• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Teori-teori yang mendukung

2.1.1.1.1 Pengertian Persepsi

Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris (Walgito, 2010: 99).

Persepsi merupakan yang intergrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya (Moskowitz dan Orgel 1969 dalam Walgito, 2010:100). Dengan persepsi individu dapat menyadari, dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada di sekitarnya, dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan (Davidoff 1981 dalam Walgito, 2010:100).

Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa persepsi adalah proses pengorganisasikan, penginterpresian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti, dan merupakan aktivitas yang intergrated dalam diri individu.

8 2.1.1.1.2 Faktor-faktor yang berpengaruh pada persepsi

Menurut Walgito (2010:101) terdapat beberapa faktor-faktor yang berperan dalam persepsi, yaitu:

1. Objek persepsi

Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor. Namun dari sebagian terbesar stimulus datang dari luar individu.

2. Alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf

Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus. Di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf, yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan syaraf motoris.

3. Perhatian

Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian, yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditunjukan kepada sesuatu atau sekelompok objek.

9 Dari paparan di atas dapat dikemukakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh pada persepsi yaitu objek persepsi, alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf dan perhatian.

2.1.1.1.3 Proses terjadinya persepsi

Objek menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor. Perlu dikemukakan bahwa antara objek dan stimulus itu berbeda, tetapi ada kalanya bahwa objek dan stimulus itu menjadi satu, misalnya dalam hal tekanan. Benda sebagai objek langsung mengenai kulit, sehingga akan terasa tekanan tersebut (Walgito, 2010:102).

Proses stimulus mengenai alat indera merupakan proses kealaman atau proses fisik. Stimulus yang diterima oleh alat indera diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini yang disebut sebagai proses fisiologis. Kemudian terjadilah proses di otak sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat, atau apa yang didengar, atau apa yang diraba. Proses yang terjadi dalam otak atau dalam pusat kesadaran inilah yang disebut sebagai proses psikologis (Walgito, 2010:102).

Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa taraf terakhir dari proses persepsi ialah individu menyadari tentang misalnya apa yang dilihat, atau apa yang didengar, atau apa yang diraba, yaitu stimulus yang diterima melalui alat indera. Respon sebagai akibat dari persespsi dapat diambil oleh individu dalam berbagai macam bentuk. Dalam model pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) diharapkan siswa memiliki persepsi yang positif untuk menanamkan dan mewujudkan nilai-nilai peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah.

10 2.1.1.1.4 Indikator Persepsi

Menurut Hamka (2002: 101-106), indikator persepsi ada dua macam yaitu: a. Menyerap, yaitu stimulus yang berbeda di luar individu diserap melalui indra, masuk ke dalam otak, mendapat tempat. Di situ terjadi proses analisis, diklasifikasi, dan diorganisir dengan pengalaman-pengalaman individu yang telah dimiliki sebelumnya.

b. Mengerti, yaitu indikator adanya persepsi sebagai hasil dari klasifikasi dan organisasi. Tahapan ini terjadi dalam proses psikis. Hasil analisis berupa pengertian atau pemahaman. Pengertian dan pemahaman tersebut juga bersifat subjektif, berbeda-beda setiap individu.

Berdasarkan indikator yang telah dipaparkan di atas peneliti menggunakan indikator persepsi menurut Hamka (2002: 101-106) dalam pembuatan kuesioner penelitian yaitu menyerap dan mengerti.

2.1.1.2 Sikap

2.1.1.2.1 Pengertian Sikap

Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan (Louis Thurstone dan Osgood dalam Azwar, 1995:5). Sikap seseorang terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorabel) ataupun perasaan tidak mendukung (tak-favorabel) objek tersebut (Berkowitz 1972 dalam Azwar, 1995:5). Formulasi oleh Thurstone sendiri mengatakan bahwa sikap adalah derajat afek positif atau afek negatif yang dikaitkan dengan suatu objek psikologis (Edwards 1957 dalam Azwar, 1995:5).

Kelompok pemikiran yang ketiga adalah kelompok yang berorientasi kepada teori kognitif. Menurut kelompok ini, suatu sikap merupakan konstelasi

11 komponen kognitif, afektif, dan konatif, yang berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek. Mengenai konsepsi yang terakhir ini akan kita bicarakan lebih luas pada pembicaraan mengenai struktur sikap. (Azwar, 1995 : 3).

(LaPierre 1934 dalam Azwar, 1995:5) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respons terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.

Menurut (Secord & Backman 1964 dalam Azwar, 1995:5) sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya.

Dari pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan suatu respon evaluatif, dikarenakan batasan seperti itu akan lebih mendekatkan kita kepada operasionalisasi sikap dalam kaitannya dengan penyusunan alat ungkapannya.

2.1.1.2.2 Indikator Sikap

Sikap mengandung tiga indikator yang membentuk sikap, yaitu: indikator kognitif, indikator afektif, indikator konatif (Kothandapani dalam Azwar, 1995: 24).

a. Kognitif

Indikator kognitif berisi persepsi, kepercayaan dan streotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu (Mann dalam Azwar, 1995).

12 Indikator kognitif berisi kepercayaan seseorang terhadap apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap (Azwar, 1995). b. Afektif

Indikator afektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah emosi. Aspek inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai indikator sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap seseorang (Azwar, 1995).

c. Konatif

Indikator konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang sedang dihadapinya (Azwar, 1995).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa peneliti menggunakan indikator sikap menurut (Azwar, 1995) yang dapat membentuk struktur sikap dengan tiga indikator yaitu : kognitif, afektif, konatif. Terkait dengan indikator tersebut terdapat sikap yang positif (favorable) dan sikap yang negatif (Unfavorable).

2.1.1.2.3 Ciri-ciri Sikap

Menurut (Purwanto 1998 dalam Wawan & Dewi M, 2010 : 34) mengemukakan sebagai berikut :

1) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk sepanjang perkembangan dalam hubungan dengan obyeknya.

13 3) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap itu terbentuk, dipelajari berubah atau senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.

4) Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.

5) Sikap mempunyai segi-segi perasaan, sifat alamiah yang membedakan sikap dan kecapakan-kecakapan atau pengetahuan yang dimiliki orang.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri sikap yaitu sikap dapat berubah-ubah dan sikap memiliki hubungan tertentu.

2.1.1.2.4 Faktor yang mempengaruhi sikap

Sikap merupakan hal yang sangat penting dalam psikologi khususnya psikologi sosial. Psikologi sosial menempatkan sikap sebagai hal yang sentral. Pendapat tersebut kiranya beralasan jika dilihat pentingnya sikap dalam tingkah laku dan perbuatan manusia sehari-hari. Sikap seseorang akan mempengaruhi tingkah laku orang tersebut dalam menanggapi sesuatu. Sikap dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat menentukan perubahan sikap.

Azwar (1995:30) mengemukakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan sikap adalah :

1) Pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Hal tersebut melibatkan keadaan emosional agar penghayatan akan pengalaman lebih mendalam dan lebih membekas.

14 2) Kebudayaan

Kebudayaan mempunyai pengaruh yang benar terhadap pembentukan sikap seseorang. Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah.

3) Orang lain yang dianggap penting

Orang lain yang ada di samping kita adalah salah satu komponen sosial yang mempengaruhi sikap kita. Seseorang akan meniru dan bersikap sama seperti orang lain. Jika orang tersebut dianggap memang pantas untuk dijadikan panutan.

4) Pengaruh faktor emosi

Suatu pembentukan sikap seseorang tidaklah ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang namun suatu sikap merupakan pernyataan yang didasari suatu emosi yang berfungsi sebagai

penyalur frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Suatu sikap yang didasari emosional adalah prasangka yaitu sikap yang

tidak toleran terhadap sekelompok orang. 5) Media Masa

Pengaruh media masa tidaklah terlalu besar dalam interaksi individu secara langsung, namun dalam proses pembentukan dan perubahan sikap, peranan media masa tidak kecil artinya.

6) Lembaga Pendidikan dan Agama

Kedua lembaga ini mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian konsep moral dalam diri individu. Konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan system

15 kepercayaan maka tidaklah mengherankan kalau pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi sikap yaitu pengalaman pribadi, orang lain yang dianggap penting, kebudayaan, pengaruh faktor emosi, media masa dan Lembaga Pendidikan dan Agama.

2.1.1.3 Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)

2.1.1.3.1 Pengertian Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)

Menurut Subagyo (2010:22) Pedagogi merupakan salah satu cara guru untuk mendampingi siswa dalam tumbuh kembangnya. Sedangkan reflektif menurut Subagyo (2010:7) adalah meninjau kembali pengalaman, topik tertentu, gagasan, ataupun reaksi secara rasional dengan tujuan mampu memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Menurut Subagyo (2008), menyebutkan tiga unsur utama dalam PPR adalah pengalaman, refleksi dan aksi. Pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) adalah pembelajaran pengintergrasian pembelajaran bidang studi dan menekankan pada pengembangan nilai. Dalam pembelajaran bidang studi disesuaikan pada konteks siswa, sedangkan pada pengembangan nilai ditekankan pada suatu pengalaman, refleksi dan aksi. Dan nanti semua proses pembelajaran ini harus diakhiri dengan evaluasi.

Dari ketiga pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) adalah pembelajaran yang dapat mengembangkan nilai ke dalam kehidupan sehari-hari.

16 2.1.1.3.2 Tujuan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)

Dalam buku yang dikembangkan oleh Komunitas Studi dan Pengembangan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) Yogyakarta (2012) disebutkan bahwa tujuan dari Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) adalah sebagai berikut :

1. Membentuk pria dan wanita untuk orang lain yang berarti kita bertujuan membentuk pemimpin-pemimpin pelayanan yang meneladan Yesus Kristus. Pria dan wanita yang kompeten (competence), dalam bidangnya, memiliki hati nurani yang benar (conscience), dan memiliki kepedulian yang tumbuh dari kasih kepada sesama (compassion)

2. Membentuk pribadi secara penuh dan lebih mendalam, yaitu suatu proses pembentukan yang menuntut keunggulan yang meliputi bidang intelektual, akademik, dan lainnya.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) yaitu dapat membentuk pribadi seseorang menjadi lebih baik.

2.1.1.3.3 Ciri-ciri Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) menurut Subagyo (2010) :

1. Pembelajaran Paradigma Pedagodi Reflektif (PPR) dapat diterapkan dalam semua kurikulum

2. Pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) fundamental untuk proses belajar mengajar

17 3. Pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) menjamin para

pengajar menjadi pengajar yang lebih baik

4. Pembelajaran Paradigma Pedagodi Reflektif (PPR) mempribadikan proses belajar dan mendorong murid merefleksikan makna dan arti yang dipelajari

Jadi, ciri-ciri Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) yaitu pembelajaran yang dapat diterapkan dan pengajar dapat lebih kreatif.

2.1.1.3.4 Pola Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)

Pola Pembelajaran Pedagodi Reflektif (PPR) menurut Komunitas Studi dan Pengembangan Pembelajaran Pedagogi Reflektif (PPR) Yogyakarta (2012 :63) meliputi konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi. Menurut Komunitas Studi dan Pengembangan PPR Yogyakarta dalam bukunya Pembelajaran Pedagodi Reflektif (2012) menggambarkan pelaksanaan Pembelajaran Pedagogi Reflektif (PPR) yang dapat dilakukan guru sebagai berikut :

Gambar 2.1 Dinamika PPR menurut Komunitas Studi dan Pengembangan Pembelajaran Pedagogi Reflektif (PPR) Yogyakarta (2012 :63)

Pengalaman

Refleksi

Aksi Evaluasi

18 2.1.1.3.5 Kelebihan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)

Menurut Subagyo (2008) kelebihan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) adalah sebagai berikut :

1. Murah meriah

Dalam pembelajaran tidak memerlukan atau penawaran khusus, kecuali yang dilakukan oleh bidang studi yang bersangkutan. Misalnya untuk menumbuhkan persaudaraan, solidaritas, saling Menghargai, yang diperlukan adalah pengalaman yang dapat tercapai melalui belajar dengan kerja sama kelompok yang kemudian direfleksikan dan ditindaklanjuti dengan aksi, evaluasi dalam belajar dengan kerjasama kelompok

2. Segala Kurikulum

Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) dapat diterapkan pada semua kurikulum. Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) ini tidak menuntut tambahan bidang studi baru, jam pelajaran tambahan, maupun peralatan khusus. Hal pokok yang dibutuhkan hanyalah pendekatan baru pada cara guru dalam mengajarkan mata pelajaran yang ada. 3. Cepat Kelihatan Hasilnya

Kenyataanya sekolah yang sudah menerapkan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) sebagai model pembelajarannya membawa dampak yang baik terhadap siswinya. Contohnya seperti : siswa-siswa akan terlihat akrab satu sama lain, mau solider dan saling membantu dalam belajar, mau saling Menghargai satu sama lain.

19 Dengan demikian pengelompokan kelas menjadi mudah, kenakalan berkurang. Secara garis besar dapat disimpulkan yaitu :

1) Dari segi integrasi

a. Pembelajaran berpola Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) murah

b. Tidak terhambat adanya kurikulum baru c. Mengajarkan dan melatih nilai-nilai kristiani 2) Dari segi pengalaman

a. Tidak memerlukan banyak aturan b. Penelitian yang otentik

3) Dari segi pendidikan kontekstual : a. Ciri khas sekolah dapat diwujudkan

b. Menjadikan keunggulan sekolah yang tidak dapat diunggulkan sekolah lain

Dari paparan di atas, kelebihan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) yaitu lebih murah dalam membuat media, selain itu dapat diterapkan dalam semua kurikulum, dan dapat menjadikan peserta didik lebih baik.

2.1.1.3.6 Tata Cara Pelaksanaan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)

Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) harus memperhatikan proses belajar maupun proses pedagoginya. Selain itu mereka juga harus menunjukkan cara-cara untuk mendukung keterbukaan pada pertumbuhan, juga setelah siswa menyelesaikan suatu siklus pembelajaran tertentu (Subagyo, 2010).

Berikut ini adalah langkah-langkah proses pembelajaran menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) :

20 a. Konteks

Pertama, siswa diajak untuk mengerti mengenai nilai-nilai yang akan dikembangkan, sehingga dengan demikian anggota komunitas, guru, dan juga siswa menyadari bahwa yang menjadi landasan pengembangan bukan hanya aturan melainkan juga nilai-nilai kemanusiaan.

Kedua, dalam tahap ini siswa diajak untuk menghayati mengenai nilai-nilai yang diperjuangkan, terutama contoh yang diberikan oleh guru. Dengan demikian siswa melihat, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai yang dihayati lingkungannya

Ketiga, dalam tahap ini siswa diajak untuk menjalin sebuah hubungan yang akrab, saling percaya, agar siswa bisa membangun komunikasi yang terbuka antara guru dengan siswa.

b. Pengalaman

Dalam tahap ini siswa diajarkan untuk menumbuhkan persaudaraan. solidaritas dan saling memuji adalah pengalaman bekerjasama dalam

kelompok kecil yang “direkayasa” sehingga terjadi interaksi dan

komunikasi yang intensif, ramah dan sopan, penuh tenggang rasa, dan akrab.

c. Refleksi

Dalam tahap ini siswa difasilitasi menggunakan pertanyaan agar siswa terbantu untuk berefleksi. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang divergen agar siswa secara otentik dapat memahami, mendalami dan meyakini temuannya. Siswa juga dapat diajak untuk

21 diam dan hening sejenak untuk meresapi apa saja yang sudah dipelajari hari itu.

d. Aksi

Dalam tahap ini guru memfasilitasi siswa dengan pertanyaan aksi agar siswa tersebut terbantu untuk membangun niat dan bertindak sesuai dengan hasil refleksinya. Dengan niat yang sudah dibangun dan berperilaku dari kemauannya sendiri siswa membentuk pribadi yang menjadi pejuang bagi nilai-nilai yang direfleksikannya.

e. Evaluasi

Setelah pembelajaran guru memberikan evaluasi atas kompetensinya dari sisi akademik. Ini adalah wajar dan merupakan suatu keharusan karena sekolah dibangun untuk mengembangkan ranah akademik dan menyiapkan siswa menjadi komponen di bidang studi yang dipelajarinya.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa tata cara pelaksanaan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) yaitu konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. 2.1.1.4 Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

2.1.1.4.1 Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan media pengajaran yang meng-Indonesiakan para siswa secara sadar, cerdas, dan penuh tanggung jawab (Azis Wahab, 2011). Karena itu, program PKn memuat konsep-konsep umum ketatanegaraan, politik dan hukum negara, serta teori umum yang lain yang cocok dengan target tersebut (Cholisin, 2000:18). Sedangkan menurut Zamroni (Tim

22 demokrasi yang bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat berpikir kritis dan bertindak demokratis, melalui aktivitas menanamkan kesadaran kepada generasi baru, bahwa demokrasi adalah bentuk kehidupan masyarakat yang paling menjamin hak-hak warga masyarakat”.

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenan dengan hubungan antar warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara menjadi warga negara agar dapat diandalkan oleh bangsa dan negara (Somantri, 2001: 154). Berbeda dengan pendapat di atas pendidikan kewarganegaraan diartikan sebagai penyiapan generasi muda (siswa) untuk menjadi warga negara yang memiliki pengetahuan, kecakapan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakatnya (Samsuri, 2011: 28).

Pendidikan Kewarganegaraan dapat diharapkan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen yang kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hakikat NKRI adalah negara kesatuan modern. Negara kebangsaan adalah negara yang pembentuknya didasarkan pada pembentukan semangat kebangsaan dan nasionalisme yaitu pada tekad suatu masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama. Walaupun warga masyarakat itu berbeda-beda agama, ras, etnik, atau golongannya.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan kewarganegaraan (PKn) merupakan sebuah mata pelajaran untuk mengarahkan peserta didik agar lebih cerdas dan diharapkan mempelajari

23 kesadaran bela negara dan memiliki pola pikir, sikap dan berperilaku sesuai peraturan perundang-undangan pusat dan daerah.

2.1.1.4.2 Tujuan Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah membawa peserta didik untuk menjadi ilmuwan dan professional yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, demokratis, dan berkeadaban, dan menjadi warganegara yang memiliki daya saing, berdisiplin, berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan yang damai berdasarkan sistem nilai pancasila (Wiharyanto (2008:5).

Sedangkan tujuan khusus Pendidikan Kewarganegaraan menurut Wiharyanto (2008:5) yaitu:

1.Menghantar peserta didik memiliki wawasan kesadaran bernegara untuk bela Negara dan memiliki pola pikir, pola sikap, dan perilaku untuk cinta tanah air Indonesia

2.Menumbuhkembangkan wawasan kebangsaan, kesadaran berbangsa dan bernegara pada diri peserta didik, sehingga terbentuk daya tangkap sebagai ketahanan nasional

3.Peserta didik dapat menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam menciptakan ketahanan nasional

4.Peserta didik mampu menuangkan pemikiran hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

Berdasarkan pendapat di atas, tujuan pendidikan kewarganegaraan yaitu menumbuhkembangkan wawasan kebangsaan, kesadaran berbangsa dan bernegara pada diri peserta didik, membawa peserta didik untuk menjadi ilmuwan

24 dan professional yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, demokratis, dan berkeadaban.

2.1.1.4.3 Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran PKn

Muchtar, dkk (2007) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pembelajaran PKn antara lain sebagai berikut:

1) Guru, seorang guru yang profesional dituntut untuk mempunyai kemampuan-kemampuan tertentu. Guru merupakan pribadi yang berkaitan erat dengan tindakannya di dalam kelas, cara berkomunikasi, berinteraksi dengan warga sekolah dan masyarakat umumnya.

2) Siswa, dalam mata pelajaran PKn siwa adalah faktor penting demi tercapainya suatu pembelajaran. Banyak hal yang perlu diperhatikan dalam memberika pelajaran PKn kepada siswa sebab siswa kurang menyenangi pembelajaran PKn.

3) Sarana dan prasarana, Pembelajaran akan dapat berlangsung lebih baik jika sarana dan prasaranya menunjang. Sarana yang cukup lengkap seperti perpustakaan dengan buku-buku PKn yang relevan.

4) Strategi pembelajaran PKn adalah strategi pembelajaran yang aktif, Pembelajaran aktif ditandai oleh dua faktor yaitu:

a) adanya interaksi antara seluruh komponen dalam proses pembelajaran terutama antara guru dan siswa b) berfungsi secara optimal seluruh sence siswa yang

25 2.1.1.5 Materi Kelas V Peraturan Perundang-undangan Pusat dan Daerah

Menurut Widihastuti, S. (2008) peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mempunyai kekuatan mengikat. Fungsinya untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Peraturan perundang-undangan tidak boleh dilaksanakan secara sewenang-wenang. Peraturan harus dilakukan dengan niat yang baik dan rasa tanggung jawab. Peraturan Perundang-undangan Pusat dibuat oleh pemerintah tingkat pusat

Pentingnya perundang-undangan:

1. Memberikan Kepastian Hukum bagi Warga Negara

Sebuah peraturan berfungsi memberikan kepastian hukum bagi warga negara. Apabila disuatu negara tidak ada kepastian hukum, maka semua orang akan bertindak sesuka hatinya. Namun bila ada kepastian hukum, maka orang yang melanggar hukum di negara tersebut akan dikenai sanksi. Contohnya jika seseorang bertindak aniaya terhadap orang lain maka dia akan mendapatkan hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku.

2. Melindungi dan Mengayomi Hak-Hak Warga Negara

Perundang-undangan berfungsi melindungi dan mengayomi hak-hak warga negara. Hak-hak tersebut memang telah ada sebelum peraturan dibuat, misalnya hak untuk hidup. Hak hidup merupakan hak asasi dari Tuhan yang sudah ada sebelum perundang-undangan dibuat manusia. Walaupun demikian, negara tetap melindungi hak hidup warganya.

Dokumen terkait