• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI TAMBAHAN

Dalam dokumen Laporan Kelompok Praktikum Jalan Raya.doc (Halaman 125-141)

BERAT JENIS BITUMEN / TER

TEORI TAMBAHAN

Konstruksi perkerasan jalan lentur merupakan campuran antara aspal dengan agregat.Campuran aspal dan agregat ini lebih dikenal dengan campuran beraspal dan juga campuran beton aspal.Aspal dalam campuran bersifat sebagai perekat dan pengisi, sedangkan agregat berfungsi sebagai tulangan struktur perkerasan.Agak sulit untuk melakukan klasifikasi yangcukup tegas terhadap jenis – jenis aspal / campuran yang ada.Tidak sedikit campuran terkait perkerasannya sdan juga jenis campuran yang tergantung pada fungsinya. Beberapa jenis campuran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Berdasarkan fungsi campuran pada struktur perkerasan Lapisan pondasi

Lapisan permukaan Lapisan aus

Lapiosan tertutup

b. Berdaskan kemampuan mendistribusikan beban Campuran yang memiliki nilai struktural Campuran yang tidak memuiliki nilai struktural c. Berdasarkan metode konstruksinya

Metode segregasi

Metode pracampur, yang terbagi atas campuran panas ( Hot Mix ), campuran hangat ( Warm Mix ) dan campuran dingin ( Cold Mix ).

Berikut beberapa jenis campuran yang cukup dikenal di Indonesia: a. Lapen ( Lapis Penetrasi Makadam )

Campuran antara agregat dan aspal yang terdiri dari agregat pokok dan agregat pengunci dengan gradasi terbuka dan seragam yang diikat dengan aspal dengan cara disemprotkan diatas dan dipadatkan lapis demi lapis.

Biasa digunakan sebagai lapis pondasi dan lapis pwermukaan.Jika digunakan sebagai lapis permukaan, maka perlu diberi lapisan penutup, yang merupakan leburanb aspal dengan agregat penutup.

Campuran ini mempunyai sifat kurang kedapair, kekuatan utama terletak pada sifat saling interlocking antara batuan pokok dengan batuan pengunci, memiliki nilai struktural, cukup kenyal dan memiliki permukaan yang kasar.Dapat digunakan untuk perkerasan lama dan baru serta lalu lintas ringan dan sedang. Campuran ini termasuk jenis segresi, yaitu proses pencampuran dilakukan pada saat pengahamparan.

Campuran yamng memiliki / terdiri dari aspal dan pasir bergradasi menerus yang dicampurkan pada suhu minimum 120º C dan dipadatkan pada suhu minimum 120º C dan dipadatkan pada suhu 90º C - 110º C. Berfungsi sebagai lapis penutup, lapisan aus memberikan permukaan jalan yang rata dan licin. Campuran ini merupakan bentuk campuran pra campur dengan campuran panas.

c. Buras ( Leburan Aspal )

Campuran yang terdiri dari aspal leburan pasir dengan ukuran maksimum 3/8, berfungsi sebagai lapisan penutup menjaga permukaan agar tidak berdebu, kedap air, tidak licin dan mencegah lepasnya butir halus, termasuk konstruksi segresi.

d. Burtu (Leburan Aspal Satu Lapis )

Campuran ini sama dengan buras,tetapi leburan ini satu lapis agregat bergradasi seragam dengan tebal maksimum 20 mm. Berfungsi menjaga permukaan agar tidak berdebu, mencegah air masuk dan memperbaiki tekstur permukaan, digunakan pada jalan yang belum atau sudah beraspal yang sudah stabil, mulai retak atau mengalami degradasi dan dapat digunakan sampai lalu lintas berat.

e. Burda ( Leburan Aspal Dua Lapis )

Burda ini merupakan p[engembangan dari Burtu, dimana lapisan aspal ditaburi dan dikerjakan 2 kali secara berurutan dengan tebal maksimal 35 mm. Berfungsi memebuat permukaan tidak berdebu, mencegh masuknya air dan memperbaiki tekstur permukaan perkerasan. Digunakan pada jalan ytang telah atau belum beraspal dan jalan tersebut telah stabil dan rata mulai retak atau degradasi dan dapat digunakan sampai lalu lintas berat.

f. Lasbutag ( Campuran Asbuton Dingin )

Campuran yang terdiri atas campuran agregat asbuton dan bahan peremaja yang tercampur, diaduk, diperam, dihamparkan dan dipadatkan dalam keadaan dingin ( tanpa pemanasan ). Campuran ini merupakan jenis yang memanfaatkan langsung aspal, yaitu aspal dari pulau buton ( yang disebut Asbuton ).

Ini merupakan pengembangan dan memanfaatkan aspal alam asbuton melakukan ekstraksi untuk mendapatkan aspal murni dari alam atau batuan asbuton.Digunakan pada jalan raya telah n\beraspal yang telah stabil dan rata serta mulai retak dan mengalami.

h. Laston ( Lapis Aspal beton )

Campuran aspal dengan agregat bergradasi menerus dengan campuran / yang dicampurkan pada suhu minimum 115º C, dihamparkan pada suhu minimum 110º C. Berfungsi sebagai pelindung / pendukung lalu lintas, pelindung lapisan dibawahnya dari cuaca dan air, lapisan aus dan menyediakan permukaan jalan rata dan tidak licin.

i. Laston atas ( Lapisan Aspal Pondasi Atas )

Campuran ini adalah penggunaan Laston sebagai lapisan pondasi dan campuran ini terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu dan di

Campur pada suhu 90º C - 120º C dan dipadatkan dalam keadaan panas.Berfungsi sebagai lapisan perkerasan dan meneruskan beban kekonstruksi dibawahnya.

j. Laston Bawah ( Lapisan Aspal Beton Pondasi Bawah )

Campuran ini terdiri dari campuran agregat dan aspal yang dicampur pada suhu minimum 80º C - 120º C dan dipadatkan pada suhu minimum 80º C. Berfungsi sebagai perkerasan yang menruskan beban padsa konstruksi dibawahnya. Dipasang pada tanah dasar yang telah stabil dan untuk mempercepat peningkatan jalan secara keseluruhan, terutama pada konstruksi bertahap.

k. Lataston ( Lapis Tipis Aspal Beton )

Campuran ini menggunakan agregat bergradasi timpang, aspal dan filler yang dicampur pada suhu tertentu, tergantung pada nilai penetrasi aspal yang digunakan dan dipadatkan pada suhu minimal 148º C. Tebal padatnya antara 2,5 cm – 3 cm.

l. Hot Rolled Aspalt HRA

Campuran ini adalah tipe campuran yang menggunakan agregat bergradasi senjang.Campuran ini menggunakan sedikit agregat berukuran sedang ( 2,36 m – 10 mm )

dan matriks material halus dan aspal serta sedikit agregat kasar ( biasanya ukuran normal 14 mm ).

m. Stone Mastis Aspalt ( SMA )

Campuran SMA bergradasi kasar, seperti aspal Porous tetapi rongganya terisi mortar agregat halus/filler/aspal. Hasilnya adalah suatu campuran bergradasi senjang dengan ketahanan terhadap air dan memiliki durabilitas tinggi.

Dari sekian banyak tipe-tipe campuran aspal dan agregat yang paling umum campuran aspal beton ( Asphatic Concrete) yang dikenal dg AC atau laston dan campuran hot Rolled Asphalt (HRA)

AC merupakan susunan gradasi yang continue dari mutu material mutu tinggi yang dicampur panas. Agregat yang lebih kecil mengisi ruang antar agregat yang lebih besar, membenttuk struktur granular yang padat dengan void yang sangat kecil

HRA adalah sand base mixture yang padat, kedap dan bergradasi timpang, karena ada ukuran ada ukuran butir yang tidak terdapat dalam campuran.Sedangkan ukuran agregat halus cukup banyak, maka agregat kasar seolah-olah mengambang.

2) Kinerja campuran aspal dan agregat

Campuran aspal dan agregat untuk perkerasan jalan yang biasanya disebut sebagai aspal beton merupakan suatu bahan lapis perkerasan jalan yang terdiri dari campuran agregat kasar, agregat sedang dan agregat halus serta bahan mineral lainnya sebagai pengisi / filler dengan aspal sebagai bahan pengukat dalam perbandingan yang proporsional dan teliti serta diatur dalam perencanaan campuran. Tahapan yang perlu diketahui dalam perencanaan campuran beraspal adalah :

Melakukan pemeriksaan terhadap aspal yang akan dipakai. Pemeriksaan viskositas dan berat jenis aspal.Viskositas diperlukan untuk menentukuan suhu campuran maupun suhu pemadatan.

Melakukan spesifikasi gradasi agregat yang akan dipakai yaitu suatu besan persentase agregat yang lewat suatu saringan dengan ukuran tertentu. Melakukan pemeriksaan mutu agregat yang akan dipakai.

Menentukan kombinasi beberapa fraksi agregat sehingga mendapatkan gradasi campuran yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan karena pada umumnya agregat yang akan dipakai terdiri dari beberapa fraksi.

Jika mutu bahan sudah terpenuhi dan harga viskositas dari aspal serta kombinasi fraksi sudah diketahui, kemudian dibuat campuran agregat dengan berbagai kadar aspal selanjutnya dilakukan percobaan marshall guna menentukan flow dan stabilitas campuran beraspal.

Syarat – syarat utama aspal beton yang bermutu baik adalah :

1. Campuran harus mempunyai nilai stabilitas yang cukup yaitu harus sanggup menahan beban lalulintas tanpa terjadinya deformasi dalam bentuk jejak roda ( Rutting ) atau rusak bergelombang akibat dorongan beban roda kendaraan ( Pushing )

2. Campuran tidak boleh retak – retak artinya harus mampu menahan lendutan ( Derection ) yang mungkin timbul terhadap lapisan hamparan atau permukaan tanpa mengalami kerusakan.

3. Campuran harus dapat bertahan lama ( Durable) artinya tidak rusak atau aus dibawah beban lalulintas dan kondisi cuaca.

4. Campuran harus cukup kekerasannya ( Skid Resistance ) dan harus tetap seperti sedemikian selama masa pelayanannya.

5. Harus cukup ekonomis dalam artian murah namun kuat.

Sifat-sifat penting yang harus dimiliki oleh suatu campuran agregat adalah 1. Stabilitas

Stabilitas yaitu kemapuan campuran aspal sebagai bahan perkerasan untuk menahan deformasi akibat beban lalu lintas tanpa terjkadi perubahan seperti gelombang, alur ataupun Bleeding. Kebutuhan akan stabilitas sejalan denagn jumlah lalu lintas dan beban kendaraan yang lewat. Kekuatan atau stabilitas ini diharapkan dari sifat paling kuno ( Interkocking ) antar agregat penyusunnya, kelekatan yang disumbangakan oeh aspal dan adanya mortar.

Dengan demikian stabilitas yang tinggi dapat diperoleh denang cara mengusahakan : - Agregat dengan gradasi yang rapat ( Dense Graded )

- Agregat dengan permukaan kasar - Agregat berbentuk kubus

- Aspal dengan penetrasi rendah

- Aspal dengan jumlah yang mencukupi untuk ikatan antar butir

Yang perlu diperhatiakan adalah bahwa memaksimalkan nilai stabilitas akan menyebababkan penurunan kinerja campuran lainnya. Pengukuran stabilitas dilakukan melalui pengujian skala laboratorium yang dinamakan Marshaal Test.

Stabilitas: S = Kuat tekan

Dalam perkerasan jalan stabilitas yang diharapkan adalah stabilitas yang memadai artinya tidak terlalu tinggi tidak juga terlalu rendah.

Fc' = Flexural Streigh

Sumber kekuatan berbagai jenis campuran :

- Asphaltic Concrete: Kekuatan bersumber pada interlockingagregat - Hot Rolled Asphalt : Kekuatan bersumber pada mortal campuran - Split Mastic Asphalt : Kekuatan pada mortal campuran

- Macadam : Kekuatan diperoleh pada pelaksanaan

2. Durabilitas

Durabilitas adalah ketahanan suatu campuran terhadap disintegrasi karena beban lalu lintas dan berbagai faktor lingkungan ( cuaca, air dan perubahan suhu ). Makin besar besar potensi terhadap berbagai agregat, makin besar durabilitasnya.Aspal menyelimuti agregat

dalam bentuk film aspal untuk melindungi dari air, sehingga air tidak dapat masuk kedalam agregat.

Aspal juga mengisi rongga udara, sehingga rongga udara berkurang dan menghindari terjadinya proses oksidasi yang dapat menyebkan aspal menjadi rapuh dan getas. Namun ada batasan minimum rongga udara terisi aspal untuk menghindari terjadinya Bleeding.

Durabilatas dapat menurun disebabkan oleh :

a. faktor eksternal : Udara, panas, air/uap air ( oksidasi )

b. faktor internal : Aspal, agregat ( kehancuran secara mekanis )

Faktor yang mempengaruhi durabilitas aspal beton adalah :

a. VIM (Void in Mineral Mixture ) atau rongga dalam campuran kecil sehingga lapis kedap air dan udara tidak masuk kedalam campuran yang menyebabkan terjadinya oksidasi dan aspal menjadi rapuh / getas

b. VFA (void in mineral agregat ) atau rongga dalam agregat, dalam suatu campuran aspal yang telah dipadatkan termasuk didlam nya rongga yang terdidri aspal efektif. Jika VMA besar maka film aspal dapat dibuat tebal.

Untuk memaksimalkan durabilitas dilakukan dengan cara :

Campuran aspal beton mempunyai kandungan aspal yang cukup untuk menyelimuti semua agregat.

Aspal yang cukup untuk mengisi ruang udara diantara agregat ( Kedap air )

Flow ( kelelehan ) perubahan bentuk platis suatu campuran yang terjadi akibat beban sampai batas runtuh yang dinyatakan dalam mm atau 0,01 ”

VFB ( Void filled with bitumen ) rongga terisi aspal, bagian dari rongga volume didalam agregat (VMA ) yang terisi aspal efektif dinyatakan dl dalam % VMA

Ketahanan diharapkan meningkat dengan adanya proteksi aspal terhadap agregat yang makin besar.untuk memaksimumkan durabilitas dilakukan dengan cara :

b. campuran aspal beton mempunyai kandungan aspal yang cukup menyelimuti semua partikel agregat.

b. Aspal yang cukup untuk mengisi ruang udar diantara agregat.

3. Fleksibilitas

Fleksibilitas adalah campuran beraspal sebagai bahan perkerasan menahan lendutan tanpa terjadi retak dan perubahan volume.

Fleksibilitas suatu campuran dapat diperoleh dengan :

a. Penggunaan agergat bergradasi senjang sehingga memperoleh VMA ynag besar b. Penggunaan aspal lunak (penetrasi yang tinggi)

c. Penggunaan aspal yang cukup banyak ,sehingga diperoleh VIM ynag kecil

Untuk memaksimalkan fleksibilitas, harus digunakan dengan gradasi terbuka ( Open Groded ), karena itu harus kompromi dengan stabilitas campuran, dimana campuran yang menggunakan agregat bergradasi terbuka yang stabil dibandingkan dengan campuran yang menggunakan bergradasi rapat.

Fleksibilitas suatu campuran beraspal dapat dinilai dengan menggunakan rasioantara stabilitas Marshall dengan kelelehan ( Flow ), yang dikenal dengan nama Marshall Questient. Semakin besar MQ semakin kaku campuran dan sebaliknya

4. Kedap air

Kemampuan permukaan perkerasan untuk menahan rembesan air kedalam perkerasan, permukaan perkerasan dapat kedap air, dilakukan dengan cara :

b. Manambah kadar aspal

5. Kekerasan (skid Resistence )

Adalah kemampuan permukaan lapis keras untuk menghindari kendaraan yang melalui diatasnya agar tidak terjadi bleding / sleping ( tergenlincir ) keluar saat permukaan basah, nilai kerekatan yang tinggi dapat diperoleh dengan cara :

a. Menggunakan agregat yang miknoteklstur tinggi dan nilai abrasi rendah.

b. Membuat kondisi permukaan mempunyai mikroteksture tinggi misalnya dengan menambah ” hipping”

6. Kelemahan ( Fatique resistence )

Adalah kemampuan pekerasan untuk mendukung beban (load resistance )

Dari beban lalu lintas tanpa mengalami retak. Nilai Fatique resistence dapat dinaikan dengan cara :

a. Memperingat kadar aspal

b. Mempertebal lapis permukaan

c. Memperkecil rongga terhadap campuran

Beberapa cara menentukan kadar aspal dalam campuran : 1. Metode Luas permukaan

a. Cara California

P = 0,015 a + 0,036 b + 0,17 c + C Dimana :

s = Persentase agregat tertahan # 10 mm

b = Persentase agregat lolos # 10 mm tertahan # 200 mm c = Persentase agregat yang lolos # 200 mm

b. Cara Myoming

P = 1,3 ( 0,015 a + 0,036 b + 0,17 c )

c. Cara lain menurut persamaa P = S × K × T

Dimana :

P = Persentase aspal yang diperlukan S = Faktor koreksi, karena butiran berbeda S = 2,65 / U

K = Faktor koreksi karena diperlukan untuk menyelubungi seluruh Luas permukaan butiran

SNI = Standar Nasional Indonesia BS = British Standar

AI = Aspalt Institute

2. Kadar aspal optimum dengan metode marshall

a. Cukup jumlah aspal untuk menjamin keawetan pekerasan .

b. Cukup stabilitas sehingga dapat menerima beban lalu lintas tanpa mengalami dan terjadinya perubahan bentuk ( deformation )

c. Cukup rongga dalam total campuran untuk memungkinkan tambahan pemadatan dilapangna akibat beban lalu lintas.

d. Cukup fleksibel sehingga memungkinkan perubahan bentuk tanpa terjadi retakan. Fungsi aspal dalam campuran adalah sebagai perekat ( hinder ) dan pengisi ( filler ). Dengan fungsi ini maka jumlah aspal dalam campurannya terlalu sedikit akan mengakibatkan kurang berfungsinya sifat perekat dan pengisi yang akan mengakibatkan berkurangnya ikatan antara agregat ( Interlocking ) dan massa dan masuknya air dalam rongga. Sedangkan jumlah air yang berlebihan akanmenyebabkan Bleeding yang dengan gesekan ban roda kendaraan memprcepat pengelupasan dari agregat dan aspal dari agregat sehingga terjadi lubang dan berkurangnya ikatan antar agregat.

Pada umunya, prosedur perencanaan dan pengawasan campuran aspal dan agregat dengan metode Marshall. Proses perencanaan dimulai memilih spesifikasi ( Spek ) campuran, yaitu gradasi yang harus dignakan serta jenis aspal.

Proses selanjutnya adalah pembuatan benda uji yang diikuti oleh pemadatan. Disarankan paling sedikit 5 variasi kadar aspal, dan aspal setiap kadar aspal tersebut dibuat 3 benda uji pemadatan benda uji dalam hal ini menggunakan metode Marshall, dinyatakan dalam jumlah tumbukan yang diketahui kenaikan pada uji tersebut. Jumlah tumbukan didasarkan pada dalam jumlah tumbukan.

Sebelum pengujian Marshall Test, terlebih dahulu dilakukan pengujian berat isi dan berat jenis untuk dapat menghitung kandungan rongga dalam aspal.

Tabel : Kriteria perencanaan campuran aspal beton ( Bina Marga ) Sifat Campuran

( 2 x 75 tumbukan ) Lalu lintas berat (2x50 tumbukan ) Lalu lintas sedang

( 2 x 35 tumbukan ) Lalu lintas ringan

Sebelum melakukan pengujian marshall terlebih dahulu dilakukan pengujian berat isi dan berat isi dan berat jenis untuk menghitung kandungan rongga didalam campuran untuk penggambaran, kurva marshall sebaiknya kalau manual menggunakan mistar yang lentur ( fleksible ), jangan pakai yang kaku.

2. TUJUAN PERCOBAAN

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan ketehanan (stabilitas) terhadap kelelehan plastis (flow) dari campuran aspal. Ketahanan (stabilitas) ialah kemampuan suatu campuran aspal untuk menerima beban sampai terjadi kelelehan plasitis yang dinyatakan kilogram atau pound. Kelelehan plastis adalah keadaan perubahan bentuk campuran aspal yang terjadi akibat suatu beban sampai batas runtuh yang dinyatakan dalam millimeter atau 0,01 inchi.

3. PERALATAN

a. Tiga buah cetakan benda uji yang berdiameter 10 cm (4”) lengkap dengan pelat alas dan leher sambung.

b. Alat pengeluar benda uji, untuk mengeluarkan benda uji yang sudah dipadatkan dari dalam cetakan benda uji dipakai sebuah ejector.

c. Penumbuk yang mempunyai permukaan tumbuk rata berbentuk silinder, dengan berat 4536 kg (10 pound), dan tinggi jatuh lebih bebas 45,7 cm (18”).

d. Landasan pemadat terdiri dari balok kayu (jati atau yang sejenisnya) berukuran kira-kira 20x20x45 cm (8”x8”x18”) yang dilapisi pelat baja berukuran 30x30x2,5 cm (12”x12”x1”) dan kaitakan pada lantai beton dengan 4 bagian siku.

e. Silinder cetakan benda uji f. Mesin tekan lengkap dengan :

(i). kepala penekan berbentuk lenkung (breaking head)

(ii). cincin penguji yang berkapasitas 2500 kg (500 pound) ketelitian 12,5 kg (pounf0 di lengkapi arloji tekan dengan ketelitian 0,0025 cm (0,0001”)

(iii). arloji dengan ketelitian 0,25 mm (0,01”) dengan perlenkapannya.

g. Oven yang di lengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (200±3)0c.

h. Bak perendam (water bath) dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai 200c.

i. Perlengkapan lain :

(i). Panci-panci utuk memanaskan agregat aspal dalam campuran aspal.

(ii). Pengukur suhu dari logam (metal thermometer) berkapasitas 2500c dan 1000c dengan ketelitian 0,5 atau 1% dari kapasitas.

(iii). Timbangan yang dilengkapi penggantung benda uji yang berkapasitas 5 kg. (iv). Kompor.

(v). Sarung tangan

(vi). Sendok pengaduk dan perlengkapan lain.

4. BENDA UJI

- Berishkan perlengkapan cetakan benda uji serta bagian muka penumbuk dengan seksama dan panaskan sampai suhu antara 83,30c dan 148,90.

- Letakkan selembar kertas kering kedalam dasar cetakan, masukkan seluruh campuran kedalam dan tusuk-tusuk campuran keras-keras dengan spatulah yang dipanaskan atau aduklah dengan sendok semen 15 kali keliling pinggirannya dan 10 kali di bagian dalam.

- Lepaskan lehernya dan ratakan permukaan campuran dengan sendok semen menjadi bentuk sedikit cembung

- Waktu akan dipadatkan suhu campuran harus dalam batas-batas suhu pemadatan seperti pada viskositas.

- Letakkan cetakan di atas landasan pemadat, lakukan pemadatan dengan alat penumbuk sebanyak 75,50 atau 35 kali sesuai kebutuhan dengan tinggi jatuh 45 cm (18”).

- Lepaskan keeping (pemegang) alas dan lehernya, balikan alat cetak bersih benda uji dan pasang kembali lehernya di balik ini tumbukklah dengan jumlah tumbukan yang sama.

- Seusai pemadatan, lepaskan keeping alas dan pasanglah alat pengeluar benda uji pada permukaan ujung ini.

- Dengan hati-hati keluarkan dengan meletakkan benda uji di atas permukaan rata yang halus, biarkan selama 24 jam pada suhu ruang.

5. PROSEDUR PERCOBAAN

a. Bersihkan benda uji dari kotoran-kotoran yang menempel b. Berilah tanda pengenal pada masing-masing benda uji c. Ukur benda uji dengan ketelitian 0,1 mm

d. Timbang benda uji

e. Rendam kira-kira 24 jam pada suhu ruang f. Timbang dalam air untuk mendapatkan isi

g. Timbang benda uji dalam keadaan kering permukaan jenuh

h. Rendamlah benda uji dalam kondisi aspal panas atau ter dalam bak perendam selama 30 – 40 menit atau dipanaskan di dalam oven selama 2 jam dengan suhu tetap (60 ± 1)ºC untuk benda uji aspal panas (38 ± 1)ºC untuk benda uji ter. Untuk benda uji aspal dingin masukkan benda uji kedalam oven selama minimum 2 jam dengan suhu tetap (25 ± 1)ºC

i. Sebelum melakukan pengujian, bersihkan batang penuntun (suide red) dan permukaan dalam dari kepala penekan (test heads). Lumasi batang penuntun sehingga kepala penekan direndam bersama-sama benda uji pada suhu 21-38 ºC

j. Keluarkan benda uji dari bak perendam atau dari oven pemanas udara dan letakkan kedalam segmen bawah kepala penekan. Pasang segmen atas di atas benda uji dan letakkan keseluruhannya dalam mesin penguji

k. Pasang arloji kelelahan (how meter) pada kedudukan di atas salah satu batang penuntun dan atur kedudukan jarum penunjuk pada angka nol, sementara selubung tangki arloji (sleeve) dipegang kencang terhadap segmen atas kepala penekan (breaking head)

l. Tekan selubung tangki arloji kelelehan tersebut pada segmen atas dari kepala penekan selama pembebanan berlangsung

m. Sebelum pembebanan diberikan, kepala penekan beserta benda ujnya dinaikkan hingga menyentuh alas cincin penguji. Atur kedudukan jarum arloji dan tekan pada angka nol.

6. CATATAN

Untuk benda uji yang tebalnya lebih kecil dari 2,5 inci, koreksilah bebannya dengan menggunakan faktor perkalian yang bersangkutan dari tabel faktor koreksi stabilitas. Umumnya benda uji harus didinginkan seperti ditentukan di atas. Bila diperlukan pendinginan yang lebih cepat dapat digunakan kipas angin meja. Campuran-campuran yang daya koreksinya kurang, sehingga pada waktu dikeluarkan dari cetakan segera sesudah pemadatan tidak dapat menghasilkan bentuk silinder yang diperlukan bisa didinginkan

bersama-sama cetakannya di udara, sampai trjadi cukup koreksi untuk menghasilkan bentuk silinder yang semestinya.

Stabilitas benda uji yang diukur dengan angka perbandingan tebal sama dengan stabilitas setelah koreksi untuk benda uji tebal 63,5 mm. Hubungan isi/tebal didasarkan pada benda uji yang berdiameter 101,6 mm.

TABEL FAKTOR KOREKSI STABILITAS

Dalam dokumen Laporan Kelompok Praktikum Jalan Raya.doc (Halaman 125-141)

Dokumen terkait