• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.3. Landasan Teori

2.3.1. Teori Strukturasi Anthony Giddens

Penelitian ini menggunakan teori strukturasi sebagai alat dan pendukung analisis dilapangan. Giddens mencoba mensintesiskan tiga paradigma yakni interpretatif, fungsionalisme, dan strukturalisme menjadi teori baru yang disebutnya dengan teori strukturasi (theory of structuration).

Metode strukturasi mencoba mengatasi kekurangan ketiga aliran itu dan menjadikanya sebagai metode atau teori baru yang disebutnya rekonstruksi, meskipun sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai sintesis dari tiga teori tadi (Lubis, 2016:149).

Teori strukturasi, dengan fokusnya pada praktik-praktik sosial, adalah suatu teori mengenai hubungan antara agensi dan struktur. Menurut Richard J.

Bernstein: “Inti persis teori strukturasi dimaksudkan untuk menjelaskan dualitas dan pengaruh-mempengaruhi dialektis antara agensi dan struktur”.

Oleh karena itu, agensi dan struktur tidak dapat dianggap sebagai bagian dari satu sama lain; mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Di dalam istilah Giddens, mereka adalah suatu dualitas. Semua tindakan sosial meliputi struktur dan semua struktur meliputi tindakan sosial. Agensi dan struktur terjalin tidak terpisahkan di dalam kegiatan atau praktik-praktik manusia yang berkelanjutan (George Ritzer, 2014:889). Dalam hal ini struktur diartikan sebagai suatu kegiatan di dalam pembagian kerja di sektor pertanian sedangkan

54 agen bisa diartikan pemilik lahan pertanian dan buruh tani laki-laki dan perempuan.

Menurut teori strukturasi, domain dasar kajian ilmu-ilmu sosial bukanlah pengalaman masing-masing aktor ataupun keberadaan setiap bentuk totalitas kemasyarakatan, melainkan praktik-praktik sosial yang terjadi di sepanjang ruang dan waktu. Aktivitas-aktivitas sosial manusia, seperti halnya benda-benda alam yang berkembang-biak sendiri, saling terkait satu sama lain.

Maksudnya, aktivitas-aktivitas sosial itu tidak dihadirkan oleh para aktor sosial, melainkan terus-menerus diciptakan oleh mereka melalui sarana-sarana pengungkapan diri mereka sebagai aktor. Di dalam dan melalui aktivitas-aktivitas mereka, para agen mereproduksi kondisi-kondisi yang memungkingkan keberadaan aktivitas-aktivitas itu (Giddens, 2016:3).

Bentuk refleksif daya pengetahuan para agen manusialah yang terutama paling banyak terlibat dalam penataan rekursif praktik-praktik sosial.

Kontinuitas praktik-praktik mengasumsikan refleksivitas, namun pada giliranya refleksivitas mungkin terwujud hanya jika ada kontinitas praktik-praktik yang membuatnya benar-benar sama di sepanjang ruang dan waktu.

Dengan demikian, refleksivitas hendaknya tidak dipahami semata-mata sebagai kesadaran diri, melainkan sebagai sifat terkendali arus kehidupan sosial yang tiada pernah berhenti. Menjadi seorang manusia berarti menjadi seorang agen dengan tindakan disengaja, memiliki alasan-alasan itu (Giddens, 2016:4).

Titik tolak analisis Giddens adalah praktik-praktik manusia, tetapi dia menegaskan bahwa mereka dapat dilihat sebagai hal yang berulang. Yakni,

55 kegiatan-kegiatan yang tidak diciptakan oleh aktor-aktor sosial, tetapi senantiasa diciptakan kembali oleh mereka melalui cara-cara yang sama yang mereka gunakan untuk mengungkapkan diri mereka sebagai aktor. Di dalam dan melalui kegiatan-kegiatan mereka para agen menghasilkan kondisi-kondisi yang memungkinkan kegiatan itu. Dengan demikian, kegiatan-kegiatan tidak dihasilkan oleh kesadaran, melalui konstruksi sosial atas realitas, juga tidak dihasilkan melalui struktur sosial. Lebih tepatnya, di dalam mengungkapkan diri sebagai aktor, orang-orang terlibat di dalam praktik dan melalui praktik itulah dihasilkan kesadaran maupun struktur (Ritzer, 2014:889).

Hal yang sama dapat dikatakan tentang kesadaran. Giddens memperhatikan kesadaran atau refleksivitas. Akan tetapi, dalam bersikap refleksif, aktor manusia tidak hanya sadar diri, tetapi juga ikut dalam pemantuan aliran terus-menerus kegiatan-kegiatan dan kondisi-kondisi struktural. Secara lebih umum, dapat diargumenkan bahwa Giddens memperhatikan proses dialektis ketika praktik, struktur, dan kesadaran dihasilkan. Dengan demikian, Giddens membahas isu agensi-struktur dengan cara yang historis, prosesual, dan dinamis (Ritzer, 2014:890).

Di dalam ranah kesadaran pun, Giddens membuat pembedaan (yang dapat menyerap) diantara kesadaran diskursif dan praktis. Kesadaran diskursif mengandung kemampuan untuk melukiskan tindakan-tindakan kita dengan kata-kata. Kesadaran praktis meliputi tindakan-tindakan yang diterima begitu saja oleh para aktor, tanpa mampu mengungkapkan dalam kata-kata apa yang sedang mereka lakukan. Tipe belakangan kesadaran itulah yang secara khusus

56 penting bagi teori strukturasi, yang mencerminkan perhatian utama kepada apa yang dilakukan ketimbang apa yang dikatakan (Ritzer, 2014:891).

Inti konseptual teori strukturasi terletak pada ide-ide mengenai struktur, sistem, dan dualitas struktur itu. Struktur didefinisikan sebagai sifat-sifat penyusun aturan-aturan dan sumber daya sifat-sifat yang memungkinkan adanya praktik-praktik serupa yang dapat dilihat membentang rentang waktu dan ruang yang memberi bentuk sistematik pada mereka (Giddens, 1984:17).

Struktur dimungkinkan oleh adanya aturan-aturan dan sumber daya. Struktur-struktur itu sendiri tidak ada di dalam ruang dan waktu. Lebih tepatnya, fenomena sosial mempunyai kapasitas untuk menjadi terstruktur. Giddens berpendapat bahwa struktur hanya ada di dalam dan melalui agen-agen manusia (Ritzer, 2014:892).

Giddens menyatakan bahwa struktur dan agen adalah dualitas, yakni konsepsi tentang stuktur sosial, baik sebagai medium maupun merupakan hasil (outcome) dari tindakan sosial yang dilakukan agen. Bisa dikatakan bahwa stuktur terjadi karena ada agen, demikian pula sebaliknya. Praktek sosial dinyatakan sebagai hal yang berulang dan proses dialektis antara keduanya sepanjang ruang dan waktu. Penjelasan dari Giddens diatas menerangkan bahwa terbentuknya struktur tidak dalam waktu pendek, tetapi melewati satuan waktu dengan tidak membatasi pada ruang-ruang tertentu (Susilo, 2016:415).

Pengertian sosiologis konvensional mengenai struktur lebih dekat dengan konsep Giddens mengenai sistem sosial. Giddens mendefenisikan sistem-sistem sosial sebagai praktik-praktik sosial yang direproduksi atau relasi-relasi yang direproduksi di antara para aktor atau kolektivitas yang

57 diorganisasikan sebagai praktik-praktik sosial yang teratur. Dengan demikian, ide mengenai sistem sosial diperoleh dari perhatian Giddens kepada praktik.

Sistem-sistem sosial tidak mempunyai struktur, tetapi mereka benar-benar memperlihatkan sifat-sifat struktural. Struktur-struktur itu sendiri tidak ada dalam waktu dan ruang, tetapi mereka terwujud di dalam sistem-sistem sosial dalam bentuk praktik-praktik yang direproduksi. Dengan demikian struktur-struktur dicontohkan di dalam sistem-sistem sosial. Selain itu, mereka juga terwujud di dalam jejak-jejak memori yang mengeorientasikan perilaku agen-agen manusia yang dapat diketahui. Hasilnya, aturan-aturan dan sumber daya-sumber daya mewujudkan dirinya sendiri baik di level mikro-sistem sosial maupun di level mikro kesadaran manusia (Ritzer, 2014:893).

Membicarakan struktur sebagai aturan-aturan dan sumber daya-sumber daya dan struktur sebagai seperangkat aturan dan sumber daya terpisah berisiko melahirkan misinterpretasi karena dominasi penggunan istilah aturan-aturan tertentu dalam literatur filosofis. Aturan-aturan pastinya berkaitan dengan berbagai aspek praktik rutin, namun demikian praktik rutin bukan merupakan suatu aturan dalam pengertian tepatnya itu. Aturan bahwa para perkerja harus datang pada jam tertentu, di sisi lain, tidak ikut menentukan hakikat pekerjaan itu, melainkan hanya menjelaskan bagaimana pekerjaan itu harus dilaksanakan (Giddens, 2016:28-31).

Aturan dan sumber daya diterapkan oleh para aktor dalam melakukan interaksi, namun sebagai konsekuensinya juga ditanamkan ulang melalui interaksi semacam itu. Dengan demikian, struktur merupakan pola yang digunakan oleh hubungan antara momen dengan totalitas untuk

58 mengekpresikan dirinya di dalam reproduksi sosial. Hubungan ini berbeda dengan hubungan yang ikut terlibat dalam relasi antara bagian dengan keseluruhan dalam mengoordinasikan para aktor dalam kelompok dalam sistem sosial sosial seperti yang terungkap dalam teori fungsionalis. Artinya, perbedaan yang membentuk sistem sosial sesungguhnya merefleksikan dialektika antara kehadiran dengan ketidakhadiran di dalam ruang dan waktu (Giddens, 2009:124).

Identifikasi prinsip-prinsip struktural, berikut kombinasi-kombinasi-nya dalam sistem antar-masyarakat, merepresentasikan tingkat analisis institusional yang paling komperhensif. Artinya, analisis tentang prinsip-prinsip struktural mengacu pada pola-pola diferensiasi dan pengejawantahan institusi lintas jangkuan terdalam ruang waktu. Kajian tentang rangkaian struktural atau struktur, meliputi pemisahan pengelompokan relasi tranformas / mediasi yang tersirat dalam makna prinsip-prinsip struktural. Rangkian struktural (structural set) dibentuk oleh sifat dapat diubahnya aturan dan sumber daya secara timbal-balik yang terlibat dalam reproduksi sosial. Struktur bias dibedakan secara analitis di dalam masing-masing ketiga dimensi strukturasi, pemaknaan, legitimasi, dan dominasi, atau di antara ketiga-tiganya (Giddens, 2016:287-288).

Dalam teori strukturasi, Giddens menegaskan bahwa praktik sosial dianggap sebagai basis yang melandasi keberadaan pelaku masyarakat. Dalam praktik sosial, pelaku harus mengetahui apa yang ia kerjakan sekalipun tidak selamanya diucapkan. Keterlibatan individu dan masyarakat dalam struktur sosial sepanjang ruang dan waktu. Dalam konteks isu-isu gender, praktik sosial

59 peran-peran dan relasi gender tidak selamanya disadari. Hal ini terjadi disebabkan selama ini perempuan dicitrakan lebih rendah dari pada laki-laki.

Stigma-stigma negatif atau disebut dengan stereotype, seperti laki-laki kasar, egois, kuat, rasional, dan tegas. Sedangkan perempuan lemah, cengeng, penakut, tidak bisa tanggung jawab, pencemburu, inferior, dan sebagainya telah dibangun sejak lahir oleh lingkunganya sehingga membentuk karakter keduanya secara antagonis dan tidak dapat berubah (Mufidah, 2009:55).

Pembedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam konteks sosial, pada dasarnya tidak dipermasalahkan, namun ketika dicermati lebih dalam dapat menjadi penyebab munculnya diskriminasi gender, yakni salah satu jenis kelamin terabaikan, tertinggal, dan mengalami masalah ketidakadilan.

Gender stereotype ini membentuk alam bawah sadar laki-laki maupun perempuan bahwa masalah ini dianggap hal yang wajar, padahal bisa merugikan keduanya. Perempuan menjadi subordinasi dan termajinalkan dalam kehidupan tidak dirasakan dalam kehidupan sebagai masalah ketidakadilan, bahkan menikmatinya sebagai volunteer discrimination (diskriminasi sukarela) (Mufidah, 2009:55-56). Seperti halnya didalam praktik-praktik pembagian kerja yang terjadi di masyarakat petani terjadi melalui proses yang sangat lama dan panjang. Lalu siapa yang menciptakan atas pembagian kerja tersebut, sehingga sudah menjadi struktur yang ada pada masyarakat hingga saat ini. Pembagian kerja yang ada pada masyarakat petani tidak menimbulkan masalah dan merupakan hal yang wajar yang ada pada masyarakat, padahal bisa merugikan keduaanya. Perbedaan-perbedaan yang

60 terdapat dalam pembagian kerja di masyarakat pertanian yang beraneka ragam membawa kita pertanyaan. Sejauh mana pembagian kerja tersebut bisa merugikan keduanya. Praktik-praktik atas pembagian kerja tersebut padahal bisa menimbulkan ketidakadilan, diskriminasi, dan subordinasi atas jenis kelamin tertentu bahkan tanpa disadari oleh keduanya. Dalam pembagian kerja tersebut, tidak bisa dirasakan sebagai suatu masalah dan bahkan menikmatanya sebagai volunteer discrimination (diskriminasi sukarelala).

Gambar 2 Teori Strukturasi Anthony Giddens

Agen Agensi

Struktu r

Dokumen terkait