• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nilai Tukar (Exchange Rate) .1 Pengertian Nilai Tukar .1 Pengertian Nilai Tukar

2.1.7 Teori-Teori Nilai Tukar

Teori kurs secara umum dapat dibagi dua yaitu teori kurs tradisional yang didasarkan pada arus perdagangan dan paritas daya beli serta menjelaskan pergerakan kurs dalam jangka panjang, dan teori kurs modern yang memusatkan perhatiaanya pada pasar-pasar modal dan arus permodalan internasional dan berusaha menjelaskan gejolak kurs dalam jangka pendek yang keseimbangan (titik ekuilibrium) jangka panjang. Dapat dijelaskan pada rincian berikut,

1. Pendekatan Perdagangan atau Pendekatan Elastisitas Terhadap Pembentukan Kurs

Model ini melihat bahwa nilai tukar atau kurs antara dua mata uang dari dua negara ditentukan oleh besar-kecilnya perdagangan barang dan jasa yang berlangsung diantara kedua negara tersebut. Menurut pendekatan ini kurs ekuilibrium adalah kurs yang akan menyeimbangkan nilai ekspor dan impor dari suatu negara. Jika impor negara tersebut lebih besar ketimbang ekspornya (defisit perdagangan), maka kurs mata uangnya akan mengalami penurunan nilai mata uang (depresiasi). Depresiasi nilai tukar akan mengurangi impor dan akan menaikkan tingkat ekspor sebagai pemulihan neraca perdagangan. Karena kecepatan proses penyesuaian tersebut ditentukan oleh seberapa responsif atau elastis ekpor dan impor terhadap perubahan harga kurs, maka pendekatan ini juga dikatakan sebagai pendekatan elastisitas (elasticity approach).

2. Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity Teori, PPP) untuk Menjelaskan Proses Pembentukan Kurs

Teori ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1556 oleh Martin De Azpilcueta Navarro. Teori PPP didasarkan pada hukum satu harga (one law price) yang menyatakan bahwa nilai tukar mata uang pada mata uang lain didasarkan pada tingkat harga pada kedua negara tersebut. Misalnya di Indonesia harga 5 kg beras Rp 18.000 sedangkan di Amerika harga 5 kg beras U$D 2, artinya 2 dolar sama dengan 18.000 rupiah. Oleh karena itu, kurs antara Indonesia (rupiah) dengan Amerika (U$D) apabila disesuaikan dengan daya beli adalah Rp 9.000 per satu dolar. Teori ini terdapat dua versi yaitu versi absolut dan versi relatif.

a. Versi Absolut

Dalam versi absolut menganggap U$D 1 sama dengan Rp 9.000. Jika pemerintah menetapkan kurs sebesar Rp7000 per U$D, maka nilai rupiah dikatakan overvaluation dan dolar dikatakan undervaluation. Sebaliknya jika pemerintah menetapkan kurs sebesar Rp10.000 per U$D, maka nila rupiah dikatakan undervaluation dan dolar overvaluation. Karena dalam versi absolut teori PPP ini dilihat kurang realistis, maka muncul versi lain untuk menjelaskan teori PPP dengan memperhitungkan biaya transport, tarif dan kuota barang yang disebut sebagai versi relatif.

b. Versi relatif

Dalam versi relatif menganggap kedua barang tersebut tidaklah realistis apabila hanya disesuaikan pada satu harga, karena pada kenyataannya barang

tersebut apabila dikirim ke negara yang berbeda mempunyai biaya (transport, tarif dan kuota) dan biaya tersebut berbeda-beda pada setiap negara. Versi relatif kemudian memperhitungkan biaya tersebut selain dari pada penyesuaian dalam hukum satu harga.

3. Pendekatan Moneter Terhadap Pembentukan Kurs dan Lonjakan Kurs

Pendekatan moneter (monetary approach) mempostulasikan atau menyatakan bahwa kurs tercipta dalam proses penyamaan atau penyeimbangan stok atau total permintaan dan penawaran mata uang nasional dimasing-masing negara. Penawaran disuatu negara diasumsikan dapat ditetapkan atau diciptakan secara independen oleh otorita moneter dari negara yang bersangkutan. Namun sebaliknya, permintaan uang akan sangat ditentukan oleh tingkat pendapatan riil oleh negara tersebut, atau tingkat harga-harga umum yang berlaku serta suku bunga.

4. Pendekatan Keseimbangan Portofolio Terhadap Pembentukan Kurs

Perbedaan lain dari keseimbangan portofolio ini adalah penekanan bahwa kurs sesungguhnya terbentuk dalam proses penyamaan dan penyeimbang stok atau total permintaan dan total penawaran asset-asset finansial seperti saham dan obligasi dalam setiap negara..

2.1.8 Sistem Kurs Alternatif (Maurice D. Levi, 2004:171)

Sistem kurs alternatif menceritakan pengalaman sejarah sistem kurs yang pernah terjadi dan berkembang hingga saat ini.

1. Sistem Standart Emas Klasik

Ciri pokok dari standart emas klasik adalah bahwa setiap negara siap mengkonversikan uang kertas atau uang fiatnya (fiat money) ke dalam emas pada tingkat harga yang tetap. Penetapan harga emas ini membuat kurs atau mata uang terbentuk. Mekanisme tingkat harga dalam sistem standart emas disebut mekanisme price-specie automatic adjustmen, dimana specie adalah kata lain logam mulia. Mekanisme price-specie adjusment bekerja tidak hanya melalui harga relatif antara negara, tetapi juga melalui perubahan harga relatif dalam setiap negara. Standart emas berakhir dan ditinggalkan dengan depresiasi dalam periode 1929-1933.

2. Bretton Woods dan Standart Dolar

Sistem ini disebut sistem bretton woods berasal dari nama sebuah kota di New Hampshire tempat ide dasar sistem ini dirumuskan dan diterapkan pada tahun 1944. Metode alternatif dalam penentuan kurs ini memungkinkan tingkat kurs dimana bank sentral asing menjual dan membeli mata uang mereka untuk memperoleh dolar. Amerika serikat menetapkan nilai dolar terhadap emas. Dengan demikian standart emas mencakup tawaran dari pemerintah Amerika Serikat untuk menukarkan dolar atau emas pada suatu tingkat harga yang resmi dan tawaran dari negara lain untuk menukarkan mata uang mereka atas dolar dalam kurs yang resmi. Sistem bretton woods berakhir pada tahun 1973, masa ini disebut juga sebagai standart dolar.

3. Sistem Moneter Eropa (European Monetary System- EMS)

Sistem ini dimulai pada tahun 1972, yang dirancang untuk menjaga supaya kurs di negara-negara Uni Eropa berada dalam band yang lebih sempit daripada yang telah dipakai sebagai bagian dari usaha terakhir untuk menyelamatkan sistem standart dolar. Ciri pokok sistem ini adalah sebuah kisi yang menempatkan batas atas dan bawah kurs antara dua mata uang. Didalam sistem moneter eropa, negara-negara anggotanya bekerja sama dalam mengendalikan kurs. Kurs ditetapkan dalam kisi (grid) paritas yang terbatas, yang mencakup batas atas dan bawah terhadap Unit Mata uang Eropa.

4. Sistem Kurs Hibrida

Sistem kurs hibrida merupakan kombinasi sitem kurs fleksibel dan tetap. Di antara kedua ekstrim kurs tersebut terdapat berbagai sistem kurs yang telah diterapakan dalam masa yang berbeda, yaitu mengambang terkendali, band yang lebih besar (wider band), kurs tertambat merangkak (crawling peg), campuran antara kurs tetap dan kurs fleksibel, intevensi bersama atas pasar yang bergejolak, dan zona sasaran (target zone).

Dokumen terkait