• Tidak ada hasil yang ditemukan

DISPARITAS ANTAR WILAYAH

2.2 Pengembangan Wilayah

2.2.2 Teori Tempat Pusat

Teori tempat pusat (Central Place Theory) pertama kali diperkenalkan oleh Walter Christaller seorang ahli geografi berkebangsaan Jerman. Teori ini timbul dari perhatian Christaller terhadap penyebaran permukiman, desa, dan kota-kota yang berbeda-beda ukuran luasnya di Jerman Selatan. Penyebaran tersebut kadang bergerombol atau berkelompok, kadang juga terpisah jauh antara satu dengan yang lainnya. Menurut Christaller dalam Jayadinata (1999:180), pusat-pusat pelayanan cenderung tersebar di dalam wilayah menurut pola berbentuk heksagon (segi enam). Keadaan seperti itu akan terjadi secara jelas di wilayah yang mempunyai syarat : (1) topografi yang seragam sehingga tidak ada bagian wilayah yang mendapat pengaruh dari lereng dan pengaruh alam lain dalam hubungan dengan jalur pengangkutan, (2) kehidupan ekonomi yang homogen dan tidak memungkinkan adanya produksi primer, yang menghasilkan padi-padian, kayu atau batubara.

Menurut proses yang sama, jika perkembangan wilayah meningkat akan berkembang hierarki jenjang ketiga, yaitu salah satu kampung akan tumbuh

menjadi kota yang dikelilingi oleh enam kampung yang dilayaninya. Pada hierarki jenjang keempat terdapat kota besar yang dikelilingi oleh enam kota yang dilayaninya. Karena perkembangan tersebut, dapat dikatakan bahwa kota-kota umumnya timbul sebagai akibat perkembangan potensi wilayah (alam dan manusia), dan kemudian kota sebagai pusat pelayanan berperan dalam mengembangkan wilayah. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar2.2 Hipotesis Christaller

Sumber : Jayadinata, 1999:181

Sedangkan ide dasar yang dikemukakan oleh Losch dalam Dawkins (2003:137) adalah bahwa ukuran relatif wilayah pemasaran suatu perusahaan, digambarkan sebagai tempat penjualan produk perusahaan dipengaruhi oleh biaya-biaya transportasi dan skala ekonomi. Jika pengaruh skala ekonomi relatif lebih besar dari biaya transportasi maka seluruh produksi akan terkumpul pada satu tempat. Sedangkan jika pengaruh biaya transportasi relatif lebih besar dari skala ekonomi maka perusahaan akan menyebar keseluruh wilayah.

Dusun

Kampung / desa Kota kecil Kota Besar

Batas wilayah pelayanan dusun Batas wilayah pelayanan desa Batas wilayah pelayanan kota kecil Batas wilayah pelayanan kota besar

Christaller mengembangkan model suatu wilayah abstrak dengan ciri-ciri berikut :

• Wilayahnya adalah dataran tanpa roman, semua adalah datar dan sama. • Gerakan dapat dilaksanakan ke segala arah (isoptropic surface).

• Penduduk memiliki daya beli yang sama dan tersebar secara merata pada seluruh wilayah.

• Konsumen bertindak rasional sesuai dengan prinsip jarak dan biaya.

Christaller mencoba mengekspresikan hukum tentang persebaran dan besarnya permukiman (tempat pusat) yang bersifat keruangan di bidang ekonomi, sehingga muncul lima asumsi dari Christaller (F.M. Dieleman dikutip dari Daldjoeni, 1992 : 108) yaitu :

a) Karena para konsumen yang menanggung ongkos angkutan, maka jarak ke tempat pusat yang dinyatakan dalam biaya dan waktu sangatlah penting. b) Karena konsumen yang memikul ongkos angkutan, maka jangkauan (range)

suatu barang ditentukan oleh jarak yang dinyatakan dalam biaya dan waktu. c) Semua konsumen dalam usaha mendapatkan barang dan jasa yang dibutuhkan,

menuju ketempat pusat yang paling dekat letaknya.

d) Kota-kota berfungsi sebagai tempat pusat bagi wilayah disekitarnya. Artinya ada hubungan antara besarnya tempat pusat dan besarnya (luasnya) wilayah pasaran, banyaknya penduduk dan tingginya pendapatan di wilayah yang bersangkutan.

e) Wilayah tersebut digagaskan sebagai dataran dimana penduduknya tersebar merata dan ciri-ciri ekonomisnya sama (besar penghasilan sama).

Dari kelima asumsi tersebut, Christaller mendapatkan teorinya tentang tahapan pembentukan wilayah pasaran yang berpola heksagonal sebagai berikut : a) Suatu barang yang ditawarkan dari suatu tempat pusat berdasarkan kelima

asumsi diatas, suatu tempat akan membentuk suatu wilayah lingkaran di sekitar tempat pusat.

b) Adanya tawaran berupa barang yang berasal dari banyak tempat pusat akan membentuk suatu pola yang terdiri atas wilayah-wilayah yang berbentuk lingkaran.

c) Pola tersebut akan membuat orang keluar wilayah pelayanan. Jika terdapat pemenuhan terhadap barang dan jasa, lingkaran-lingkaran tersebut akan saling mendahului, sehingga tidak ada ruang yang terbuka.

d) Pada kenyataannya pola berbentuk lingkaran tersebut disebabkan karena akibat dari asumsi, sehingga terbentuklah heksagon.

e) Dari berbagai macam tempat yang ditawarkan banyak barang dengan jangkauan (range) yang beraneka ragam. Dari asumsi-asumsi sebelumnya dikembangkan suatu pola persebaran heksagonal dari tingkat yang tinggi hingga tingkat yang rendah.

Pembagian hierarki pusat-pusat pelayanan di suatu wilayah sering tidak merata sehingga mengakibatkan ketidakmerataan di dalam pelayanan kepada masyarakat. Selain itu kadang akses untuk mencapai pusat pelayanan sulit, sehingga mengakibatkan wilayah belakang (Hinterland) menjadi terbelakang karena tidak ditunjang dengan jumlah fasilitas yang memadai untuk dapat meningkatkan produktivitasnya maupun pelayanannya kepada masyarakat.

Untuk mengatasi hal tersebut maka dibutuhkan suatu usaha untuk meningkatkan peran pusat-pusat pelayanan, termasuk dengan meningkatkan akses kemudahan pencapaian dari wilayah belakang (hinterland) menuju pusat pelayanan yang terdekat. Di dalam sistem pelayanan yang baik harus memiliki keseimbangan antara pola kebutuhan dan jasa pelayanan sehingga dalam peningkatan kebutuhan akan diikuti dengan jasa pelayanan yang semakin besar.

Apabila jumlah penduduk di suatu wilayah dengan satu pusat telah melebihi ambang batas dan terus meningkat hingga mencapai jumlah tertentu, kemungkinan penduduk yang berada jauh dari pusat telah melebihi jarak ekonomi, sehingga mereka akan mencari pelayanan di pusat-pusat lainnya yang terdekat. Dalam melakukan strategi pengembangan wilayah di pusat-pusat pelayanan memiliki beberapa keuntungan :

a) Adanya penghematan terhadap investasi yang dikeluarkan, karena strategi yang bersifat desentralisasi konsentrasi sehingga tidak semua wilayah mendapatkan investasi tetapi hanya wilayah yang berpotensi saja.

b) Adanya perkembangan pusat-pusat pelayanan hingga ke wilayah belakang (hinterland) melalui akses pencapaian yang memadai untuk mengatasi kesenjangan wilayah.

c) Terselenggaranya pengembangan antara kota dan desa dengan baik karena saling menguntungkan.

Selain itu Fisher dan Rushton menyatakan bahwa jaringan pusat-pusat pelayanan yang memiliki hierarki akan menguntungkan penduduk di sekitar pusat

tersebut (Fisher dan Rushton dalam Rondinelli, 1985:5-6). Keuntungan tersebut adalah :

a) Membuat efisiensi bagi konsumen karena pemenuhan terhadap kebutuhan yang berbeda-beda akan didapatkan dengan sekali bepergian keluar dari desa. b) Mengurangi jumlah transportasi yang dibutuhkan untuk melayani pergerakan

antar desa karena masyarakat sudah mengenal berbagai cara alternatif terhadap jalur hubungan sehingga jalur yang paling penting dan kemampuan pemenuhan kebutuhan fasilitas transportasi yang terbatas dapat dimanfaatkan secara optimal.

c) Mengurangi panjang jalan yang harus ditingkatkan karena sudah diketahui jalur yang paling penting bagi setiap desa sehingga dapat ditentukan prioritas dalam pengembangan jalan.

d) Mengurangi biaya untuk penyediaan berbagai kebutuhan pelayanan bagi fasilitas-fasilitas yang ada, karena biaya tersebut ditanggung secara bersama- sama.

e) Pengawasan lebih efektif dan ekonomis karena berbagai aktivitas bergabung menjadi satu di pusat pelayanan.

f) Memudahkan adanya pertukaran informasi antar berbagai aktivitas yang saling berhubungan.

g) Lokasi-lokasi dengan keunggulan lokasi sumberdaya akan berkembang secara spontan sebagai respon terhadap kebutuhan di wilayah belakangnya (hinterland).

Dari pembahasan di atas jelas bahwa wilayah dalam perkembanganya memiliki pusat dan sub pusat sebagai wilayah pengaruhnya. Pusat dapat diartikan sebagai kota yang menjadi pusat pelayanan dan terkonsentrasinya kegiatan. Besarnya wilayah kota dipengaruhi oleh jarak pelayanan bagi penduduknya, sehingga dalam satu pusat dapat memberikan pelayanan maksimalnya. Penduduk yang belum menerima pelayanan, akan dilayani oleh pusat lainnya sehingga hubungan antar pusat tersebut akan membentuk pola heksagonal dimana masing- masing wilayah pengaruh memiliki pusat sendiri.

Dokumen terkait