BAB I PENDAHULUAN
2.2 Teori-teori Hakikat Konflik dalam Karya Sastra
Konflik merupakan bagian dari sebuah cerita yang bersumber pada kehidupan. Oleh karen itu, pembaca dapat terlibat secara emosional terhadap apa yang terjadi dalam cerita (Sayuti, 2000: 41-42). Konflik mengarah pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan dialami oleh tokoh (-tokoh) cerita yang jika tokoh (-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya, sebagaimana diungkap oleh Meredith dan Fitzgerald (via Nurgiyantoro, 1995:122). KBBI (2002:512) konflik merupakan suatu ketegangan atau pertentangan didalam suatu cerita rekaan atau drama (pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri suatu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya).
Terjadinya sebuah sebuah konflik dapat disebabkan atas dua faktor, yaitu faktor eksternal atau faktor yang terjadi karena adanya konflik di luar diri tokoh
fiksi, seperti adanya pertentangan antara individu satu dengan lainnya. Faktor kedua yaitu faktor eksternal atau faktor yang terjadi karena adanya konflik di dalam diri tokoh fiksi itu sendiri, seperti pertentangan yang meliputi perasaan dan pikiran individu tersebut.
Konflik dalam cerita menurut Sayuti (2000: 42-43) dapat dibedakan menjadi tiga jenis. (1) Konflik dalam diri seseorang (tokoh). Konflik jenis ini sering disebut psychological conflict „konflik kejiwaan‟, yang biasanya berupa perjuangan seorang tokoh dalam melwan dirinya sendiri, sehingga dapat mengatasi dan menentukan apa yang akan dilakukannya, (2) Konflik antara orang orang atau seseorang dan masyarakat. Konflik jenis ini sering disebut dengan social conflict „konflik sosial‟, yang biasanya berupa konflik tokoh, dalam kaitannya dengan permasalahan-permasalahan sosial, (3) Konflik antara manusia dan alam. Konflik jenis ini sering disebut sebagai physical or element conflict
„konflik alamiah‟, yang biasanya muncul tatkala tokoh tidak dapat menguasai atau memanfaatkan serta membudayakan alam sekitar sebagaimana mestinya.
Wiyatmi dalam bukunya berjudul Pengantar Kajian Sastra (2006:56), menjelaskan bahwa pada akhir cerita dikenal adanya plot terbuka dan plot tertutup. Plot disebut tertutup apabila sebuah cerita memiliki akhir (penyelesaian) yang jelas atau tidak menggantung, sedangkan pengertian plot terbuka merupakan oposisi dari plot tertutup. Jadi, pada sebuah cerita biasanya antara pengarang satu dengan lainnya memiliki cara yang berbeda untuk mengakhiri kisah cerita tersebut. Dengan demikian, akhir dari sebuah cerita dikenal adanya istilah plot terbuka dan tertutup, di mana pengertian plot terbuka yaitu cerita tersebut pada akhirnya memiliki akhir cerita yang jelas dan bisa membuat pembaca paham
dengan akhir cerita yang dialami oleh tokoh-tokoh di dalamnya sehingga tidak menimbulkan pertanyaanpertanyaan dari pembaca tentang isi cerita tersebut.
Sebaliknya, plot tertutup dapat diartikan dengan penyelesaian yang tidak jelas atau menggantung, biasanya hal tersebut dapat memberikan dua kesan pada para pembaca yaitu kesan kecewa karena isi cerita tidak berujung pada penyelesaian dan adanya pertanyaan yang timbul dari pembaca tentang maksud tersembunyi atau arti yang disampaikan oleh pengarang, sehingga pembaca harus menemukan maksud tersebut dari dugaan dugaan yang ada dalam diri pembaca itu sendiri.
Ketiga jenis konflik di atas dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok jenis konflik yaitu konflik ekternal dan konflik internal. Konflik eksternal (external conflict) adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang di luar dirinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa konflik eksternal mencakup dua kategori konflik yaitu konflik antar manusia sosial (social conflict) dan konflik antar manusia dan alam (physical or element conflict).
Konflik internal (internal conflict) adalah konflik yang terjadi dalam hati atau jiwa seorang tokoh cerita. Konflik seperti ini biasanya dialami oleh manusia dengan dirinya sendiri. Jenis konflik yang masuk dalam konflik internal yaitu konflik dalam diri seorang tokoh (psychological conflict). Konflik seperti di atas dapat terjadi secara bersamaan karena erat hubungannya dengan manusia yang disebut tokoh dalam karya sastra (Nurgiyantoro, 2007: 124).
Soerjono Soekanto mengemukakan 4 faktor penyebab terjadinya konflik yaitu : - Perbedaan antar individu; merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan, pendirian, atau ide yang berkaitan dengan harga diri, kebanggan, dan identitas seseorang. Sebagai contoh anda ingin suasana belajar tenang tetapi teman anda
ingin belajar sambil bernyanyi, karena menurut teman anda itu sangat mundukung. Kemudian timbul amarah dalam diri anda, sehingga terjadi konflik.
- Perbedaan kebudayaan; kepribadian seseorang dibentuk oleh keluarga dan masyarakat. Tidak semua masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma yang sama. Apa yang dianggap baik oleh satu masyarakat belum tentu baik oleh masyarakat lainnya. Interaksi sosial anta rindividu atau kelompok dengan pola kebudayaan yang berlawanan dapat menimbulkan rasa amarah dan benci sehingga berakibat konflik.
- Perbedaan kepentingan; setiap kelompok maupun individu memiliki
kepentingan yang berbeda pula. Perbedaan kepentingan itu dapat menimbulkan konflik diantara mereka.
- Perubahan sosial; perubahan yang terlalu cepat yang terjadi pada suatu
masyarakat dapat mengganggu keseimbangan sistem nilai dan norma yang berlaku, akibatnya konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu dengan masyarakat.Sebagai contoh kaum muda
ingin merombak pola perilaku tradisi masyarakatnya, sedangkan kaum tua
ingin mempertahankan tradisi dari nenek moyangnya. Maka akan timbulah
konflik diantara mereka.
Pertentangan atau konflik mempunyai beberapa bentuk khusus:
1. Pertentangan pribadi. Tidak jarang terjadi bahwa dua orang sejak mulai berkenalan sudah saling tidak menyukai. Apabila permulaaan yang buruk tadi
dikembangkan, maka timbul rasa saling membenci. Masing-masing pihak berusaha memusnahkan pihak lawanya. Makian-makian diucapkan, penghinaan dilontarkan dan seterusnya sampai timbul kekerasan fisik.
2. Pertentangan rasial. Misalanya, pertentangan antara orang-orang Negro dengan orang-orang kulit putih di Amerika Serikat
3. Pertentangan antara kelas-kelas sosial. Pada umumnya ia disebabkan oleh perbedaan kepentingan.
4. Peretentangan politik. Biasanya pertentangan ini menyangkut antara golongan-golongan dalam suatu masyarakat, maupun antara negara-negara yang berdaulat.
5. Pertentangan yang bersifat internasional.
Berdasarkan Sifatnya konflik dapat di bagi menjadi dua, yaitu:
- Konflik destruktif, merupakan konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun kelompok orang. Pada titik tertentu konflik ini dapat merusak atau menghancurkan sebuah hubungan.
- Konflik konstruktif, merupakan konflik yang bersifat fungsional, konflik ini muncul karena adanya perbedaan pendapat dari kelompok-kelompok dalam menghadapi suatu permasalahan.
Pengertian konflik secara sosiologis tidak jauh berbeda dengan pengertian konflik yang dijabarkan dalam ilmu sastra. Manusia adalah makluk konfliktis (homo conflictus), yaitu makluk yang selalu terlibat dalam perbedaan, pertentangan, dan persaingan baik sukarela dan terpaksa. Dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia, konflik berarti pertentangan atau percekcokan. Pertentangan sendiri bisa muncul ke dalam bentuk pertentangan ide maupun fisik antara dua belah fihak yang bersebrangan, Susan Novri (2009:4).
Konflik dalam sebuah karya fiksi sangatlah penting dalam pembentukan alur cerita. Ada dua elemen yang membangun alur adalah konflik dan klimaks.
Setiap konflik utama selalu bersifat fundamental, membenturkan “sifat-sifat” dan
“kekuatan-kekuatan” tertentu seperti kejujuran dengan kemunafikan, kenaifan dengan pengalaman atau individualistis dan kemauan beradaptasi, Stanton (2007:13). Konflik menyaran pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh-tokoh cerita yang, jika tokoh-tokoh itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya, Meredith & Fitzgerald dalam Nuriyantoro, (1995:122).