• Tidak ada hasil yang ditemukan

Semiologi berasal dari kata semeiotics (Yunani: σημειωτικός, semeiotikos), artinya an interpreter of signs. Jadi, semiologi adalah ilmu tentang tafsir tanda, termasuk sistem tanda. Definisi ini membuat aplikasi semiologi sangat luas, bisa digunakan berbagai bidang keilmuan, karena semiologi adalah metoda tafsir untuk seluruh tanda yang diproduksi oleh manusia.(Purwasito, 2008).

Humans have the ability to find and mark as a complementary aspect to think and feel. Knowledge to interpret the concept itself is divided into two levels of higher levels and low levels. The level of knowledge to interpret the signs with higher levels found in language, speech, music, law, visual arts, and culture in general. Semiotic is a discipline to find meaning in the sign of a higher level.

(Manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui dan menandai sebagai aspek yang saling melengkapi untuk berpikir dan merasakan. Konsep pengetahuan untuk memaknai itu sendiri masih terbagi ke dalam dua tingkatan yaitu tingkatan yang lebih tinggi dan tingkatan yang lebih rendah. Tingkat pengetahuan untuk memaknai tanda dengan tingkatan yang lebih tinggi yang terdapat dalam bahasa, pidato, music, hukum, seni visual, dan kebudayaan pada umumnya. Semiotic merupakan disiplin ilmu untuk mengetahui pemaknaan tanda pada tingkat yang lebihtinggi Andreassen, Brandt & Vang, Cognitive Semiotics, 2007: hal 3)

Menurut Charles Sanders Peirce, maka semiotika tidak lain daripada sebuah nama lain bagi logika, yakni “doktrin formal tentang tanda-tanda” (the formal doctrine of signs); sementara bagi Ferdinand de Saussure, semiologi adalah sebuah ilmu umum tentang tanda, “suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di dalam masyarakat” (a science that studies the life of signs within society) (Budiman, 2004: hal 3)

Perbedaan pendekatan semiotik diantara keduanya adalah, bagi Peirce pendekatan semiotikanya lebih menekankan pada logika, sedangkan Saussure lebih menekankan pada linguistik.

Menurut Peirce, sebuah tanda mengacu pada suatu acuan, dan representasi adalah fungsi utamanya. Hal ini sesuai dengan definisi dari tanda itu sendiri, yaitu sebagai sesuatu yang memiliki bentuk fisik, dan harus merujuk pada sesuatu yang lain dari tanda tersebut. Dalam pengertian

semiotik, yang termasuk tanda adalah kata-kata, citra, suara, bahasa tubuh atau gesture, dan juga obyek.(Noviani, 2002: hal 77)

Tanda terdapat dimana-mana. Kata adalah tanda, demikian pula gerak isyarat, lampu lalu lintas, bendera, dan sebagainya. Oleh karena itu, segala sesuatu bisa menjadi sebuah tanda, misalnya struktur karya sastra, struktur film, orang, bangunan, atau nyanyian burung dapat dianggap sebagai tanda. Peirce yang adalah ahli filsafat Amerika menegaskan bahwa kita hanya dapat berpikir dengan sarana tanda. Berarti, sudah pasti bahwa tanpa tanda kita tidak dapat berkomunikasi.( Sudjiman dan Zoest, 1996: hal vii)

Bahasa dianggap sebagai unsur terpenting dalam komunikasi. Dengan bahasa tersebut, manusia mengadakan komunikasi satu dengan yang lainnya. Diantara lambang-lambang atau simbol yang digunakan dalam proses komunikasi, seperti bahasa, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya, bahasa adalah yang paling banyak digunakan. Hanya bahasa yang mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain, apakah itu berbentuk ide, informasi atau opini. Baik mengenai hal yang konkret maupun yang abstrak. Bukan saja tentang hal atau peristiwa pada saat sekarang, tetapi juga pada waktu yang lalu dan masa yang akan datang.

Di dalam fotografi, gambar adalah sarana bagi seorang fotografer untuk mengungkapkan apa yang ingin disampaikan, sebagaimana kata-kata yang digunakan oleh seorang penulis. Jadi melalui bahasa gambar tersebut, seorang fotografer menyampaikan pesannya secara visual, yang mencakup berbagai

jenis pesan, yaitu berupa penyampaian pesan, ide, gagasan, visi, sikap fotografer dan penikmatnya.

Asumsi yang paling mendasar dari semiotika adalah menentukan bahwa segala sesuatu adalah tanda. Prinsipnya, segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesan arti dapat pula berfugsi sebagai tanda, dan kesan arti itu tidak perlu harus berkaitan dengan kesan arti yang terbentuk dari sesuatu yang diartikan atau ditandakan.(McQuail, 1995: hal 182). Bukan hanya bahasa atau unsur-unsur komunikasi tertentu saja yang tak tersusun sebagai tanda-tanda. Pada dasarnya, konsep utama semiotika, mencakup tiga elemen dasar yang dapat digunakan untuk melakukan intepretasi tanda, yaitu :

1) Tanda (sign), adalah yang memimpin pemahaman obyek kepada subyek. Tanda selalu menunjukkan kepada suatu hal yang nyata, seperti benda, kejadian, tulisan, peristiwa dan sebagainya. Tanda adalah arti yang statis, lugas, umum, dan obyektif.

2) Lambang (symbol), adalah keadaan yang memimpin pemahaman subyek kepada obyek. Pemahaman masalah lambang akan mencakup penanda (signifier), dan petanda (signified). Penanda adalah yang menandai sesuatu yang tidak seorang pun manusia yang sanggup berhubungan dengan realitas kecuali dengan perantara bernacam tanda. Menurut Ferdinand de Saussure, tanda atau lambang mempunyai entitas, yaitu :

a) Signifier (sound image), tanda atau penanda, merupakan bunyi dari tanda atau kata

b) Signified (concept), makna atau petanda, merupakan suatu konsep atau makna dari tanda tersebut

Hubungan antara signifier dan signified menurut Saussure bersifat arbitrary, yang berarti tidak ada hubungan yang logis. Menurutnya, tanda “mengekspresikan” gagasan sebagai kejadian mental yang berhubungan dengan pemikiran manusia. Jadi secara implisit, tanda berfungsi sebagai alat komunikasi antara dua orang manusia yang secara disengaja dan bertujuan untuk menyatakan maksud.( Sudjiman dan Zoest, 1996: hal 43) 3) Isyarat (signal), adalah suatu hal atau keadaan yang diberikan oleh si

subyek kepada obyek

Bagan 1.3

Bagan Model Semiotik Peirce Objek Ground Tanda / Interpretant Representamen

Gambar triadik model Peirce

Sumber : Sobur, 2003, hal. 159

Bagi Pierce (Pateda dalam Sobur, 2003: hal 41) tanda “is somethinngwich stands to somebody for something in some respect or capacity.” Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi, oleh Pierce disebut ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan triadik, yakni ground, object dan interpretant. Atas

dasar hubungan ini, Pierce mengadakan klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign dan legisign. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kata-kata kasar, keras, lemah, lembut, merdu. Sinsign adalah eksistensi aktual benda peristiwa yang ada pada tanda, misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai keruh yang menandakan bahwa ada hujan di hulu sungai. Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda, misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia.

Berdasarkan obyeknya, Peirce membagi tanda atas icon (ikon), index (indeks) dan symbol (simbol). ( Sobur, 2003: hal 41)

1) Icon (ikon)

Di dalam ikon, hubungan antara tanda dan obyeknya terwujud sebagai kesamaan dalam berbagai kualitas yakni dalam kesamaan atau kesesuaian rupa yang terungkap oleh penerimanya. Ikon juga bisa diartikan sebagai suatu kemiripan antara tanda dan obyeknya. Sebuah foto diri, atau lukisan misalnya, memiliki hubungan ikonik atau kemiripan dengan obyeknya, sejauh diantaranya terdapat keserupaan.

2) Index (indeks)

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat,

atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Contoh yang paling jelas adalah asap adalah tanda adanya api. (Sobur, 2004; hal. 42-43) 3) Symbol (simbol)

Simbol adalah bentuk tanda yang terjadi karena hasil konsensus dari para pengguna. Contoh simbol seperti menggelengkan kepala tanda tidak setuju atau Sang merah putih yang merupakan simbol dari negara Indonesia. (Sobur, 2004; hal. 43)

Sebuah tanda dapat dikatakan sebagai ikon, indeks, maupun simbol, bahkan kombinasi dari ketiganya. Dapat dijelaskan dengan ilustrasi berikut. Sebuah peta adalah indeks, karena menunjukkan suatu tempat. Dapat pula disebut sebagai ikon, apabila menunjuk pada tempat-tempat yang saling berhubungan secara topografis. Dan juga bisa dikatakan sebagai simbol karena adanya sistem penotasiannya yang harus dipelajari lebih dahulu.

Dokumen terkait