cara yang berbeda daripada ketika ia berbicara di hadapan kelompok kecil di ruangan rapat partainya (Rakhmat,2007: 43).
D. Faktor Sosial
Sistem peranan yang ditetapkan dalam suatu masyarakat, struktur kelompok dan organisasi, karakteristik populasi, seperti usia, kecerdasan, karakteristik biolois, mempengaruhi pola-pola anggota-anggota populasi tersebut (Rakhmat,2007: 46). Contohnya: kelompok orang tua melahirkan pola perilaku yan berbeda dengan anak muda.
E. Faktor Psikososial
Presepsi tentang sejauh mana lingkungan memuaskan atau mengecewakan manusia, akan mempengaruhi kejiwaan manusia. Iklim psikososial menunjukkan presepsi seseorang tentang kebebasan individual, ketepatan pengawasan, kemungkinan kemajuan dan tingkat keakraban.
F. Faktor Yang Mendorong dan Memperteguh Perilaku Kejiwaan
Kendala situasi mempengaruhi kelayakan melakukan perilaku tertentu.
Situasi permisif (terbuka) memungkinkan orang melakukan banyak hal tanpa rasa malu. Sebaliknya, situasi restriktif (tertutup) menghambat berperilaku sekehendak hatinya. Contohnya: orang islam yang tinggal di lingkungan pesantren cenderung berperilaku dan berpenampilan lebih sopan.
G. Faktor Budaya
Faktor budaya sangat mempengaruhi kejiwaan seseorang. Seseorang dengan latar belakang budaya tertentu akan mempunyai jiwa tertentu pula dengan latar budayanya.
BAB III
METODE PENELITIAN
Kata metode berasal dari bahasa Yunani methodos, terdiri dari dua kata yaitu meta (menuju, melalui, mengikuti) dan hodos (jalan, cara, arah). Arti kata methodos adalah metode ilmiah yaitu cara melakukan sesuatu menurut aturan tertentu. Adapun metodologi berasal dari kata metode dan logos, yang berarti ilmu yanWg membicarakan tentang metode. Metode dapat dirumuskan suatu proses atau prosedur yang sistematik berdasarkan prinsip dan teknik ilmiah yang dipakai oleh disiplin (ilmu) untuk mencapai suatu tujuan.
Metode penelitian adalah anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian.
3.1 Metode Dasar
(Nawawi dalam Siswantoro, 2014: 56) Metode dasar yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan mengambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian (novel, drama, cerita pendek, puisi) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagai mana adanya.
Ciri dari metode ini biasanya, difokuskan pada masalah faktual yang ada pada waktu penelitian. Data yang dikumpulkan, disusun, dianalisis, dan interpretasi sangat bergantung pada teknik penelitian yang digunakan , karena itu teknik-teknik pengumpulan dan analisis data harus disajikan secara jelas dan detail.
Mula-mula data dikumpulkan lalu disusun, dideskripsikan, dengan maksud menemukan unsur-unsurnya, kemudian dianalisis.
3.2 Lokasi Penelitian
Untuk memperoleh data yang akurat mengenai lokasi yang akan diteliti penulis memperolehnya dari penelitian lapangan. Adapun lokasi penelitian dari penulis berada di Desa Marbun, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara.
Alasan penulis untuk memilih lokasi penelitian ini adalah karena Tombak Hatuanan sampai saat ini masih diperbincangkan oleh masyarakat yang berada di desa tersebut.
3.3 Sumber Data Penelitian
Sumber data dikenal juga sebagai bahan analisis, yang terbagi atas dua bagian yaitu: sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer disebut juga sumber data mentah yaitu data-data yang ditemukan di lapangan dan belum pernah dianalisis sebelumnya. Sedangkan sumber data sekunder adalah data yang sudah pernah diteliti dan dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya dari sudut pandang orang lain.
Dalam penyususan skripsi ini penulis menggunakan data primer berupa hal-hal yang mencakup keterangan tentang Tombak Hatuaan pada masyarakat Toba di Desa Marbun, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan.
Sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari legenda Tombak Hatuaan pada masyarakat Toba secara lisan maupun tulisan
3.4 Instrumen Penelitian
Sumber data penelitian ini adalah data lapangan yang melalui wawancara dengan beberapa informan yang tinggal di desa itu. Dalam melakukan wawancara dengan informan, penulis menggunakan instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan yang diajukan penulis dalam melakukan wawancara dengan informan.
Alat bantu yang digunakan yaitu:
1. Alat rekam (tape recorder).
2. Pulpen.
3. Buku tulis.
4. Kuisioner.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Metode Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan berhadapan secara langsung dengan yang diwawancarai tetapi dapat juga diberikan daftar pertanyaan dahulu untuk dijawab pada kesempatan lain.
2. Metode Observasi
Metode ini menuntut adanya pengamatan dari peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek penelitian.
3. Metode Kepustakaan
Metode ini dilakukan untuk mendapatkan sumber acuan penelitian, agar data yang didapatkan dari lapangan dapat diolah semaksimal mungkin sesuai dengan tujuan yang digariskan. Dalam metode ini penulis juga mencari buku-buku pendukung yang berkaitan dengan masalah dalam penulisan Proposal Skripsi ini nantinya, dengan menggunakan teknik catat.
3.6 Metode Analisis Data
Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Metode ini bertujuan untuk mengkaji aspek psikologi tokoh dalam Legenda Tombak Hatuaan dengan pendekatan psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud yaitu teori kepribadian.
Selain mengungkapkan teori kepribadian yang ada dalam psikologi.
Pendekatan psikologi juga digunakan untuk mengungkap faktor-faktor yang melatarbelakangi aspek kejiwaan yang terjadi pada tokoh. Adapun langkah-langkah analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Setelah data terkumpul, selanjutnya penulis mengeliminasikan data yang tidak diperlukan.
2. Mengidentifikasi data-data yang diperoleh sesuai dengan objek penelitian.
3. Menganalisis data-data sesuai dengan rumusan masalah unsur intrinsik.
4. Menganalisis data-data sesuai dengan rumusan masalah aspek psikologi tokoh.
5. Menganalisis data-data sesuai dengan rumusan masalah faktor-faktor yang melatarbelakangi aspek psikologi tokoh.
6. Setelah itu penelitian tersebut disusun dalam bentuk laporan skripsi.
7. Menarik kesimpulan.
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Unsur-unsur Intrinsik Pada Legenda Tombak Hatuaan
4.1.1 Tema
Tema adalah gagasan (makna) dasar umur yang menopang sebuah karya
sastra sebagai struktur semantis dan bersifat abstrak yang secara berulang-ulang dimunculkan lewat motif-motif dan biasanya dilakukan secara implisit. Tema yang merupakan motif pengikat keseluruhan cerita biasanya tidak serta-merta ditunjukkan.
Dalam cerita Tombak Hatuaan, penulis menyatakan bahwa tema cerita adalah : Tentang Hutan yang menjadi tempat persembahan yang dipercayai dapat mengabulkan permintaan bagi mereka yang ingin membuat sebuah permohonan.
Hutan itu diberi nama Tombak Hatuaan.
Hal ini dapat dilihat dari kutipan cerita :
“...Di tonga-tonga rapat i, dang holan lao mamukka huta alai halaki lao mambahas inganan partapaan Aji Maga-Maga marga Lumban Batu laos dibahen baen inganan lao panukkunan. Alai inganan partapaan i nungnga dipillit Aji Maga-Maga marga Lumban Batu. Dilehon Aji Maga-Maga marga Lumban Batu on do haporseaon tu si Onom Oppu asa nasida mampasahat tu si Aji Maga-Maga marga Lumban Batu. Jala dibahen Aji Maga-Maga marga Lumban Batu on do goar ni inganan partapaon nai Tombak Hatuaan, lapatanna inganan lao marpanukkunan. Dang sadia leleng lao do si Onom Oppu mamaritahon tu sudena penghuni ni Bakkara
marningot tu rapat nasidai na dohot si Aji Maga-Maga marga Lumban Batu didokkon si Onom Oppu i ma “Manang na ise neng lao marpanukkun tu Tombak Hatuaan ikkon do parjolo didokkon tu hami imai si Onom Oppu, asa hami ma si Onom Oppu on lao pasahatton tu oppungta Aji Maga-Maga marga Lumban Batu”.
Terjemahan :
“...Ditengah-tengah rapat tersebut bukan hanya membahas nama perkampungan, tetapi mereka juga membahas tentang tempat pertapaan yang ingin dijadikan sebagai tempat penyembahan. Tempat penyembahan tersebut sudah ditentukan oleh Aji Maga-Maga marga Lumban Batu. Aji Maga-Maga marga Lumban Batu sudah memutuskan bahwa tempat itu adalah tempat yang sakral dan tidak boleh sembarangan orang yang datang ketempat itu, dan Aji Maga-Maga marga Lumban Batu pun memberikan kepercayaan kepada si Onom Oppu. Bahwa siapapun yang hendak datang untuk meminta permintaan harus melalui si Onom Oppu dan si Onom Oppu lah yang menyampaikannya kepada saya “Ucap Aji Maga-Maga marga Lumban Batu”.
4.1.2 Alur/ Plot
Plot merupakan unsur fiksi yang penting,bahkan tidak sedikit orang yang menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai unsur fiksi yang lain.
Dalam legenda Tombak Hatuaan, terdapat alur maju. Dimana terdapat dari teknik penyusunan alur cerita. Lazim merupakan teknik progresif yang artinya berurutan mulai awal sampai akhir.
Alur atau Plot dalam cerita Tombak Hatuaan : 1. Tahap Situasi (Situation)
Pada tahap ini pengarang mulai melukiskan suatu keadaan. Dalam bagian ini pengarang mulai menceritakan tentang Aji Maga-Maga marga Lumban Batu dan istrinya boru Pasaribu dan Aji Maga-Maga marga Lumban Batu pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar :
Hal ini dapat dilihat dalam kutipan cerita :
“...Najolo adong ma amang-amang dohot parnijabuna, amang-amang i ima na margoar Aji Maga-Maga marga Lumban Batu, inangta ima na boru Pasaribu. Ditingki i lao ma amangta Aji Maga-Maga marga Lumban Batu tu dolok-dolok lao mangalului soban di naso panagaman dang di ingot be dalan lao mulak, gabe lilu ma ibana di dolok-dolok i. Dung sadia leleng ibana dang mulak tu jabu lao ma parnijabuna boru Pasaribui mangalului amangta na Aji Maga-Maga marga Lumban Batu tu dolok-dolok i.”
Terjemahan :
“...Dahulu kala hiduplah sepasang suami istri, yang bernama Aji Maga-Maga marga Lumban Batu dan istrinya boru Pasaribu. Pada suatu hari, Aji Maga-Maga marga Lumban Batu pergi kesebuah hutan yang letaknya diatas gunung untuk mencari kayu bakar. Akan tetapi didalam hutan Aji Maga-Maga marga Lumban Batu lupa jalan untuk pulang, sehingga dia pun tersesat didalam hutan tersebut.”