• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Tentang Pengungkapan Triple Bottom Line

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori

2.1.8 Teori Tentang Pengungkapan Triple Bottom Line

Dewasa ini konsep CSR semakin berkembang, dan dengan berkembangnya konsep CSR tersebut maka banyak teori yang muncul yang diungkapkan mengenai CSR ini. Salah satu yang terkenal adalah teori Triple Bottom Line dimana teori ini memberi pandangan bahwa jika sebuah perusahaan ingin mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka perusahaan tersebut harus memperhatikan “3P”.

Selain mengejar keuntungan (Profit), perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (People) dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (Planet)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

30 a. P r o f i t (Keuntungan)

Profit atau keuntungan menjadi tujuan utama dan terpenting dalam setiap kegiatan usaha. Tidak heran bila focus utama dari seluruh kegiatan dalam perusahaan adalah mengejar Profit dan mendongkrak harga saham setinggi-tingginya karena inilah bentuk tanggung jawab ekonomi yang paling esensial terhadap pemegang saham.

Aktivitas yang dapat ditempuh untuk mendongkrak Profit antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan melakukan efiisensi biaya. Peningkatan produktivitas bisa diperoleh dengan memperbaiki manajemen kerja mulai penyederhanaan proses, mengurangi aktivitas yang tidak efisien, menghemat waktu proses dan pelayanan. Sedangkan efisiensi biaya dapat tercapai jika perusahaan menggunakan material sehemat mungkin dan memangkas biaya serendah mungkin.

b. People (Masyarakat Pemangku Kepentingan)

People atau masyarakat merupakan stakeholder’s yang sangat penting bagi perusahaan, karena dukungan masyarakat sangat diperlukan bagi keberadaan, kelangsungan hidup, dan perkembangan perusahaan. Maka dari itu perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Dan perlu juga disadari bahwa operasi perusahaan berpotensi memberi dampak kepada masyarakat. Karena itu perusahaan perlu untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat menyentuh kebutuhan masyarakat.

c. Planet (Lingkungan)

Planet atau Lingkungan adalah sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang dalam kehidupan manusia. Karena semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia sebagai

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

31

makhluk hidup selalu berkaitan dengan lingkungan misalnya air yang diminum, udara yang dihirup dan seluruh peralatan yang digunakan, semuanya berasal dari lingkungan. Namun sebagaian besar dari manusia masih kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal ini disebabkan karena tidak ada keuntungan langsung yang bisa diambil didalamnya.

Karena keuntungan merupakan inti dari dunia bisnis dan itu merupakan hal yang wajar. Maka, manusia sebagai pelaku industri hanya mementingkan bagaimana menghasilkan uang sebanyak- banyaknya tanpa melakukan upaya apapun untuk melestarikan lingkungan. Padahal dengan melestarikan lingkungan, manusia justru akan memperoleh keuntungan yang lebih, terutama dari sisi kesehatan, kenyamanan, di samping ketersediaan sumber daya yang lebih terjamin kelangsungannya

Dalam era globalisasi peursahaan tidak hanya mementingkan aspek ekonomi saja, tetapi harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. Oleh karena itu, setiap perusahaan berusaha untuk memenuhi kegiatan yang berkaitan dengan memperhatikan kepentingan sosial dan lingkungan. Seperti penelitian Sandra (2011) menyatakan bahwa perusahaan yang berkelanjutan bukan hanya mengejar keuntungan financial, bukan hanya peningkatan nilai pemegang saham.

Namun yang paling baik adalah dicapai melalui kerangka kerja yang luas di bidang ekonomi, sosial, lingkungan dan nilai-nilai etika serta tujuan bersama yang melibatkan interaksi antara perusahaan dan berbagai pemangku kepentingan.

Selanjutnya, konsep ini dikembangkan seperti penelitian Zu (2009) dalam Sandra (2011) mengungkapkan tentang teori Triple Bottom Line dengan tiga

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

32

aspek utama yaitu, ekonomis, sosial dan lingkungan. Triple Bottom Line menangkap spektrum yang lebih luas dari nilai-nilai dan kriteria untuk mengukur kesuksesan organisasi yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial. Hal ini berarti memperluas kerangka kerja pelaporan sederhana untuk memperhitungkan kinerja sosial dan lingkungan disamping kinerja keuangan.Ini juga menangkap esensi pembangunan berkelanjutan (sustainability development) dengan mengukur dampak ketiga aspek tersebut dari kegiatan operasi perusahaan.

Gambar 2.1

Konsep Triple Bottom Line

Konsep disampaikan oleh Solihin (2008) menyatakan bahwa pengenalan konsep sustainability development memberi dampak besar kepada perkembangan konsep Triple Bottom Line selanjutnya. Sebagai contoh the organization for economic cooperation and development (OECD) merumuskan”kontribusi bisnis bagi pembangunan berkelanjutan serta adanya perilaku korporasi yang tidak semata-mata menjamin adanya pengembalian kepada para pemegang saham, upah bagi karyawan dan pembuatan produk serta jasa bagi para pelanggan melainkan perusahaan bisnis juga harus memberi perhatian terhadap berbagai hal yang dianggap penting serta nilai-nilai masyarakat”.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

33

Solihin (2008) juga menyatakan paparan tentang Triple Bottom Line.

Yaitu menyatakan bahwa semua konsep ini sebagai adopsi dari atas konsep sustainability development, saat ini perusahaan secara sukarela menyusun laporan setiap tahun yang dikenal dengan sustainability report. Laporan tersebut menguraikan dampak organisasi perusahaan terhadap ekonomi, sosial, lingkungan. Salah satu model awal yang digunakan oleh perusahaan dalam menyusun suistanability report mereka adalah dengan mengadopsi metode akuntansi yang dinamakan Triple Bottom Line.

Menurut John Elkington (1997) dalam Solihin (2008) konsep Triple Bottom Line merupakan perluasan dari konsep akuntansi tradisional yang hanya membuat single bottom line tunggal yakni hasil- hasil keuangan dari aktivitas ekonomi perusahaan. Secara lebih rinci, Elkington menjelaskan Triple Bottom Line sebagai berikut.

“The three lines of the Triple Bottom Linerepresent society , the economy and the environment. Societ depend on the global ecosystem, whose hearh represents ultimate bottom line. The three line are not stable;

they are in constant flux, due to social, political, economic and environmental pressures, cycle and conflicts.”

Dari pengertian dan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan ekonomi, sosial dan lingkungan sangat berkaitan dengan masyarakat. Terutama pada aktivitas sosial dan lingkungan sesuai dengan definisi OCED dan dari John Elkington (1997) dalam Sandra (2011) tersebut bahwa tidak ada pengembalian secara langsung yang dapat dirasakan oleh perusahaan. Oleh karena itu pengungkapan Triple Bottom Line sangat penting diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

34 2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian – penelitian yang digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian ini antara lain :

1. Jennifer Ho dan Taylor (2007) menyelidiki tentang pengungkapan Triple Bottom Line diantara negara amerika dan jepang dengan 20 item pengungkapan. Dengan variabel independen yaitu size, Profitabilitas, Likuiditas, keanggotaan industri. Penelitian ini menggunakan model regresi.

Hasilnya tingkat pelaporan yang ditunjukkan oleh perusahaan yang besar, Profitabilitas yang rendah dan Likuiditas rendah pula serta dengan keanggotaan industri manufaktur. Pengungkapan Triple Bottom Line lebih tinggi di negara jepang.

2. Sandra Aulia dan Idris (2011) mengubah paradigma penelitian dengan tidak hanya meneliti tentang pengungkapan tanggungjawab sosial tetapi menambah dengan pengungkapan ekonomi, sosial dan lingkungan. Dengan objek penelitian perusahaan di jepang dan Indonesia. Variabel yang digunakan adalah ukuran perusahaan, leverage, Profitabilitas, Likuiditas, kepemilikan publik, corporate governance, jenis industri, negara. Hasil penelitian ini adalah hanya ukuran perusahaan, Likuiditas dan jenis industri yang secara signifikan mempengaruhi pengungkapan Triple Bottom Line.

3. Fitri Yanti dan Rasmini (2015) menyelidiki tentang pengungkapan Triple Bottom Line dan faktor yang mempengaruhinya diantara Indonesia dengan Singapura sebagai objeknya. Dengan variabel independen yaitu leverage, Profitabilitas, Likuiditas, kepemilikan publik dan karakteristik negara.

Penelitian ini menggunakan model regresi. Hasil penelitian ini adalah

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

35

variabel Profitabilitas, kepemilikan publik dan karakteristik negara menunjukkan pengaruh signifikan pada pengungkapan Triple Bottom Line di perusahaan Singapura dan Indonesia. Sedangkan variabel leverage dan Likuiditas dalam penelitian ini tidak berpengaruh pada pengungkapan Triple Bottom Line.

4. Adhy Nugroho (2013) menyelidiki tentang karakteristik perusahaan, struktur kepemilikan dan Good Coorporate Governance terhadap pengungkapan Triple Bottom Line di Indonesia. Penelitian ini menggunakan sembilan variabel yang diprediksi dapat mempengaruhi pengungkapan Triple Bottom Line oleh perusahaan. Empat variabel merupakan indikator dari karakteristik perusahaan yaitu leverage, Profitabilitas, Likuiditas, dan jenis industri. Tiga variabel yang merupakan indikator struktur kepemilikan perusahaan yaitu kepemilikan manajemen, kepemilikan publik dan kepemilikan institusional.

Sedangkan dua variabel yang lain menunjukkan indikator Good Coorporate Governance yaitu ukuran dewan komisaris dan komite audit. Dengan menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel leverage, jenis industri, ukuran dewan komisaris dan komite audit berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan Triple Bottom Line oleh perusahaan sedangkan Profitabilitas, Likuiditas, kepemilikan institusional, kepemilikan manajemen, dan kepemilikan asing tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan Triple Bottom Line oleh perusahaan.

5. Yeni Arum (2016) menyelidiki tentang analisis pengaruh karakteristik perusahaan, kinerja keuangan dan Good Coorporate Governance terhadap

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

36

pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan pada perusahaan yang masuk index kompas 100 di BEI tahun 2008-2010. Dengan variable independen adalah dua variabel karakteristik perusahaan yaitu ukuran perusahaan, basis perusahaan, tiga variabel untuk kinerja keuangan yaitu leverage, Profitabilitas, Likuiditas, dan dua variabel untuk Good Coorporate Governance yaitu kepemilikan publik dan jumlah dewan komisaris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel Likuiditas. Sedangkan variabel laimya tidak berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan pada perusahaan yang masuk index kompas 100 di BEI tahn 2008-2010.

Dengan penelitian-penelitian terdahulu peneliti mencoba membuat perbedaan dengan penelitian ini dan variabel yang akan di teliti juga berbeda yaitu menggunakan objek penelitian sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Tabel 2.1

Ringkasan Penelitian Terdahulu

PENELITI VARIABEL PENELITIAN HASIL PENELITIAN Jennifer Ho

dan Taylor (2007)

Triple Bottom Line, size, Profitabilitas, Likuiditas, keanggotaan industri.

hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pelaporan yang ditunjukkan oleh perusahaan yang besar memiliki Profitabilitas, Likuiditas, dan keanggotaan industri manufaktur yang rendah.

Pengungkapan Triple Bottom Linelebih tinggi di negara Jepang daripada di negara Amerika

Hasil hanya ukuran perusahaan, Likuiditas dan jenis industri yang secara signifikan mempengaruhi pengungkapan Triple Bottom Lineyaitu pengungkapan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

37 publik dan karakteristik negara.

Hasilnya menunjukkan bahwa Profitabilitas, kepemilikan publik dan karakteristik negara menunjukkan pengaruh signifikan pada pengungkapan Triple Bottom Linedi perusahaan Singapura dan Indonesia.

Adhy Nugroho (2013)

leverage, Profitabilitas, Likuiditas, dan jenis industri, kepemilikan manajemen, kepemilikan publik dan kepemilikan institusional, ukuran dewan komisaris dan komite audit

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel leverage, jenis industri, ukuran dewan komisaris dan komite audit berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan Triple Bottom Lineoleh perusahaan sedangkan Profitabilitas, liquiditas, kepemilikan institusional, kepemilikan manajemen, dan kepemilikan asing tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan Triple Bottom Line.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel Likuiditas yang berpengaruh signifikan. Sedangkan variabel laimya tidak berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaanpada perusahaan yang masuk index kompas 100 di BEI tahn 2008-2010.

Dokumen terkait