• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori-teori Prilaku Menyimpang

Dalam dokumen SOSIOLOGI DANIEL FERNANDEZ EKO DIGDOYO (Halaman 52-55)

B. PRILAKU MENYIMPANG

5. Teori-teori Prilaku Menyimpang

polusi udara karena asap kendaraan bermotor, masyarakat secara tidak sadar harus menghirup asap rokok, karena para perokok pun tidak sadar kalau dia telah menghembuskan racun kepada banyak orang. Kejahatan yang nyata misalnya penggundulan hutan yang menyebabkan banjir, atau polusi pabrik berupa pencemaran udara, air, tanah, dan kebisingan.

5. Teori-teori Prilaku Menyimpang

Kalau kita hendak menjawab pertanyaan mengapa orang melakukan prilaku menyimpang? Bagaimana proses terjadinya penyimpangan? Tentu saja tidak hanya satu jawaban yang diberikan. Bagi para penganut teori biologis mengaitkan dengan kondisi fisik, misalnya bentuk tubuh yang atletis mempunyai potensi berbuat kejahatan lebih banyak dari pada yang tidak atletis. Atau jawaban lainnya karena fakor makanan yang dikonsumsi seperti minuman beralkohol, pengaruh obat-obatan, atau makanan yang mengandung zat tertentu. Bagi para penganut teori psikologis selalu dikaitkan dengan penyimpangan kepribadian, rasa frustrasi, persaan bersalah, stress, motivasi, sakit mental, gejala psikopat, dan sebagainya.

Teori sosiologis berupaya menjelaskan prilaku menyimpang dengan melihat proses sosial-budaya dan struktur sosial masyarakat. Dari banyak teori itu, berikut ini beberapa yang perlu diketahui :

a. Teori Anomi

Teori ini dikemukakan oleh Robert K. Merton. Ia menggambarkan tentang suatu masyarakat yang memiliki banyak norma dan nilai. Norma dan nilai itu saling bertentangan sehingga tidak adanya patokan bagi masyarakat untuk berprilaku. Anomi adalah kondisi masyarakat yang dalam keadaan bingung karena tidak ada acuan nilai yang dijadikan pegangan.

b. Teori Konflik

Teori ini berpandangan bahwa masyarakat pada umumnya mempunyai banyak kelompok yang mempunyai nilai-nilai yang berbeda, bahkan seringkali bertentangan, dan kelompok yang terkuat dalam masyarakat mempunyai kekuasaan untuk mendefinisikan nilai-nilai kelompok yang lemah sebagai menyimpang. Para

53

pendukung teori ini beranggapan bahwa definisi menyimpang yang dibuat oleh kelompok yang kuat adalah pemaksaan.

c. Teori Pembelajaran Sosiokultur

Teori ini berkaitan dengan proses-proses bagaimana tindakan-tindakan menyimpang dipelajari dan kondisi-kondisi yang memungkinkan orang mempelajari tindakan-tindakan itu. Teori ini dibagi ke dalam tiga bagian :

1. Teori Transmisi Kultural : teori ini kadang disebut juga teori sub kultur. Teori ini menegadkan bahwa ketika penyimpangan menjadi bagian dari sebuah pola kultur dari sub kultur, penyimpangan akan ditularkan pada “pendatang baru” melalui sosialisasi.

2. Teori Asosiasi pembedaan : teori yang dikembangkan oleh Edwin Sutherland menyatakan bahwa penyimpangan terjadi ketika individu mempunyai kontak yang lebih intens ke kelompok yang bisa menerima penyimpangan ketimbang ke kelompok yang tidak menerimanya. Menurut teori ini, penyimpangan terjadi karena prilaku yang dipelajari melalui interaksi yang menular.

3. Teori Pembelajaran Sosial : teori ini menyatakan bahwa prilaku menyimpang atau menyelaraskan diri ditentukan oleh konsekuensi-konsekuensi imbalan dan sanksi yang menyertai prilaku itu. Suatu prilaku diperkuat oleh penghargaan dan penghindaran hukuman, dan diperlemah oleh pencegahan atau tak adanya penghargaan.

d. Teori Labeling

Teori yang dipelopori oleh Edwin M. Lemert, menekankan pada bagaimana prilaku-prilaku tertentu dilabeli “menyimpang”, dan bagaimana suatu pelabelan mempengaruhi prilaku seseorang. Menurut teori ini penyimpangan adalah suatu kondisi relatif karena penyimpangan bukanlah suatu tipe tindakan tertentu, melainkan konsekuensi dari pemberian suatu label, cap, atau julukan, atau justifikasi terhadap orang atau kelompok tertentu. Misalnya seseorang menjadi pencuri karena sering dijuluki pencuri.

54

Para penganut teori pengendalian menerima model masyarakat yang memilki nilai-nilai kesepakatan yang dapat diidentifikasi. Mereka berasumsi bahwa ada suatu sistem normatif yang menjadi dasar sehingga suatu perbuatan dikatakan menyimpang. Penganut teori ini beranggapan bahwa kebanyakan orang menyesuaikan diri dengan nilai dominan karena adanya pengendalian dari dalam dan dari luar.

f. Teori Fungsi

Menurut Durkheim, kesadaran dalam kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak dimungkinkan; tiap individu berbeda satu dengan yang lainnya karena dipengaruhi secara berlainan oleh berbagai faktor seperti faktor keturunan, lingkungan fisik, dan lingkungan sosial. Dengan demikian orang yang berwatak penjahat akan selalu ada, dan kejahatan pun akan selalu ada. Durkheim bahkan berpandangan bahwa kejahatan perlu bagi kedudukan ekonomisnya, sehingga mereka mampu untuk mengatakan apakah dirinya kaya atau miskin.

g. Teori Sosialisasi

Teori sosialisai didasarkan pada pandangan teori fungsional yang mengatakan bahwa ada norma inti dan nilai-nilai tertentu yang dispekati oleh segenap anggota masyarakat. Tentu saja gambaran tentang suatu kebudayaan yang sepenuhnya utuh yang mempunyai norma dan nilai-nilai yang dipatuhi oleh semua anggota masyarakat hanyalah merupakan sebuah model untuk mengawali suatu analisis. Teori sosialisasi tertuju bahwa prilaku sosial, baik yang bersifat menyimpang maupun yang patuh dikendalikan terutama oleh norma dan nilai-nilai yang dihayati. Penyimpangan disebabkan oleh adanya gangguan pada proses penghayatan dan pengalaman pada nilai-nilai tersebut dalam prilaku seseorang.

h. Teori Interaksionisme Simbolis

Para penganut teori ini beranggapan bahwa tatanan sosial itu dipandang sebagai hasil dari suatu interaksi antara bagian-bagian sistem dan hal ini, dalam pandangan teori ini meremehkan jangkauan sampai sejauh mana tatanan sosial itu dicseritakan di dalam dan dari interaksi para anggota masyarakat. Gagasan utamanya adalah definisi

55

situasi di mana orang-orang bereaksi terhadap keadaan sebagaimana mereka melihat keadaan-keadaan itu.

i. Teori Etnometodologis

Teori ini hanya menunjukkan lebih banyak yang dilakukan untuk memahami prilaku yang memang mengikuti aturan ketimbang sekedar menyebutkan aturan-aturan yang dipatuhi. Semua aturan-aturan mengandung apa yang disebut suatu “pasal dan lain-lain”, yang berarti masih ada yang tersirat di balik kata-kata dalam aturan itu. Lebih lanjut dipatuhinya suatu aturan melibatkan adanya kesesuaian antara tindakan dan keadaan. Sebuah aturan menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu, suatu cara bertindak tertentu itu adalah layak. Kemampuan seseorang untuk mematuhi suatu aturan tergantung pada kemampuannya untuk melihat aturan itu berlaku di sini, suatu bentuk kemampuan untuk menyadari keadaan-keadaannya dan melihat keadaan itu relevan terhadap aturan itu.

Dalam dokumen SOSIOLOGI DANIEL FERNANDEZ EKO DIGDOYO (Halaman 52-55)